THE LEGEND OF YIN

THE LEGEND OF YIN
41. DUTA ASOSIASI HARTA FELIX



"Jadi.. Tabib Huo, sepertinya keadaan menjadi sedikit genting, benar'kan ?"


"Sebelum itu, silakan duduk dulu jendral Chun. Sejujurnya aku sedikit asing denganmu karena tidak pernah melihat jendral di kerajaan sebelumnya."


Wang Chun terkekeh kemudian menjawab."Tentu saja tabib akan merasa asing denganku, itu karena 2 tahun belakang ini aku sedang menyelidiki sesuatu yang rahasia berkaitan dengan benua barat."


"Menarik sekali, aku sangat penasaran namun bukan itu yang akan kita bicarakan kali ini. Jendral, apakah anda tau bagaimana situasi kerajaan sekarang ?


"Ya.. Secara garis besar aku sudah mengetahuinya."Jawab Wang Chun dengan sedikit anggukan.


"Meski sekarang ini kami sudah mengetahui penyerangan tiba-tiba yang akan di lakukan sekte gagak hitam, sejujurnya semua itu tidak terlalu membantu karena jumlah dan tingkatan pendekar yang kita miliki tidak cukup memadai untuk melawan pasukan lawan yang bahkan jumlahnya saja sampai sekarang belum di ketahui."


Wang Chun mengelus dagunya."Aku mengerti perasaan mu tabib Hao. Dari segi pengalaman ku, peperangan kali ini memang memberatkan pihak kerajaan dengan segala faktor yang mempengaruhinya.. Aku juga khawatir dengan kondisi 2000 pasukan kerajaan yang memprihatinkan."


"Anda sudah melihatnya ? Bisakah jendral memberi tahuku kondisi mereka ??"


Jendral Wang Chun menghela panjang diiringi gelengan, sebelum kemudian menjawab."Mereka belum pernah mengikuti peperangan sebelumnya. Jadi ketika mendengar mereka akan di terjunkan ke dalam peperangan besar, membuat mental mereka jatuh bahkan tidak sedikit kondisi mereka yang tidak bisa ikut perang."


Mendengar hal itu raut Yin Hao semakin memburuk. Kepalanya seakan mau pecah memikirkan semua kekurangan dari pihak kerajaan.


Ketika Yin Hao sedang bingung dan tidak menemukan jalan keluar. Ryu An yang dari tadi memandangnya dengan khawatir, berjalan menghampirinya dan duduk di sebelah Yin Hao.


Ryu An menepuk pundak Yin Hao, membuat pria itu menatap ke arahnya, lalu Ryu An memberikan sebuah kertas kepadanya.


"Kenapa kau tidak meminta bantuan kepada pendekar-pendekar yang sudah sembuh untuk melatih pendekar baru ? Aku yakin, dengan jumlah jendral besar yang hanya mencapai 100 orang itu tidak akan sanggup melatih mereka semua."


Usul cemerlang Ryu An membuat raut wajah Yin Hao seketika membaik, kemudian menatap jendral Wang Chun.


"Kita masih ada sedikit harapan, jendral ! Dengan meminta bantuan dari pendekar-pendekar yang sudah sembuh dari lukanya.. Aku yakin 2000 pendekar baru bisa di latih dengan lebih cepat karena pendekar lama sudah memiliki pengalaman perang bahkan sudah pernah melawan pasukan sekte gagak hitam itu sendiri."


"Usul yang bagus, tabib ! Mereka pasti juga memiliki pengetahuan tentang lawan-lawannya dan bisa diberitahukan kepada pendekar baru sebagai referensi. Kau sangat cerdas, dengan mengandalkan hal yang ada untuk menutupi setiap kekurangan, aku yakin kita bisa mengimbangi pasukan lawan jika begini caranya !!"


Yin Hao menggeleng pelan."Kita bukan hanya bisa mengimbangi mereka namun bisa mengalahkannya. Usul ku tadi bukan miliki ku, melainkan gadis inilah yang memberi tahukannya kepadaku."


Ketika Yin Hao mengatakan bahwa usul tersebut sebenarnya adalah pemikiran dari Ryu An, barulah Wang Chun sadar ada seorang gadis kecil duduk di samping pemuda tersebut.


"Siapa gadis itu, tabib Yu ? Istrimu ??"


Mendengar hal mengejutkan itu sontak Ryu An menggeleng sambil menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya. Yin Hao kemudian berkata dengan santai.


"Anda salah jendral. Nona ini bukan istriku melainkan adalah kepala pelayan kerajaan yang di perintah untuk membantuku hampir dalam setiap hal, kehadirannya sangat membantu pria lajang seperti ku."


Wang Chun tersenyum tidak enak karena sudah salah sangka akibat kekeliruan terhadap hubungan Yin Hao dan Ryu An, pria yang terlihat kasar namun sangat ramah itupun berkata.


"Ma-maafkan aku, habisnya tabib Hao terlihat seperti pria dewasa yang sudah berkeluarga lagian kalian berdua terlihat serasi..."


