The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Terbayar



Kami sampai pada rumah Pamannya Kerry.


Tok! tok! tok!


Aku mengetuk pintu rumah Paman Kerry. Lalu seorang bapak-bapak yang hanya menggunakan baju singglet dengan tatto di dadanya membuka pintu.


"Apa?!" tanya bapak-bapak itu dengan nada , sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang seleher.


Aku sedikit enggan bicara dengan bapak-bapak itu. Tubuhnya sangat besar dan berotot, pupil matanya kecil, dan tak memiliki sehelai rambut pun pada kepalanya.


"Kami mencari Tuan Harry, apa benar ini rumah Tuan Harry?" tanya Aria tanpa ragu.


"Saya sendiri! Memang kenapa?!" tanya Tuan Harry sambil sedikit membungkuk ke arah Aria.


"K' kau, pamannya, Kerry, kan?" tanyaku dengan ragu.


"Ya! Aku pamannya! Lalu apa lagi?!" tanya Tuan Harry sambil mendelik ke arahku.


"Apa Kerry ada di sini?" tanya Paman Arrie dengan nada serius.


"Oh?! Kerry?! Kau menanyakan Kerry?!!" tanya Tuan Harry lalu tertawa terbahak-bahak.


"Hei kalian! Asal kalian tahu, Kerry ku jadikan babu!! Babu di rumah ini!! Sebagai bayaran makan dan ganja! Kalau kalian mau membelinya, aku beri diskon 15 persen, bagaimana?!" tanya Tuan Harry dengan penuh semangat.


"Maaf sekali tapi tidak usah! Dimana Kerry sekarang?!" tanya Aria dengan nada kesal.


"Dia ada di dalam! Kau mau nengobrol dengan babu itu?!!!" tanya Tuan Harry lalu tertawa lagi.


Daisy mulai mengambil pisau yang disembunyikannya sejak tadi, lalu memamerkannya pada Tuan Harry.


"Tidak. Aku ingin membunuhnya, Paman..." ucap Daisy sambil tersenyum sinis ke hadapan Tuan Harry.


*****


"Me' membunuh?! Siapa pedulu?! Bunuh saja anak itu!! Anak itu sudah seharusnya dibuang!!" ucap Tuan Harry sambil menunjuk ke dalam rumahnya sendiri dengan jari telunjuknya.


Bukannya sedih, Tuan Harry malah terlihat sangat bahagia. Entah karena apa, Ia malah menunggu saat-saat seperti ini.


"Terima kasih paman..." ucap Daisy lalu membungkuk untuk menghormati Tuan Harry, dan masuk ke dalam ruman Tuan Harry.


"Kenapa kalian tak masuk, hah?!" tanya Tuan Harry.


Paman Arrie lalu tersenyum dan mengambil borgol yang disembunyikannya di saku jasnya.


"Penjualan obat-obatan narkotika dilarang disini..." ucap Paman Arrie sambil tersenyum, dan dengan cepat mengambil tangan Tuan Harry.


Tuan Harry melakukan perlawanan berkali-kali. Aku dan Aria memegangi Tuan Harry supaya berhenti meronta-ronta.


"Lepaskan!! Sialan!! Lepaskan aku!!" ucap Tuan Harry sambil berusaha melepas kami.


Setelah borgol berhasil di pasang, Tuan Harry segera dimasukkan ke dalam mobil.


*****


~Daisy


Rumah Tuan Harry sangat gelap, dan sangat berantakan. Sama halnya dengan markas geng saat itu.


Demi anak ini, dan demi cintaku, aku sudah siap mati. Lagipula saat aku mati, nanti aku juga akan terus bersama dengan Kerry.


Aku melihat Kerry yang sedang merokok di ruang dapur. Akhirnya, aku menemukannya! Betapa senangnya diriku! Inilah saat yang kunanti-nanti.


"Kerry..." panggilku.


"Haah, siapa?!" tanya Kerry dengan kesal. Tak lama Kerry melihatku.


Ia sangat terkejut, dan ketakutan. Wajahnya makin buruk. Brewoknya makin panjang dan tak rapi.


"Daisy?! Pe' pergi! Pergi dari hadapanku!!" teriak Kerry sambil meronta-ronta, lalu mengambil pisau dapur.


"Sayang, lihatlah anak ini! Anak ini sudah menunggumu sangat lama!" ucapku sambil mengelus perutku. Ya... anakku sudah sangat tak sabar menunggu Ayahnya sejak dulu.


"Pe' pergi bodoh!! Sialan!!" teriak Kerry lalu berlari mendekatiku sambil bersiap menusukku dengan pisau dapur ditangannya.


Inilah saat yang kunanti-nanti.


