THE LEGEND OF YIN

THE LEGEND OF YIN
34. RENCANA PELAYAN TIAN



Di villa langit tepatnya di ruangan yang pernah menjadi tempat kepala pelayan Tian dan seluruh bawahannya rapat. Terlihat mereka semua berkumpul untuk merundingkan sesuatu, namun kali ini mereka nampak tidak begitu senang karena mendengar kabar yang beredar kalau Yin Hao mampu menyembuhkan 20% pendekar hanya dalam waktu satu hari bahkan saat ini saja belum sore hari dan tidak menutup kemungkinan akan bertambah.


Tentunya hal ini menjadi masalah besar bagi pihak sekte gagak hitam, sebab mereka berharap kalau pendekar-pendekar raja Qin yang terluka hanya sedikit yang bisa di sembuhkan sehingga kemungkinan menang sekte gagak hitam akan menjadi lebih besar. Namun di luar dugaan, kedatangan orang asing yaitu Yin Hao dalam 2 hari ini sadar tidak sadar sudah mengacaukan sebagian besar rencana pelayan Tian.


Kenyataan itu menjadi beban tersendiri bagi kepala pelayan Tian. Di dalam pikiran pria itu hanya ada pertanyaan apakah sebenarnya Yin Hao tau kalau dirinya dan semua pelayan yang ada adalah penyusup atau tidak ?


Karena sulit sekali bagi kepala pelayan Tian menebak apa yang sedang di pikirkan oleh Yin Hao karena ia selalu berwajah datar tanpa menunjukkan sedikitpun ekspresi. Namun kepala pelayan Tian yakin kalau Yin Hao belum menyadari hal itu karena selama ini pria tersebut selalu bersikap biasa-biasa saja dan tidak pernah menaruh curiga.


Sementara untuk menggagalkan upaya Yin Hao dalam mengobati semua prajurit yang ada, pelayan Tian berencana untuk meracuni mereka semua dengan obat buatan Yin Hao sendiri, dengan begitu orang-orang akan menganggap Yin Hao sebagai penyusup.


Namun harus ada sukarelawan yang bertugas untuk meletakan racun ke dalam ramuan obat Yin Hao, tidak mungkin bagi kepala Tian untuk memerintahkan bawahannya untuk melakukan hal itu karena Yin Hao tidak percaya dengan mereka sedikitpun.


Jawaban dari pertanyaan itu langsung terjawab, ketika kepala pelayan Tian tidak sengaja melihat pakaian seseorang di dekat pintu masuk, sepertinya seseorang itu sedang menguping pembicaraannya.


Segera kepala pelayan Tian melesat ke arah pintu kemudian dengan cepat menangkap tangan seorang gadis yang bersembunyi di baliknya, tidak lain gadis itu adalah Ryu An.


Ryu An terlihat ketakutan dan terus memberontak untuk melarikan diri, namun dirinya bukanlah lawan kepala pelayan Tian yang pastinya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.


"Berhentilah memberontak, karena usahamu akan sia-sia.. Dengar, karena hari ini suasana hati ku tidak terlalu bagus, sebaiknya kau terima tawaran ku.. Jika kau mau, aku akan memerintahkan semua bawahan ku agar tidak mengganggumu dan memberitahukan di mana tempat ibumu di kurung."


Mendengar hal itu sontak Ryu An terdiam, dia sangat merindukan ibunya namun pria licik di hadapannya pasti sedang merencanakan sesuatu yang jahat dengan memanfaatkan dirinya.


"Apakah kau mau ? Tugas mu sangat mudah, hanya perlu memasukkan racun ini ke dalam tungku obat tabib Huo."Kepala pelayan Tian memperlihatkan sebuah botol kecil berisikan racun.


Mendengar itu sontak Ryu An menggeleng, tidak mungkin dirinya mau melakukan hal sejahat itu kepada seseorang yang selalu memperlakukannya dengan baik.


"Jadi kau tidak mau.. Baiklah, aku dapat pastikan mulai sekarang kau tidak akan bisa melihat ibumu lagi."Ujar kepala pelayan Tian dengan nada mengancam.


