
Ketika melihat pakaian yang dikenakan Yu Chen. Ketua klan Wang segera menyadari kalau pemuda itu adalah satu-satunya anggota klan Yu yang tersisa.
"Tidak ku sangka kalau kau bisa selamat dari penyerangan sebelumnya. Aku tahu apa yang ada di pikiran mu.."
Amarah Yu Chen yang sudah meluap-luap ketika melihat wajah pria itu, membuatnya segera turun dari kuda dan menghampiri pria angkuh tersebut lalu menendangnya hingga tersungkur.
Yin Hao yang menyadari sesuatu dengan yang terjadi terhadap pria yang tengah di hajar Yu Chen segera menghentikan muridnya itu.
"Berhenti Chen'er. Di lihat dari kondisinya, kurasa orang ini sudah di serang oleh sesuatu, mungkin dia bisa membantumu menemukan dalang sebenarnya di balik kehancuran klan mu."
Ketua klan Wang memperbaiki posisinya dengan bersender di sebuah pohon, lalu tertawa dan berkata.
"Tuan yang di sana ternyata cukup pintar, dan kau sepertinya juga bukan pendekar sembarangan karena bisa menjinakkan harimau langka itu. Aku akan memberikan mu sesuatu yang berharga di dalam kantong yang terikat di pinggang ku, jika kau mau membantuku."
"Jangan banyak bicara. Aku bukan orang yang muda di ajak bernegosiasi, salah-salah kau bisa jadi makanan bawahan ku, loh.. Jadi berhati-hatilah jika sedang berbicara dengan ku. Sekarang jawab pertanyaan murid ku atau terima akibatnya."
Segera wajah ketua klan Wang memucat ketika melihat tatapan dingin Yin Hao. Namun pria tersebut sadar kalau sekarang dirinya sedang di untungkan.
Ketua klan Wang tersenyum percaya diri."Aku yakin kau tidak akan membunuhku, karena di tangan ku terdapat informasi yang pemuda ini perlukan."
Yin Hao melempar sebuah pedang biasa kepada Yu Chen. Sementara Yu Chen hanya menyambut pedang itu dengan bingung.
"Potong satu kakinya, Chen'er."
Mendengar hal itu Yu Chen segera tersenyum kecil, kemudian tanpa basa-basi langsung memotong satu kaki ketua klan Wang hingga membuat pria tersebut menjerit kesakitan.
*Arghh arghhh !!
Yin Hao menatap dingin pria tersebut, lalu berkata."Kau sudah tau kondisi mu, kan. Tanpa mendengar cerita mu saja, aku masih memiliki cara lain untuk mengetahui dalang di balik kehancuran klan murid ku. Jadi tidak rugi bagiku untuk membunuh mu."
Segera ekspresi ketua Klan Wang memburuk. Jelas dia tau kalau Yin Hao sedang tidak bermain-main dengan ucapannya.
Namun pria itu enggan mengakui kekalahannya dan lebih memilih melawan.
"D4sar kepar4t memangnya kau bisa apa, huh !!"
Yin Hao menggeleng dan berdecak."Sungguh keangkuhan membuat seseorang menjadi tidak sadar diri. Chen'er, potong lagi sebelah kakinya."
Yu Chen memotong satu kaki ketua klan Wang, membuat pria itu kembali menjerit kesakitan.
*Arghh arghh !!
"Cukup, Cukup ! Ampuni aku tuan, aku mengaku salah !"
Yin Hao mengangkat sebelah tangannya, membuat Yu Chen segera berhenti.
"Kau boleh bercerita sekarang,"
"Klan Tong ! Klan Tong-lah dalang di balik kehancuran klan mu. Sebelum ini klan ku juga sudah di hancurkan, jadi aku tahu rencana mereka,"
"Rencana apa yang kau maksud, huh ! Dan lagi tidak mungkin klan Tong mau melakukan hal sekejam ini, karena setahuku klan Yu dan klan Tong memiliki ikatan pertemanan."
"Itu yang kau tahu, nak. Di balik kebaikannya, klan Tong menyimpan banyak sekali kebusukan. Dari yang ku tahu, mereka berupaya untuk menguasai seluruh area hutan ini demi kepentingan diri sendiri, dan untuk melakukan rencana tersebut. Mereka berdalih dan mengatakan kalau klan mu-lah yang membunuh anggota klan ku dan menggunakan seorang anggota klan Yu untuk menyebarkan berita palsu tersebut."
Mendengar kalau ada penghianat di dalam klan Yu, segera Yu Chen merasa sangat terpukul karena setahunya orang-orang klan Yu sangat jujur dan adil.
"Apakah kau tahu siapa penghianat itu ? Dan motif seperti apa yang di gunakan klan Tong hingga membuat salah satu anggota klan ku mau berkhianat ?"
"Mengenai itu aku tidak tahu. Jadi bisakah kau langsung membunuh ku ? Aku tidak ingin hidup tanpa kedua kaki."
Yu Chen menatap ke arah Yin Hao. Sementara Yin Hao hanya mengangguk sebagai tanda agar Yu Chen segera membunuh pria itu.
Yu Chen menatap ketua klan Wang."Siksaan mu tidak akan berhenti sampai di sini. Sekarang matilah dan pergi ke neraka !"
