
Tertangkapnya kepala pelayan Tian dan kenyataan yang mengatakan bahwa pria tersebut adalah seorang mata-mata dari sekte gagak hitam, membuat gempar masyarakat dan tidak sedikit pula yang merasa geram dengan pria itu.
Semua warga pagi-pagi itu berkumpul di depan pagar kerajaan. Mereka memaksa untuk masuk karena ingin menghabisi pelayan Tian, akibat ulah pria itu banyak korban yang berjatuhan serta informasi penting menghilang.
Namun keributan massa itu dengan cepat di tangani oleh raja Qin Zhu. Sebagai seorang pemimpin, Qin Zhu yang paling tau cara menangani emosi rakyatnya.. Sehingga tidak butuh waktu lama mereka langsung membubarkan diri tanpa membuat kericuhan karena menghormati raja mereka.
Setelah keributan singkat itu, semua petinggi kerajaan berkumpul di aula penghakiman. Yang dimana tempat inilah yang di gunakan oleh raja Qin Zhu dan penasehatnya untuk menjatuhkan sebuah hukuman kepada tersangka.
Ruangan ini kosong, tidak ada apapun kecuali sebuah kursi kayu yang berada di tengah-tengah ruangan.
Kursi itulah yang kini menjadi saksi bisu kematian ribuan orang dari generasi ke generasi akibat melanggar peraturan kerajaan dan lain sebagainya.
Hari ini pelayan Tian di berikan penghormatan untuk mencicipi kursi penghakiman, serta siksaan yang menyakitkan dari algojo kerajaan.
Pria itu terlihat panik namun hatinya masih keras dan enggan memberi tahu rahasia serta informasi yang berkaitan dengan sektenya, meski kuku kakinya sudah hilang sebagian.
Tidak berselang beberapa saat, Yin Hao terlihat memasuki ruangan tersebut.
Di dalam ruangan itu atmosfer terasa berat dan dingin, terlihat wajah semua orang menjadi tegang dan geram melihat pelayan Tian.
Meraka terlihat sangat ingin mengoyak kecil-kecil tubuh pria itu hingga dia mengaku dan memberikan informasi yang raja Qin Zhu minta.
"Apakah aku terlambat ?"Tanya Yin Hao, berjalan menghampiri raja Qin Zhu dan Tong Yu yang berdiri di sampingnya.
Raja Qin Zhu terlihat sangat fokus sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu menjawab."Sama sekali tidak, tabib Huo. Kami baru saja mulai, seperti yang anda lihat, pria itu sepertinya enggan memberikan informasi yang ku minta."
Yin Hao memperhatikan kondisi tubuh pelayan Tian. Tubuh pria itu terlihat babak belur, wajahnya penuh dengan darah hingga mengaliri dan mengotori pakaiannya.
Pria itu terlihat tertunduk dengan wajah pucat seakan sudah akan mati, bahkan untuk mengambil nafas bukanlah hal mudah baginya.
Kemudian Yin Hao berjalan menghampiri pelayan Tian. Terbesit sebuah ide di kepalanya ketika melihat kondisi pria tersebut.
Segera Yin Hao menyembuhkan pelayan Tian dengan memberikannya sebuah pil dan membuat pria itu kembali ke kondisi prima nya.
Apa yang di lakukan Yin Hao membuat semua orang kebingungan, kemudian raja Qin Zhu bertanya.
"Ada apa tabib Huo ? Kenapa kau malah menyembuhkan tersangka dan bukanya membuat pria itu mengaku ??"
"Bukan maksudku bersikap lancang, raja. Jika kondisinya tetap seperti tadi maka dia akan segera mati, sehingga kita tidak akan mendapatkan informasi yang di perlukan. Jadi ku obati dia sehingga kita bisa menyiksanya sebanyak mungkin sampai dia mengaku."
Semua orang sontak tertawa mendengarnya, sambil bertepuk tangan memuji Yin Hao. Jelas taktik ini sangat bagus karena cepat atau lambat pelayan Tian akan mengaku.
"Nah, mata-mata Tian, permainan ini kau sendiri yang menentukan kapan berakhirnya.. Jika kau tidak mengaku, maka kami semua tidak keberatan bergantian memukul mu sampai akhirnya kau mengaku."
