
Ketika Yin Hao berbaring di kamarnya, iapun mencoba untuk melupakan apa yang dia dengar dari pembicaraan gurunya dengan seorang pria misterius sebelumnya, karena menurut Yin Hao itu semua bukan urusannya.
'Tidak perduli seberapa banyak orang yang ingin membunuh ku. Aku tetap akan melangkah maju dan tidak perduli apakah jalan yang ku tempuh baik atau jahat, karena aku akan menilainya sendiri.'Batin Yin Hao, kemudian menutup matanya dan tertidur.
****
Ketika tengah malam, Yin Hao kembali terbangun dalam keadaan terkejut setelah bermimpi tentang kematian gurunya yang di sebabkan oleh sebuah peperangan dahsyat.
'Ternyata hanya mimpi. Sepertinya akan bagus untuk menghirup udara segar..."
Yin Hao beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar rumah. Setelah berada di luar, Yin Hao menatap langit sambil menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya.
"Fyuhh... Karena sudah telanjur di luar, tidak ada salahnya pergi ke hutan untuk melihat-lihat,"
Yin Hao berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke belakang rumahnya. Jalan itu akan menuntunnya menuju ke bukit belakang rumahnya.
Selama di perjalanan, suara jangkrik dan hewan lain yang terjaga di malam hari menemani langkah Yin Hao.
Dalam jarak hampir mencangkup seluruh hutan disana, Yin Hao yang menggunakan kemampuan mata iblis tidak melihat adanya gerak-gerik hewan siluman.
"Pantas saja semua hewan menjadi tenang dan begitu ribut malam ini. Ternyata akibat terbunuhnya ratusan siluman yang ku perbuat sebelumnya, menjadikan hutan ini tempat tinggal yang aman bagi hewan-hewan biasa. Namun juga terdapat titik ketidak seimbangan akibat perbuatan ku itu. Sebab jika tidak ada satupun hewan siluman yang tersisa, maka tidak ada lagi yang akan melindungi tanaman langka, sehingga orang-orang bisa seenak hati mengambil tanaman liar tanpa harus takut dengan hewan siluman...
"Aku tidak tahu apakah yang ku lakukan itu adalah jalan yang terbaik atau tidak, aku hanya bisa terus melangkah maju tanpa menoleh kebelakang dan menyesali perbuatan yang sudah terjadi seperti orang bodoh."
Setelah berjalan lumayan lama. Akhirnya Yin Hao sampai di puncak bukit, dari sana dia dapat melihat secercah cahaya terang di balik bukit jauh di depan sana.
"Apakah disana ada kehidupan lain ? Kenapa guru melarang ku bergaul dengan banyak orang ? Apakah aku tidak boleh merasa senang seperti yang orang lain rasakan ? Mungkinkah ini sudah menjadi takdir ku, tapi kenapa harus aku yang menanggung semua beban ini ?? Apa salahku ??"
Yin Hao selalu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, kenapa sejak kecil dia selalu di larang merasa senang atau marah, bahkan gurunya selalu membatasi tempat yang boleh Yin Hao tuju.
Pada akhirnya semua ini hanya membuat Yin Hao merasa terkurung. Tidak senang namun juga tidak marah, di dunia seperti inilah Yin Hao hidup.
Meski merasa tidak suka, Yin Hao tetap menerima takdirnya dan menjalaninya meski mau tidak mau.
********
Pagi hari kemudian. Yin Hao kembali ke rumah, iapun di langsung disambut oleh Ling Qian yang terlihat berdiri di halaman rumah sambil memegang sebilah pedang sungguhan.
"Darimana saja kau ?"
Yin Hao membungkuk dan memberi hormat kepada gurunya sembari berkata."Aku dari bukit di belakang rumah."
Ling Qian melempar sebilah pedang biasa kepada Yin Hao. Yin Hao langsung menyambut pedang itu dengan bingung, setelah beberapa saat memperhatikan pedang di tangannya barulah ia mengerti.
