
Stefanus menangis ketika usai membaca hasil tes di tangannya. Rebecca tertawa meledek suaminya itu.
"Kau meragukan putramu sendiri, dari dulu Adrian," ujarnya datar.
Becky memutar tuas kursi rodanya. Ia kembali ke kamarnya. Stefanus masih setia dengan isak tangisnya. Ia sangat ingat ketika istrinya sadar dari komanya. Becky langsung mencari putranya.
"Where is my son?!"
Becky kembali drop ketika Stefanus mengatakan jika putranya menghilang pada malam pembantaian. Perempuan itu memarahi suaminya.
"Kenapa kau tak mencarinya!" teriaknya.
"Kenapa kau membiarkan polisi menutup kasusnya, padahal putramu belum ditemukan!" Becky terisak dan lalu kembali drop.
Ketika sadar, perempuan itu tak banyak bicara. Kamar keduanya terpisah semenjak itu. Stefanus memang menempatkan kamar istrinya di bawah agar memudahkannya bergerak. Sedang pria itu memilih kamar sebelumnya. Selama tiga tahun Becky hanya berlaku manis jika ada orang lain dan para maid. Tetapi jika hanya berdua saja. Wanita itu diam dan dingin terhadap suaminya.
Stefanus bangkit dengan tubuh lunglai. Ia berjalan gontai, menuju kamar istrinya. Di sana wanita itu telah merebahkan tubuhnya dibungkus selimut.
"Sayang," panggilnya.
Tak ada pergerakan di sana. Adrian melangkah dan naik ke tempat tidur ia masuk dalam selimut dan memeluk istrinya. Tiga tahun pria itu tak menyentuh Becky karena sikap dingin sang istri padanya.
"Please forgive me," pintanya memohon.
Stefanus sangat tahu di mana letak sensitif istrinya. Wanita itu melenguh dan berdecak. Ia juga sangat merindukan suaminya. Becky berbalik perlahan kini ia berhadapan dengan suaminya.
"I'm sorry," pinta pria itu.
"Maaf untuk apa?" tanya wanita itu berbisik.
"Maaf karena meragukanmu dan putra kita," jawab pria itu lirih.
Stefanus merapikan riapan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Perlahan ia mengecup kening sang istri mesra, Becky menikmatinya dengan memejamkan mata.
"Apa kau memaafkan aku?" tanyanya lagi.
"Aku sudah memaafkanmu, sayang," jawab Becky lalu mengecup bibir sang suami..
Malam itu Stefanus memasuki istrinya dengan penuh kelembutan. Ia menciumi bekas operasi luka menganga yang hampir mengeluarkan seluruh isinya itu. Ia bersyukur istrinya hidup dan bertahan juga mengembalikan putra mereka.
Kembalinya Sam, menjadi trending topik dan mengangkat kisah lama. Pembantaian itu diduga dilakukan oleh orang yang mengenal dekat dengan keluarga Lockhart.
Kasus yang telah lama ditutup dan semua bukti telah terbakar. Banyak yang meminta kasus ini dibuka kembali. Tetapi, semua bungkam karena Lockhart menolak dan menyatakan tidak ingin membuka luka lama.
Pagi menjelang. Stefanus dan Becky sarapan dengan Sam, untuk pertama kalinya pria itu duduk di tengah-tengah meja makan bersama-sama. Sam sempat mengernyit melihat ayahnya duduk di sana.
"Ayah ikut makan bersama?"
Sam masih ingat bahkan dulu sebelum ia menghilang Stefanus tak pernah makan bersama di meja makan. Terkadang ia sendirian, karena sang ibu selalu diajak pria itu mengikuti perjalanan bisnis. Becky melirik ekspresi suaminya yang memerah karena malu.
"Kau mau makan apa sayang?" tanya Becky bergerak hendak mengambilkan makanan.
"Aku mau sandwich lengkap ma, sudah lama tak makan itu," kekeh Sam.
Becky tersenyum dan membuat sandwich kesukaan putranya itu. Stefanus menatap putranya makan dengan lahap. Pria itu masih kaku berhadapan dengan putra yang sempat ia tolak sebelumnya itu.
