
Bell, Jumat, 20 Februari 1970
"Kemarin malam, sekitar pukul 23.00, terjadi peledakan bom pada distrik Turquoise. Sampai saat ini, dari 1353 penduduk, telah ditemukan 23 korban jiwa, 1000 orang mengalami luka ringan hingga berat, dan sisanya hilang. " ucap seorang reporter berita pada radio.
Karena bosan, malam ini aku memilih mendengarkan radio di ruang tamu bersama Alice dan para pekerja di rumahku. Aku meminta mereka ikut duduk-duduk santai di ruang tamu supaya aku tidak merasa bosan.
Tapi yang baru saja aku dengar di radio tadi tentu membuat semua yang mendengarnya terkejut. Setelah 11 tahun berlalu tragedi di Gallei, kembali ada tragedi yang sama namun di lokasi yang berbeda.
"Pengeboman? Astaga! Siapa yang melakukannya coba?! Akan sangat lucu kalau yang melakukannya ternyata para aliansi negara baru itu! Mereka kan sudah mati semua?!" tanya Pak Weannea lalu tertawa.
"Siapa tahu memang mereka. Bukannya tersangka masih belum ditemukan? Atau mungkin saja ada aliansi baru yang lebih buruk dari mereka bukan?" tanya Kakak Sylya sambil meletakkan tiga toples kue kering di meja lalu ikut vergabung duduk di sofa.
"Oi oi Sylya, seram sekali kau! Cara bicaramu selalu saja seperti menakut-nakuti anak kecil!" komentar Pak Weannea lalu seluruh orang di ruang tamu selain Alice dan Kak Sylya pun tertawa, termasuk aku.
"Aku sama sekali tak bercanda!" protes Kak Sylya lalu mendengus sebal.
Meski aku ikut tertawa tadi, bukan berarti aku sama sekali tak percaya dengan Kak Sylya. Ya, masih ada kemungkinan besar kalau perkataannya itu benar, dan itu adalah hal yang patut diwaspadai.
*****
Bell, Sabtu, 21 Februari 1970
"Maaf karena selalu merepotkanmu, tapi, apa kau mau menyelidiki kasus ini juga?" tanya Pak Alter di dalam telepon.
Baru beberapa hari setelah kasus Amba Della yang hampir saja mencabut kewarasan dan zona nyamanku, lagi-lagi aku harus berhadapan pada kasus yang lebih menantang.
"Sebenarnya aku merasa sedikit kerepotan, tapi akan lebih repot lagi kalau para tersangka tersebut membuat korban jiwa lebih banyak lagi." ucapku.
Aku memang benar-benar merasa lelah. Meski gajih para anggota intelijen cukup banyak, namun tenaga yang diperlukan juga cukup banyak, itu membuatku kelelahan dan tak pernah punya waktu senggang.
Tapi aku juga tak ingin kalau nyawa yang terkorbankan lebih banyak lagi, tentu itu akan jauh merepotkan dan menyakitkan.
"Terima kasih banyak Couria! Ajak tim yang biasanya juga ya! Aria dan Carrie, ajak mereka!" perintah Pak Alter.
"Baik-baik, akan saya sampaikan!" ucapku lalu menutup saluran teleponku dengan Pak Alter.
Setelah itu aku memasukkan digit nomor
telepon rumah Aria ke telepon rumahku, lalu menghubungkannya ke telepon rumah Aria. Beberapa saat kemudian Aria pun akhirnya mengangkat panggilan telepon dariku.
"Aku Couria. " ucapku singkat sebelum Aria yang bertanya. Aku sebenarnya sangat malas berbicara dengannya.
"Apa?! Kau mengambil waktu senggangku!!" protes Aria dengan nada kasar.
Sialan orang itu! Apa di otaknya hanya ada kebebasan dan kemenangan?!
Dengan penuh kesal aku menjelaskan padanya,
"Pak Alter menyuruh kita menyelesaikan kasus pengeboman di distrik Turquoise! Kita akan berkumpul di kantor intelijen!"
Dari jaringan telwpon, aku mendengar suara Aria yang sedang mendengus sebal.