"Vidhvansaka dole!!" ucapku.


Aku langsung mematahkan tangan kanan Kerry yang membawa pisau tadi.


"AAAAHHHH!! Tanganku! Tanganku! Sialan!!" teriak Kerry sambil memegangi lengan kanannya yang tidak ikut kupatahkan tadi dengan tangan kirinya.


Aku lalu mematahkan kaki kirinya. Kerry langsung jatuh tersungkur. Lanjut tangan kirinya, lalu aku memutar-mutar kaki kanannya dengan kekuatan mataku supaya dapat segera putus.


"SAAAAKIIT!!! BERHENTI!!" teriak Kerry.


"Sakit bukan?!" tanyaku sambil duduk di atas perut Kerry.


"Ayolah Kerry! Ucapkan salam terakhir pada anakmu..." ucapku.


Kerry tertawa terbahak-bahak. Aku juga ikut tertawa.


"Huh! Ya, hidupku memang hanya sampai segini. Maafkan aku! Sialan! Kenapa aku sampai harus memberimu seorang anak, sialan!!" teriak Kerry sambil meneteskan air mata.


"Aku titip salam dengan anakku. Jangan pernah, mengakui Ayah yanng seperti ini..." ucap Kerry pelan.


"Akan kusampaikan, sayang..." ucapku lalu menusuk dada Kerry dengan pisau yang kubawa.


Darah yang sangat segar dengan warna merah yang sangat cantik memikat mataku. Darah itu keluar dari mulut dan dada Kerry.


Ahh. Pemandangan yang sangat indah. Inilah saat yang kunanti-nanti.


Selamat tinggal, Kerry.


*****


~Couria


Polisi pun datang setelah Paman Arrie menelpon mereka dengan telepon tetangga Tuan Harry.


Dua mobil polisi datang. Satu mobil membawa Daisy, satunya lagi membawa Tuan Harry.


Daisy menghampiriku sebelum dimasukkan ke mobil polisi. Wajahnya tersenyum lega.


"Couria. Terima kasih banyak atas bantuanmu..." ucap Daisy sambil sedikit menaruh tangan kanannya di dada, tanda penghormatan.


"Tidak, bantuanku hanya sedikit. Lagipula masa depanmu dan anakmu tak dapat kubantu" ucapku sambil menunduk. Aku sangat menyesal karena tak bisa menolong seorang Ibu lagi.


"Tak apa! Itu bukan kewajibanmu! Bantuan ini saja sudah sangat sangat sangat membantu!" ucap Daisy, lalu Daisy ditarik paksa dengan dua polisi menuju mobil polisi.


"Akhirnya kita bisa bernafas lega, bukan?" tanya Paman Arrie sambil menepuk-nepuk bahuku.


"Ya" jawabku singkat. Aku masih menunduk.


"Nah Couria! Aku tahu perasaanmu. Tapi, ini bukan salahmu. Kau tahu kalau Daisy sendiri yang memutuskan melakukan kesalahan fatal ini, bukan?!" tanya Aria sambil mendelik kepadaku.


Aku mengangguk pelan dan berhenti menunduk.


Aku, Paman Arrie, Alice, dan Aria pun masuk ke mobil.


Paman Arrie lalu menghidupkan mesin mobil dan menancap gas.


Aku memandangi pemandangan jalanan di jendela mobil yang ada disampingku. Aku merenungi kesalahanku.


Aku merasa tak pernah berhasil menyelamatkan siapapun. Bagaimana bisa aku terus gagal seperti ini?! Aku bahkan tak tahu perasaan Ibu dan alasan Ibu bunuh diri.


"Ini sudah sore, bagaimana kalau kita makan?" ajak Paman Arrie sambil tersenyum.


Aria tampak sudah sangat semangat.


"Tentu!! Aku sudah sangat lapar!!" sorak Aria dengan penuh semangat.


Apa sebenarnya yang ada di pikiran Aria. Aku sering berpikir, kenapa Ia terus saja bersikap biasa saja. Dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Ia tak memandang apapun dan menyamai caranya bertindak.


Tapi Ia adalah seorang anak angkat. Ya, Ia tak benar-benar berdarah Fatia.


Pasalnya Ia di adopsi Bibi Sellya, karena Ia kehilangan keluarganya pada tragedi pengeboman di kota Gallei pada tahun 1959.


Ia sangat mudah beradaptasi dimana pun, sehingga tak jarang Ia bersikap sedikit keterlaluan.


Tak lama kemudian, mobil Paman Arrie berhenti pada sebuah restoran.


"Sudah sampai, ayo kita makan, biar Paman yang bayar!" ajak Paman Arrie sambil keluar dari mobil.