"Sayang, apa kau ingin sekolah di rumah atau pergi ke sekolahan elite?" tanya Becky.
"Kenapa kau tak ingin sekolah dan bertemu banyak teman Sam?"
Sebuah suara besar mengagetkan Sam. Untuk pertama kalinya lagi Stefanus bertanya pada putranya. Dulu, Sam yang berinisiatif berbicara pada ayahnya. Walau tak pernah ditanggapi serius oleh sang ayah tetapi Sam tak pernah lelah bercerita.
"A—ayah bicara denganku?" tanya Sam berkaca-kaca.
"Ya aku bertanya padamu," jawab pria itu lalu menatap putranya.
Sam tersenyum lebar. Ia merasa bahagia akhirnya sang ayah memperhatikannya.
"Aku kurang nyaman dengan anak-anak orang kaya. Mereka terlalu sombong," jawabnya.
Sam memang memiliki rencana sendiri, ia tak mau bersosialisasi terlalu banyak dengan manusia, ia yakin para serigala pasti merasakan kehadirannya ketika di tempat terbuka. Terlebih sekolah elite tidak ada di kota besar. Sekolah itu berada di dekat gunung dan hutan agar tak terlalu berisik dan menenangkan.
"Ma, apa aku boleh ikut kelas akselerasi?"
"Tentu, jika kau sanggup sayang," jawab Becky.
Usai makan Stefanus langsung memegang bahu putranya. Netra sama saling pandang.
"Maafkan ayah!" pinta pria itu tulus.
Sam tersenyum dan ia mengangguk. Pria itu memeluknya dan mengucap terima kasih. Usai memeluk dan mencium anak dan istrinya pria itu berangkat bekerja.
Sementara itu, di sebuah bandara dua orang turun dari pesawat komersil. Seorang remaja berusia delapan belas tahun menggandeng ibunya. Keduanya langsung berjalan menuju troli lalu menuju rel yang mengeluarkan koper-koper. Usai mengambil koper mereka. Keduanya pun langsung pergi dan meninggalkan bandara. Seorang supir sudah menunggu mereka di depan lobby bandara. Keduanya masuk setelah koper di masukkan ke dalam bagasi. Kendaraan itu pun meninggalkan bandara menuju hunian mereka yang mewah.
Selama satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai ke hunian bertingkat itu.
"Son!"
"Dad!"
Keduanya berpelukan. Gerard begitu merindukan putranya. Sang istri menghapus matanya yang basah. Ia ikut memeluk dua lelaki kebanggaannya itu.
Ketiganya kini ada di meja makan untuk makan siang. Remaja itu banyak bercerita tentang apa saja yang ia lakukan di Milan, Italia. Gerard menatap bangga pada putranya itu.
"Jadi sekarang, apa kau ingin kuliah di sini?" remaja itu mengangguk.
"Aku dapat undangan masuk kuliah di universitas San Fransico!"
Gerard mengangguk. Ia akan mengeluarkan sebanyak apapun uang untuk kebutuhan putranya. Walau kini perusahaan sedang tidak baik-baik saja, tetapi untuk putranya ia siap melakukan apapun untuk putranya.
Kejadian lima tahun lalu membuat Gerard harus menutup tiga anak perusahaannya. Menjual jet pribadi dan beberapa aset lainnya. Beruntung ia masih memiliki beberapa properti yang nilai jualnya sangat tinggi. Pria itu memang sangat memuja putranya.
"Kau catat saja apa yang kau butuhkan, Daddy akan memberikannya," sahut pria itu membuat Kiev senang.
Kiev Orlando Riches, kini sudah menjadi sosok tampan dan gagah. Lima tahun berlalu, kasus sudah ditutup dan tak akan bisa dibuka kembali dan pasti kepolisian akan kesulitan karena bukti musnah dilalap si jago merah.
Merasa aman dan tak ada lagi pembicaraan tentang kasus pembantaian lima tahun lalu, Gerard memanggil pulang putra dan istrinya pulang. Pria itu tak pernah membaca majalah bisnis yang kini ramai tentang kasus lima tahun tentang kejadian itu. Pria itu tak tahu jika Sam sudah kembali ke keluarganya.
bersambung.
next?