"Untunglah sedikit cepat tanggap! Dulu, saat kasus yang sama terjadi di Gallei, tak ada yang berani pergi ke Gallei! Pemerintah hanya mengkerahkan beberapa orang yang sudah siap mati, sisanya hanya sembunyi tanpa rasa malu! Dan perang kecil terjadi antara para tentara yang sangat sedikit dengan para anggota aliansi negara baru yang cukup banyak. Mungkin Pak Alter tak ingin mengulangi keterlambatan Ayahnya dalam menangani kasus. Tak akan kubiarkan ada anak-anak yang bernasib sama denganku! " ucap Aria lalu menutup saluran telepon.
Padahal aku belum bilang jam berapa akan berkumpul, ia langsung menutup saluran teleponnya. Apa ia tak tahan dengan kasus yang sekarang, atau justru sangat geram sampai tak sabar menyelesaikannya? Terserah, itu bukan urusanku.
Aku memutuskan untuk lanjut menelpon Paman Arrie dan Carrie. Baru beberapa detik setelah aku memasukkan digit nomor ke telepon, Paman Arrie sudah langsung mengangkat teleponnya.
"Dengan siapa?" tanya Paman Arrie.
"Aku Couria paman. Ada hal penting yang harus kita bicarakan... " jelasku pada Paman Arrie. Aku menelpon Paman Arrie dengan sedikit basa-basi, karena Paman Arrie adalah orang dewasa yang umumnya suka basa basi, beda halnya dengan Aria yang paling tak suka bicara panjang lebar dan minta langsung ke inti pembicaraan.
"Iya, kenapa?" tanya Paman Arrie.
"Pak Alter meminta kita untuk berkumpul di kantor intelijen pukul sepuluh nanti untuk menyelidiki tragedi bom di distrik Turquoise. " jelasku.
"Oh baiklah, Carrie juga kan?" tanya Paman Arrie.
"Ya, " jawabku singkat.
"Kalau begitu, Paman tutup teleponnya ya?" bujuk Paman Arrie.
"Baik. " jawabku singkat. Lalu Paman Arrie memutus sambungan telepon.
Aku menghela nafas pelan. Lagi-lagi, aku harus menghadapi kasus yang cukup serius, dimana aku harus berhadapan dengan para pembunuh yang memiliki alasan untuk membunuhnya tersendiri.
*****
"Jadi, para aliansi negara baru itu sudah mengundang kita untuk bertarung dengannya?!" tanya Aria dengan sangat sebal saat Pak Alter menunjukkan sebuah surat yang ditanda tangani oleh kepala aliansi negara baru.
"Begitulah. " jawab Pak Alter singkat.
Aria lalu menanggapinya dengan memukul meja dengan sangat keras.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?! Ayo kita menuju kota Frankstein!!" ajak Aria dengan semangat.
Frankstein adalah kota yang akan diteror oleh para aliansi negara baru berdasarkan isi surat yang ditunjukkan Pak Alter tadi.
Memang benar Aria mengalami hal yang cukup menyakitkan pada usianya yang masih sangat dini. Namun bukan berarti ia boleh gegabah seperti itu. Aku hanya bisa diam saat Aria sedang sangat marah seperti ini,aku juga tak dapat menyalahkan perasaannya.
"Kau tahu itu jebakan kan?" tanya Pak Alter.
"Meski itu adalah jebakan, kalian masih bisa diam saja melihat nyawa orang berguguran?! Kalian masih memikirkan nyawa kalian sendiri?! Kalau begitu apa gunanya kalimat satu untuk seribu?!" tanya Aria dengan sangat kesal.
Pak Alter tak dapat menahan emosinya hingga ia memukul meja dengan sangat keras.
"Aku tak ingin kejadian itu terjadi lagi! Saat Ayah, dan rekan-rekannya kehilangan nyawa mereka! Itu semua karena Ayah tidak membuat rencana dan sangat gegabah!" bentak Pak Alter.
Keadaan mulai memanas. Aku, Alice, Paman Arrie dan Carrie hanya bisa diam, tanpa tahu harus berbuat apa.
"Jadi, kau ingin mengusung rencana di saat seperti ini? Apa kau tidak tahu kalau mereka akan memanfaatkan keterlambatan kita?! Kau masih mementingkan golongan?!" protes Aria.
"Kalau begitu pergilah sendiri!" perintah Pak Alter.
Tanpa basa-basi Aria langsung berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Terima kasih. " ucap Aria lalu pergi dari ruang kerja Pak Alter.