Ketika mendengar ibunya akan di bunuh jika dirinya tidak melakukan hal itu membuat tubuh Ryu An seperti di sambar petir. Karena hanya miliki seorang ibu dan pria licik di hadapannya tidak pernah bermain-main dalam membunuh, akhirnya memaksa Ryu An untuk menerima tawaran itu.


"Pilihan yang bagus, sekarang pergilah dan bawa racun ini bersamamu."


Kepala pelayan Tian memberikan botol kecil berisi racun di tangannya kepada Ryu An, gadis itupun menerimanya dengan kepala tertunduk karena tidak ada jalan lain untuk menyelematkan ibunya selain melakukan hal itu.


Ryu An terlihat berjalan lemas dan dengan tatapan kosong pergi menuju tempat Yin Hao yang tidak terlalu jauh dari villa langit. Sementara di belakang terlihat kepala pelayan Tian tersenyum sinis membayangkan kegagalan Yin Hao dalam mengobati semua prajurit.


'Jangan salahkan aku yang bersikap jahat seperti ini, tabib Huo. Salahkan dirimu sendiri yang sudah bermain-main dengan orang yang salah. Hari ini adalah kali terkahir mu berada di kerajaan ini.'


*****


Sementara itu di lapangan posko kesehatan. Yin Hao terlihat fokus dengan kuas dan kertas yang ada di tangannya, pria berwajah setenang bulan itu sedang menulis racikan yang pas untuk pengobatan kedepannya agar tidak susah-susah berpikir dan mengingatnya lagi karena ada banyak sekali racikan obat yang berbeda di dalam ingatannya dan itu kadang membuat kepala Yin Hao sakit jika mengingatnya.


"Sepertinya sudah hampir selesai.. Karena aku hanya perlu menambahkan ini dan ini, lalu gabungkan dengan ini, lalu jadilah obat regenerasi yang ku beri nama pil matahari. Eh, tunggu sebentar, apakah namanya tidak terlalu mencolok ? Sial aku kesulitan mencarikan nama yang tepat untuk obat ini."


Yu Chen dan Li Ming yang berada tidak terlalu jauh dari tempat Yin Hao berdiri hanya tersenyum kecil mendengar gumaman guru mereka. Ternyata pria itu juga menyimpan sisi lugu dan suka bicara dengan dirinya sendiri.


"Guru, kenapa kau tidak menjulukinya sebagai pil terang bulan ?"


"Sepertinya itu lebih bagus. Terimakasih Ming'er, guru tidak terlalu pintar dalam memberi nama kepada sesuatu."


Setelah selesai mencatat resep obat terang bulan. Yin Hao baru sadar kalau Ryu An berada di sampingnya, kondisi tubuh gadis itu terlihat pucat dan ada sedikit luka lebam di tubuhnya.


Melihat hal itu Yin Hao menghela panjang, karena kali ini bukan pertama kalinya dia melihat kondisi Ryu An yang seperti itu.


"Apakah mereka mengganggumu lagi ?"


Ryu An hanya menggeleng pelan. Namun sekuat apapun dia mencoba menyembunyikan sesuatu dari Yin Hao, percuma saja karena tanpa dikatakan sekalipun, Yin Hao tau kalau selama ini Ryu An selalu mendapatkan sikap perundungan dari pelayan lain di villa langit, tidak dapat di bayangkan bagaimana tekanan depresi yang di rasakan Ryu An selama itu.


"Nona An, ayo duduk di kursi yang ada di sebelah sana. Aku akan mengobati mu."Kata Yin Hao.


Li Ming tersenyum kecil, kemudian berkata dengan niat menggoda gurunya.


"Guru tenang saja, serahkan tugas ini kepada kami, fokuslah mengobati nyonya guru dulu."


Yu Chen yang tidak peka sama seperti Yin Hao sontak merasa bingung.


"Apa maksudmu, Ming'er ?"


"Iya, apa maksudmu senior ?"


"Sudahlah lupakan saja kata-kata ku tadi. Kalian benar-benar tidak peka pantas saja tidak ada yang suka dengan kalian, huh ! Dasar, semua pria sama saja."Ujar Li Ming dengan wajah cemberut.


"Maafkan ucapan murid ku nona An.


Dia terkadang memang suka membicarakan sesuatu yang tidak ku mengerti."Kata Yin Hao sembari memandang kepada Ryu An.


