The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Revolusi



~Ozie


Tak ada yang tahu, penderitaanku.


Aku dengan kedua orang tuaku hanya warga biasa yang sangat miskin. Untunglah kami punya sawah yang luasnya tidak seberapa. Tapi, sawah kami hanya dapat mencukupi makan kami sehari-hari.


Para utusan pemerintah selalu datang memintai uang pajak pada kami.


"Kami hanya punya uang untuk makan. Kalau kami tidak makan, kami bisa mati!" Ibu dan Ayah selalu mengatakan kalimat itu setiap para penagih itu datang.


Itu bukan kebohongan, itulah kenyataannya! Namun para penagih itu malah menjadi-jadi dan tak jarang melukai Ayah dan Ibuku.


Hingga suatu hari, seorang algojo datang ke gubuk kami.


Ialah yang menagihi hutang pajak kami. Ayah dan Ibu selalu mengatakan alasan yang sama dan itu bukan kebohongan.


Aku tak menyangka, kalau itu hari terakhirku hidup bersama Ayah dan Ibu.


Algojo itu membunuh Ayah dan Ibu. Aku melihat Ayah dan Ibu menjadi onggokan daging tepat di depan mataku sendiri.


Sejak hari itu, aku mengembara sendirian. Aku selalu mencari tempat yang aman untuk hidup. Tapi tak ada tempat yang seperti itu.


Hingga ada seorang pria datang menyelamatkanku. Ia bilang, namanya adalah Jackstein Himala. Ia memberiku tempat tinggal, makanan, dan kebutuhan hidup lainnya.


Aku menjadi anak yang terawat berkatnya. Saat aku menginjak usia remaja, Jackstein Himala justru melepasku dengan membekali uang dengan jumlah yang cukup banyak.


"Berjuanglah hidup sendiri! Bila kau ingin merubah dunia ini, maka lakukanlah! Kembalilah dengan membawa keberhasilan!" itulah kata-kata terakhir dari Jackstein Himala.


Aku berjanji, aku akan pulang dengan membawa keberhasilan dan aku akan berdiri dengan gagah sebagai pemenang di depanmu, Jackstein Himala!


*****


~Couria


"Baiklah! Mari kita mulai bermain-main sambil menunggu bomnya meledak! Lihat! Aku akan menekan remotnya dan tinggal menunggu satu jam untuk membuatnya meledak!!" ucap Ozie lalu memencet remot bom.


Sial! Hanya dalam waktu satu jam, bom akan meledakkan seluruh kota!


"Rencana B!" perintah Paman Arrie. Kami semua mengangguk dan mulai menjalankan rencana.


Rencana ini dibuat oleh Paman Arrie saat kami akan kemari. Rencana ini digunakan pada saat mendesak seperti saat ini.


Aku, Alice, Aria, dan Paman Arrie akan menyerang Ozie. Sedangkan Carrie yang cerdas namun tak begitu kuat akan mengambil remot bom dan mematikannya.


Aku mengeluarkan pedang di dalam tongkatku. Alice sudah memanggil sabit raksasanya, Aria sudah mengaktifkan sihir apinya, dan Paman Arrie sudah mengeluarkan pistolnya dari saku. Ozie juga sudah siap dengan senapan besar miliknya.


Pertarungan antar kami dengan Ozie pun dimulai.


Ozie menembakkan senapannya berkali-kali. Kalau kami juga tak menghindar berkali-kali, kami pasti sudah terkena peluru senapannya. Kelihatannya Ozie sudah ahli dalam hal menembak.


Selagi kami menyibukkan Ozie, Carrie dengan hati-hati mengincar remot bom yang ditaruh Ozie di sebuah meja di belakangnya. Kadang Carrie bersembunyi di belakang tiang, kadang ia berlari beberapa langkah, kadang ia juga harus melompat atau berbaring saat beberapa senapan Ozie yang meleset ke arahnya.


"Ragaca slesa!! " ucap Aria sambil merubah bentuk api di tangannya menjadi bentuk sebuah pedang. Aku baru tahu kalau Aria memiliki jurus rahasia yang lumayan menakjubkan.


Aku, Alice, dan Aria segera berlari ke arah Ozie sambil menangkis peluru yang ditembakkan Ozie. Ozie pun menjadi sibuk karena kami, ia bahkan tak menyadsri kalau Carrie kini sedang mengincar remot bomnya.


Aku melompat dan siap menyerang Ozie. Sial! Ozie menyadarinya dan siap menembakkan peluru padaku.


Aku segera kembali ke tanah dan berlari menjauh sebelum Ozie berhasil menembakkan pelurunya padaku.


Aku, Alice, dan Aria kembali mengincar Ozie. Dari jarak yang cukup jauh, Paman Arrie juga sedang berusaha menyerang Ozie.