"Apa tak apa, membiarkan Aria pergi sendirian?" tanya Paman Arrie dengan sangat khawatir.
Pak Alter lalu menjelaskan rencana yang sudah dipersiapkannya pada kami semua.
Kalau dipikir-pikir, Pak Alter dan Aria memiliki masa lalu yang hampir sama. Tapi yang berbeda dari mereka adalah perubahan mereka setelah kejadian bom Gallei pada tahun 1959.
Pak Alter menjadi orang yang sangat teliti dan sangat serius. Tapi Aria justru menjadi orang yang sangat gegabah dan selalu santai. Aku tak tahu detil masa lalu mereka, jadi aku memutuskan untuk tetap diam, apapun yang terjadi.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" perintah Pak Alter.
Aku, Alice, Paman Arrie, dan Carrie menjawab dengan anggukan, dan langsung pergi dari ruang kerja Pak Alter, disusul Pak Alter setelah Pak Alter merapikan berkas-berkasnya.
*****
~Aria
Mereka tak tahu sama sekali bagaimana perasaanku sebagai salah satu korban selamat dari sekian banyaknya orang yang kehilangan nyawa pada tragedi bom di Gallei pada tahun 1959.
Aku sudah gagal menyelamatkan orang pada saat itu, dan aku tak akan pernah mengulangi kegagalan itu! Bila aku memang benar-benar seorang wanita yang kuat, sudah sepantasnya aku siap menyelamatkan orang lain dan belajar dari kegagalan yang pernah kulakukan dulu.
"Lebih cepat lagi!!" perintahku pada Brain. Lambat sekali ia mengendarai mobil! Apa ia tak dapat membedakan yang namanya situasi yang biasa saja dengan situasi yang darurat?!
Untunglah Brain menurut. Ia mempercepat laju mobil. Ia adalah salah satu homunculus yang dibuat Kakek Elric, karena itulah aku tak ragu memarahinya, karena tak mungkin ia mengalami yang namanya sebal atau sakit hati.
Akhirnya aku sampai pada alamat yang tertera pada surat ancaman dari ketua aliansi negara baru. Ya, benar saja. Ada para anggota aliansi negara baru pada tempat tersebut. Mereka terlihat puas dengan kedatanganku.
Sialan! Mereka sudah menyandra banyak warga! Kalau begini, kedatanganku memang sama sekali tak salah.
"Hai nona! Apa kau salah satu anggota badan intelijen?!" tanya salah seorang anggota aliansi negara baru.
"Benar. Tapi tak semudah itu membujukku untuk mengumbar identitas asliku! Lepaskan orang-orang itu atau kalian akan mati tanpa jejak!!" ucapku lalu mengaktifkan sihir api milikku pada tanganku.
Para anggota aliansi negara baru tampak senang. Mereka menyiapkan senjata mereka masing-masing.
"Serahkan gadis kecil bodoh itu padaku. "
Terdengar suara pria yang menantangiku dari segerombol para anggota aliansi negara baru.
Akhirnya seorang pria yang sangat kukenali dan sangat kubenci muncul paling depan diantara para aliansi negara baru. Aku sangat tak percaya ia bisa muncul sekarang.
Orang itu adalah...
"Ayah?!"
"Aria, seorang gadis penyihir api yang masih amatiran. Sangat lucu rasanya saat melihatmu menjadi seorang intelijen! Tapi ini saat terbaikku untuk membunuhmu! Susulah Ibumu yang sedang menyesal karena sok kuat disana!!" bentak Ayah sambil mengeluarkan pistol dan pisaunya.
"Justru kau yang seharusnya menyusul Ibu untuk mendapat karma darinya dan Dewa kematian!!" sorakku sambil memperbesar manna sihirku.
Ayah pun menembakkan peluru padaku. Aku segera menghindar dari beberapa peluru yang ditembaknya sekaligus dan berlari mendekatinya.
"Aga talavara!!" sorakku, lalu aku merubah bentuk apiku menjadi sebuah pedang api.
Aku segera mengarahkan pedang apiku pada perut bagian kiri Ayah. Ayah segera melompat dan menjauh dari pedangku.
"Asal kau tahu! Identitasku itu sangat mahal!!!" bentakku lalu berlari ke arah Ayah dan kembali menyerang. Mulai dari badan bagian kanan Ayah, kiri, atas, vital, dan semua berhasil ditangkis Ayah dengan pisaunya.