Gadis itu hanya diam dengan kepala tertunduk dan terlihat ada sedikit bagian merona di wajahnya, lalu dia dan Yin Hao berjalan ke arah sebuah kursi di bawah pohon di sekitar tempat itu.


Setelah keduanya duduk, Yin Hao segera mengobati luka luar maupun luka dalam di tubuh Ryu An hanya dengan menyalurkan sedikit tenaga alam. Dengan cepat kulit di tubuh Ryu An yang tadinya pucat menjadi cerah dan hangat.


Kebaikan yang di tunjukan oleh Yin Hao kepada dirinya membuat Ryu An ragu melakukan hal yang di katakan kepala pelayan Tian. Ryu An benar-benar merasa bingung di satu sisi dia tidak ingin menghianati kebaikan Yin Hao sementara di sisi lain nyawa ibunya sedang terancam jika dia tidak segera melakukan perintah kepala pelayan Tian.


"Nona An, tunggu sebentar.."Yin Hao mengambil sebuah daun yang jatuh dan mendarat di kepala Ryu An.


Sontak Ryu An terdiam, wajahnya merona karena menatap wajah Yin Hao begitu dekat. Sebenarnya Yin Hao sudah tau kalau gadis itu memiliki perasaan kecil terhadap dirinya, jadi kali ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskannya secara jujur agar tidak mempersulit pekerjaannya kedepan.


"Nona An. Sebenarnya tidak masalah jika kau memiliki perasaan terhadap diriku, aku juga tidak keberatan. Namun ku harap kau bisa segera melupakan hal itu karena seorang taoist seperti ku tidak di ijinkan berkeluarga ataupun memiliki perasaan."


Mendengar perkataan itu, segera membuat Ryu An merasa terkejut sekaligus kecewa namun juga menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu berharap. Gadis itupun berdiri dan menatap Yin Hao sambil memaksakan diri untuk tersenyum, kemudian dalam bahasa isyarat dia mengucapkan terimakasih kepada Yin Hao, lalu berlari pergi meninggalkan tempat itu.


"Apakah aku sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ku katakan ?"Gumam Yin Hao, merasa sedikit tidak enak dengan Ryu An.


Li Ming yang saat itu tidak sengaja melihat Ryu An berlari sambil menangis segera merasa heran, iapun berjalan menghampiri gurunya.


"Kenapa nona An menangis ? Apakah guru mengatakan sesuatu yang buruk kepadanya ??"


Yin Hao menggeleng."Entahlah, aku tidak tahu."


"Memangnya guru berkata apa kepadanya ?"


Yin Hao mengelus dagu, kemudian berkata."Aku hanya mengatakan kepada nona An agar dia menghilangkan perasannya terhadap guru, karena guru tidak boleh berkeluarga. Setelah itu dia berlari pergi,"


Mendengar itu Li Ming langsung menepuk dahinya diiringi helaan pelan."Guru, mudah bagai mu mengatakan hal itu karena kau tidak memiliki perasaan. Sementara wanita seperti kami memiliki perasaan yang sangat besar, jadi ucapan seperti tadi pasti sangat melukai hati nona An. Jika guru memang tidak boleh memiliki perasaan, harusnya guru mengatakannya dengan lebih baik agar tidak melukai hati nona An."


"Guru tidak tahu tentang hal itu. Wanita lebih rumit dari yang guru kita, mungkin nanti aku akan meminta maaf.. Untuk sekarang tolong bawa tanaman-tanaman itu ke sana, guru akan memulai pengobatannya lagi."


"Baik guru."


****


Di sebuah ruangan milik kepala pelayan Tian. Terlihat pria tersebut sedang duduk di kursinya, terlihat sedang menunggu sesuatu dengan tidak sabar.


Tidak lama kemudian pintu di depan terbuka. Dari luar, berjalan masuk Ryu An sambil membawa sebuah botol kaca berukuran kecil yang kosong.


"Sepertinya kau sudah menyelesaikan pekerjaan itu dengan sangat baik,"Kepala pelayan Tian tersenyum licik, kemudian melanjutkan perkataannya."Karena kau sudah melakukannya dengan baik. Seperti yang ku janjikan, aku akan mengantarmu bertemu dengan ibumu."