Mungkin karena tak tahan melawan musuh yang banyak, Ozie berhenti menyerang.


Ini kesempatanku! Aku segera berlari dan siap menyerangnya.


Namun, Ozie tiba-tiba melempar gas asap yang membuat aku tak melihat apapun selain kabut. Namun untunglah aku masih bisa melihat sekitar dengan mata kiriku.


Sial! Saat ini Ozie sedang bersiap menyerang Carrie, karena ada Aria di dekat sana, aku segera meneriakinya.


"Aria! Carrie akan diserang Ozie!!"


Setelah mendengarnya, Aria segera mencari-cari Carrie dan Ozie. Namun bagiku tak ada gunanya menyuruhnya kalau Aria tak bisa melihat apapun, lebih baik aku berlari dan menyelamatkan Carrie.


Namun sebelum aku menyelamatkan Carrie, Aria segera menyelamatkannya dan mengorbankan rambutnya.


Rambutnya yang berwarna cokelat muda dan panjang hingga ke pinggangnya itu kini menjadi pendek sepanjang lehernya karena terpotong belati Ozie.


"Berterima kasilah pada rambutku, Carrie!!" ucap Aria sambil menyerang Ozie dengan pedang apinya.


Ozie menangkisnya dengan belati dan terjadi pertarungan antara mereka berdua.


Tanpa basa-basi aku segera ikut membantu Aria melawan Ozie.


"Apa alasanmu melakukan ini semua hah?!!" tanya Aria sambil menyerang Ozie, tampaknya ia sangat marah.


"Alasan?! Apa alasan adalah hal yang penting?!" tanya Ozie lalu mengeluarkan pistol kecil dan siap menembakkannya pada Aria.


Aria tak menyadarinya karena asap masih menutupi seluruh pandangan orang.


"Awas Aria!!" peringatku. Aria segera melompat menjauh tepat saat Ozie menembakkan pelurunya.


"Aria?! Apa kau anak dari Geins?!" tanya Ozie sambil kembali mengambil senapan besarnya yang tadi dijatuhkan ke tanah.


"Mana mungkin aku akan mengakui orang itu sebagai Ayahku?! Kini ia sudah menjadi abu dan hanya menyisakan tulangnya! Itu adalah bukti kalau aku dapat membunuh salah satu dari kalian supaya kalian jera!!" ucap Aria dengan sangat bangga.


Baru kali ini aku menyetujui kata-kata dan tindakan Aria. Meski gegabah dan kasar, ia memiliki pendirian yang teguh. Mungkin ia juga membenci Ayahnya sama sepertiku, namun sampai saat ini aku gentar membunuh Ayahku. Padahal Pak Alter sudah menyuruhku membunuhnya. Pak Alter sengaja memberikan tugas itu hanya untukku karena ia sadar kalau aku paling membenci Ayahku dari apapun yang kubenci. Jadi selama aku belum siap membunuhnya, Ayah akan terus bertahan di dunia ini kecuali kalau ia sendiri yang ingin mati atau kalau Tuhan memang berkehendak memanggilnya.


Setelah melihat Aria dengan rambut yang cukup pendek, ia terlihat makin gagah saja. Persis dengan arti namanya. "Aria", yakni seekor singa. Saat ia sedang marah, ia akan bertindak tanpa basa-basi dan tanpa pikir panjang. Namun, ia adalah sosok yang bijaksana bak raja hutan.


Tak lama kemudian, asap mulai memudar. Alice pun segera memanfaatkannya dengan segera berlari ke arah Ozie dan menyiapkan serangannya.


Sayangnya, Ozie menyadarinya dan menggagalkan serangan Alice dengan menangkis sabit raksasa Alice dengan belatinya.


Kami semua kembali bertarung dengan Ozie. Aku dan yang lainnya cukup kewalahan dengan Ozie. Ozie sangat ahli dalam menggunakan senjata bak orang yang pernah berlatih kemiliteran.


"Kau hebat juga!" komentar Paman Arrie sambil menembakkan pelurunya pada Ozie.


"Kau pasti merasa pernah melihat teknik-teknikku Arrie!!" ucap Ozie sambil menembakkan senapannya pada Paman Arrie. Paman Arrie segera berlari menghindar dan kembali menyerang Ozie dengan pelurunya.


Ozie pun mulai kewalahan melawan empat orang sekaligus sendirian. Ia hanya bisa menjauh dan sekali dua kali menyerang. Namun tiba-tiba ia mengambil telepon yang biasanya digunakan polisi di sakunya.


Sial! Ia pasti memanggil rekan mereka untuk menyerang kami. Dan hingga kini, Carrie jadi kesusahan mengambil remot bomnya karena Ozie selalu siaga di dekat remot tersebut.


