THE LORD (Me And The Wolfs)

THE LORD (Me And The Wolfs)
HOME



Sam berdiri di depan pintu gerbang yang tinggi. Tampak beberapa tukang kebun merapikan taman. Seorang petugas dengan seragam keamanan menghampiri Sam. Pria itu menatap dengan pandangan curiga.


"Kamu mau cari siapa?" tanyanya.


"Aku mau cari Tuan Stefanus Lockhart," jawab Sam.


Pria itu menatap remaja dari atas kepala hingga ujung sepatu. Apa yang dipakai Sam adalah setelan pemburu. Belum lagi ransel yang ada di punggungnya.


"Ada urusan apa? Kamu siapa?" cecarnya.


"Aku Samuel Lockhart," pria itu tiba-tiba tertawa terbahak.


"Kalau begitu, aku adalah Stefanus!" sahutnya meledek.


Sam diam. Tentu lima tahun berlalu, semua maid dan penjaga yang remaja tiga belas tahun itu kenal sudah tewas dibantai oleh Kiev dan orang-orang bayarannya.


"Pergi lah, jangan mengaku-ngaku!" usir penjaga dan melangkah pergi.


"Tapi Sam belum mati kan?!" pria itu berhenti.


"Jangan sok tau!" ujarnya gusar.


'Kejadian itu sudah lama sekali, tidak mungkin ....' pikir pria itu.


"Ijinkan aku bertemu dengan tuanmu. Jika Tuanmu tak mengenaliku, aku akan pergi dan tak kembali lagi!" teriak Sam.


Pria itu berbalik badan. Wajah remaja di depannya sekilas mirip dengan tuannya. Pria itu membuka gerbang. Sam mengucap terima kasih. Ia diantar ke dalam mansion. Remaja itu sedikit pusing ketika sampai di dalam.. Kelebatan memori masa lalu kembali hadir.


"Kau tak apa?" tanya petugas keamanan khawatir.


"Aku tidak apa-apa," jawab Sam.


Ia melihat lukisan besar di atas perapian. Lukisan kakek dan neneknya. Sam mengernyit.


"Mestinya lukisan keluarga di sini," gumamnya.


Petugas itu melihat apa yang dilihat Sam.


"Lukisan sebelumnya rusak dan anak yang di dalam sana menghilang, jadi tak dipajang," jelasnya.


"Tunggu di sini, aku akan ...."


"Bukankah ruang kerja ada di sebelahnya?" sahut Sam ketika sampai pada sebuah pintu. Petugas itu menatap pintunya. Ia menggaruk kepala, pintu berukuran lebih besar terbuat dari kayu dan berukir ada di sebelah pintu itu.


"Dari mana kau ...."


"Jhon ... apa yang kau lakukan di sini?" seorang pria muncul dari arah kamar tamu.


Sam melihat seragam yang dipakai oleh perempuan yang datang adalah kepala maid.


"Siapa anak ini, kenapa kau main masukkan orang asing?" cecarnya tak suka dan memandang curiga pada Sam.


Kaos yang dikenakan Sam sedikit kebesaran begitu juga celananya. Wajah Sam kusam, namun manik abunya begitu kuat. Wanita itu sedikit tertegun.


"Ada apa ini ribut-ribut?' sebuah suara mengagetkan semuanya.


Stefanus Lockhart keluar dari ruang kerja karena merasa ada keributan dari luar ruangannya.


"Tuan ada yang mencari anda," ujar petugas lalu mundur untuk memperlihatkan Sam.


Stefanus terpaku dalam diamnya. Ia menatap sosok anak laki-laki berusia tiga belas tahun. Sebuah kalung berinisial S yang sangat ia kenali.


"Siapa kau dan dari mana kau dapatkan ini?" geramnya lalu menarik kalung Sam.


Remaja itu terkejut. Stefanus tentu bisa melihat kalung di tangannya itu asli atau bukan.


"Tidak mungkin!" serunya tak yakin.


"Aku Samuel Lockhart ... ayah,"


Sam duduk di hadapan Lockhart. Ia bercerita tentang ketika pertama kali ia sadar dari tidurnya yang panjang.


"Aku hilang ingatan hingga tiga tahun," jelasnya.


Namun, kisah ia bercerita tentang serigala yang bisa bicara dengan manusia. Stefanus langsung tak percaya dan mengatakan jika remaja tanggung itu bukan putranya.


"Lalu jika aku bukan putramu, dari mana aku tau rumahmu, memakai kalung itu dan tau kisah ini?" tanya Sam dengan suara keras.


