
"Bagaimana Zeus?" tanyaku pada binatang besar itu.
Hewan itu tak menjawab apapun. Sepertinya Zeus belum sepenuhnya percaya jika aku bisa membawa ayahku yang kaya raya itu menghentikan semua pembalakan liar.
"Zeus!"
Aku mengikutinya. Binatang itu terus melangkah cepat. Mau tak mau aku juga berjalan cepat. Lambat-laun Zeus mulai berlari meninggalkanku. Aku tak kehabisan akal.
Kuraih akar yang menggantung dan langsung mengayunkan tubuhku dari dahan yang satu ke dahan lainnya.
Semua ingatanku sebenarnya sudah kembali. Bahkan aku ingat siapa nama dan ibuku juga di mana aku tinggal. Beberapa serigala juga mulai mengikuti ketua mereka, kelompok Zeus makin lama makin banyak. Aku juga sudah bertemu serigala pertama yang menemukanku yakni Lecra. Aku kira Lecra adalah jantan, ternyata dia adalah serigala betina. Lecra adalah istri Zeus.
Pertama kali aku mengetahuinya juga sangat terkejut. Binatang betina itu memanggil suaminya dengan sebutan yang mulia. Aku rasa Zeus adalah dewa yang menjelma menjadi hewan.
"My Lord!"
Lecra ada di bawah sana ikut. berlarian dengan kawanan lainnya. Serigala merupakan hewan monogami. Dengan begitu binatang itu dapat meneruskan keturunan murni hingga bisa menentukan hierarki dalam kelompoknya.
Aku turun setelah sampai pada gua tempatku tinggal. Beberapa serigala kini tidak lagi melihatku dari kejauhan. Binatang-binatang itu sudah berani duduk depan gua dan menjaga hewan peliharaan juga kebunku.
"Lecra!" aku memeluk hewan itu dan mengelus kepalanya.
Ketika di dalam gua. Zeus sudah ada di dalam menungguku. Binatang itu menatapku dalam.
"Duduklah My Lord!" pintanya.
Aku pun duduk di alas empuk dan kini makin tebal karena aku mengambil sleeping bag milik para pemburu yang tertinggal. Gosip hantu hutan sudah beredar di seluruh penjuru kota dekat hutan.
"Apa kau tau tentang pembantaian keluargamu oleh Kiev Orlando Riches?" aku mengangguk.
"Kiev melarikan diri setelah semua satuannya dibantai oleh semua pengikut Zoor.
"Apa di sana masih tak aman?" tanyaku.
"Menurut info yang didapat oleh Lecra penyelidikan tentang pembantaian itu sudah masuk penyelidikan akhir. Sayang, Lecra tak bisa mengambil banyak informasi dari manusia karena keterbatasan gerak," jelas Zeus.
"Kami takut, Kiev masih mengincarmu dan merencanakan pembunuhan kembali atas dirimu!" jawab Zeus lagi.
Aku hanya diam mendengarkan keterangan Zeus. Binatang itu keluar dari gua, aku mengikutinya. Kali ini aku memancing. Para pemburu meninggalkan alat pancing dan umpan mereka. Jadi dengan mudah bisa menangkap ikan.
Kuperiksa kebunku. Wortel tumbuh dengan sempurna. Ada beberapa kelinci mencurinya, aku biarkan saja.
"My Lord ... manusia memasang jebakan lagi!" seru Lecra.
"Sekarang banyak babi hutan masuk ke perkampungan warga. Kalian sudah tau letaknya berhati-hatilah!" ujarku.
Semua serigala membubarkan diri. Aku tak pernah bertemu dengan Zoor lama sekali. Entah apa yang dilakukan binatang itu. Nyaris semua kawanannya sudah bergabung dengan kawanan yang Zeus pimpin.
Aku kembali memanaskan tubuh dengan berlari kecil. Lalu, kuayunkan langkah cepat ke arah di mana jebakan itu berada, hari sudah beranjak sore. Banyak hewan pulang ke sarang mereka dengan membawa hasil buruan. Di sana dua ekor kijang betina dan satu babi hutan kena perangkap. Dua rusa kulepas seperti biasanya sedang babi hutan kusuruh kawanan serigala itu membunuhnya dengan sekali gigitan di leher. Babi itu menguik lalu mengejang dan mati.
