THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
FLASHBACK 5



Gerard mengepal. Satu laporan yang membuatnya sedikit ketakutan.


Snowden menemukan jas sekolah putranya dan juga sepatu.


"Amati terus!" titahnya.


Sebuah tangan lentik memeluk dada telanjangnya. Anamaria mengecup tengkuk pria itu.


"Sayang, ada apa?" tanya wanita itu.


"Jas sekolah putra kita ditemukan," jawab pria itu datar.


"Apa?!" pekik Anamaria tak percaya.


Gerard berbalik menatap wajah sang istri yang mulai panik. Pria itu memeluk Anamaria dan menenangkannya.


"Sayang, tenanglah!"


"Tapi, apakah itu benar-benar milik putraku?" tanya wanita itu menatap sang suami.


"Dia tak tau jika hanya kita yang memakai simbol dolar di kerah bagian dalam jas itu," ujar sang pria.


"Jikapun dia menemukannya. Itu tak berarti apa-apa karena tak ada artikel atau data yang mengatakan jika jas itu milik putra kita," jelasnya lagi.


"Tapi bagaimana jika dia ke sekolah dan bertanya pada semua murid?" tanya Anamaria takut.


Gerard terdiam. Sekolah elite itu sangat ketat, bahkan para wartawan tak bisa sembarangan mengambil gambar di sana. Sekolah itu benar-benar ketat.


"Sekolah pasti tak akan membiarkan murid-muridnya bersosialisasi dengan orang asing!"


"Jika ia memakai lencananya, habis semua!" sahut Anamaria memperingati suaminya.


"Tenang lah sayang. Jangan buat aku makin tertekan," ujar pria itu merebahkan diri.


Anamaria pun diam ia mengerti. Lalu memeluk tubuh telanjang suaminya. Ia juga tak mengenakan apapun. Keduanya saling memagut dan mereka kembali menyatu dalam gelora cinta yang dalam.


Sementara di lab. Edward menatap lapisan yang baru saja mengeluarkan data. Darah yang menempel di jas bukan darah manusia melainkan darah binatang. Soal simbol dolar yang terdapat pada kerah juga tak menunjukkan kepemilikan seseorang. Bahkan sepatu yang ditemukan juga hasilnya nihil.


"Tuan, kami menemukan delapan pembeli sepatu yang sama dengan yang anda temukan!" lapor petugas lab.


Snowden langsung berdiri dan mengecek. Ada nama Georginio Abraham Riches.


"Apa hubungannya dengan keluarga Riches?" tanya Edward.


"Di sini bilang masih sepupu dekat dengan Tuan Gerard Riches. Tinggalnya di kota xxx. Pertemuan terakhir mereka dua tahun lalu," jawab petugas.


Edward memijat pelipisnya. Pria itu benar-benar buntu. Tapi, otaknya berpikir keras.


"Jas itu milik sekolah mana?" tanya pria itu.


"Sekolah Elite di xxx!" jawab petugas itu.


Pria itu melihat arloji yang melingkar di lengan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 15.35. sudah tak ada mata pelajaran lagi. Ia yakin ke sana hanya akan sia-sia saja. Pria itu akan menggunakan lencananya untuk memaksa membuka gerbang sekolah.


"Anda tak pulang tuan?" tanya petugas.


"Jika aku pulang, aku tak mau kembali lagi, Leo!" jawab pria itu.


"Tuan, darah yang ada di jas sekolah ternyata darah serigala!" lapor salah satu petugas.


Snowden langsung terkejut. Pria itu bangkit dari duduknya. Ia melihat DNA yang cocok dengan darah yang ditemukan.


"Jasad pria itu terkoyak oleh binatang buas. Baju ini ada darah serigala,"


Pria itu berpikir keras. Lalu ia terkejut bukan main.


"Jangan-jangan putra Tuan Lockhart diumpankan pada serigala!" serunya terkejut bukan main.


"Jangan ambil persepsi salah tuan. Baju ini bukan milik Tuan muda Lockhart!" Edward menepuk keningnya.


"Aku terlalu antusias, Leo!" ujarnya frustrasi.


Pria itu memilih tidur di lab. Wartawan juga sudah tak sebanyak awal. Mereka pergi satu persatu, kasus pembantaian keluarga Lockhart sudah tak jadi sorotan media. Semua sibuk dengan skandal perdana menteri yang terciduk tengah berkencan dengan model ternama.


Pagi hari, Edward benar-benar pergi ke sekolah elite itu. Pria itu membawa jaket yang ia yakini milik salah satu murid di sana.


Pria itu keluar dan berbicara pada petugas penjaga gerbang.


"Maaf tuan, kami sudah diintruksikan untuk tidak membuka pintu atas nama siapapun!' tolak penjaga gerbang tegas.


"Tapi saya polisi, ini kemungkinan ada kasus penculikan!' serunya masih ingin berkompromi.