Yin Hao tersenyum tipis,"Semua orang juga sering berkata begitu terhadap kami berdua, namun aku tidak ada sama sekali keinginan untuk mencari seorang pasangan.. Jikapun ada, apakah wanita itu sanggup hidup bersama orang sibuk seperti ku yang hampir tidak ada waktu luang untuk melayaninya ?"


Mendengar hal tersebut Wang Chun tertawa, dia menjadi sangat menyenangi Yin Hao karena sifat pria tersebut yang mudah bergaul.


"Kau benar tabib Huo, untungnya istri ku adalah tipe wanita yang setia dan mengerti dengan kesibukan suaminya. Semoga kau cepat menemukan wanita yang setia tabib Huo dan melepas keperjakaan mu, hahaha..."Wang Chun terkekeh.


Wang Chun segera tersentak karena tujuannya pergi ke kediaman Yin Hao adalah untuk mengajak pria tersebut pergi melihat 2000 pasukan baru.


"Aku hampir saja melupakannya jika tidak tabib Hao ingatkan, karena berbincang dengan tabib sangat menyenangkan hingga lupa waktu. Ayo kita bergegas pergi, mereka sudah berkumpul di lapangan pelatihan perang."


Wang Chun berdiri dan begegas berjalan keluar. Sebelum Yin Hao menyusul Wang Chun, dirinya terlebih dahulu menatap kepada Ryu An.


"Nona An, apakah kau mau ikut ? Karena sepertinya jika kau tinggal maka akan seorang diri, itupun jika kau mau. Bagaimana ?"


Mata Ryu An terlihat berkaca-kaca lalu mengangguk dengan semangat, merekapun pergi bersama menuju ke lapangan pelatihan.


*****


Sementara itu di lapangan posko kesehatan. Yu Chen dan Li Ming terlihat sedang mengobati 100 pendekar yang kehilangan tangan atau kakinya dengan mengikuti resep pil terang bulan buatan guru mereka.


Pekerjaan mereka tidak terlalu berat karena semalam Yin Hao sudah membuat cukup banyak racikan pil terang bulan. Sehingga hanya perlu membagi-bagikannya saja ke pendekar yang ada serta membantu mereka meresap khasiat pil terang bulan agar dapat sembuh dengan cepat.


Tidak lama kemudian seorang wanita berparas anggun bergaun merah muda berpadu putih datang ke posko kesehatan bersama dengan seorang pria sepuh di sampingnya.


Mereka adalah duta dari asosiasi harta felix yang mengikat kerjasama dengan raja Qin Zhu.


Yang perempuan bernama Wu Xie, merupakan pemimpin asosiasi harta felix cabang ibukota Qin.


Perempuan tersebut terkenal sangat cerdas dan baik hati, namun orang-orang jarang mengetahui kalau wanita ini sangat tergila-gila dengan resep pil baru dan rela melakukan apa saja demi memenuhi ambisinya.


Sedangkan pria sepuh yang berjalan di samping Wu Xie bernama Lu Yan, merupakan seorang alkhemis tingkat tinggi satu-satunya di provinsi Qinghai sekaligus seorang pendekar tingkat Great asension tahap menengah.


Orang-orang yang mengenal Lu Yan tidak akan berani mencari masalah dengannya, karena pria tersebut tidak akan segan langsung menghabisi lawannya hingga di juluki tangan dewa.


Ketika sedang asik berjalan-jalan di posko keamanan. Mata Wu Xie tidak sengaja tertuju pada Li Ming yang terlihat sedang membantu seorang pendekar menyerap khasiat pil terang bulan.


Awalnya Wu Xie menganggap remeh kemampuan pil yang di terapkan Li Ming kepada pendekar itu karena sudah 1 menit menunggu namun khasiatnya belum terlihat sama sekali.


Namun ketika melihat sebuah keajaiban di mana tangan pendekar itu yang tadinya butung perlahan meregenerasi hingga kembali utuh seperti sediakala. Membuat mulut serta mata Wu Xie terbuka lebar, seluruh tubuhnya gemetaran karena baru pertama kali melihat pil sehebat itu.


"Ang.. Me-menakjubkan, aku in-ingin resep pil itu.."


Wajah Wu Xie memerah, pikirannya meledak-ledak dan hampir menggila. Dirinya sangat terobsesi dengan pil yang mampu menyembuhkan luka permanen yang digunakan Li Ming.


Sedangkan Lu Yan yang juga melihat kejadian itu merasa cukup terkejut, namun juga merasa khawatir dengan keadaan Wu Xie yang seperti orang pengidap penyakit ketergantungan ganja.


Wajah gadis itu memerah dan nampak mesum, nafasnya memburu seakan uap putih keluar dari bibir merah mudanya yang terlihat seksi.


"Ak-aku ingin itu.. Bagaimanapun caranya, aku ingin.."


Wu Xie bergegas menghampiri Li Ming, membuat gadis tersebut sontak terkejut dengan kedatangan Wu Xie yang tiba-tiba dan langsung menanyakan sesuatu yang tidak jelas kepadanya.


"Aku ingin itu, aku ingin itu. Katakan padaku resepnya.."


"Hu ? Kau mau ini ??"Li Ming yang kesal memperlihatkan kepalan tangannya yang besar dan siap memukul.