THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
FOREST GHOSTS ARE BACK



Pembalakan terpaksa dihentikan. Juan yang tiba-tiba jatuh tertidur langsung dibawa para pekerja ke rumah sakit. Mereka mulai membicarakan perihal hantu hutan yang benar-benar membuat mereka ketakutan.


"Tapi jika hantu, kenapa kakinya menapak tanah!" seru salah satu pekerja.


"Aku rasa itu adalah salah satu suku kanibal yang masih hidup di hutan!" timpal salah satunya.


Sedang Bella kini berada di rumah sakit. Ia bertanya tentang kondisi ayahnya yang bisa tiba-tiba tertidur.


"Ayah bisa tidak tidur selama dua hari Dok!" ucap gadis itu.


"Kami memeriksa darahnya di lab, kemungkinan siang ini baru kami bisa memastikan apa yang terjadi pada kasus Tuan," jelas dokter.


Bella duduk di tepi ranjang rumah sakit ayahnya. Pria itu juga mengalami dehidrasi dan trombositopenia atau darah encer.


Tak lama ponsel gadis itu berbunyi, Kiev meneleponnya.


"Halo Bella, kau ada di mana?" tanya pria itu di seberang telepon.


"Aku ada di rumah sakit," jawab gadis itu.


"Hah ... kau kenapa? Apa kau hamil beneran?' cecar pria itu.


"Tidak ... maksudku belum, aku belum hamil," jawab gadis itu dengan hati yang sakit.


"Lalu kenapa kau ada di rumah sakit?!" tanya pria itu lagi di seberang telepon.


"Ayah masuk rumah sakit, tiba-tiba ia tertidur ketika di hutan mengawasi para pekerja!' jawab Bella.


Kiev terdiam. Ia mengerutkan kening. Bagaimana bisa pria itu langsung tertidur. Ketika ia meninggalkan Juan, pria itu sehat dan bugar.


"Apa penjelasan dokter?" tanyanya.


Bella menjelaskan sedetil mungkin. Gadis itu bahkan tak tau kapan ayahnya akan bangun. Ia masih menunggu hasil lab yang memeriksa darahnya.


"Aku akan ke sana, tunggu aku!" ujar Kiev.


Pria itu masih penasaran dengan apa yang terjadi pada koleganya itu. Ia juga lupa menanyakan hasil perambahan hutan tadi malam apakah berhasil.


"Kau mau ke mana?" tanya Gerard pada putranya yang berpakaian rapi.


"Aku mau menjenguk Tuan Fox, dia ada di rumah sakit sekarang," jawab Kiev.


"Ah, kalau begitu bawa ini sayang," ujar Anamaria lalu menempatkan satu makanan di dalam paper bag.


"Makaroni panggang ini bagus untuk orang sakit," jelas wanita itu.


"Thanks mom!"


Kiev berangkat menuju rumah sakit membawa makanan untuk Bella tentunya.


Butuh waktu setengah jam, pria tampan itu sampai rumah sakit. Wajahnya yang dua tahun lalu menggegerkan publik karena mendatangi dewan pemerintah masih diingat beberapa perempuan.


"Itu Tuan Kiev Riches. Beliau makin tampan ya!" sahut salah satu perempuan yang ada di rumah sakit.


Pria itu langsung masuk lift dan naik ke lantai paling tinggi. Juan Fox ada di kelas eksklusif.


"Bella!" panggilnya.


Pria itu langsung masuk setelah memberi ciuman singkat di bibir gadis yang beberapa bulan ini memberinya kenikmatan. Bella memang belum menjadi kekasihnya.


"Apa hasil test belum keluar?" Bella menggeleng.


Kiev membelai punggung gadis itu yang setia menggenggam tangan ayahnya.


Tak lama dokter datang. Gadis itu diminta untuk ke ruangannya. Kini Bella dan Kiev ada di depan dokter.


"Ada sejenis obat tidur dengan dosis tinggi yang terkandung dalam darah ayah anda nona!"


"Ayah tak pernah makan obat sejenis itu!" sahut gadis itu langsung.


"Maka itu saya yakin jika pasien sengaja diberi obat tidur dengan dosis tinggi," sahut dokter lagi.


"Siapa yang memberikannya dok?" tanya Bella.


"Dok ... tiba-tiba detak jantung pasien Juan Fox!"