"Maaf tuan, kamu tak bisa!' tolak penjaga itu lagi.


"Anda melanggar hukum. Kamu tau jika melanggar hukum?" ancamnya sambil mengeluarkan lencana miliknya.


"Memang itu jas milik dari salah satu murid kami, tuan!" jawab kepala sekolah.


"Tolong beri tahu siapa pemiliknya, ini kemungkinan penculikan dan pembunuhan," ujar Edward.


"Tapi, murid itu sedang belajar," jawab kepala sekolah.


"Apa?" Edward tak percaya.


Kepala sekolah memanggil penjaga kelas.


"Panggil Andrew datang ke sini!" titahnya.


Tak lama murid yang di maksud pun datang. Anak itu terlihat ketakutan ketika Snowden menatapnya.


"Hei jangan takut, aku tak mengigit!" ujarnya.


"Tenanglah tuan. Tatapan anda membuat anak didik saya takut!" tegur kepala sekolah itu.


"Lepas jasmu nak," pinta Edward.


Anak laki-laki itu menatap kepala sekolahnya. Perempuan berkacamata itu mengangguk. Secara perlahan bocah itu membuka jas. Snowden harus sabar menunggunya. Hingga ketika jas itu sampai di tangannya ia memeriksa semua dan menemukan simbol dolar di kerah dalam milik anak itu. Pria itu sampai berdecak kesal. Ia pun mengembalikan jas itu pada pemiliknya.


"Apa sudah Miss?" tanya anak itu.


Kepala sekolah mengangguk dan mengucap terima kasih. Lalu bocah itu pun kembali ke sekolah.


"Apa rasa penasaran anda sudah terjawab?" tanya kepala sekolah.


"Belum. Jika memang ini adalah milik Andrew. Kenapa bisa ada di pinggir hutan?" tanyanya dengan penuh selidik.


"Waktu itu kami tengah mengadakan wisata alam ...."


Edward memukul meja dengan keras hingga berbunyi dan semua benda di atasnya terjatuh.


"Jangan berbohong nona!" teriaknya marah.


"Kau kira aku tak tau jadwal kalian!?" serunya lagi.


"Ada salah satu kegiatan yang tidak di list oleh pihak yayasan demi keamanan anak-anak!" seru wanita itu juga tak mau kalah.


"Miss Edna Lewis!" teriak Edward.


Wanita itu terdiam. Kemarahan Edward membuatnya takut.


"Kau tau, aku bisa mengecek semua data perjalanan semua bus sekolah. Pinggir hutan bagian selatan sangat tidak dianjurkan untuk tempat wisata anak-anak!" Edward mengingatkan wanita berkacamata itu.


"Apa perlu kulaporkan pada semua orang tua siswa jika anda ingin mencelakakan semua murid?" tekan pria itu lagi.


Edna gemetaran. Tentu saja yang ia katakan itu tadi bohong, atas perintah atasannya. Siapa sangka kepala polisi yang kini menjadi detektif sangat pintar dan tak menelan bulat-bulat apa yang ia katakan.


"Kau tau apa yang bisa ku lakukan pada sekolah ini jika aku melaporkan apa yang kutemukan di jas ini!" ujarnya lalu duduk sambil menyilang kaki.


Edna hanya diam tak bergerak. Tubuhnya sedikit gemetar. Edward menatap wanita cantik itu, pria itu adalah seorang player sebelum bertemu dengan kekasihnya. Jiwa petualangannya bangkit melihat tubuh gemetar Edna.


Wanita itu hanya mengenakan kemeja putih dengan kerah berpita. Tubuh sintal dengan dada padat. Ia berdiri dan mendekat. Tangannya menjulur dan seketika Edna memejamkan mata.


"Apakah pintu terkunci?" tanya pria itu.


"Hah, apa?" tanya wanita itu.


Edward tak tahan. Ia menarik tubuh wanita itu dan kedua bibir pun saling bertemu.


Dua jam berlalu. Edna duduk dengan baju yang berantakan. Di sela-sela pahanya ada cairan yang baru saja keluar dari sang pria. Napas Edna memburu. Lipstiknya sudah hilang karena perbuatan pria yang baru saja mencecapnya dengan ciuman yang panas dan bahkan di leher dan dadanya ada bekas tanda dari pria itu.


Ponselnya berdering. Ia pun mengangkat dan menerima panggilannya.


"Halo!"


"Bagaimana?" tanya seseorang di seberang telepon.


"Beres, dia player sepertimu tuan, hanya ia tak tahan lama," jawabnya dengan seringai licik.


"Kerja bagus!" sambungan telepon ditutup.


Sedang dalam mobil. Edward memukul keras kemudinya dan meruntuki kebodohannya. Tapi, kelakuan wanita tadi membuatnya lupa diri.


"Andai tadi malam aku pulang, mungkin aku tak begini," keluhnya.


bersambung.


next?