
Barang-barang yang di butuhkan Yin Hao untuk menyembuhkan Li Chung tidak terlalu susah di cari, sehingga hanya dalam waktu 1 jam, Li Ming berhasil mengumpulkan semua bahan-bahan itu dan membawanya kepada Yin Hao.
Bahan-bahan seperti tanaman herbal segera Yin Hao tumbuk hingga halus dan berubah menjadi cairan hijau bertekstur kental.
Li Ming sendiri Yin Hao perintah untuk membawa ibunya beristirahat, karena di ketahui wanita itu tidak tidur selama beberapa hari, membuat tubuhnya menjadi sangat lemah, sehingga berbahaya jika di biarkan tetap berada di ruangan yang sama dengan suaminya.
Sehingga di ruangan itu hanya tinggal adik Li Ming yang berusia 10 tahun. Tanpa membuang waktu lagi, Yin Hao mulai melakukan pengobatan dengan terlebih dahulu menancapkan jarum akupuntur ke bagian tubuh tertentu.
Kegunaan jarum akupuntur sendiri mampu membuat aliran darah menjadi lebih lancar, sehingga racun yang ada di dalam tubuh bisa keluar dengan mudah.
Namun jika salah meletakan posisi jarum, maka dapat memicu terjadinya penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan serangan jantung, struk dan sebagiannya.
Setelah seluruh jarum sudah selesai di letakan pada posisi yang tepat.
Yin Hao segera melanjutkan tahap ke 2, yaitu memberikan cairan obat yang efeknya sama seperti serum antibodi kepada Li Chung.
Pemberian serum anti bodi di maksudkan untuk menyerang sel racun dan menetralkannya, sehingga lebih efektif untuk menghalau racun flu burung.
Setelah obat sudah di berikan, Yin Hao harus menunggu selama 3 menit untuk memberikan obat itu bekerja.
Jika sudah, maka masuk ke tahap terkahir, yaitu mengeluarkan racun dari dalam tubuh dengan cara menyayat bagian pinggang Li Chung.
Untuk melakukan tahap ke tiga Yin Hao membutuhkan ijin Li Ming, karena takut gadis itu tidak menyetujuinya.
"Bukankah kau adik Li Ming ?"
Gadis kecil itu mengangguk.
"Panggil kakak mu, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya."
Gadis kecil itu kembali mengangguk, kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Tidak berselang lama, Li Ming datang sendirian.
"Dimana adik mu ?"
"Dia sedang tidur bersama ibuku. Ku dengar kau ingin membicarakan sesuatu dengan ku ?"
Yin Hao mengangguk."Benar, Kemari-lah."
Li Ming berjalan mendekati Yin Hao. Kemudian Yin Hao mulai menjelaskan kondisi tubuh ayah Li Ming dengan serius, sambil memperlihatkan kondisi terkini tubuh Li Chung.
"Tubuh ayah mu sudah stabil. Namun untuk melakukan tahap terakhir aku membutuhkan ijin dari mu. Biar ku jelaskan agar kau paham..
"Jarum akupuntur ini bertujuan untuk memperlancar peredaran darah. Sehingga ketika tahap ke 2 atau pemberian obat di lakukan, maka efek dari obat itu akan berkerja lebih cepat dan menyeluruh. Namun meski racun di dalam tubuh ayah mu sudah mati akibat obat antibodi ku, tetap saja racun itu harus di keluarkan dengan cara menyayat pinggang ayah mu agar darah kotornya keluar. Kau boleh percaya atau tidak, semuanya tergantung dari keputusan mu."
Li Ming terdiam tanpa suara selama beberapa saat, selama itu pula Yin Hao menunggunya dengan sabar.
"Dari tatapan mu, kau tidak memiliki niat jahat terhadap ayah ku. Jadi aku akan mengijinkannya, namun dengan syarat aku sendiri yang melakukannya."
Yin Hao mengangguk,"Baiklah, kalau begitu. Kemari dan berikan belati mu,"
Li Ming memberikan belati nya kepada Yin Hao. Segera Yin Hao membakar bagian ujung belati itu agar tetap steril.
"Aku akan menuntun mu, agar kau tidak salah menyayat nya."Yin Hao memberikan belati itu kepada Li Ming.
Dengan perasaan berdebar-debar karena merasa khawatir sekaligus karena Yin Hao terlalu dekat dengannya. Li Ming mulai menyayat pinggang Li Chung dengan di tuntun oleh Yin Hao.
