
Edward datang ke kantor pusat. Pria itu diminta datang oleh Stewart, komisaris besar polisi. Stewart tengah melihat laporan yang diserahkan anak buahnya itu.
"Apa ini?" tanyanya melempar berkas di kaki Edward.
"Sudah nyaris satu bulan kau menyelidiki ini, tapi satu tersangka pun kau tak bisa tangkap?" tanya pria itu gusar.
"Saya akan mendapatkannya sebentar lagi komandan!" seru Edward.
"Apa yang kau dapatkan?" teriak pria itu.
"Hanya satu mayat diduga tersangka?" desis pria itu dengan tatapan remeh.
"Bahkan laporanmu tak menunjukkan apa-apa selain barang-barang milik anak orang kaya?!" sahutnya lagi sambil berkacak pinggang.
Stewart bertubuh tinggi 177cm dengan bobot 90kg. Pria itu bertubuh bulat dengan perut buncit dan rambut tipis. Pria itu mengenakan kemeja putih dan dasi warna navy. celana dengan warna senada dan sepatu pantofel hitam. Ia juga mengenakan holstein ganda di tubuhnya.
"Sekarang katakan sudah sampai mana penyelidikanmu?" tanya Stewart lagi.
Edward diam. Penyelidikan memang belum berkembang bahkan menemukan salah satu tersangka saja ia tidak bisa.
"Kemarin kau mendatangi sekolah elite dan mengacau ... katakan apa maksudmu?" tanya pria itu lagi kini duduk di kursinya.
"Saya menemukan jas milik anak didik sekolah itu. Di jas ada noda darah ...."
"Hanya itu?"
"Bukan itu saja, sepasang sepatu mahal saya temukan di lokasi berbeda. Satu dekat mansion Lockhart dan satu lagi dekat jas yang saya temukan!" lanjutnya dengan nada emosi.
"Lalu?" Stewart sedikit takut jika bawahannya itu menemukan titik siapa pemilik jas sekolah itu.
"Di jas itu bukan darah manusia melainkan binatang ...."
"Kukira kau mendapatkan apa Edward!" sindir Stewart.
"Binatang itu serigala!" sahut Edward membuat Stewart bungkam.
"Bahkan ketika mengambil mayat terduga tersangka, kami dikejar oleh binatang buas itu dalam jumlah banyak!" lapornya.
"Anda tentu baca berkas ini kan?" Stewart hanya diam.
Edward membaca semua tingkah atasannya itu. Ia akan menekan Stewart jika terlibat dengan masalah ini.
"Kenapa anda terlihat gugup komandan?" tanya pria itu.
"Tidak, aku tengah berpikir!" elak Stewart tak acuh.
"Di hutan tentu ada hewan itu," sahutnya dengan pandangan menerawang.
"Di pinggir hutan bagian selatan bukan wilayah serigala komandan!" ujar Edward mengingatkan.
"Mestinya hewan itu ada sedikit di tengah hutan," lanjutnya santai.
"Mungkin mereka bermigrasi," sahut Stewart.
"Tidak di wilayah itu tuan. Lagi pula saya juga mensomasi sekolah karena membawa anak-anak ke pinggir hutan. Itu sangat berbahaya," jelas pria itu.
Stewart diam. Tapi, pria itu masih menanyakan perkembangan kasus. Sudah satu bulan tak ada satu tersangka yang ditangkap.
"Jika pusat menutup kasus ini. Aku tak bisa menolongmu Edward!" ujar pria itu angkat tangan.
Benar saja tak lama pemanggilannya dari kepala polisi wilayah ia juga dipanggil oleh kepala komisaris seluruh polisi kesatuan. Jonan memanggilnya dan bertanya perihal penyelidikannya. Edward tak bisa menunjukkan peningkatan kasus kecuali benda-benda yang tak menunjukkan siapa pelaku pembantaian itu.
"Kami akan ambil alih kasus itu Snowden!' ujar Jonan dengan nada menyesal.
Edward tak bisa apa-apa. Pria itu pasrah dengan apa yang terjadi.
"Ini surat mutasimu. Kau pindah ke daerah barat,"
Edward cukup terkejut dengan pemindahan itu. Ia pun tak bisa menolak jika tak mau dipecat secara tak hormat. Pria itu pun pergi dengan langkah gontai. Ia ke arah kantornya memberi rekap laporan dan mengambil semua berkas miliknya.