"Baiklah, permainan di mulai dariku."
Raja Qin Zhu meminta sebuah balok kayu dari algojonya. Kemudian dari luar ruangan penghakiman, terdengar suara teriakan menyedihkan dari seseorang berdarah dingin.
*******
Di kamar Yin Hao, terlihat Ryu An dan Li Ming berendam di kolam yang ada di ruangan itu.
Mengetahui bahwa ibu tercinta sudah meninggal menjadikan pukulan hebat bagi Ryu An. Dunia seakan menjadi kelam tanpa adanya seorang ibu di hati Ryu An, karena sejak kecil Ryu An hanya memiliki ibu dan sekarang ibunya sudah meninggal.
Bertahun-tahun Ryu An berusaha mencoba bertahan di bawah kekerasan dan siksaan yang dirinya dapat selama menjadi pelayan hanya demi untuk melihat wajah ibunya.
Namun kenyataan memang tidak seindah yang di bayang, karena setelah melalui masa-masa tragis itu lagi-lagi yang Ryu'An dapatkan adalah kekecewaan.
Sekarang Ryu An sebatang kara, tidak ada tempat untuk mengadu dan bercerita, semuanya terasa kosong dan tidak berarti.
Tatapan kosong yang terpancar dari kedua mata Ryu An membuat Li Ming menjadi sedih. Li Ming tidak sanggup membayangkan seberapa menderitanya Ryu An karena sejak kecil dirinya hidup dengan keluarga yang lengkap dan serba berkecukupan.
Li Ming hanya bisa memberikan dekapan hangat untuk Ryu An dan berusaha mengajajaknya berbicara tentang gurunya, karena Li Ming sedikit mengerti dengan bahasa isyarat.
"Nyonya guru. Kau jangan berlarut-larut dalam kesedihan, karena kau masih memiliki ku. Meski kita baru saling kenal aku sudah memberikan mu dukungan penuh terhadap guruku. Yah.. Dia memang pria yang merepotkan dan tidak pernah berekspresi. Meski begitu dia menyimpan sifat perhatian dan sangat lugu terhadap banyak hal, namun jika sudah berhadapan dengan orang-orang jahat, guru jarang sekali menampakkan sifat simpatinya. Guru bilang orang-orang jahat sama seperti sampah yang menggunung, jika tidak di bersihkan akan menjadi suatu masalah...
"Terkadang aku takut dengan guru. Dia sangat tegas, jika aku dan Chen'er melakukan kesalahan, dia tidak segan-segan menghukum kami berdua sepanjang hari. Guru juga orang yang sangat suka berbicara berterus-terang, sehingga tidak sedikit orang yang tersinggung jika dirinya berbicara jujur. Namun itulah daya tarik guruku, dia sangat jujur dan juga pastinya sangat tampan. Dulu aku juga sempat menyukai guru, namun nyonya guru tenang saja.. Karena aku tidak suka dengan pria brutal sepertinya lagian sekarang aku adalah muridnya dan guru memperlakukanku seperti anaknya sendiri, meski umur kami berbeda cukup jauh. Kau akan terkejut jika mengetahui umurnya."
Meski tidak di jawab, Li Ming terus mengajak Ryu An berbicara agar perempuan itu tidak merasa sendirian dan tau bahwa di sekitarnya masih ada banyak orang yang mengkhawatirkannya.
Beberapa jam kemudian, dari arah pintu terdengar suara ketukan.
"Siapa ?"Tanya Li Ming dengan nada panjang.
"Ini aku, apakah kalian sudah selesai ? Guru akan membawa nona An pergi sebentar ke kerajaan, karena ada sesuatu yang ingin raja Qin Zhu bicarakan."
Mendengar gurunya akan membawa nona Ryu An pergi, membuat Li Ming merasa semakin bersemangat.
Segera Li Ming mengajak Ryu An menyudahi kegiatan mereka dan membantu gadis itu memilih pakaian yang pas.
Ketika pintu terbuka, kelompok mata Yin Hao sedikit melebar ketika melihat seorang wanita cantik berjalan keluar dengan wajah sendunya yang setenang aliran air.