
Di dalam keadaannya yang seperti itu. Xian Su hanya dapat termenung tanpa dapat berkata-kata, ketika melihat seekor makhluk siluman berbentuk seperti serigala berbulu putih setinggi 20 meter sedang memporak-porandakan desanya dan membunuh orang-orang yang ada di sana dengan keji.
Suara jeritan orang-orang yang di terkam dan di injak oleh mahluk itu membuat Xian Su semakin ketakutan dan tidak bisa berpikir dengan benar.
Ketika mata hijau menyala serigala itu tidak sengaja mengarah kepada Xian Su. Segera serigala itu berlari menuju ke arah perempuan tersebut.
Sementara itu Xian Su yang saat itu masih terduduk lemas. Hanya dapat menatap pasrah siluman serigala yang berlari ke arahnya sambil menangis membayangkan sosok Yin Hao.
'Maafkan aku, Yin Hao..'
Graaaaaa...
Groooo...
Yin Hao yang saat itu sedang berjalan menuju rumahnya, tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika merasakan sesuatu yang tidak enak saat dirinya memikirkan Xian Su.
Refleks Yin Hao menoleh kebelakang ketika merasa ada seseorang yang memanggilnya.
"Xian Su ?"Gumamnya.
Perasaan khawatir terhadap keadaan Xian'Su, akhirnya membuat Yin Hao memutuskan untuk pergi ke desa tempat tinggal perempuan tersebut.
Sesampainya dia di sana. Dengan mata kepalanya sendiri, Yin Hao melihat perempuan yang sedang dia cari di terkam oleh seekor siluman serigala.
Dengan rasa marah yang meluap-luap hingga memenuhi seluruh bagian di dalam tubuhnya. Yin Hao menarik pedang langit malam, lalu melesat ke depan dan menebas wajah siluman serigala itu hingga membuatnya tidak sengaja menjatuhkan tubuh Xian Su.
Yin Hao kembali mendarat di tanah dekat dengan tubuh Xian Su yang terluka parah. Iapun melakukan segel tangan, lalu menepuk tanah dengan sebelah tangannya.
"Aray, pemecah keheningan !"
Tiba-tiba tubuh Yin Hao memecah menjadi 10 bayangan hitam.
Bayang-bayang itu kemudian secara bersamaan menyerang siluman serigala, guna mengalihkan perhatian mahluk besar itu, sehingga memberikan waktu yang cukup bagi Yin Hao untuk menyelamatkan Xian Su.
Meski hanya sedikit dan sangat lemah, Yin Hao masih dapat merasakan aura kehidupan milik Xian Su. Iapun tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri dan kembali muncul di depan rumahnya dalam keadaan terpental menabrak pintu dikarenakan kemampuan teleportasinya yang belum sempurna.
Ling Qian yang saat itu berada di dalam kamar sontak bergegas keluar setelah mendengar suara dentuman keras dari arah depan rumahnya.
Setelah dirinya berada di ruangan tengah. Ling Qian mendapati Yin Hao yang nampak terbaring di lantai dekat pintu sambil mendekap tubuh Xian Su yang terluka sangat parah dengan darah dimana-mana.
"Apa yang terjadi ?!"Dengan perasaan khawatir, Ling Qian segera membantu Yin Hao dan Xian Su.
Iapun bertanya kepada Yin Hao tentang apa yang terjadi. Namun pemuda itu tidak menjawab dan menyuruhnya untuk menyelamatkan nyawa Xian Su yang sedang dalam bahaya.
"Guru, kau pasti bisa menyelamatkan nyawa Xian Su, kan ?"
Ling Qian sedikit ragu, karena luka koyak yang di alami Xian Su sangat parah, hampir mustahil untuk menyelamatkan nyawa perempuan tersebut di kondisinya yang seperti itu.
Ling Qian menggeleng dengan raut terlihat hampir menyerah."Guru tidak bisa, maafkan guru.."
Lalu Yin Hao teringat dengan darahnya yang mampu menyembuhkan sesuatu dengan begitu cepat. Iapun menyayat telapak tangannya, kemudian memasukkan darah yang menetes itu ke dalam mulut Xian Su.
"Bagaimana dengan sekarang ? Dulu guru pernah menyelamatkan seekor tupai yang nyaris mati dengan darahku. Kau pasti bisa melakukannya lagi,"
Ling Qiang hanya tertunduk. Meski sudah menggunakan darah Yin Hao, tetap saja nyawa Xian Su tidak mudah untuk di selamatkan.
"Meskipun kau berkata begitu, hanya 20% kemungkinan Xian Su bisa selamat. Aku janji akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya, namun apapun hasil yang kita dapat, kau harus tetap menerimanya."
Yin Hao terlihat sangat marah, sambil mengerenyitkan alisnya."Ini semua karena mahluk itu !"
