THE LEGEND OF YIN

THE LEGEND OF YIN
11. FLU BURUNG



Ketika dirinya kembali menginjak tanah. Yin Hao memasukan pedang langit malam kembali ke sarungnya, dan di lanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke sebuah gerbang kota.


Gerbang itu berjarak 20 meter di depan, berwarna merah serta berukuran sangat besar. Ketika dirinya sudah cukup dekat, Yin Hao melihat dua orang pria berseragam seperti prajurit berdiri di depan gerbang itu.


Yin Hao berjalan menghampiri salah satu penjaga, lalu bertanya."Bisakah kau membukakan gerbang ini untuk ku ?"


Kedua penjaga itu saling bertatapan. Kemudian salah satu dari kedua penjaga itu berkata.


"Aku baru pertama kali melihat mu di sekitar sini, siapa namamu, nak ?"


"Namaku Yin Hao,"


"Baik, tuan Hao. Bolehlah aku melihat plakat ijin masuk antar kota yang kau miliki ?"


"Aku tidak memiliki benda seperti itu."


Kedua penjaga itupun merasa bingung. Karena tanpa plakat ijin, maka Yin Hao tidak bisa masuk.


Ketika keduanya sedang bingung, penjaga itu tidak sengaja melihat pedang di pinggang Yin Hao.


Karena merasa tertarik dengan Yin Hao, penjaga yang lain bertanya.


"Apakah tuan muda adalah seorang pendekar ? Namun kenapa kau berpakaian seperti seorang taoist ?"


Yin Hao mengangguk, membenarkan pertanyaan penjaga itu. Iapun berkata."Benar, aku adalah pendekar namun juga seorang toist."


Kedua penjaga itu kembali saling bertatapan, namun kali ini mereka berdua terlihat gelisah.


Yin Hao yang menyadari hal itu, bertanya."Apakah ada masalah di dama kota ?"


Kedua penjaga itu terkejut karena Yin Hao sudah menebak apa yang mereka pikirkan, bahkan sebelum di jelaskan.


Salah satu dari merekapun menjelaskan."Benar, tuan. Di dalam kota memang sedang ada masalah, namun aku ragu untuk meminta bantuan anda sebagai taoist."


"Jadi karena hal ini kalian terlihat gelisah. Tidak masalah, kau bisa menceritakan lebih tentang masalahnya. Jika di rasa sanggup, aku akan membantu."


"Ba-baiklah tuan. Sebelumnya, kota ini bernama kota embun malam. Beberapa minggu yang lalu, salah satu penduduk di kota ini tiba-tiba tertular suatu penyakit aneh. Penyakit ini menyebar dan menginfeksi penduduk lain, hingga akhirnya membuat sebagian besar orang di dalam kota menderita penyakit yang sama. Kami sudah meminta tolong kepada beberapa taoist untuk mencari sumber masalahnya, karena kami curiga hal ini ada kaitannya dengan iblis. Namun taoist yang kami mintai tolong ikut terjangkit penyakit yang sama."


Mendengar cerita itu, Yin Hao kemudian berpikir untuk melihat keadaan orang yang terjangkit penyakit itu, agar dia tau apa yang terjadi.


"Sebelum melihat keadaan orang yang terjangkit, aku tidak bisa langsung menilai kalau penomena ini terjadi karena adanya campur tangan iblis. Bisakah kalian memperbolehkan ku masuk dan mengantar ku kepada orang yang pertama kali terjangkit ?"


Karena hanya Yin Hao yang bisa menolong mereka. Kedua penjaga itupun bersedia membukakan gerbang dan mengantar Yin Hao ke rumah orang yang pertama kali terjangkit.


Selama perjalanan, keadaan kota embun malam benar-benar terlihat suram. Orang-orang yang berjalan di luar dapat di hitung dengan jari, serta keadaan kota yang sudah tidak terawat.


Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka di sebuah rumah mewah.


"Ini adalah kediaman juragan Li Chung, orang terkaya di kota ini, sekaligus orang pertama yang terjangkit penyakit aneh. Maaf karena kami hanya bisa mengantar anda sampai di sini, jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa mencari kami di tempat sebelumnya."


Yin Hao menatap kedua penjaga itu sambil berkata,"Terimakasih,"


Kedua penjaga itupun mengangguk dan berjalan pergi.


Yin Hao kemudian menatap ke arah kediaman juragan Li Chung. Rumah itu terlihat sangat mewah, namun terkesan sangat sepi, nyaris terlihat seperti rumah terbengkalai.


Segera Yin Hao melangkah memasuki kediaman juragan Li Chung.


Agar dirinya dapat sampai ke rumah mewah itu, Yin Hao harus terlebih dahulu melewati jalan lurus yang di mana kanan dan kirinya adalah taman bunga mawar hitam.


Rasa dingin yang menusuk sampai kulit, serta suara aneh dari desiran angin membuat Yin Hao terus bersikap siaga dengan meletakkan sebelah tangannya di ganggang pedang langit malam.


