
Di sebuah kamar yang begitu mewah, lengkap dengan sebuah kolam indah yang berada tepat di tengah-tengah ruangan tersebut. Yin Hao nampak masuk ke kamar itu dengan terburu-buru sambil masih menarik tangan Riu An.
Perempuan itu terlihat meringis kesakitan karena Yin Hao menggegam pergelangan tangannya dengan cukup kuat serta menyeretnya seperti sebuah boneka. Namun meskipun merasa sakit, Riu An tetap tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak bisa berbicara.
Sementara Yin Hao masih terlihat sedang memikirkan tentang hal-hal ganjil yang ditemuinya di dalam villa.. Hingga beberapa saat kemudian iapun tersentak dan sadar kalau perbuatannya sudah melukai tangan Ryu An.
Segera Yin Hao melepaskan tangannya dan meminta maaf. Sedangkan Ryu An langsung mundur beberapa langkah sambil memegangi tangannya yang sakit serta menatap Yin Hao dengan ekspresi ketakutan.
Yin Hao yang sadar dengan keanehan sikapnya belakang ini merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuhnya. Bisa jadi karena beberapa emosi seperti senang, simpati atau sebagainya telah membuat kepribadian ganda nya keluar.
Namun saat ini bukan hal yang bijak memikirkan hal itu, karena jika tidak di tenangkan bisa-bisa Ryu An menganggap Yin Hao sebagai orang jahat.
"Nona An, tolong maafkan aku atas perbuatan ku. Aku sama sekali tidak pernah menyentuh wanita sebelumnya.. Jadi tidak terlalu memperhatikan hal seperti tadi. Aku benar-benar menyesal, kuharap kau tidak menganggap ku jahat karena hal itu."
Untuk dapat memperbaiki kesalahannya, Yin Hao berinisiatif untuk menyembuhkan luka memar di pergelangan tangan Ryu An dengan menggunakan tenaga alam dan membuat luka itu seketika sembuh tanpa meninggalkan bekas, bahkan rasa sakit yang Ryu An rasakan secara mengejutkan langsung hilang seakan tidak pernah ada sebelumnya.
Ternyata apa yang barusan di lakukan oleh Yin Hao bagi Ryu An seperti hal yang ajaib, membuatnya terpukau ketika melihat luka di tangannya sudah sembuh.
"Luka mu sudah sembuh. Sekarang kau boleh duduk di manapun yang kau mau, aku ingin pergi keluar sebentar untuk memastikan sesuatu."
Ryu An segera menarik lengan pakaian Yin Hao ketika pria itu hendak pergi. Sontak Yin Hao berhenti, lalu berbalik dan menatap Ryu An.
"Apakah kau masih membutuhkan sesuatu, nona An ?"
Ryu An menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menunjuk ke arah jendela karena malam sudah tiba. Yin Hao yang tidak mengerti dengan bahasa isyarat merasa bingung mau menjawab apa.
"Maaf, aku tidak mengerti. Kau diam saja di sini, sementara aku akan pergi sebentar."
Ryu Jin hanya bisa menatap Yin Hao yang berjalan pergi, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menahannya.
'Bagaimana ini ? Apa yang harus ku lakukan ?? Sejauh ini hanya pria itu yang sadar kalau kepala pelayan dan semua bawahnya adalah sekelompok penyusup, namun sepertinya dia belum terlalu yakin tentang hal itu, sementara aku bingung bagaimana cara menjelaskan hal ini kepada pria itu sedangkan aku ini bisu.. Tidak, aku tidak boleh putus harapan. Aku harus memutar otak, jika tidak nyawa semua orang akan terancam dalam bahaya."
*******
Sementara itu di sebuah kamar luas yang di khususkan untuk semua pelayan. Terlihat kepala pelayan Tian berada di sana bersama dengan seluruh bawahannya.
Mereka semua nampak sedang merundingkan sebuah rencana serta sikap Yin Hao yang seperti sadar dengan keanehan mereka.
"Senior Tian. Jika kita terus seperti ini, maka kita akan berada dalam bahaya dan cepat atau lambat pria itu akan mengetahui identitas kita yang sebenarnya."
"Benar senior. Di lihat dari sikapnya, kurasa pria itu sudah menaruh rasa curiga terhadap kita. Apakah sebaiknya kita langsung melapor saja ke markas besar mengenai masalah ini ? Aku takut renacan kita untuk mendapatkan informasi gagal karena pria itu."
Semua pelayan itu nampak khawatir, kecuali kepala pelayan Tian yang terlihat santai karena sangat berambisi untuk menyelesaikan rencana tersebut.
"Kenapa kalian menjadi begitu tegang ? Lawan kita hanya satu orang, lagian pria itu tidak bisa langsung menuduh kita tanpa bukti yang jelas. Dan daripada itu semua, pelayan sungguhan yang bernama Ryu An itu bisu dan tidak bisa menulis.. Jadi meskipun dia tau siapa kita sebenarnya, gadis itu tetap tidak bisa mengadu ke siapapun. Ingat tujuan kita bukan untuk membunuh, melainkan untuk mengumpulkan informasi mengenai rencana raja Ryu Zhi.. Jadi kalian hanya perlu bersikap layaknya seorang pelayan dan yakinkan tabib Huo kalau kita benar-benar pelayan di sini. Mengenai kecurigaan pria itu, aku akan mengurusnya sendiri."