Tak lama kemudian, datanglah ratusan anggota aliansi negara baru. Mereka semua segera menyerang kami. Kini kamilah yang kewalahan.


Bagaimana ini?! Berapa lama lagi waktu bomnya untuk meledak?! Sialan! Kalau kami terlambat, tak hanya kami yang kena dampaknya, namun seluruh masyarakat yang di salib pun dapat terkena dampaknya.


Namun selagi kami masih bertarung dengan para anggota aliansi negara baru, Paman Arrie memanfaatkannya dan segera mengincar Ozie.


"Kau adik angkat kakak bukan?!" tanya Paman Arrie sambil mengeluarkan belati yang disembunyikannya.


"Kak Jack adalah alasanku melakukan ini! Ia hanya akan memberiku pulang kalau aku memberinya bukti kalau aku adalah orang yang hebat!!" teriak Ozie sambil menyiapkan senapan besarnya.


Sejatinya aku tak terlalu mendengar percakapan mereka berdua, karena suara teriakan ratusan orang dan bunyi senjata yang beradu. Walaupun jumlah musuh banyak, untungkah aku dapat menumbangkan beberapa musuh.


"Jangan bercanda! Kakak tak mungkin menyuruhmu untuk melakukan hal seperti itu! Kakak adalah orang yang selalu berjalan ke jalan yang benar! Mungkin kaulah yang salah menafsir perintahnya!!" bentak Paman Arrie sambil menghindar dari peluru yang ditembakkan Ozie lalu menyerang Ozie dengan belatinya.


Tiba-tiba bom besar berbunyi 'nit' tiap detiknya. Kemungkinan besar bom itu akan segera meledak. Aku, dan yang lainnya mulai kepanikan. Apa yang harus aku lakukan?! Sialan!!


"Bom akan meledak sekitar tiga menit lagi! Kalian semua pergilah! Biar aku yang menghadang para pengganggu ini! Ingatlah, aliansi negara baru tak boleh berakhir sampai sini!!" perintah Ozie pada para anggota aliansi negara baru.


Setelah berpikir beberapa waktu, para anggota aliansi negara baru berlari keluar dari kuil. Ini kesempatanku untuk menyerang Ozie dengan seluruh tenagaku dan dengan sihir rahasia yang disimpan tongkat pedang Himala yang digunakan kepala keluarganya turun temurun.


Aku mengangkat pedang pusaka itu dengan tinggi dan menyiapkan seluruh tenagaku untuk sebuah serangan yang sangat besar dan kemungkinan besar dapat membunuh Ozie.


"SAPA, VISANAAA!!!"


Sebuah serangan yang khas dari keluarga Himala yang turun temurun itu akhirnya aku kerahkan untuk Ozie.


Lagi-lagi, aku membunuh beberapa orang demi nyawa orang lainnya. Begitulah seterusnya sampai akhir hayatku. Dari dulu, siapapun yang terlahir sebagai keturunan Himala, mau tak mau akan selalu membunuh, karena itulah tugas yang diturunkan pendahulu kami.


Semoga nyawa-nyawa yang telah terkorban dapat menjadikan hari esok menjadi lebih baik. Kini, kami harus menghabisi para anggota aliansi negara baru untuk mengakhiri konflik ini, dan bersiap mendapat konflik lainnya.


*****


~Ozie


Sepertinya, orang yang telah membunuhku ini adalah anakmu sendiri, Kak Jackstein.


Aku sadar, seribu kali pun aku meminta maaf padamu, kau tak akan pernah memaafkanku. Aku tak semulia dan sekuat dirimu, tapi aku selalu berusaha menyamai dan menjadi lebih baik darimu, namun aku selalu gagal.


Bahkan aku mati di tangan seorang anak muda yang jauh lebih keci dariku. Sungguh memalukan bukan?!


Aku jadi tak bisa pulang. Tak ada orang yang mau mengajak sampah sepertiku tinggal. Dari dulu, aku tak punya tempat untuk pulang, selain pada akhir hidupku. Aku hanya bisa kembali ke tempat dimana awal dan akhir hidupku diputuskan.


Mungkin, sejak pada kehidupanku yang dulu, aku selalu terlahir sebagai orang gagal. Orang bilang tak ada yang namanya gagal. Namun, saat orang-orang merasakan yang aku rasakan, dimana aku akan terus tak berhasil hingga tak ada lagi kesempatan untuk mencoba lagi, mungkin mereka akan mengakui adanya kata gagal dalam hidup ini, meski tak semua orang akan mengalaminya.


Hanya orang payahlah yang akan mengalaminya. Hanya orang sepertikulah yang akan mengalaminya.


