
Ling Qian memeluk Yin Hao sambil mengusap kepalanya sambil berkata."Kau sudah lulus. Tidak terasa sekarang kau sudah besar dan siap mengemban takdir mu yang begitu berat, guru bangga dengan mu."
"Terimakasih guru. Ini semua berkat bimbingan mu,"
Ling Qian melepas pelukannya dan menatap Yin Hao. Kemudian Ling Qian melepaskan cincin yang selama ini ia pakai di jari manisnya, lalu memberikan cincin itu kepada Yin Hao.
"Ini adalah cincin penyimpan tiada batas. Salah satu harta surgawi yang sampai sekarang masih ku miliki, sekarang cincin ini milik mu."
"Terimakasih, guru."Yin Hao memakai cincin itu di jari manisnya.
Dengan memusatkan kesadaran spiritual terhadap cincin itu, Yin Hao dapat melihat isi di dalamnya.
"Di dalam cincin itu terdapat banyak uang, kitab, serta pakaian yang warna dan bentuknya sama seperti yang kau pakai sekarang. Karena pakaian seorang taoist selalu hitam dan putih, mungkin memang sudah dari sana nya."
Mendengar hal itu, Yin Hao hanya tersenyum kecil. Sekarang dirinya tau alasan kenapa pakaiannya setiap tahun selalu sama saja.
"Ternyata begitu, ku pikir guru terlalu pelit untuk membelikan sebuah pakaian baru untuk ku,"
"Tentu saja tidak. Pakaian hitam putih adalah lambang seorang taoist, dengan begitu orang-orang akan mudah mengenal mu."
Yin Hao hanya mengangguk-angguk. Kemudian Ling Qian berjalan memasuki rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Ling Qian kembali berjalan keluar dengan membawa pedang langit malam di tangannya.
"Sekarang pedang ini milik mu,"Ling Qian menyerahkan pedang itu kepada Yin Hao.
Yin Hao menerima pedang itu meski agak ragu, lalu berkata."Bagaimana dengan guru ?"
"Tenang saja, guru masih memiliki banyak pedang bagus di dalam lemari. Meski begitu pedang langit malam adalah pedang yang paling dekat dengan guru, karena sudah menemani guru sejak guru masih kecil, jadi guru mohon agar kau menjaganya selalu."
Yin Hao membungkuk dan berjanji akan menjaga pedang langit malam dengan nyawanya sendiri, membuat Ling Qian tersenyum kecil melihatnya.
Kemudian Ling Qian menatap Yin Hao dengan serius.
"Yin Hao, sebelum kau pergi, guru ingin kau mengingat pesan ini...
"Jangan terlalu percaya kepada manusia, karena kepercayaan akan selalu berkahir kepada penghianatan..
"Jangan terlalu mencintai seseorang karena jika seseorang itu pergi kau akan merasa kehilangan..
"Jangan pernah terlalu terpikat dan berambisi kepada sesuatu, karena ambisi hanya akan membawa mu kepada kehancuran..
"Di dunia ini terdapat 2 benua. Benua pertama adalah tempat sekarang kita tinggal. Namanya dataran bawah, sedangkan yang satunya lagi dataran tinggi. Satu benua di pimpin oleh 10 raja dan 1 kaisar...
"Satu hal lagi, berjanjilah kepadaku kalau kau akan selalu mengingat pesan ini !"
Yin Hao mengangguk dan nampak sangat serius. Ling Qian kemudian melanjutkan ceritanya.
Yin Hao mengangguk dan menyanggupi permintaan gurunya."Akan ku pastikan semua orang aman, bahkan setelah kebangkitan nya."
Ling Qian kemudian merogoh sakunya dan memberikan sebuah plakat hitam kepada Yin Hao.
"Ambil ini. Pergi temui murid ku yang bernama Zhao Yun, dan katakan kepadanya kalau Qin Ling akan bangkit. Zhao Yun pasti akan membantumu. Sekarang pergilah !"
"Tapi, guru.."Yin Hao merasa ragu untuk meninggalkan gurunya seorang diri.
"Jangan khawatir. Aku masih bisa menyegel tempat ini, sehingga tidak ada orang lain yang bisa masuk."
"Ba-baiklah kalau begitu. Tanaman obat yang guru perlukan untuk luka itu sudah ku kumpulkan dalam jumlah yang sangat banyak, aku akan kembali jika sempat untuk mengunjungi guru."
"Jangan ! Kau di larang kembali, fokuslah dengan tugas mu !!"
"Tapi kenapa ?"Tanya Yin Hao bingung.
Ling Qian hanya diam sambil sedikit menggeleng, kemudian menciptakan segel aray berbentuk seperti kubah yang mencakup seluruh rumahnya.
Yin Hao yang berdiri di luar energi itu tidak dapat masuk dan hanya bisa menatap Ling Qian dengan perasaan bingung.
"Kenapa guru ? Setidaknya kau berikan alasannya,"
Ling Qian tersenyum kecut."Ini semua demi dunia ini. Kau di larang memiliki hubungan dengan keluarga, agar kau bisa fokus pada tugas mu. Ku harap kau mengerti,"
Setelah berkata seperti itu. Ling Qian berjalan ke arah rumahnya, tidak kuasa menahan kesedihannya karena harus berpisah dengan Yin Hao yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
Sementara Yin Hao hanya dapat memandangi gurunya dari luar dinding aray, berusaha agar tidak meneteskan air matanya.
*****
Sehari setelah perpisahannya dengan Yin Hao. Ling Qian berjalan keluar rumah, dan menemukan setumpuk obat herbal serta banyak daging hewan di luar dinding perisainya.
Di bagian luar dinding, Yin Hao menulis sesuatu.
"Sejujurnya berpisah dengan mu adalah ujian tersulit di dalam hidup ku. Jika bisa, aku ingin selalu berada di samping mu, namun aku mengerti kalau kita tidak bisa selamanya bersama karena terhalang oleh benang takdir. Namun sampai kapanpun, kau tetap guru sekaligus orang tua ku. Semoga barang-barang ini dapat membantu mu, sampai jumpa."
Ling Qian membaca tulisan itu sambil menangis. Namun berkat tulisan itu, dirinya merasa lebih tenang.
"Terimakasih, Ho'er."
Sementara itu di langit, terlihat Yin Hao yang sedang mengendarai pedang langit malam menuju ke sebuah kota yang berada di balik bukit.
Kota itu sering kali Yin Hao lihat dari bukit dekat kediamannya dulu. Namun tidak di sangka, ternyata cahaya di balik bukit yang sering Yin Hao lihat ternyata benar-benar sebuah kota.
"Ternyata seperti ini bentuk kota, begitu berbeda dengan desa di bawah kaki gunung. Lebih baik aku mendarat dan melihat-lihat,"