THE LEGEND OF YIN

THE LEGEND OF YIN
15.PELATIHAN : TEHNIK PEMBELA LANGIT



Tepat di hari kedua latihannya. Li Ming terlihat berdiri di tengah halaman rumahnya dan masih mengulangi gerakan membelah langit.


'Apa-apaan ini ? Sangat membosankan. Aku akan mencoba bertanya lagi kepada guru muda, apakah dia bisa mengajariku tehnik lain selain ini.'


Tidak berselang lama setelah sosok itu


Li Ming bayangkan. Yin Hao terlihat berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah peti berwana hitam berukuran sedang.


"Di dalam peti ini setidaknya terdapat 1000 pil penunjang. Jangan lupa mengkonsumsi 5 butir setiap sebelum dan sesudah berlatih."


Li Ming menatap Yin Hao."Apakah guru muda membuat semua pil ini semalaman demi ku ?"


Yin Hao menggeleng."Bukan demi mu, melainkan demi nyawa mu. Teruskan latihan mu sampai sore, aku akan pergi ke kota untuk menyembuhkan sebagian penduduk yang masih terpapar penyakit flu burung."


"Tunggu, kenapa kau tidak mengajak ku juga ?"


"Jumlah mereka yang masih terjangkit sudah tidak banyak, jadi aku bisa mengatasinya sendiri. Kau fokus saja dengan pelatihan mu."


Yin Hao meletakan peti di tangannya ke atas tanah. Kemudian pergi menuju kota, meninggalkan Li Ming yang terlihat kesal karena tidak di ajak.


"Apa-apaan dia itu, bisanya cuma menyuruh. Argh~ Sialnya lagi, aku lupa menanyakan hal itu kepadanya. Berarti aku harus melakukan gerakan ini berulang kali sampai sore, sungguh sangat menyebalkan !!"


*****


Sementara itu di kota. Tepatnya di rumah pasien terakhir, Yin Hao terlihat berdiri di depan pintu rumah dengan di temani oleh seorang nenek tua.


"Tabib dewa, terimakasih banyak atas bantuan mu. Ku pikir aku akan kehilangan satu-satunya cucu ku, tapi berkat mu dia berhasil selamat."


"Sama-sama nek. Kalau begitu aku pamit pulang dulu,"


"Tunggu sebentar, tabib dewa. Tolong ambil ini sebagai rasa terimakasih ku....


Nenek itu memberikan sebuah kalung dengan sebuah kristal biru sebagai hiasannya kepada Yin Hao.


"Memang tidak mahal. Tapi ku harap benda itu bisa menggambarkan rasa terimakasih ku."


Melihat kalung di tangannya, Yin Hao berpikir kalau benda itu adalah harta satu-satunya yang dimiliki nenek tersebut, sehingga dia memilih untuk mengembalikannya.


"Anda tidak perlu repot-repot membayar, ucapan terimakasih sudah lebih dari cukup bagiku."Yin Hao meletakan kembali kalung itu ke telapak tangan nenek di hadapannya.


"Aku tahu kau akan menolak, karena ku dengar dari orang-orang yang pernah kau tolong, mengatakan kalau anda tidak pernah sekalipun menerima imbalan yang mereka berikan. Namun kali ini kumohon agar kau menerima pemberian ku ini, sebagai rasa terimakasih ku."


Karena nenek itu terus-menerus memaksa, Yin Hao akhirnya menerima kalung itu namun menukarnya dengan kantong kulit biasa.


"Aku tahu kalau kalung ini adalah harta mu satu-satunya. Jadi aku memilih untuk membelinya, ku harap kau mau menerima kantong ku yang tidak seberapa ini."


Yin Hao memberikan kantong kulit di tangannya kepada nenek tersebut, namun melarang nenek itu membukanya jika dirinya masih ada di sana.


"Kau boleh membuka kantong itu jika aku sudah pergi. Selamat tinggal nek."


Yin Hao berjalan pergi meninggalkan rumah itu. Ketika Yin Hao sudah tidak terlihat, barulah nenek itu membuka kantong kulit pemberian Yin Hao dan menemukan banyak koin emas di dalam kantong tersebut.


Mata nenek itu terbuka lebar. Mulutnya terbuka dan tertutup seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Nenek tua itupun terduduk di lantai sambil menangis menatap kantong uang di tangannya, merasa sangat bersyukur dan tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih.


Setelah mengobati pasien terkahir yang merupakan cucu dari nenek sebelumnya. Yin Hao berhasil menyembuhkan seluruh penduduk kota dari wabah flu burung hanya dalam waktu 2 hari.


Karena pencapaiannya, para penduduk kota embun malam menjuluki Yin Hao dengan sebutan Dewa obat.


Karena hari sebentar lagi akan malam. Yin Hao bergegas kembali ke kediaman keluarga Yin untuk melihat hasil latihan Li Ming.


Setibanya di halaman rumah, Yin Hao melihat Li Ming sedang duduk di bawah sebuah pohon.


Segera Yin Hao berjalan menghampiri Li Ming, membuat gadis itu buru-buru berdiri ketika melihatnya.


"Gu-guru muda, kau sudah kembali ?"Ujar Li Ming, sambil menggaruk kepala.


"Apa yang kau lakukan ? Bersantai ketika aku tidak ada ??"


Mendengar perkataan Yin Hao yang terdengar sedikit tinggi, membuat Li Ming merasa sedikit terkejut.


"Aku tidak sedang bersantai, Guru. Hanya istirahat sebentar untuk meregangkan tubuh ku."


"Lalu apakah latihan mu sudah selesai ?"


Li Ming menggeleng."Masih tersisa 100 gerakan."


"Seingat ku tadi pagi aku menghampiri mu dan berjanji akan kembali ketika sore, tapi sampai sekarang kau baru mencapai gerakan ke 100 ?"


Mendengar perkataan Yin Hao yang seperti tidak menghargai usahanya, membuat Li Ming marah.


Gadis itu melempar pedang kayunya ke tanah dan menatap Yin Hao dengan kesal.


"Sudah cukup ! Aku muak bermain permainan guru dan murid dengan mu. Awalnya aku mengagumi mu karena tertarik dengan kemahiran mu dalam pengobatan. Namun sekarang ! Aku merasa jika kau sedang mempermainkan ku dengan menyuruhku melakukan gerakan yang sama selama seharian penuh seperti orang bodoh."


"Membentak guru mu adalah perbuatan yang tidak bagus,"


"Memangnya kenapa ? Lagian aku lebih tua dari mu."Li Ming mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Yin Hao mengambil pedang kayu yang Li Ming lempar."Sikap mu yang sekarang ini mengingatkan ku pada masa kecil ku yang dulunya pemarah dan susah di atur. Aku mengerti kau menganggap gerakan membelah langit adalah tehnik yang bodoh karena aku belum mempraktekan nya sama sekali.."


Yin Hao membuka sedikit kakinya,


lalu melakukan gerakan membelah langit dengan satu tangan.


"Itulah alasan mengapa seseorang yang mempelajari 1 tehnik dengan sabar lebih unggul ketimbang seseorang yang menguasai 100 tehnik dengan terburu-buru."


Yin Hao mengembalikan pedang kayu di tangannya kepada Li Ming, lalu berjalan pergi menuju kamarnya.


Sementara Li Ming yang masih berdiri dengan perasaan bingung seketika terkejut ketika melihat kondisi langit yang terbelah.


"I-ini, tidak mungkin.."