Dokter langganan berdiri dan berlari, begitu juga Bella dan Kiev.


Juan kembali diperiksa dengan merontgen dirinya. Dokter menemukan satu titik hitam di jantung Juan.


Operasi dilakukan. Dokter menemukan jarum. Mereka mengingat benda sama di temukan di jantung tiga pemuda yang kecelakaan.


"Siapa pelakunya?" tanya dokter. "Tindakan ini sangat membahayakan nyawa manusia!"


Sedang di hutan. Sam merusak semua alat-alat untuk menembang hutan. Tempat itu memang kosong ditinggal oleh para pekerja yang ketakutan.


"Aku ambil semuanya!" ujar pemuda itu kesal.


"My Lord!" tegur Zeus.


Sam berdecak. Ia akhirnya merusak semua barang yang ada. Lalu setelah puas ia meninggalkan begitu saja.


Kiev sudah kembali dari rumah sakit, Juan sudah bangun dari tidur panjangnya. Pria itu baik-baik saja pasca operasi kecil di jantungnya.


"Jarumnya halus sekali?" ujar Juan ketika melihat jarum yang ada di jantungnya.


"Kata pekerja ada hantu hutan yang tinggal di sana. Apa mungkin hantu itu pelakunya?" tanya Kiev.


Pria itu membersihkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Aku yakin jika dia pelakunya. Sungguh keji sekali perbuatanya ingin membunuh hanya karena melindungi hutan!" racaunya kesal. "Itu tak sepadan!"


Setelah merusak semua peralatan menebang. Sam kembali ke gua. Ia akan pulang ke mansion dan ingin tau bagaimana perkembangan tentang hutan.


"Apa sulit sekali mencabut ijin pada pengusaha kayu itu?" sahutnya kesal.


Sam sampai pada hunian yang ditempati ayah dan ibunya. Sepasang suami istri itu memang menunggu kepulangan putra mereka.


"Halo yah, ma!" sapanya.


"Halo sayang, ayo segera bersihkan tubuhmu, kita segera makan malam!" ajak Becky.


Sam mengangguk. Ia segera membersihkan diri, lalu ia pun kini duduk dan makan malam bersama dengan ayah dan ibunya.


Usai makan, Stefanus membawa putranya ke ruang kerja. Pemuda itu menceritakan apa yang baru saja ia alami dan lakukan.


"Sayang, kenapa kau lakukan itu?" tanya pria itu gusar.


"Memasukkan jarum dalam darah manusia bisa ke jantung dan membahayakan manusia itu!" jelasnya.


"Lalu aku harus melakukan apa ayah?" tanya Sam juga gusar.


"Jika aku memakai peluru bius itu, mereka akan sadar jika ada manusia di hutan!"


"Kau belajar bagaimana tawon menyengat sayang!"


"Jarum itu dari buntut tawon ayah!"


"Jadi bukan jarum?" tanya Stefanus tak yakin.


"Bukan, mana ada jarum sekecil dan sehalus itu?" sahut Sam.


"Memang bentuknya seperti jarum, tetapi jika dibiarkan akan membusuk dan mengurai dalam darah, itu sama sekali tak berbahaya!" jelas pemuda itu.


Stefanus menghela napas lega. Pria itu mengira putranya membunuh orang-orang nantinya.


"Ayah tau jika hutan dirambah secara terus menerus?" tanya Sam.


Pria itu mengangguk, tentu bahayanya bukan pada alam itu sendiri tapi juga manusia.


"Kita semua akan mati!" sahut Sam ketus.


"Jika dia mati gara-gara hal yang kulakukan. Setidaknya aku mencegah kerusakan dan kepunahan manusia, bukan?"


"Sam!" tegur ayahnya.


"Ayolah ayah ... apa yang kulakukan sekarang sepadan dengan apa yang terjadi nanti!" ujar Sam memberi pengertian pada ayahnya.


"Hanya dia yang mati. Tapi anak dan cucu kita selamat!" lanjutnya.


Stefanus menghela napas panjang. Pria itu kalah debat jika berurusan dengan putranya jika untuk kemaslahatan dunia. Hutan merupakan objek vital bumi, jika rusak maka rusak juga seluruhnya.


"Kau makin berani dan pintar nak!" ujarnya bangga.


bersambung


next?