"Apa maksudmu ?"Ling Qian terlihat bingung karena masih tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh muridnya itu.
"Akan ku jelaskan nanti jika aku sudah memenggal kepala siluman itu."
Yin Hao kembali menarik pedang langit malam, lalu mengangkatnya ke atas."Hujan pedang !"
Secara mengejutkan, langit yang awalnya cerah berubah menjadi gelap dengan diiringi petir dan gemuruh.
Yin Hao segera melindungi tubuhnya dengan menciptakan lapisan energi berbentuk kubah.
Satu persatu pedang jatuh dari langit dan menghantam tanah. Naluri siluman serigala merasa kalau keadaan akan menjadi buruk, iapun mencoba lari namun ke empat kakinya telah di kekang oleh rantai.
"Jangan harap bisa hidup,"Ujar Yin Hao sambil mempertahankan segel tangannya agar rantai yang mengikat tubuh siluman itu tidak lepas.
Belasan hingga puluhan pedang jatuh dari langit dan semakin lama jumlahnya semakin banyak. Membuat siluman serigala berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kekangan rantai yang mengikat tubuhnya.
Namun usaha serigala itu untuk meloloskan tidak membuahkan hasil, karena setiap rantai yang putus akan langsung Yin Hao ganti dengan menambahkan kapasitas rantai yang mengekang tubuhnya.
Alhasil serigala itu sama sekali tidak dapat bergerak dan hanya bisa pasrah ketika ratusan pedang yang turun seperti hujan menghujam tubuhnya.
"Kurasa siksaan ini kurang. Kau harus merasakan panasnya elemen api ku,"
Yin Hao mengaliri elemen api ke rantai kekangnya lalu membakar siluman itu tanpa ampun, hingga membuat siluman itu meraung kesakitan tapa bisa memberikan perlawanan.
Setelah teknik hujan pedang berhenti.
Yin Hao melepaskan rantai pengekangnya dan melihat apakah siluman itu masih dapat bertahan atau tidak.
Ternyata siluman itu lebih tangguh dari yang Yin Hao duga. Dengan luka bakar dan koyak di sekujur tubuhnya, siluman itu masih dapat berdiri meski terlihat tidak bertenaga.
Siluman itu tiba-tiba melolong sekuat tenaga. Membuat Yin Hao yang kesal, langsung melesat ke depan dan memenggal kepala serigala itu.
"Apa maksud dari lolongan siluman ini ?"Batin Yin Hao, merasa ada yang janggal dengan lolongan terkahir siluman itu sebelum ia mati.
Dari arah hutan, terdengar suara ribut di iringi dengan puluhan pohon yang tiba-tiba tumbang.
Ternyata pohon-pohon itu tumbang akibat di tabrak oleh ratusan siluman kelas bawah hingga menengah dengan bermacam-macam bentuk.
Siluman-siluman itu datang ke desa tersebut dan berhadapan langsung dengan Yin Hao yang nampak berdiri di atas tubuh siluman serigala yang kehilangan kepalanya.
"Ternyata ini arti lolongan tadi ? Tidak ku sangka pertanyaan ku akan terjawab secepat ini. Tapi baguslah, karena aku membutuhkan sesuatu untuk merendahkan amarah ku."
*****
Sementara itu di halaman rumahnya, Ling Qian terlihat mondar mandir sambil berdecak berkali-kali karena merasa sangat khawatir terhadap keadaan muridnya.
Tidak lama kemudian dari arah jalan setapak di depan. Ling Qian melihat muridnya berjalan mendekat sambil menyeret sebuah kepala serigala berukuran besar dengan menggunakan rantai kekang.
Tubuh Yin Hao juga terlihat di penuhi darah dari ratusan siluman yang dia habisi, membuat Ling Qian yang melihatnya merasa khawatir dan segera berjalan menghampiri Yin Hao.
"Ada apa dengan penampilan mu ? Apakah kau tidak apa-apa ??"
"Apakah dia berhasil selamat ?"Tangan Yin Hao.
Ling Qian hanya diam tak bersuara dengan kepala sedikit tertunduk. Tidak di katakanpun, Yin Hao tahu apa yang terjadi ketika melihat ekspresi penyesalan gurunya.
Segera Yin Hao melepaskan rantai pengekangnya dan berjalan masuki rumah. Iapun berjalan ke kamarnya dan menemukan tubuh Xian Su sudah terbujur kaku di atas kasurnya.
Yin Hao hanya dapat menatap
Xian Su yang telah meninggal dengan rasa penyesalan. Namun dia tidak menangis karena mengetahui kalau hukum kematian selalu menyertai mahkluk hidup manapun.
"Maafkan aku, harusnya aku lebih cepat.."
Ling Qian yang saat itu berada di samping Yin Hao hanya dapat mengelus punggung muridnya, agar dia tidak merasa terlalu sedih dan tidak menyalahkan dirinya atas kematian Xian Su.