Ia pergi membawa semua berkas. Para anak buah menyayangkan pemindahan pria itu ke tempat yang lumayan jauh. Stewart juga hanya memberikan tepukan di bahu untuk menenangkan pria itu. Pria itu masih bekerja di kantor itu hingga satu minggu kedepannya.
Edward memilih pulang ke huniannya sendiri. Ia begitu shock dengan pemindahan ini. Hal itu berimbas dengan pekerjaan pria itu.
Edward mengabdi di daerah utara selama belasan tahun. Ia juga cukup cakap dalam menangani setiap kasus yang terjadi di daerahnya. Stewart menyayangkan sikap pria bawahnya itu.
"Ayo lah ... kau tau jika petinggi-petinggi kita itu suka aneh. Mereka itu tak melihat seberapa keras kerja dan pengabdianmu!" ujarnya mengingatkan.
Stewart akhirnya memanggil kekasih pria itu. Rheina datang menjemput kekasihnya. Ia begitu sedih melihat pria yang ia cintai terpuruk.
"Bawa dia, aku berikan cuti saja selama beberapa minggu," ujar Edward pada Rheina.
Edward adalah polisi terbaik di kesatuan. Maka akan disayangnya jika melepas perwira terbaik itu.
Rheina membawa kekasihnya ke hunian wanita itu. Merawatnya penuh dengan cinta. Tadinya Edward sudah lumayan membaik hingga sebuah berita yang membuatnya kembali terhenyak.
Laboratorium milik kepolisian terbakar habis. Arus pendek menjadi pemicu kebakaran. Hari itu lab kosong dan semua berkas habis dilalap api. Bukti yang Edward kumpulkan juga habis terbakar.
"Apa data komputer juga hilang?" tanya pria itu di sambungan telepon.
"Maaf tuan ... kami sudah memeriksanya, benar data itu hilang juga!"
Edward terduduk lemas. Matanya menerawang dan kosong hal ini membuat Stewart merasa bersalah. Tapi, demi nama baiknya maka ia harus mengorbankan Stewart.
"Maafkan aku Snowden!" ujarnya menyesal.
Begitu terpuruknya pria itu hingga Snowden dilarikan ke rumah sakit. Pria itu depresi. Hal itu membuat kesatuan langsung memberinya pensiun dini. Dokter terbaik didatangkan untuk menangani polisi terbaik itu.
"Kepala Polisi Highs, apa benar penutupan kasus ini menjadi titik dari depresinya Kepala polisi Snowden?" tanya wartawan ketika kasus ditutup.
"Bukan karena itu. Kami memang sudah dari awal ragu dengan perkembangan kasus ini. Pihak keluarga Lockhart menyerahkan penuh kasus ini pada kami!' jelas Stewart.
"Hingga satu bulan lebih penyelidikan, kasus ini diam di tempat dan tak menyasar satupun terduga kecuali ditemukannya mayat itupun kami masih meragukan jika itu adalah pelaku pembantaian!"
"Snowden begitu serius dengan kasus ini. Pria itu sedikit tertekan. Terlebih tiba-tiba semua bukti lenyap akibat kebakaran yang terjadi di lab!" terangnya lagi.
Kasus ditutup setelah lebih dari satu bulan pencarian bukti tak menyasar pada terduga pelaku. Bahkan alat pembantaian tak bisa ditemukan kecuali besi berbentuk cakar hewan buas.
Lockhart juga pasrah. Kepolisian sudah mencari keberadaan putranya tapi tetap tak ditemukan. Hilangnya Samuel Lockhart luput dari media karena tak ada permintaan uang tebusan dari pihak penculik.
Stefanus menemani istrinya yang masih dalam pemulihan. Luka besar diperutnya benar-benar harus mendapat perhatian ekstra. Maka dari itu Lockhart setengah mengikhlaskan kasus itu ditutup.
Di tempat perawatan dan penanganan. Rheina begitu sabar menunggui dan ikut merawat kekasihnya. Perutnya masih rata karena usia kehamilannya masih hitungan minggu.
"Sayang ... cepat sembuh dan kembali padaku," ujar wanita itu lirih.