"Kisah pembantaian itu ada di koran-koran dan hilangnya putraku juga ada di sana!" lanjutnya.


"Kau pasti menunggu waktu yang tepat, sedang kalung ini. Kau mencurinya!"


"Bagaimana aku mencurinya!" teriak Sam berani.


"Kau anak penculik anakku, ya kau pasti anak dari penculik itu!' tekan Stefanus.


Sam kesal bukan main. Ia mengambil pot dan melemparnya ke jendela. Perbuatan yang sama ketika dulu ia marah pada maid atau siapapun yang membuatnya kesal.


"Zeus!" teriaknya.


"Sayang ada apa ini?" sebuah suara lembut yang Sam kenali.


Seorang wanita memakai kursi roda. Luka robek di perut wanita itu membuatnya koma selama dua tahun dan ketika sadar, Rebecca Jhonson tak bisa berjalan. Wanita itu menatap Sam yang berlinang air mata.


"Sam?"


Stefanus terkejut istrinya memanggil bocah yang kini menangis karena kesal terlebih wanita itu memanggil nama putra mereka.


"Sayang, jangan tertipu ... kau pasti mendengar ia menyebut namanya kan?"


Pria itu mendekati istrinya yang terus menekan tombol agar kursi rodanya berjalan. Wanita itu tak memperdulikan suaminya, ia terus menatap anak laki-laki yang masih menangis.


"Sam!' panggil wanita itu dengan suara tercekat.


"Sayang!" peringat Stefanus.


"Aku seorang ibu, tentu aku mengetahui dia putraku atau tidak," ucap Rebecca lalu tangannya menjulur ke pipi Sam.


"Mama ... hiks ... hiks ... Mama!" Sam langsung memeluk wanita itu.


"Putraku ... putraku masih hidup!" ucap Becky dengan air mata berderai.


"Sayang?" Stefanus masih belum percaya.


"Jika kau tak percaya, kita bisa tes DNA kan?" tanya Becky mengurai pelukannya.


Wajah Sam yang berdebu dan kusam, tubuh kurus dan berotot. Tinggi tubuh Sam sesuai dengan usianya. Becky bisa mengenal putranya, ikatan batin yang mengatakan jika anak laki-laki di depannya adalah putranya.


Stefanus mengambil helai rambut pirang milik Sam. Ia akan membawanya ke rumah sakit miliknya dan meneliti apakah DNA anak laki-laki ini sama dengannya.


Becky menatap putranya ketika bercerita bahkan tentang serigala yang bisa bicara dengannya. Wanita itu percaya putranya tak berbohong sama sekali.


"Mama pasti mendengar perihal hantu hutan kan?"


"Maaf sayang, mama tak suka dengan hal tentang berburu," jawab wanita itu menyesal.


"Hantu hutan?" tanya Stefanus.


"Ya, bagian barat hutan di mana pemburu selalu meletakan jebakannya. Pintu masuk hutan secara umum?!" ujar Sam begitu semangat.


"Aku pernah dengar, beberapa kolegaku adalah pemburu, mereka sering membicarakan tentang hantu yang mengambil semua barang mereka yang tertinggal," jelas Stefanus mulai tertarik.


"Aku lah hantu itu," sahut Sam dengan nada bangga.


Stefanus tertawa tak percaya. Sang istri memperingatinya.


"Kau memang tak pernah percaya pada putramu Adrian!" tekannya tajam.


Stefanus bungkam, dari dulu ia selalu menganggap remeh putranya, di mana semua kolega akan membanggakan putra mereka Stefanus menganggap remeh semua kata yang keluar dari mulut putranya. Ia tak pernah percaya jika tak ada bukti.


"Ayo, jangan hiraukan dia. Kau pasti belum makan kan?" ujar Becky lalu mengajak Sam ke ruang makan.


"Ah ... sup kacang merah!" teriak Sam senang.


Becky tersenyum. Satu poin jika Sam adalah putranya, hanya Stefanus yang masih ragu. Tetapi ketika melihat cara makan Sam yang melahap sayuran, baru lah Stefanus sedikit percaya jika bocah yang tengah makan lahap itu adalah putranya.


Zeus menatap mansion itu. Tadi ia mendengar sang junjungan memanggil namanya sambil menangis. Binatang besar itu yakin terjadi sesuatu di dalam sana. Tapi lambat laun, Sam tak kunjung keluar dari mansion.


"Aku akan menunggu janjimu, My Lord!" ujar Zeus lalu pergi meninggalkan hunian mewah itu.


bersambung


next?