Kepala pelayan Tian segera meninggalkan ruangan itu setelah mengatakan kata-kata sebelumnya. Ketika berada di ruangan tamu, ketua pelayan Tian tidak sengaja bertemu dengan Yin Hao.
Segera kepala pelayan Tian menyuguhkan senyumannya, dan berkata."Sepertinya anda sedang terburu-buru, tabib Huo ? Bicara soal tadi, saya sebagai kepala pelayan di villa ini benar-benar meminta maaf karena sudah membuat anda dan kedua murid anda merasa tidak nyaman. Hal ini terjadi karena villa ini sudah lama sekali sejak terkahir kali kedatangan tamu, sehingga saya menjadi sedikit canggung dan kaku ketika berhadapan dengan tabib sebelumnya. Kuharap kedepannya para pelayan tidak melakukan hal sebenarnya."
Yin Hao hanya memasang wajah datar, jelas dia sadar pria di hadapannya sangat memanipulasi.
Pelayan Tian itu seperti monyet bermuka dua, sehingga Yin Hao harus berhati-hati dalam membongkar rencananya agar tidak berbalik mengenainya.
"Anda tidak perlu meminta maaf, pelayan Tian. Aku mengerti."
"Saya masih tidak tenang. Jika boleh tau, kemana tuan akan pergi malam-malam begini ? Jika berkenan saya bisa mengantar tuan."
Dengan tegas Yin Hao menolak."Kau tidak perlu repot-repot mengantar ku, pelayan Tian. Lakukan saja tugas mu seperti kebanyakan pelayan."Ujar Yin Hao karena tidak ingin membuat gerak-geriknya tercium oleh pria licik itu.
Karena Yin Hao langsung mematakan ucapan kepala pelayan Tian, pria itupun tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjawab dan hanya bisa melihat Yin Hao berjalan keluar dari villa langit.
'Pria itu ternyata lebih cerdas dari yang ku bayangkan sebelumnya. Namun sekeras apapun dia mencoba mengungkap kebenaran ku, hasilnya tetap akan sia-sia karena dia tidak memiliki bukti kuat untuk menuduhku.'Batin kepala pelayan Tian, sebelum berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
*****
Sementara itu di halaman istana kerajaan. Yin Hao bertemu dengan jendral Tong Yu yang saat itu terlihat sedang mengasah kemampuan bermain tombaknya.
Ketika menyadari kehadiran Yin Hao. Segera pria muda itu menghentikan kegiatannya dan memberi salam kepada Yun Hao.
"Maaf, jika kedatangan ku malah mengganggu konsentrasi jendral."
"Tidak apa-apa tabib, justru aku merasa senang karena kau mau mendatangi ku. Ngomong-ngomong ada hal apa sampai kau menemui ku malam-malam begini ?"
"Apakah jendral mengenal kepala pelayan Tian ?"
"Ya, kurang lebih aku mengenalnya,"Jawab Tong Yu dengan sedikit anggukan, sebelum kemudian melanjutkan."Pria itu bukannya kepala pelayan di villa tempat tinggal tabib ? memangnya ada hal seperti apa hingga tabib Hao tertarik menanyakan prihal tentang pria itu ?? Aku sangat penasaran."
Diluar dugaan, ternyata Tong Yu adalah orang yang sangat penasaran dan suka bertanya.. Jadi bukanlah hal bijak memberitahu pria itu tentang kecurigaan Yin Hao, diluar itu semua belum ada cukup bukti untuk memberatkan masalah kepala pelayan Tian, sehingga Yin Hao berpikir untuk menutupi asumsinya terlebih dahulu dan lebih fokus mengetahui tentang kebenaran pria tersebut.
"Bukan seperti itu, jendral. Aku hanya penasaran kepala pelayan Tian itu orang yang seperti apa, karena aku ingin akrab dengannya."
"Oh.. Harusnya tabib bilang dari tadi. Akan ku ceritakan sedikit tentang pria baik itu. Kepala pelayan Tian adalah pelayan yang baru bekerja di kerajaan ini selama beberapa bulan. Kabarnya pria itu berhasil menggagalkan sebuah rencana penyusupan, membuatnya begitu di percaya oleh raja hingga diberikan ijin untuk keluar masuk kerajaan semaunya."
Dahi Yin Hao berkerut mendengar hal tersebut, kemudian iapun mencoba bertanya."Apakah kalian tidak pernah berpikir sebelumnya, jika penyusup itu adalah bagian dari rencana kepala pelayan Tian untuk mendapatkan kepercayaan raja ?"