"Asiiiik! Makan makan makan gratis, makan gratiss!!" gerutu Aria sambil keluar mobil bak anak kecil.


Alice pun keluar dari mobil. Walau Ia tak banyak bicara, Ia pasti sudah sangat lapar dan sangat senang.


Sedang aku masih melamun di dalam mobil.


"Kenapa Couria? Tidak lapar? Atau karena tanganmu terluka tadi itu? Bukannya susah di perban?" tanya Paman Arrie dari kaca mobil.


"Ah, maaf. Aku turun sekarang. Tanganku sudah tak apa kok!" jawabku sambil nyengir.


Ya, karena aku begitu banyak pikiran di otakku, aku sampai lupa turun mobil.


Saat kami sampai di restoran, Alice terlihat berdecak kagum. Restoran yang kami kunjungi memang cukup mewah. Desainnya yang elegant dengan warna pastel cukup memanjakan mata.


Restoran ini biasanya didatangi bangsawan. Tapi kalau aku pergi makan sendiri, aku malah memilih warung atau restoran kecil yang biasanya dikunjungi kalangan masyarakat biasa.


Intinya aku bisa makan di mana saja asal makanannya enak.


Lalu kami memilih meja dengan empat kursi. Kami menarik kursi masing-masing dan duduk.


Lalu datanglah salah seorang pelayan.


"Silahkan baca menunya..." ucap pelayan itu sambil memberi kami masing-masing buku menu.


Pada buku menu, ada menu makanan steak ayam, steak sapi, ayam panggang, sapi panggang, lobster bakar, ikan bakar, dan lainnya. Lalu minumannya ada teh, kopi, cokelat panas, dan lainnya. Dan terakhir makanan penutup yakni tiramisu, pancake, waffle, dan masih banyak lagi.


"Kalau saya lobster panggang, dengan minuman teh, dan makanan penutup pancake" ucap Paman Arrie.


"Hmm... kalau saya.... steak ayam, dengan minuman cokelat panas, dan makanan penutupnya waffle" ucapku.


Sedangkan Alice masih bingung memilih.


"Nona mau pesan apa?" tanya pelayan pada Alice.


"Ayam panggang, cokelat panas, dan waffle" ucap Alice.


Lalu pelayan menulis pesanan kami.


"Baiklah, silahkan ditunggu pesanannya..." ucap pelayan itu lalu pergi.


Sekitar dua puluh menit kemudian, datang pelayan tadi dan pelayan yang lain dengan membawa pesanan kami.


Dari aroma dan penampilannya saja sangat enak. Apalagi kalau sudah dimakan! Benar-benar menggugah selera, apalagi kami sedang lapar!


Aku dan yang lainnya segera berdoa dan memakan makanan yg kami pesan.


Pertama, aku memakan steak ayam. Dagingnya sangat renyah di luar dan lembut di dalam. Ditambah aroma khas daging yang dipanggang membuat kelezatannya tiada tara.


Yang lain juga sangat menikmati makanan mereka masing-masing. Aku jadi kasihan dengan Carrie yang tak bisa ikut karena terluka.


Ah sudahlah! Habiskan saja semuanya.


Paman Arrie lalu mengambil sebuah kotak makan pada tas yang dibawanya, dan memasukkan sebuah lobster ke dalam kotak makan.


"Hah?! Kenapa disimpan begitu?" tanya Aria dengan wajah kebingungan.


Aku sih sadar kalau Paman Arrie ingin membawakan anak semata wayangnya makan.


"Apa kau lupa kalau aku punya anak?" tanya Paman Arrie sambil tersenyum. Aria hanya membalas dengan nyengir.


Tapi aneh juga. Paman Arrie juga cukup liar sepertiku untuk ukuran bangsawan. Demi orang lain, Ia bisa melakukan yang aneh-aneh.


Karena steak ayamku sudah habis, aku meminum cokelat panas.


Di atasnya ada topping wipp cream dengan serbuk cokelat. Aku mengambil wipp cream itu dengan sendok teh yang sudah disiapkan, dan aku memasukkannya ke dalam mulutku.


Mmmm! Sangat lembut! Aku lanjut menyeruput cokelat panasnya. Hangatnya dan manisnya cokelat benar-benar memanjakan lidahku.


Lalu aku lanjut memakan waffle. Aku memotong sedikit dengan pisau makan, dan menusukkannya ke garpu. Lalu kumasukkan potongan waffle itu ke mulutku.


Mmmm! Renyah tapi lembut. Manisnya madu menyatu dengan rasa waffle yang khas. Aku mengulangi langkah itu berkali-kali dan berkali-kali juga kenikmatan seperti itu masuk ke mulutku.


Aku kembali menyeruput cokelat panas.


