THE LEGEND OF YIN

THE LEGEND OF YIN
18.MENINGGALKAN KOTA



Pagi hari di halaman rumah keluarga besar Li. Yin Hao terlihat berdiri di samping seekor kuda putih dan nampak sedang berbincang bersama Li Chung.


Di tempat itu juga terlihat anak Li Chung yang paling kecil dan istrinya.


"Apakah kau yakin ingin pergi sekarang, tuan taoist ?"


"Benar tuan Chu. Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi, ada urusan yang harus ku lakukan."


Mengetahui kalau Yin Hao akan pergi. Li Chung merasa sedikit sedih, karena keduanya sudah sangat akrab layaknya seperti sepasang saudara.


"Jika tuan taoist sudah berkata demikian, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan anda. Rumah ini pasti akan terasa sepi karena kepergian anda."


"Tuan Chu. Dimana nona Ming ?"


Li Chung menggaruk kepala sambil tersenyum canggung."Ah, mengenai anak itu. Entah mengapa semenjak kemarin ia jadi bertingkah aneh. Aku tidak tahu apa yang telah di alaminya waktu itu, namun sepertinya dia benar-benar terkejut akan sesuatu."


"Ternyata begitu.. Sepertinya akan lebih baik jika dia tinggal..."


Belum sempat Yin Hao menyelesaikan perkataannya. Dari arah belakang, terlihat Li Ming datang dengan menunggang seekor kuda putih.


"Apa yang kau maksud dengan tinggal ? Tentu saja aku akan ikut."


"Hei, Ming'er, jaga ucapan mu jika sedang bicara dengan tuan taoist.."


Yin Hao menepuk pundak Li Chung, lalu berkata."Tidak apa tuan Chu. Nona Ming adalah murid ku, aku tahu bagaimana karakteristik nya."


"Entahlah tuan taoist. Dengan sifatnya yang keras kepala seperti itu, takutnya dia malah membebani mu."


"Jika berbicara soal membebani, aku lebih membebani tuan Chu dan sekeluarga. Untuk itu aku benar-benar minta maaf, dan terimakasi sudah mau memberikan ku tempat tinggal."


Li Chung tertawa, lalu menepuk punggung Yin Hao."Kau ini sungkan sekali. Jangan terlalu di pikirkan, sebab selanjutnya anak ku yang akan menyusahkan mu. Bukankah itu artinya kita impas ? Lagian jasa mu kepada keluarga ku dan seluruh orang di kota terlalu besar, aku jadi bingung mau memberikan apa."


"Tuan Chu, kau tau, kan kalau aku sangat tidak suka di berikan imbalan ?"


Li Chung mengangguk."Benar sekali, tuan taoist. Aku sampai bingung kenapa anda begitu tidak ingin di berikan imbalan, padahal di luar sana ada banyak orang yang menginginkannya."


"Tuan Chu. Guru ku sewaktu-waktu pernah berkata, kalau tangan yang memberi lebih baik dari tangan yang meminta lagian seorang taoist selalu menolong tanpa mengenal imbalan. Ngomong-ngomong Tuan Chu, sudah saatnya bagi kami untuk pergi."


Li Chung tertawa kembali sambil menggaruk kepala."Hahaha, aku hampir saja lupa. Jika sudah berbicara dengan tuan taoist rasanya satu hari penuh tidak akan cukup, kalau begitu tolong jaga anak ku, tuan taoist."


"Aku akan berusaha."Ujar Yin Hao, kemudian menaiki kudanya.


Yin Hao melirik kepada Li Ming di sampingnya."Kau tidak mau pamit dulu ? Aku tidak tahu kapan kita bisa kembali, jadi gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya."


Mendengar hal itu, segera Li Ming melompat turun dari kudanya dan berlari ke arah keluarganya.


"Ibu, ayah. Aku akan pergi melihat dunia luar, aku akan membuat kalian bangga."Ujar Li Ming sambil menangis memeluk ayah dan ibunya.


"Baik ibu,"Li Ming menatap adiknya."Adik kecil, kakak pergi dulu. Jangan membuat ibu dan ayah kesulitan."


"Baik kak. Hati-hatilah di jalan."


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Li Ming kembali menaiki kudanya.


"Apakah kau sudah siap ?"


Li Ming mengangguk."Tentu saja sudah, guru muda !"Ujarnya dengan semangat.


*Chaaa !


*Chaaa !


Dua ekor kuda putih itupun berlari meninggalkan kediaman keluarga Yin. Ketika melewati jalan kota, terlihat ada ratusan orang yang menunggu di tepi jalan hanya untuk mengantar kepergian dewa obat mereka.


"Dewa obat, selamat jalan !


"Jaga kesehatan mu, dewa obat !


"Dewa obat, nenek ku mencintaimu !


Setelah melewati gerbang kota bagian Utara. Perjalan di lanjutkan dengan melewati jalan setapak yang terbuat dari tanah menuju ke sebuah hutan lebat.


********


Sementara itu di waktu yang sama, terlihat sekelompok pria dewasa bersenjatakan tombak berjalan di dalam hutan dengan sikap waspada akan sesuatu.


Tiba-tiba dari dalam semak-semak, terdengar suara raungan harimau. Harimau itupun melompat keluar dan mengejutkan sekelompok orang sebelumnya.


Sontak wajah sekelompok orang itupun memucat, melihat seekor harimau putih berukuran tidak biasa berdiri di hadapan mereka dengan mengeluarkan suara mengerikan.


"La-lari !!"


Sebagian dari orang itu mencoba lari. Namun apa yang mereka lakukan malah memancing harimau itu untuk mengejarnya dan menghabisi mereka satu persatu.


Hingga akhirnya semua orang itu tumbang tidak bernyawa dengan kondisi tubuh tidak lengkap.


Beberapa hari kemudian. Seorang pemuda berumur 15 tahun terlihat berjalan melewati tempat kejadian karena sedang mencari tanaman obat, hingga ia tidak sengaja menemukan potongan tubuh manusia di sana.


Pemuda itupun mengetahui kalau potong tubuh manusia itu adalah milik kelompok klan nya, karena warna pakaian yang menempel di potongan tubuh tubuh itu familiar baginya.


Segera pemuda tersebut merasa ketakutan setengah mati membayangkan mahluk seperti apa yang menyerang orang itu hingga hanya menyisakan sebelah tangannya saja.


"Ak-aku harus melaporkan hal ini kepada ketua klan !"