Ketika sampai dan berdiri di depan sebuah pintu. Yin Hao mengetuk pintu itu beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari dalam.


Dari dalam rumah. Tiba-tiba seorang pria berambut hitam berpakaian lusuh melompat dan menerkam Yin Hao seperti seekor hewan buas.


Tanpa melakukan terlalu banyak gerakan, dalam hitungan detik Yin Hao berhasil membuat pingsan orang itu sebelum dia sempat menyerangnya.


Pria aneh itupun tergeletak di lantai. Dari samping rumah, seorang perempuan paruh baya bersama dengan kedua anak perempuannya datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar suara ribut dari arah pintu utama.


Ketika mereka melihat Yin Hao, segera mereka ketakutan sambil memeluk suami dan ayah mereka.


"Tuan, tolong jangan bunuh ayah kami, ampuni dia demi kami."


Yin Hao menggeleng, lalu melambai dan berkata."Aku tidak datang untuk membunuh ayah mu, melainkan untuk menyembuhkannya."


Anak perempuan yang paling tua berumur 15 tahun berdiri dan berkata dengan nada sedikit kasar."Bohong ! 2 Orang taoist sebelumnya juga mengatakan hal yang sama, pada akhirnya mereka berniat membunuh ayah ku karena menduga ada iblis di dalam tubuhnya."


Sadar dirinya tidak bisa mendapatkan kepercayaan gadis itu dengan kata-kata. Yin Hao berinisiatif dengan menggunakan cara lain.


Yin Hao memberikan pedangnya kepada gadis itu, lalu menunjuk ke arah sesuatu yang gadis itu simpan di belakang punggungnya.


"Jika aku berniat membunuh ayah mu, kau bisa lebih dulu membunuh ku dengan pisau yang kau sembunyikan di belakang punggung mu."


Gadis itupun terdiam. Kemudian seorang perempuan paruh baya yang merupakan ibu dari kedua gadis itu berdiri dan menghampiri Yin Hao.


"Jika memang benar kau ingin menolong suami ku. Maka apapun yang kau mau akan ku berikan, asalkan kau benar-benar bisa menolongnya."


"Ini bukan saatnya untuk berbicara soal imbalan. Sekarang pergilah siapkan kasur dan air hangat, aku akan memeriksa suami mu."


Setelah berada di dalam sebuah kamar. Yin Hao mulai memeriksa kondisi tubuh pria bernama Li Chung itu, dengan di saksikan oleh istri dan anak-anaknya.


Hasil dari pemeriksaan tidak terlalu membuahkan hasil, karena kondisi yang di alami Li Chung sekarang sama seperti demam biasa.


"Bagaimana, tuan ?"


"Bibi. Apakah sebelum terjangkit penyakit ini suami mu sedang melakukan perjalanan ?"


Perempuan paruh baya itu mengangguk dengan raut sedikit terkejut, karena Yin Hao adalah orang pertama yang menanyakan hal itu.


"Be-benar, bagaimana kau tahu ?"


Yin Hao menunjukan kondisi kulit di sekitar mata Li Chung yang menghitam seperti orang kelelahan.


Kemudian Yin Hao juga membuka kedua mata Li Chung, terlihat kedua pupil mata pria itu yang kecil sebelah.


"Kondisi ini bisa terjadi karena suami mu mengalami syok yang berlebihan terhadap sesuatu. Di tambah dengan tubuhnya yang lelah, membuat energi gelap dengan leluasa dapat masuk ke dalam tubuhnya. Energi Yin inilah yang membuat sikapnya menjadi aneh,"


"Biasanya energi Yin di lepaskan oleh iblis, apakah jangan-jangan !"Seorang gadis bernama Li Ming sebelumnya terlihat terkejut.


Yin Hao menggeleng."Kau salah. Biar ku tebak, ayah mu pasti adalah seorang pedagang hewan dan tanaman obat. Apakah aku benar ?"


Ketiga orang itu mengagguk. Yin Hao kemudian menjelaskan.


"Penyakit ini tidak ada sangkut pautnya dengan iblis. Karena dari kondisi yang ku lihat, ayah mu sudah terjangkit penyakit flu burung karena terlalu sering berkontak langsung dengan hewan jenis unggas. Penyakit ini memiliki resiko tinggi hingga dapat menyebabkan kematian, bahkan penyakit ini bisa menjangkit orang lain lewat saluran udara."


"Apakah penyakit ini bisa di sembuhkan ?"


Yin Hao mengangguk."Tentu saja, namun sedikit memakan waktu jika aku melakukannya seorang diri."


"Kalau begitu aku akan membantumu !"Li Ming mengajukan dirinya.


"Baiklah, tolong siapkan jarum akupuntur dan tanaman herbal yang ku tulis di kertas ini."Yin Hao memberikan sebuah kertas kepada Li Ming.


Li Ming mengangguk."Akan segera ku siapkan."