
Sesuai dengan janji yang telah di katakan kepala pelayan Tian. Pria itupun mengajak Ryu An mengikutinya ke suatu tempat yang letaknya berada di hutan belakang kerajaan. Selama dirinya tinggal di kerajaan, Ryu An tau betul dengan semua tempat di sana namun baru kali ini dia melihat tempat yang terasa begitu asing baginya.
'Kemana sebenarnya orang licik ini akan membawa ku ? Meskipun aku tidak mengetahui tentang tempat ini semua itu bukanlah masalah, yang penting aku bisa segera bertemu dengan ibuku. Aku rindu dekapan hangat ibuku yang menenangkan, kuharap dia baik-baik saja dan bisa melihat ku.'
Setelah berjalan lumayan jauh memasuki kedalaman hutan. Sampailah mereka di sebuah kuil kecil, disana terdapat sebuah kuburan.
Ryu An menoleh ke kanan dan kiri, tidak perduli dengan sebuah kuburan di hadapannya karena di pikirannya hanya ada ibunya.
"Di mana ibuku ?"Tanya Ryu An dalam bahasa isyarat.
Kepala pelayan Tian tersenyum menyeringai dan nampak begitu menakutkan."Apakah kau buta ? Itulah ibumu."
Seperti di sambar petir, seketika sekujur tubuh Ryu An menjadi lemas hingga jatuh ke posisi berlutut menatap ke arah kuburan di hadapannya.
"Ti-tidak, ibu.."Rintih gadis malang itu.
"Bagaimana ? Apakah kau senang bisa kembali bertemu dengan ibumu ??"Kepala pelayan Tian bertanya diiringi dengan tawaan.
Dengan tubuh bergetar hebat karena emosinya meluap-luap akibat selama ini di tahan. Ryu An berdiri dan mengeluarkan sebuah belati dari balik pakaiannya, kemudian menyerang kepala pelayan Tian dengan menghunuskan belatinya ke arah perut pria tersebut.
*Greep
Di luar dugaan, dalam jangkauan serangan yang seharusnya tidak mungkin bisa di hindari oleh orang biasa, dapat di tahan dengan mudahnya oleh kepala pelayan Tian.
"Belati seperti ini tidak akan melukai tubuh ku, kau butuh sesuatu yang lebih kuat."Kepala pelayan Tian meremas pergelangan tangan Ryu An hingga belati di tangannya jatuh.
Ryu An hanya dapat meringis kesakitan, kali ini matipun tidak masalah baginya asalkan bisa membawa pria di hadapannya ikut bersamanya ke alam baka.
Dari dalam pakaiannya, Ryu An mengeluarkan sebuah kantong kulit, kemudian melempar kantong berisi serbuk beracun itu ke wajah pelayan Tian hingga membuatnya menjerit kesakitan.
"Wajah ku ! Panas !! Apa yang sudah lakukan dasar w4nita j4lang ?!"
Kepala pelayan Tian melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Ryu An. Pria itu menjerit hebat sambil memegangi wajahnya yang terasa seperti terbakar.
Ketika melihat kesempatan itu, segera Ryu An memungut kembali belatinya dan menikam perut kepala pelayan Tian berkali-kali hingga sebuah terjangan membuat Ryu An terpental ke belakang dan muntah darah.
"Uhuk Uhuk Uhuk.."
"Si4l.. Kau harus membayar ini dengan nyawa mu."Terlihat sebagian wajah kepala pelayan Tian meleleh seperti di siram air keras. Iapun berjalan menghampiri Ryu An yang sudah tidak berdaya.
"Kemari kau j4lang !
Kepala pelayan Tian mencekik leher Ryu An lalu mengangkat tubuh gadis itu, membuat Ryu An menggeliat karena kesulitan Bernafas.
Ketika akan menghabisi nyawa Ryu An. Dari arah belakang terasa sebuah hawa dingin yang mencekam dan membuat siapa saja yang merasakannya akan langsung bergidik ngeri.
"Bagus sekali kepala pelayan Tian, akhirnya kau menunjukan sikap aslimu. Dengan begini perburuan tikus sudah selesai,"
Sontak kepala pelayan Tian mendongak ke belakang dan melihat Yin Hao berjalan ke arahnya dengan menyeret sebuah tombak miliknya.
"Kau..."
Yin Hao melempar tombak milik kepala pelayan Tian kepada pria tersebut. Sontak pria itu menangkap tombak miliknya dan melepaskan cekikikan Ryu An.
"Bagaimana cara mu mendapatkan tombak ku ?"
"Mereka benar-benar beban. Sepertinya bukan kau yang masuk ke dalam jebakanku, namun sebaliknya, akulah yang sudah masuk ke dalam jebakan mu. Tapi bagaimana bisa kau berpikir sampai sejauh ini ?"
Yin Hao hanya tersenyum kecil.
*Flash back..
Ketika Yin Hao berbincang dengan raja Qin Zhu mengenai topengnya, dia tidak segan-segan memberi tahu kecurigaannya terhadap pelayan Tian.
