
Bell, Rabu, 4 Februari 1970
"Weinhard! Antar aku ke kantor Intelijen!" perintahku pada Weinhard yang sedang makan di ruang makan.
Jadwal makan pekerja rumah denganku memang lebih terlambat.
Saat pulang dari akademi pukul tiga sore, aku langsung makan dan mandi, sedangkan pelayan, tukang kebun, juru masak, penjaga, dan supir satu jam lebih terlambat.
Weinhard menatapku dengan wajah heran.
"Ada apa? Tumben ke kantor intelijen!" ucap Weinhard saat Ia sudah selesai mengunyah pancake.
Aku mendengus sebal. Weinhard sangat banyak tanya dan suka basa-basi.
"Pak Alter yang menyuruhku!!" ucapku.
Weihard mengangguk sambil mengunyah kembali pancakenya.
Aduh! Sialan! Lama sekali makannya!
"Cepatlah dikit Weinhard!!" protesku.
Weinhard pun mempercepat makannya.
Tujuh menitan berlalu sejak dia mulai makan. Weinhard dan aku segera pergi ke mobil.
"Tunggu!" pinta Alice padaku yang baru membuka pintu mobil.
"Kenapa?" tanyaku.
Alice menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
"Bolehkah, aku ikut?" tanya Alice sambil memasang wajah yang seakan berkata, "kumohon!"
Aku mendengus sebal.
"Baiklah!" jawabku, lalu langsung masuk ke mobil.
Alice melompat kegirangan dan segera menyusulku ke mobil.
Weinhard segera menghidupkan mesin mobil dan menancap gas.
Aku menatap pemandangan jalanan dari kaca jendela mobil.
Oh ya! Hampir saja aku lupa menyuruh Weinhard menghidupkan lagu!
"Weinhard! Putar lagu pop dari Winny!" perintahku pada Weinhard.
Weinhard menoleh padaku sebentar dengan wajah heran.
"Tidak ex-treme lagi?" tanya Weinhard lalu kembali mengemudi.
Aku menggeleng.
"Kasihan Alice, nanti Ia bisa mabuk perjalanan kalau mendengar lagu ex-treme di jalan" jelasku.
Weinhard memasang senyum tipis di wajahnya, walau sedang fokus berkendara. Sedang Alice tampak kebingungan.
Lalu Weinhard menghidupkan radio mobil.
Lagu pop milik Winny tidak membosankan dan jauh beda dari lagu pop milik orang lain.
Kadang Winny juga menyanyikan lagu rock, tapi levelnya lebih ringan dari ex-treme.
Aku kembali menatap jalanan dari jendela mobil.
Tiba-tiba beberapa tetes air datang dari langit dan membasahi jendela mobil.
"Wah! Sudah lama tidak hujan!" komentar Weinhard.
"Iya!" ucap Alice menyahuti Weinhard.
*****
"Selamat datang Couria!" sambut Pak Alter saat aku sampai di ruangan kerjanya di kantor intelijen.
Aku melempar senyum ramah pada Pak Alter dan duduk pada sebuah kursi di samping Carrie, disusul Alice di sampingku.
"Oh ya siapa gadis kecil ini?" ranya Pak Alter sambil memasang senyum ramah pada Alice.
"Namaku, Alice..." jawab Alice dengan pelan.
"Karena semua sudah hadir, bisakah kita mulai Pak Alter?" tanya Aria dengan wajah serius.
Pak Alter menoleh pada Aria dan tersenyum ramah.
"Kau orang yang tidak suka basa-basi ya, Aria Fatia!" komentar Pak Alter.
"Baiklah! Langsung ke intinya! Kalian menyusuplah ke sana! Dan berpura-pura mengikuti lowongan kerja Enzo Alban!" perintah Pak Alter.
Aku menaikkan tangan kananku, tandanya aku ingin bertanya.
"Ya?" tanya Pak Alter.
"Apa Aria saja yang kesitu?" tanyaku.
Pak Alter menjawabnya dengan menggeleng.
"Demi melindungi haknya sebagai wanita, justru Ia yang tak ikut..." ucap Pak Alter lalu melempar senyum padaku.