Pria itupun segera meregang nyawa. Sementara Yu Chen masih terlihat emosi memikirkan siapa penghianat yang di katakan sebelumnya.
Takut jika Yu Chen akan kembali jatuh ke jurang amarah yang menyesatkan. Segera Yin Hao menyuruh muridnya itu kembali naik ke kuda.
Setelah Yu Chen sudah berada di kuda gurunya, merekapun kembali melanjutkan perjalanan.
*****
Setelah beberapa jam perjalanan hingga masuk ke bagian terdalam hutan. Akhirnya Yin Hao dan kedua muridnya sampai di sebuah goa berukuran sedang yang posisinya berdekatan dengan sebuah air terjun.
"Di tempat ini aku akan menempa tubuh kalian berdua, jadi jangan cengeng."
Yu Chen dan Li Ming yang sudah kembali sadar segera mengangguk.
"Baik, guru."Ucap mereka berdua.
Yin Hao kemudian mengeluarkan sebuah kitab kuno dari udara kosong, kedua muridnya tidak lagi terkejut karena sudah sering melihat hal itu.
"Ini adalah kitab naga langit. Keberanian dan keinginan mu untuk melindungi seseorang telah membuktikan kalau kau layak mendapatkan kitab ini, Ming'er."
Yin Hao memberikan kitab naga langit kepada Li Ming. Dengan perasa senang perempuan itu menerima pemberian gurunya.
"Terimakasih guru, aku janji akan mempelajari kitab ini dengan baik serta menjaganya seperti nyawa ku sendiri."
Yin Hao mengangguk, kemudian menatap kedua muridnya bergantian lalu berkata."Kitab ini bukan kitab sembarang. Jangan turunkan kepada sembarang orang, takutnya mereka akan menyalah gunakan tehnik-tehnik yang terkandung di dalam kitab itu. Jika itu terjadi maka akan memicu terjadinya ragnarok, pertempuran dewa yang memperebutkan kekuasan dan kekuatan."
"Jadi kau adalah dewa, guru ?"Tanya Yu Chen.
Yin Hao menggeleng."Untuk saat ini belum, yang jelas kalian harus cermat dalam mencari penerus."
Yu Chen dan Li Ming mengangguk, mereka merasa tersanjung dan beruntung ketika mengetahui kalau guru mereka merupakan dewa penerus salah satu kekuasaan surgawi.
"Sekarang lakukan pemanasan berupa lari 100Km, serta latihan fisik yang kalian ketahui dan ulang sebanyak-banyaknya. Untuk latihan selanjutnya, aku juga ingin kalian mengontrol emosi psikis agar tidak terbawa perasaan ketika melakukan sesuatu."
Yu Chen yang mendengar penjelasan itu segera menyadari sesuatu."Bukannya latihan psikis hanya di lakukan untuk taoist ?"
Li Ming sontak tertawa mendengarnya."Kau tidak sadar kalau guru kita buka hanya pendekar, melainkan juga pakar obat dan seorang taoist. Di kota ku dia di kenal dengan julukan dewa obat,"
Yu Chen mengangguk mengerti."Pantas saja guru tidak pernah menunjukkan ekspresi, ternyata itu alasannya.."
"Benar, tapi aku hanya mengetahui sebatas itu saja. Tidak menutup kemungkinan kalau guru masih memiliki banyak kemampuan lain,"
"Senior benar. Guru seperti lautan, masih menyimpan begitu banyak misteri."
Kedua murid Yin Hao itupun banyak berbincang-bincang tentang guru mereka ataupun tentang kehidupan masing-masing.
Yin Hao yang melihatnya dari kejauhan mengangkat sudut bibirnya sedikit, meski tidak terlihat, sebenarnya dia sedang tersenyum.
"Tidak ku sangka, mereka akan akrab secepat ini. Baguslah, mungkin dengan begitu mereka akan lebih bisa saling mengenal."Gumam Yin Hao.
"Tapi, tuan. Kau pernah cerita kepadaku kalau kau sedang berhadapan dengan sesuatu yang besar dan harus menemui seseorang di benua atas. Bisakah aku tahu karena apa ?"
"Guru ku pernah berkata kalau mantan muridnya akan bangkit dari segel yang membelenggunya selama jutaan tahun. Dia ingin menghancurkan dunia ini, jadi untuk menghentikannya aku harus memutar otak."
"Jadi apakah tuan sudah menemukan solusinya ?"
"Tidak terlalu. Hanya saja aku sadar kalau menghadapi orang tersebut seorang diri bukanlah keputusan yang bijak, meski sekalipun aku di bantu oleh satu murid guru ku yang lain."
"Aku tahu ! Kenapa kau tidak membuat sekte atau semacamnya saja ?! Dengan kemampuan mu aku yakin untuk menyatukan 2 benua yang terpisah bukanlah hal yang tidak mungkin. Lagian ini juga demi keberlangsungan dunia, tidak mungkin mereka tidak mau membantu."
"Kau ternyata cukup pintar. Aku juga sudah memikirkan hal ini sebelumnya, jadi ku angkat mereka berdua menjadi murid ku, berharap mereka bisa membantu ku menghadapi tantangan ke depannya."