"Karena itulah intelijen adalah barang gagal. Saat identitasnya sudah terkuak, bertahan hidup pun tak bisa lagi!" ucap Ayah lalu menembakkan pelurunya.
Aku menangkisnya dengan pedang apiku. Berkali-kali hingga aku bosan dengan serangannya.
"Apa kau tak punya serangan lain hah?!" tanyaku sambil berlari mendekati Ayah dan menyiapkan seranganku berikutnya.
"Kalau kau ingin, makan akan kukeluarkan serangan yang sedang kusimpan!" ucap Ayah lalu tiba-tiba muncul di belakangku.
"E' ara kika!!"
Ayah pun langsung menendang perutku saat aku baru saja menoleh ke arahnya.
Sial! Aku sampai memuntahkan darah dan jatuh terpelanting sampai berhenti pada tembok salah satu rumah warga.
"Bo' boleh juga seranganmu!" ucapku sambil mengelap bekas muntahan darah dari wajahku.
"Apa kau masih belum kapok?" tanya Ayah sambil memasang kuda-kudanya, bersiap menyerangku lagi.
Aku bangun dengan perlahan dari tanah. Sial! Badanku terasa ambruk. Aku baru tahu kalau pemabuk itu memiliki keahlian dalam bela diri. Tapi memangnya ia pikir aku tak memilikinya?!
Tapi aku sudah sangat muak melihat orang itu. Aku ingin segera mengirimnya ke alam baka dan mendapatkan hukumannya!
Karena pukulan tadi, manna apiku hampir hilang, tapi aku masih bisa mengaktifkannya dan kembali membentuknya menjadi pedang api.
"Apa kau mau melihat amukan api seorang wanita, Ayah?!" tanyaku sambil memegang dengan erat pedang apiku.
"Apa kau mau mengulangi kesalahan Ibumu yang mengatakan kalau seorang wanita itu kuat dan berakhir pada alam baka, Aria?! Kalau iya, maka lihatlah penemuanku selam bertahun-tahun!!" ucap Ayah sambil mengambil sebuah buku yang sangat kecil di sakunya.
Aku segera mengkerahkan seluruh manna ku pada pedang apiku. Aku ingin segera menghapuskan orang yang paling kubenci itu dari muka bumi ini. Dengen begitu, setidaknya sedikit saja, aku dapat membantu memperbaiki Bell, tidak, bahkan seluruh dunia.
Maafkan aku Ibu. Dulu aku gagal menyelamatkanmu, justru akulah yang merepotkanmu dan menekanmu supaya berjuang sendirian. Tapi kini aku sidah membulatkan tekadku. Aku akan menunjukkan bahwa Ibu, aku, dan seluruh wanita di muka bumi ini adalah orang-orang hebat!
Mengingat penderitaan yang Ibu alami karena Ayah membuatku semakin geram. Semangat yang selalu Ibu berikan padaku selalu menjadi pendorongku untuk maju menjadi lebih baik. Amarah dan seluruh semangatku, kini akan kukumpulkan sebagai sebuah pedang yang membuktikan kekuatan seorang wanita!
Aku mengangkat pedang apiku, dan mengkerahkan manna sebanyak-banyaknya untuk sebuah ledakan.
"Ragaca slesa!!!! (*tebasan amarah) -"
"Jivanta melela!!! (*mayat hidup)" sorak Ayah bersamaan denganku.
Tepat saat akan menyerang Ayah dengan ragaca slesa, tiba-tiba sosok yang sangat kukagumi dsn sayangi muncul sebagai musuh didepanku. Reflek aku membatalkan seranganku. Mana mungkin aku menyerang orang yang paling kusayangi dan kucintai.
"Tidak mungkin!!!" teriakku dengan sangat tak percaya.
"Apa kau masih bisa melawanku saat mayat orang ini kini ada di tanganku?!" tanya Ayah dengan sangat bangga.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Setelah sekian lama, air mataku mengucur deras dari mataku. Semua semangatku yang sudah kukerahkan menghilang entah kemana. Bagaimana tidak?! Sosok yang paling kukagumi tiba-tiba muncul di depanku dan siap untuk membunuhku.
Ia adalah...
Ibu.