Pagi menjelang, aku kembali berlatih bersama kawanan serigala. Kali ini instingku dilatih untuk melihat cuaca sekitar.
"Sepertinya akan ada badai salju dan petir," ujarku.
"Yang lebih parah dari itu My Lord, angin ****** beliung!"
Aku ke tempat di mana Boop berada, di sana aku juga membiakkan madu. Boop senang dengan pembiakan itu binatang itu mudah mendapat madu tanpa harus bersusah payah.
Usai mengambil madu. Aku kembali ke gua.
"Kita akan bertemu setelah musim dingin berakhir Lecra!' ujarku mengelus kepalanya.
Zeus menunggu pasangannya itu. Lalu semua hewan pergi ke sarang mereka. Aku menutup pintu gua, salju sudah turun satu minggu lalu. Semua kawasan sudah memutih karena tertutup salju.
Di dalam gua aku memandang sekeliling. Banyak barang hasil jarahanku. Aku juga memfoto hewan-hewan yang tengah membawa buruan mereka dan tengah bermain bersama kawanannya. Kurebahkan tubuhku dan tidur.
Tak butuh waktu lama, badai datang dua hari setelahnya. Aku bisa mendengar suara angin ribut di luar. Dahan-dahan yang bergoyang dan patah. Bunyi batang pohon yang tumbang. Sepertinya alam tengah murka.
Duar! Bunyi petir memekakkan telinga. Dinding gua makin lama makin dingin. perapian mulai mengecil karena suhu semakin dingin. Kuambil serabut yang sengaja kusiapkan. Kutaruh dalam bara, seketika api pun kembali besar, suasana makin hangat.
Aku melatih otot lengan dan perut dengan melakukan push-up dan juga sit up. Aku tak semerta-merta berdiam diri dalam gua. Mencoba menghemat makanan yang ada karena menurut perkiraanku musim dingin ini akan berlangsung sedikit lebih lama dan lebih dingin.
Selama tiga bulan aku berkurang dalam gua, perbekalanku mulai habis. Semenjak rumor hantu hutan. Pemburu tak lagi datang dengan menginap. Mereka hanya datang mengandalkan peruntungan jika jebakan mereka ada yang terkena. Walau aku selalu menggagalkan mereka.
"Apa aku biarkan mereka mendapat buruannya ya, biar kembali menginap di hutan.
"Aha!" seruku senang ketika ada melintas ide di kepalaku.
"Kutangkap babi hutan dan melepaskan mereka ketika musim berburu tiba!" lanjutku dengan ide brilian.
Aku bertepuk tangan sendiri dengan ide yang terlintas di kepala ku.
Badai masih berlangsung di luar sana. Aku hanya tinggal menunggu reda dan mengambil beberapa perangkap hewan untuk kuletakan di beberapa tempat yang biasa dilalui oleh binatang perusak itu.
Dua hari badai sudah reda. Aku sudah punya tanggal di dinding gua. Bahkan aku juga punya jam tangan jadi aku tahu waktu yang berjalan. Belum ada binatang yang muncul. Aku memakai jaket bulu tebal hasil sitaanku milik para pemburu. Mengambil jerat tali dan jaring agar tak melukai binatang itu.
"Jika kuhitung musim semi akan datang dua minggu lagi, jadi ketika pemburu datang kulepas binatang-binatang ini agar diburu manusia!"
Kutarik kurungan besi untuk merangkap babi itu. Memberi umpan di dalamnya dan meninggalkannya begitu saja.
"Semoga keberuntungan ada dipihakku!' harapku.
Benar saja, besok paginya aku mendapat dua babi hutan masuk perangkap itu. Mereka berusaha keras mendorong jeruji besi itu. Dengan cekatan kuambil kain hitam dan menutup kerangkeng sementara.
"Masih dua hari lagi. Sabar ya ... aku pasti melepaskan kalian," ujarku pada hewan yang tengah menguik keras di dalamnya.
bersambung.