Kini aku berkata seperti ini, tapi saat aku kembali terlahir sebagai orang yang berbeda, mungkin sebuah harapan juga ikut terlahir.


Itu karena aku melupakan diriku yang gagal saat ini. Diriku yang kini juga melupakan diriku yang gagal sebelumnya.


Sebuah putaran nasib yang selalu berakhir pada sebuah kegagalan, itulah diriku.


Semoga diriku yang nanti dapat menjadi yang lebih baik dan dapat merubah putaran nasib menuju ke yang lebih baik.


Maaf. Aku hanya bisa terus berharap dan berharap. Tapi inilah aku. Aku akan kembali memulai hidup, dsn akan berjanji pada diri sendir, akan mengubah kegagalan saat itu menjadi keberhasilan nanti.


*****


Aku berhasil membunuh Ozie, dan Carrie pun berhasil mematikan bom. Semua berjalan sesuai rencana. Akhirnya aku dan yang lainnya dapat sedikit lega. Namun, kami harus segera menolong para warga Frankstein sebelum para anggota aliansi negara baru membunuh mereka.


Aku, dan yang lainnya segera berlari kembali ke tempat para warga di salib. Untunglah tak ada seorang warga pun yang meninggal.


Namun, para anggota aliansi negara baru berhasil kabur, entah kemana.


Tanpa pikir panjang, aku, Carrie, Paman Arrie, dan Alice segera melepas para warga.


"Sialan! Kemana mereka semua?!!" tanya Aria sambil menoleh kesana kemari. Tangannya masih memegangi pedang api yang dibuatnya dari sihir api miliknya.


"Kita minta para polisi dan tentara untuk mencari mereka. Tak mungkin mereka akan langsung kembali melakukan aksinya. " jelas Paman Arrie sambil melepaskan satu per satu warga Franksteim yang di salib.


Aria lalu menghilangkan pedang apinya sambil mendengus sebal, lalu membantu kami melepaskan para warga Frankstein yang di salib.


Selang beberapa menit, kami pun berhasil melepas semua warga Frankstein.


"Terima kasih banyak! Karena kalian semua, kami jadi selamat. Entah apa yang terjadi bila kalian tak datang. Ini nak, ambil bunga ini!" ucap seorang nenek yang merupakan salah satu warga Frankstein sambil memberi Alice sebuah rangkaian bunga.


Dengan sedikit ragu, Alice mengambil karangan bunga itu.


"Terima kasih!" ucap Alice sambil melempar senyum polosnya.


"Ayo anak-anak! Kita pulang!" ajak Paman Arrie.


"Tunggu, Pak Alter dan anggota intelijen lainnya mana?!" tanya Aria sambil menoleh kesana kemari.


Sial! Kenapa aku bisa lupa?! Iya juga, kemana mereka semua. Jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka!


"Maksud kalian bapak-bapak yang menyerang seluruh anggota aliansi negara baru kan?" tanya seorang gadis yang merupakan salah satu warga Frankstein.


Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk.


"Sayangnya, hampir semua hampir tewas. Namun, seorang dari mereka yang mengaku bernama Alter dan sekitar lima belas orang lainnya berhasil selamat. Mereka mengalami luka parah dan segera dibawa ambulan yang ditelpon orang bernama Alter.


Ia bilang pada kami untuk mengatakan pada orang-orang yang aku tinggalkan untuk minta maaf. Mungkin kalianlah yang dimaksud. " ucap Gadis itu lagi, lalu warga lainnya mengangguk.


Untunglah Pak Alter dan yang lainnya selamat. Kalau begitu kini yang harus aku lakukan adalah pulang dan menjenguk Bibi Addle saat beberapa lukaku sudah baikan.


"Cih! Memangnya apa selemah itu mereka?!" tanya Aria sambil memukul telapak tangan kanannya dengan kepalan tangan kirinya.


"Jangan berkata seperti itu! Mereka juga mengkhawatirkan kita! Lihat itu, ada ambulan yang datang!" ucap Paman Arrie sambil menunjuk tiga mobil ambulan yang baru saja datang.


Kebetulan Aria dan Carrie saja yang mengalami luka parah, sedang aku, Paman Arrie, dan Alice mengalami luka ringan.


Namun tiba-tiba kepalaku sangat sakit dan semua yang kulihat terasa sedang berputar. Sambil berusaha berdiri dengan seimbang, aku memegangi daerah kepalaku yang sedang terasa sakit.


Tak lama aku pun terjatuh ke tanah dengan penglihatan yang makin buram dan tak karuan. Paman Arrie dan para perawat segera menggosongku ke sebuah tandu dan memasukkanku ke dalam mobil ambulan.


Dan saat itu juga kesadaranku hilang. Entahlah. Aku mungkin hanya tertidur atau sedang pingsan.