"Berarti kita, menyamar?!" tanya Carrie tidak percaya.
Pak Alter menagngguk.
"Bukannya kau pintar meniru suara orang lain, tak ter kecuali wanita, Carrie?" tanya Paman Arrie.
Aku baru tahu Carrie bisa meniru suara wanita.
"Dan kau Couria! Kau sangat manis!" ucap Pak Alter lalu nyengir padaku.
Karena tak percaya aku reflek melompat dari kursi.
Aku kembali duduk di kursi dengan tenang.
Pak Alter lalu menertawaiku. Mukaku menjadi merah padam.
"Baiklah, akan aku sampaikan rencananya..." ucap Pak Alter sambil mengeluarkan sebuah papan catur untuk menjelaskan rencananya.
Kami semua mengangguk.
"Pertama, Couria dan Carrie akan menyusup ke dalam rumah Enzo Alban dan mengikuti seluruh prosedur Enzo Alban..." jelas Pak Alter.
"Baik!" ucapku dan Carrie.
"Aku sudah menyiapkan telepon tersembunyi. Beri sinyal dengan kata "sekarang" melalui telepon itu jika Enzo sudah bertindak. Dengan begitu kami akan datang memberi bantuan..." lanjut Pak Alter.
"Nah, tugas Pak Arrie, Aria dan Alice adalah sebagai tim bala bantuan!" jelas Pak Alter lalu tersenyum.
Ini pertama kalinya aku menyusup dan menyamar sebagai wanita. Biasanya aku hanya mengurus kasus pembunuhan dimana sang pembunuhnya masih tersembunyi dan aku harus mencari tahunya.
Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagiku.
"Kita akan menjalankan misi ini pada hari sabtu ini! Kita memiliki seorang perias yang sangat baik dalam menyamarkan seseorang. Aku sudah memanggilnya, seharusnya Ia sudah datang!" protes Pak Alter.
Lalu datanglah seorang wanita dari pintu ruang Pak Alter.
"Tuan Alter bersabarlah sedikit! Aku masih harus merapikan kosmetikku!" ucap Wanita itu sambil berjalan mendekati kami dan duduk di samping Alice.
Ia melempar senyum pada kami semua.
"Hai! Namaku Erica Lycia! Aku bekerja sebagai perias untuk penyamaran! Tentu tugasku juga sama tersembunyinya seperti kalian!" jelas wanita itu.
Wanita yang mengaku bernama Erica itu memang terlihat pandai berpakaian dan berhias. Wajahnya di rias dengan baik, tidak menor. Lalu pakaiannya terkesan formal dengan aksen warna monokrom.
Pada kakinya Ia menggunakan sepatu hak yang tidak begitu tinggi dengan warna hitam.
Selain itu, wanita itu sepertinya menggunakan parfum dengan aroma vanilla, sangat elegan.
"Kau mengamatiku dengan seksama ya!" ucap wanita itu sambil melempar senyum padaku.
Wanita itu menyadari aku memperhatikannya. Apa aku memang tak bisa sembunyi-sembunyi, atau Wanita itu yang sangat cermat, aku tak tahu.
"Kau cermat juga ya, nona Erica!" ucapku.
"Aku bahkan hampir tak tahu kalau kau sedang mengamatiku!" ucap nona Erica lalu tertawa tipis.
Aku ikut sedikit tertawa sedikit.
"Pak Alter sudah menjelaskan rencananya, jadi aku yang akan merias kalian ya, anak-anak laki-laki ini kan?" tanya nona Erica sambil menoleh ke arahku dan Carrie.
"Ya, yang mengamatimu tadi itu Couria Himala, yang satunya lagi Carrie Himala..." jelas Pak Alter. Nona Erica mengangguk.
"Omong-omong Couria wajahnya sangat imut dan cantik ya, walau laki-laki! Kalau begini, akan sangat mudah aku meriasnya!" ucap nona Erica lalu tertawa.
Mukaku merah padam. Sebenarnya aku sangat sebal dikatai begitu. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa memprotes orang yang baru kukenal, tak seperti Aria yang bisa berbicara dengan cara yang sama, dengan siapapun, kapanpun, dan dimana pun.
