
Karena sikap Wu Xie yang sangat aneh akhirnya memaksa Li Ming untuk menyerang dan melancarkan sebuah serangan tapak ke arah perut wanita tersebut.
Namun belum sempat mengenai tubuh Wu Xie, gadis itu sudah menahan laju tangan Li Ming dan membuat Li Ming terbaring ke tanah.
"Jangan kasar-kasar, aku hanya ingin itu.."
"Apa maksudmu si4lan ? Tolong jangan dekat-dekat."
Li Ming kembali melancarkan sebuah tendangan yang di aliri tenaga alam, membuat Wu Xie terpaksa melompat mundur untuk menghindar.
Li Ming segera berdiri lalu melesat ke arah Wu Xie dan menyerangnya dengan tangan kosong, hingga pertarungan antara kedua wanita itu tidak dapat terelakkan dan menjadi tontonan bagi ratusan pendekar yang ada.
Beberapa pendekar yang bermaksud ingin melerai pertarungan antara kedua wanita itu harus mengubur niatnya dalam-dalam ketika melihat Lu Yan menatap mereka dengan tajam.
Tatapan pria itu seperti seekor harimau yang siap menerkam siapa saja yang berani mencampuri pertarungan Wu Xie dan Li Ming, sehingga ratusan pendekar yang ada harus terdiam di tempat mereka tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan pertarungan itu karena tidak memiliki keberanian.
Li Ming yang melakukan pertarungan tangan kosong melawan Wu Xie merasa perbedaan kekuatan antara gadis itu dengan lawan-lawan yang pernah dia kalahkan sebelumnya, sehingga Li Ming harus mengerahkan hampir semua kemampuannya untuk mengalahkan Wu Xie namun wanita itu tidak terlihat tersudut sedikitpun dan bisa menahan semua serangan Li Ming.
"Aku ingin resep obat itu dan tidak ada yang bisa menghentikan ku !"
Wu Xie menggunakan cakarnya yang di pertajam dengan tenaga alam untuk menyerang dan berhasil menggores sebelah pipi Li Ming.
Segera Li Ming bersiap dan melakukan sebuah pukulan kuat yang meskipun berhasil Wu Xie tahan dengan menyilangkan kedua tangannya tetap saja ia harus terdorong ke belakang karena angin yang tercipta dari serangan Li Ming.
Dengan cakar-cakarannya yang berubah warna menjadi kemerahan, Wu Xie berlari ke arah Li Ming dan langsung menyerang gadis itu hingga membuat pergelangan tangan Li Ming terluka karena menahan serangan cakar Wu Xie.
Yu Chen yang menyaksikan petarungan itu dari kejauhan menyadari kalau pertarungan itu tidak mungkin dapat Li Ming menangkan karena lawannya berada di tingkat Great asension tahap menengah, segera melesat ke area pertarungan namun sesuatu yang keras menghantam tubuhnya sebelum sampai hingga membuat Yu Chen harus terpental ke belakang dan menabrak sebuah pohon dengan keras.
"Ku-kuat sekali.."
Darah kental terlihat keluar dari sudut mulut Yu Chen, pemuda itu menatap ke arah Lu Yan yang terlihat tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri namun bisa melancarkan sebuah serangan yang begitu cepat dan kuat.
"Orang itu kuat, aku tidak mungkin bisa mengalahkannya.. Jika terus begini kakak akan dalam masalah,"
Ketika di landa oleh rasa kebingungan, tiba-tiba seseorang yang Yu Chen kenal datang dan terlihat melesat ke arah pertarungan Wu Xie dan Li Ming.
Namun belum sempat siluet putih itu sampai, Lu Yan sudah lebih dulu menyadarinya dan dengan cepat melesat mengejar siluet putih yang hendak menyerang Wu Xie.
"Tidak akan aku biarkan kau menyentuh nona Wu Xie walaupun ujung rambutnya ! Tapak penghancur !!"
*Zruuung
Tubuh Lu Yan terlihat melesat seperti sebuah peluru yang di tembakkan hingga menabrak sebuah bangunan dan masuk ke dalamnya.
Di tengah-tengah tempat pertarungan, Yin Hao terlihat berdiri menengahi muridnya dan Wu Xie. Kedua wanita itu terlihat kacau dan sama-sama terluka.
"Nona, kau beruntung karena kau seorang perempuan. Ku ampuni nyawa mu kali ini, pergilah."
Wu Xie terdiam sejenak ketika melihat wajah Yin Hao, kemudian berkata.
"Kau.. Tabib Hao ?"
Entah dari mana raja Qin Zhu datang dan nampak terburu-buru ketika mendengar ada perkelahian di lapangan posko kesehatan.
Ketika pria itu sampai semuanya sudah terlambat, alkhemis Lu Yan terlihat pingsan di dalam sebuah bangunan, sedangkan Wu Xie terlihat sedang dalam bahaya karena berhadapan langsung dengan seekor naga.
'Astaga wanita itu kenapa ceroboh sekali ? Padahal baru saja datang tadi malam namun sudah membuat keributan besar. Tidak tanggung-tanggung dia berani menyakiti murid tabib Hao. Untung saja aku mengenal tabib Hao, jika tidak nona Wu Xie pasti mati.'Gumam Raja Qin Zhu kemudian segera menengahi mereka.