Akhirnya kami menghabiskan makanan kami. Paman Arrie memencet bel yang ada di meja, dan pelayan tadi pun datang.


Pelayan itu mengatakan jumlah yang harus Paman Arrie bayar, dan Paman Arrie membayar makanan kami, dan kami pun pulang.


*****


"Daisy tidak mati?" tanya Ikkye.


"Tidak tahu, sisanya kami serahkan ke kepolisoan" ucapku sambil berenang gaya bebas.


Setelah pulang, aku segera menyuruh Bibi Addle membuatkanku air panas untuk mandi, dan menyiapkan segala peralatannya.


"Begitu ya... kapan polisi memberi tahumu?" tanya Ikkye dengan konyolnya.


"Mana aku tahu?!" ucapku dengan kesal.


"Hihi! Aku kan tidak tahu!" ucap Ikkye sambil tersenyum *****.


Aku lalu mengambil sabun dan membasuh badanku.


Ikkye memang anak yang aneh. Saat ini Ia sedang berlari keliling kamar mandi sambil tertawa. Dasar hantu *****.


Setelah aku berenang lagi dan membasuh badanku dengan handuk, aku segera memakai yukata dan berpamitan dengan Ikkye, lalu pergi dari kamar mandi.


*****


Malam ini aku makan sangat sedikit, karena sudah makan di restoran tadi. Aku lalu duduk-duduk sebentar di sofa ruang tamu, sambil melihat langit malam dengan taburan peri-peri kecil. Yang kumaksud adalah bintang.


Kriiiiing!


Telepon rumahku berdeeing. Aku segera mengangkatnya.


"Selamat malam Couria, ini paman Arrie..." ucap Paman Arrie dari telepon.


"Oh, malam juga paman. Kenapa?" tanyaku.


"Cuma mau bilang kabarnya Daisy" ucap paman Arrie. Aku jadi semakin antusias.


"Katanya Daisy akan dikurung sementara sampai anaknya lahir. Setelah anaknya lahir, akan digelar sidang..." ucap paman Arrie.


"Ooh begitu... keputusan yang baik..." ucapku. Memang benar itu keputusan yang baik bagiku. Membiarkan seorang calon Ibu melahirkan anaknya adalah keputusan yang sangat bijak.


"Bagaimana keadaan tanganmu?" tanya paman Arrie.


"Hmm... sudah baikan kok! Sebelumnya terima kasih ya karena paman Arrie sudah mengajakku makan. Aku sampai makan sedikit dirumah karena kenyang!" ucapku.


Paman Arrie tertawa, aku pun ikut tertawa.


"Jangan lupakan jasa-jasa pamanmu ini ya!" ucap paman Arrie sambil tertawa.


"Ah mana lupa!!" ucapku sambil tertawa juga.


"Baiklah, sampai sini saja ya! Paman tutup teleponnya..." ucap paman Arrie.


"Iya" ucapku singkat lalu menutup telepon.


Setelah aku melihat jam kayu panjang yang terpajang di kananku, dan jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, aku segera pergi ke kamar tidur.


Saat ada di lorong, aku melihat Alice yang membawa boneka kelincinya berdiri di lorong sambil melihat ke lantai satu.


Aku lalu mendekatinya.


"Sabit itu, muncul dari mana?" tanyaku.


"Oh, itu boneka ini sendiri..." ucap Alice sambil memamerkan bonekanya.


"Sebelumnya maaf karena aku belum membantumu mencari masa lalumu" ucapku sambil ikut melihat ke lantai satu.


"Tidak, pada kasus ini aku merasa, pernah menemui orang seperti Daisy. Berarti itu cukup membantu, kan?" tanya Alice sambil menoleh kepadaku.


"Begitu ya... bagus berarti..." ucapku sambil nyengir.


"Bagaimana kalau kita tidur, ini sudah jam sembilan" ucapku sambil berjalan ke kamarku.


"Tunggu!" pinta Alice.


"Kenapa?" tanyaku sambil menoleh kepadanya.


Keadaan sunyi sesaat, tapi Alice langsung berkata "Tidak jadi..."


Aku langsung mengangguk dan pergi ke kamarku.


*****


Ini sekedar tambahan ya para readers. Kalau mau baca boleh! Jangan lupa jejak tiap membaca, ok?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



(Steak ayam yang dimakan Couria)



(Ayam panggang yang dimakan Alice)



(Steak sapi yang dimakan Aria)



(Lobster panggang yang dimakan paman Arrie)


Maaf yang lagi laper🀭🀭🀭, author cuma iseng-iseng aja.


Jangan lupa terus baca The garden of lies ya!πŸ‘πŸ‘πŸ‘