"Ia mewarisi wajah Ibunya, kan, Alter?" tanya Paman Arrie sambil menoleh ke Pak Alter. Lalu Pak alter membalasnya dengan mengangguk.
Dulu, Pak Alter, Ibu, Paman Arrie, dan Ayah, adalah teman satu tim. Ayah Pak Alter, Alker, adalah mantan kepala badan intelijen.
Mendiang Alker meninggal karena gagal dalam sebuah misi, yaitu misi memata-matai kasus pengeboman di kota Gallei pada tahun 1959, ya, tragedi yang terjadi pada Aria.
Tragedi itu menyebabkan kota Gallei hancur lebur. Ratusan ribu nyawa jadi korban. Aria salah satu yang beruntung karena selamat.
Tersangka dari tragedi itu adalah beberapa orang yang menentang pemerintahan, yaitu aliansi Bell baru. Mereka melakukan pengkhianatan dengan negara Bell dengan rencana menghancurkan satu per satu kota di Bell, lalu katanya mereka akan membangun negara Bell yang lebih baik.
Karena pada saat itu masyarakat masih menderita, aturannya terlalu ketat dan tak adil. Banyak masyarakat yang ikut serta dalam aliansi Bell baru karena dasar itu.
Pengkhianatan besar-besaran terjadi. Tapi untungnya negara Bell mengambil kebijakan yang lebih baik untuk masyarakatnya.
Yang dulunya kekuasaan dan aturan hanya dapat di buat seorang bangsawan, kini siapapun bisa menjadi pejabat, dengan keputusan bersama.
Dulu hanya bangsawan yang dihormati, sekarang siapapun sama derajatnya.
Dulu kalau tak bisa membayar pajak orang akan diberi pidana bahkan sampai eksekusi mati, kini yang tak bisa bayar pajak tetap dihargai dan ditunggu sampai yang bersangkutan dapat membayar pajak.
Karena itulah orang-orang biasa di sekolahku takut dan menjauhiku, karena dulu bangsawan adalah kutukan di negara ini.
Kematian mendiang Alker pasti sudah membuat luka yang besar pada hati Pak Alter, yang tak dapat disembuhkan dengan apapun.
"Cuma ini saja kan yang akan kita bahas?" tanya Paman Arrie pada Pak Alter. Itu membuatku yang sedari tadi melamun karena memikirkan tragedi di Gallei terkejut.
"Ya. Kau akan pulang?" tanya Pak Alter.
"Ya. Ada hal penting yang harus kuurus" ucap Paman Arrie sambil bangun dari kursinya.
Carrie, Aria, Alice, dan aku juga ikut bangun dari kursi.
"Ah sayang sekali! Padahal saya baru datang!" keluh nona Erica lalu melempar senyum pada kami, dan bangun dari kursinya, di susul Pam Alter.
"Kalau begitu saya pamit dulu, pak Alter, nona Erica!" ucap Paman Arrie sambil menjabat tangan pak Alter dan nona Erica.
"Baiklah, selamat tinggal, sampai jumpa hari sabtu!" ucap pak Alter sambil tersenyum pada kami semua.
Kami semua selain pak Alter dan nona Erica keluar dari kantor intelijen.
Weinhard sudah menungguku dari tadi di mobil. Lalu aku dan Alice segera masuk ke mobil.
*****
~Enzo Alban
Wanita wanita wanita wanita! Aku dipenuhi banyak wanita! Akulah penguasa!! Setiap hari aku selalu dikerumuni wanita! Dibekali minuman! Di tubuhku sebilan puluh sembilan persennya adalah nafsu akan kekuasaan!
Ya! Aku naif! Aku orang yang paling suka akan kemewahan!
Setiap hari, aku dikerumuni wanita. Kalau salah satu dari mereka rusak, dibunuh saja! Kalau ada barang rusak, kan, dibuang?!
Siapa yang menentangku?! Sini! Maju!! Akan kubuat negara Bell ada di genggamanku!! Semua wanita di dunia adalah menjadi milikku!!