Yin Hao menatap Qin Zhu, lalu bertanya."Raja Zhu mengenal gadis ini ?"
"Dia adalah pemilik asosiasi harta felix cabang kota Qin. Malam tadi kami sedang membicarakan sebuah kesepakatan berkaitan dengan keinginan tabib Hao yang meminta banyak sekali stok tanaman penunjang namun gagal."
"Aku akan menarik kembali ucapan ku dan akan memberikan semua yang sebelumnya raja minta,"Ucap Wu Xie.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Wu Cie, sontak Qin Zhu terkejut dan merasa tidak percaya."Benarkah ?"
"Tentu saja, asalkan tabib Hao mau memberikan resep pil yang bisa meregenerasi luka permanen itu padaku maka aku akan memberikan semuanya secara cuma-cuma."
"Sebuah keuntungan besar bagi pihak kerajaan jika bisa mendapatkan pasokan besar sumberdaya secara cuma-cuma, karena jika di jumlahkan maka setengah kekayaan kerajaan ku belum tentu bisa membayar semuanya. Namun resep pil itu adalah milik tabib Huo, aku tidak ingin mementingkan ego ku untuk barang yang bukan milikku. Semuanya terserah tabib Hao, sebagai raja aku menghormati setiap keputusan."
Yin Hao tersenyum licik menatap Wu Xie, tentu dirinya tidak akan melepaskan gadis itu dengan mudah karena sudah melukai Li Ming.
"Aku akan berikan resep pil yang kau minta, namun ada harga yang harus kau bayar."
"Silakan katakan saja apa yang kau mau, tabib Hao.. Aku Wu Xie berjanji akan memberikan semua yang kau minta bahkan seluruh bagian yang ada di tubuh indah ku ini,"Wajah Wu Xie benar-benar merah, sambil memperlihatkan sedikit dadanya yang membuat siapa saja yang melihatnya akan meneguk ludah.
Namun berbeda dengan Yin Hao yang terlihat biasa-biasa saja karena tidak tertarik dengan wanita berdada besar.
"Selain kau harus penuhi semua permintaan raja Qin Zhu sebelumnya. Aku ingin kau membantu kami dalam menghadapi perang, aku tau asosiasi seperti milik kalian mempunyai banyak pendekar aktif dan aku ingin mereka membantu kami. Bagaimana ? Apakah kau setuju ??"
Wu Xie terdiam cukup lama, meski permintaan Yin Hao terdengar sederhana. Mengerahkan pendekar penjaga asosiasinya sangatlah merugikan karena harus meninggalkan pekerjaan mereka untuk mencari lahan budidaya tanaman spiritual, belum lagi akhir-akhir ini mereka menemukan sebuah tambang yang belum di eksplorasi dan membutuhkan uang yang banyak untuk menyewa pendekar untuk menyelidiki ada apa di dalam tambang itu.
"Ini adalah permintaan yang memberatkan ku.. Bagaimana jika kita pakai sistem barter ? Aku akan membantumu memenangkan perang namun setelah itu kau harus membantu ku mengeksplor sebuah tambang ??"
"Tidak terlalu merugikan bagiku, baiklah kita sepakat."
Yin Hao memberikan sebuah kertas kepada Wu Xie.
"Itu adalah sebagian dari resep pil yang kau minta. Aku akan bagi sisanya sesuai dengan sikap mu selanjutnya."
Wu Xie tersenyum tipis, kini ia sudah kembali normal karena sudah mendapatkan apa yang dirinya inginkan meski belum semuanya.
"Kau orang yang sangat menarik tabib Hao, Kurasa kedepannya kita akan lebih sering bertemu."
Wu Xie berjalan meninggalkan tempat itu, sedangkan Lu Yan terlihat menyusul gadis itu sambil menatap Yin Hao dengan tajam dan merasa ingin balas dendam atas penghinaan yang ia dapatkan.
'Tunggu saja, aku akan membalasmu.'Gumam pria sepuh itu dengan keadaan tubuh babak-belur dan sebelah kaki terkilir hingga harus jalan pincang.
Yin Hao menatap Li Ming, lalu bertanya."Apakah kau tidak apa-apa, Ming'er ?"
"Tidak apa-apa guru. Terimakasih sudah datang tepat waktu, jika tidak wanita itu akan benar-benar berkahir di tangan ku."
"Kelak jangan mendendam kepadanya, kurasa mengikat hubungan dengan asosiasi nya akan sangat membantu kita. Sekarang pulanglah dan obati luka mu,"
"Tidak apa-apa guru, aku dan adik Yu Chen masih bisa melanjutkan pengobatan. Luka ini hanya luka kecil, jadi tidak perlu khawatir."
"Baiklah kalau begitu, jika kau memerlukan sesuatu temui guru di lapangan latihan."
"Baik, guru."
Yin Hao, Qin Zhu dan Wang Chun berjalan pergi meninggalkan tempat itu, sedangakan Ryu An terlihat berada di samping Yin Hao seperti seekor kelinci yang menggemaskan.