Mendengar hal itu Tong Yu tertawa, dan berkata."Hahahah.. Tidak mungkin tabib. Nyatanya berkat kepala pelayan Tian, kami hampir berhasil mengalahkan pasukan lawan."
"Tetap saja. Apakah kalian tidak merasa curiga dengan pria itu ? Dia baru saja bekerja selama beberapa bulan terakhir, tidak mungkin langsung mengetahui masalah di kerajaan berkaitan dengan si penyusup."
Perkataan Yin Hao membuat Tong Yu merasa heran. Pemuda itupun berkata."Kenapa tabib seperti sedang menyudutkan tuan Tian ? Jika tabib Hao tidak menyukainya, aku bisa mencarikan pelayan lain sesuai keinginan tabib."
"Tidak perlu, jendral. Aku sudah mendapatkan cukup informasi, sekali lagi, aku hanya penasaran dengan pria itu."Jawab Yin Hao karena tidak ingin membuat Tong Yu merasa curiga kepadanya karena pelayan Tian sangat di percaya.
Setelah mendapat informasi dari Tong Yu. Yin Gao berjalan pergi meninggalkan tempat itu, sementara Tong Yu yang memperhatikannya dari belakang merasa keheranan.
"Kenapa tabib Hao tidak bersikap seperti biasanya, ya ?. Meski baru mengenalnya, aku tahu kalau dia adalah orang yang selalu serius.. Sikapnya tadi seperti seseorang yang sedang menyelidiki sesuatu, kuharap tidak ada hal buruk yang terjadi."
****
Sementara itu di dalam perjalanan pulang. Yin Hao terlihat sedikit tersenyum karena merasa puas dengan informasi yang dia dapatkan.
"Seperti yang ku pikirkan sebelumnya, jendral Yu memang tempat yang tepat untuk mencari informasi. Meski sebagian orang informasi tadi terkesan tidak penting, bagiku hal itu malah semakin memperkuat fakta kalau sejak awal kepala pelayan Tian sudah merancang skenario ini sedemikian rupa. Hal itu membuktikan kalau dia memang sangat cerdas untuk seukuran rubah tua, namun cepat atau lambat dia akan ku tangkap."
Sesampainya di villa langit. Yin Hao melihat Yu Chen dan Li Ming di halaman villa, mereka berdua nampak sedang berlatih bersama.
Ketika melihat Yin Hao, segera merekapun menghampiri guru mereka.
"Guru, kau dari mana ?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Yu Chen. Yin Hao berbalik menanyakan hal lain.
"Apakah di sini hanya ada kita ?"
Yu Chen dan Li Ming saling bertatapan dengan bingung, lalu salah satu dari mereka berkata.
"Kurasa hanya ada kita, karena terkahir kali ku lihat para pelayan berada di lantai atas dan sebagai juga sudah beristirahat. Memangnya ada apa ?"
Yin Hao menjelaskan semua tentang kepala pelayan Tian dan kecurigaannya tentang pria itu kepada kedua muridnya, hal itu bertujuan agar kedepannya mereka lebih berhati-hati dalam bertindak.
"Lalu apa yang harus kita lakukan guru ? Tadi junior Chen tidak sengaja memakan masakan mereka, bagaimana ada racun di dalamnya ??"Ujar Li Ming, terlihat tegang.
"Kak.. Kenapa panggilan mu berubah ? Bukankah beberapa saat yang lalu kau masih memanggilku dengan sebutan suami ??"
Li Ming segera menginjak kaki Yu Chen hingga membuatnya kesakitan."Aku sedang serius, si4lan."
Yin Hao kemudian menjelaskan."Menurut ku kita bukanlah target mereka. Jikapun mereka ingin membunuh kita, hal itu malah akan menjadi bumerang untuk mereka karena sudah membunuh seorang tabib seperti ku, diluar itu semua, mereka seperti mengincar sesuatu yang lain yang masih belum ku ketahui.. Jadi kemungkinan makanan atau apapun tidak berbahaya karena kita bukan target mereka.. kalian hanya perlu waspada dan berpikir cerdas "
Li Ming terlihat khawatir."Meskipun guru berkata begitu, tetap saja rasanya aneh tinggal bersama mata-mata seperti mereka. Apalagi aku tidak mau mati konyol karena sebuah makanan."
"Begini saja.. Kalian makan jika guru makan, jika guru tidak makan artinya makanan itu beracun. Apakah kalian paham ?"
Yu Chen dan Li Ming mengangguk. Kemudian Yin Hao berjalan lebih dulu memasuki villa langit, agar tidak terlihat mencurigakan.
"Ayo istriku, guru sudah ma..
*Plaaaak
Sebuah tamparan menghiasi sebelah wajah Yu Chen hingga meninggalkan bekas merah.
"Berhenti memanggilku begitu, geli si4lan..."Ujar Li Ming berjalan memasuki villa dengan bulu kuduk merinding akibat panggilan Yu Chen.
Alih-alih merasa sakit setelah di tampar, Yu Chen masih tidak jera dan tetap memanggil Li Ming sebagai istrinya.