Sebelum itu di malam pertama Yin Hao tinggal di kerajaan. Ketika menemui jendral Tong Yu malam itu, secara diam-diam Yin Hao sudah menyelipkan sebuah kertas ke dalam saku kantong jendral Tong Yu, karena waktu itu kepala pelayan Tian sedang memperhatikannya dari jauh.
Setelah kepergian Yin Hao, barulah jendral Tong Yu sadar ketika melihat kode tangan Yin Hao yang merujuk kepada angka dua. Sontak jendral Tong Yu menoleh ke arah jarum dua dan melihat bayangan seseorang sedang bersembunyi di sebuah bangunan.
'Jadi ini maksud tabib Hao. Akhirnya aku tau kenapa pria itu berbicara tidak sampai selesai..'
Segera jendral Tong Yu berjalan memasuki kediamannya. Kemudian merasakan sesuatu di kantongnya dan ternyata setelah di buka adalah surat.
'Jendral Yu anda harusnya tau aku ini orang yang seperti apa. Ketika memasuki villa langit, aku sudah merasa curiga dengan sekelompok pelayan di sana terutama pria yang bernama Tian itu. Aku tau insting ku tidak pernah salah, dan untuk memastikan kecurigaan ku, aku diam-diam mendengar percakapan mereka di sebuah ruangan. Saat itu aku hampir saja ketahuan oleh salah satu bawahan kepala pelayan Tian, sehingga aku berdalih dan berkata akan pergi keluar sebentar. Dari percakapan mereka, aku mendengar kalau kepala pelayan Tian berhasil mengetahui posisi mata-mata raja Qin Zhu. Pergilah selidiki kebenarannya.'
Seperti yang sudah kita tahu, keesokannya raja Qin Zhu mendapatkan kabar tentang kematian mata-matanya. Hal yang terasa kebetulan itu membuat Tong Yu terkejut, kemudian bergegas menemui Yin Hao.
Pertemuan keduanya begitu rahasia, tidak ada yang mengetahui kapan jelasnya. Yang pasti dalam pertemuan rahasia itu, Tong Yu menggantikan posisi Yin Hao ketika mengobati para prajurit untuk mengalihkan perhatian kepala pelayan Tian yang selalu memperhatikan gerak gerik Yin Hao.
Sementara Yin Hao sendiri pergi keluar kerajaan untuk membuntuti seseorang yang menjadi penerima informasi kepala pelayan Tian.
Ketika penyalur informasi itu kembali dengan membawa surat perintah baru. Yin Hao langsung membunuh si penerima informasi dan memutuskan sarana informasi kepala pelayan Tian dari luar.
Dengan surat bukti di tangannya, Yin Hao hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengambil tindakan.
Segera Yin Hao bergegas kembali ke kerajaan dan langsung menggantikan posisi Tong Yu yang menyamar sebagai dirinya. Entah sebuah keberuntungan atau apa, saat itu raja Qin Zhu menghampiri Yin Hao.
Ketika bertanya tentang topeng buatannya, Yin Hao sengaja menyinggung tentang sekelompok tikus karena saat itu kepala pelayan Tian sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Setelah kepala pelayan Tian pergi, barulah Yin Hao menyampaikan informasi mengenai penyusup yang tidak lain adalah kepala pelayan. Pernyataan itu di perkuat dengan bukti di tangannya, sehingga Yin Hao berhasil meyakinkan raja Qin Zhu.
"Si4lan. Aku akan menghabisi nya langsung !"
"Jangan, belum waktunya. Dia masih berada di sini, jika kita langsung menyerang maka akan ada kesempatan bagiannya untuk kabur. Tunggu sinyal dariku, baru kita menyerang."
Raja Qin Zhu terlihat sangat murka, wajahnya memerah namun yang di katakan Yin Hao memang benar, terlebih lagi ada banyak orang yang bisa di jadikan sandera. Sehingga menyerang seperti ini akan sangat beresiko.
Di waktu yang tidak terduga, Ryu An mendatangi Yin Hao. Perempuan itu memperlihatkan botol racun di tangannya kepada Yin Hao ketika pria itu sedang mengobatinya.
Yin Hao yang mengerti kemudian memanfaatkan rencana kepala pelayan Tian untuk menjebaknya sendiri. Dengan cerdik Yin Hao kemudian mengganti botol racun itu dengan botol kosong, lalu membuat drama seolah-olah dirinya menyakiti hati Ryu An karena saat itu salah satu bawahan kepala pelayan Tian memperhatikannya.
*****
Kepala pelayan Tian yang mendengar penjelasan itu hanya tertawa terbahak-bahak. Tidak di sangka niatnya yang ingin menjebak seseorang malah berakhir dengan dirinya sendiri yang terjebak di dalam rencananya.
Ternyata selama ini Yin Hao sudah merancang rencana itu, bahkan tanpa memperlihatkan gerak-gerik yang mencurigakan dan bergerak seolah-olah seperti terperangkap di dalam rencana pelayan Tian.
"Si4lan !
Yin Hao tersenyum tipis."Sepertinya kaulah yang sudah salah mencari lawan."