Aroma cendana dari tubuh Yin Hao membuat Li Ming hampir kehilangan akal dan bertindak gegabah, namun sebagai seorang gadis dewasa, Li Ming berusaha untuk bertahan.
"Tetap fokus.."Ujar Yin Hao.
Setelah kejadian beberapa saat yang menegangkan bagi Li Ming berlalu.
Li Ming melihat darah berwarna hitam mulai keluar dari luka sayatan di pinggang ayahnya.
Dengan sigap Yin Hao menampung darah itu dengan sebuah ember kayu dan menjelaskan bahwa darah hitam itu merupakan racun dari penyakit flu burung yang telah di netralisir oleh serum antibodi nya.
Tidak berselang lama Li Chun menggerakkan kelopak matanya dan berhasil siuman.
Li Ming yang melihat ayahnya kembali sadar segera merasa senang, iapun memeluk ayahnya sambil menangis sesenggukan.
Li Chung menatap lemah ke arah Yin Hao, lalu berkata."Terimakasih tabib, karena sudah mau membantuku."
"Jangan sungkan. Istirahatlah yang cukup, agar tubuh mu kembali bertenaga."
Tidak berselang lama, istri dan anak terakhir Li Chung datang dan segera memeluk haru pria itu ketika menyadari kalau kepala rumah tangga mereka sudah siuman.
Karena tidak ingin mengganggu keluarga itu melepas rindu. Yin Hao berjalan keluar kamar dan pergi menuju teras rumah untuk mencari udara segar.
Beberapa menit ketika Yin Hao sedang merenung sendirian, dia di hampir oleh Li Ming yang terlihat membawa pedang langit malam miliknya.
"Kenapa kau tidak ikut bergabung dengan keluarga mu ?"Tanya Yin Hao.
"Aku sudah merasa puas melihat ayah ku kembali pulih, lagian tidak sopan jika aku membiarkan tamu sendirian seperti ini."
Yin Hao menatap pedang langit malam di tangan Li Ming, lalu berkata."Bisakah kau mengembalikan pedang itu kepadaku ?"
Li Ming segera mengembalikan pedang itu kepada Yin Hao, dan terlihat kalau pemuda tersebut sangat menyukai pedang itu karena selalu memperlakukannya dengan hati-hati.
"Sepertinya kau sangat menyukai pedang itu, taoist ?"
"Apakah terlihat begitu jelas ?*
Li Ming mengangguk, karena sering sekali melihat Yin Hao sangat tulus menatap pedang langit malam.
"Pedang ini adalah pemberian dari orang yang paling penting di dalam hidup ku, pedang ini jugalah yang menjadi saksi kematian teman ku. Setiap melihat pedang ini, kenangan ku bersama Shian Su muncul, karena itulah aku memperlakukannya dengan baik untuk menghormati mereka."
Li Ming hanya diam dan merasa sedikit kecewa, karena tidak menyangka kalau Yin Hao sudah memiliki orang yang seperti itu.
"Ngomong-ngomong siapa nama dan berapa umur mu, taoist ?"
"Berapa umur adik mu ?"
Li Ming merasa heran karena Yin Hao malah menanyakan umur adiknya, namun dia tetap menjawab."Adik ku berumur 10 tahun, memangnya kenapa ?"
"Kurang lebih umurku juga sama seperti adik mu."
Li Ming terkejut bukan main karena mengira kalau Yin Hao adalah pemuda dewasa berumur 15 tahun. Tidak di sangka dengan tubuh seperti itu, Yin Hao masih berumur 10 tahun.
Setelah beberapa saat kemudian, barulah Li Ming menjadi kembali tenang.
"Lalu apa tujuan mu sekarang, taoist ?"
"Di kota ini masih banyak terdapat orang yang terjangkit penyakit yang sama seperti ayah mu. Jadi ku putuskan untuk menetap di kota ini hingga semua orang sembuh,"
"Kalau begitu kau bisa tinggal di kediaman ku !"
Yin Hao menggeleng."Aku akan mencari penginapan saja, karena tidak ingin merepotkan mu."
"Tidak merepotkan sama sekali. Lagian semua penginapan di kita tutup akibat penyakit ini,"
Dari arah belakang Li Chung berjalan menghampiri Yin Hao dengan kondisi yang masih lemah.
"Benar, tabib. Silakan tinggal di kediaman kami, lagian aku belum memberikan imbalan kepadamu."
Yin Hao menghela pelan,"Baiklah jika anda memaksa,"
"Bagus ! Istri ku sedang memasak banyak makanan, suatu kehormatan bagi kami jika tabib mau makan bersama."