Dengan raut datar karena tidak memiliki ekspresi lain, Yin Hao menatap gurunya."Guru, apakah ini..."
"Benar, hari ini adalah pelatihan terkahir mu. Jika kau berhasil membunuh ku, kau bebas pergi dan melakukan apa yang kau mau."
Yin Hao tertunduk ragu sambil menatapi pedang di kedua tangannya. Setelah bertahun-tahun melewati waktu bersama dengan gurunya, dia tidak tega menyakiti gurunya sedikitpun meski kebebasan adalah keinginannya.
"Ak-aku tidak bisa."
Tanpa basa-basi Ling Qian melesat ke depan sambil menghunuskan pedangnya.
Meski Ling Qian hanyalah manusia biasa, kecepatan yang di miliki perempuan tersebut masih sangat tinggi hingga dapat memaksa Yin Hao menggunakan pedangnya untuk bertahan dari serangan gurunya itu.
"Guru, hentikan, aku tidak bisa."
Yin Hao berusaha mencoba untuk membuat Ling Qian berhenti dengan segala cara.
Namun perempuan tersebut tetap gencar menyerangnya, sehingga Yin Hao hanya dapat menahan serangan gurunya sambil terus bergerak mundur karena tidak ingin menyakiti Ling Qian.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, kau tidak tahu seberapa bahayanya manusia diluar sana.."
Ling Qian terus menyerang Yin Hao sambil berbicara seperti itu dengan nada terdengar sedih.
Yin Hao yang melihat ekspresi terpaksa gurunya hanya dapat terdiam dan terus bertahan meski tubuhnya sudah terluka dimana-mana.
"Diluar sana ada kalanya kau akan bertemu orang-orang jahat yang berpikiran licik. Di saat melihat ketidak adilan di luar sana, apakah kau pikir bisa menahan emosi mu ?"
Perlahan-lahan Yin Hao kemudian mulai mengerti dengan tujuan Ling Qian berkata seperti itu.
Karena sebenarnya Ling Qian ingin melihat apakah Yin Hao sudah benar-benar menyerap pembelajaran menjadi taoist atau tidak.
"Emosi hanyalah penghalang. Seorang taoist tidak bergerak dari emosi, melainkan keinginan untuk menolong tanpa pamrih,"
"Yin dan Yang adalah ketidak seimbangan antara kekuatan. Apakah kau mampu bertahan di bawah ketidak keseimbangan di antara keduanya ?"
Yin Hao sedikit demi sedikit mendorong maju Ling Qian dan menjawab semua pertanyaannya.
"Di dalam dunia taoist. Yin adalah manusia, sementara Yang adalah sebuah pedang. Dengan sebilah pedang di tangan, akan ku seimbangkan yang tidak seimbang."
Ling Qian mulai tersenyum kecil ketika menyadari kalau Yin Hao mulai mengerti dengan maksudnya.
Ling Qian juga mulai meras kesulitan menahan serangan Yin Hao yang tenang seperti air tanpa emosi sedikitpun.
"Kau hanyalah anak kecil yang di hadapankan dengan ribuan kesulitan. Apakah di saat itu seorang bocah ingusan seperti mu mampu bertahan ?"
"Ribuan kesulitan hanyalah ilusi. Bukan penyemangat atau pujian yang membuat ku bertahan, melainkan keinginan untuk menjadi lebih baik. Karena aku adalah seorang Taoist."
Di kata-kata terakhirnya Yin Hao berhasil memukul mundur Ling Qian hingga membuatnya hampir jatuh.
Ling Qian yang sudah tidak dapat bertarung berkata."Apalagi yang kau tunggu, bunuh aku. Bukankah kau sangat ingin melihat dunia luar ?"
"Lebih baik aku mati ketimbang membunuh mu,"
Alih-alih mengangkat pedangnya untuk membunuh Ling Qian. Yin Hao mengarahkan ujung pedangnya ke jantungnya sendiri, disaat itu Ling Qian langsung melesat ke depan dan menghentikan Yin Hao.
"Kau lulus,"