
"Hai, Couria!" sapa seseorang padaku.
Aku sama sekali tak mengenal orang tersebut. Dan tiba-tiba saja tadi aku terbawa ke tempat yang sunyi dengan pemandangan serba putih.
Disini hanya ada aku dan orang yang tak kukenal itu. Ia merupakan seorang laki-laki, dengan rambut perak sepanjang bahu yang diikat ponytaile, jas hitam, tampaknya dari ras kaukasoid, dan mata biru. Rasanya, orang itu hampir menyerupaiku.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Namaku, asalku, segala-galanya tentangku itu tidak penting. Disini, aku ingin membantumu melepaskan diri dari COURIA. Yah, dirimu yang lain. "
Kenapa orang asing seperti dirinya bisa tahu banyak hal tentangku, bahkan kepribadian gandaku?! Tapi, dari kata-katanya, mungkin ia orang yang bijak dan memang benar-benar ingin membantuku. Meski begitu, kewaspadaanku tak akan berkurang.
"Kalau kau tak ingin memperkenalkan diri, maka aku tak akan mau dibantu oleh orang asing seperti dirimu!" ucapku dengan tegas.
"Langsung tahu, adalah jalan yang salah, Couria. Perlu ribuan rintangan dan pertanyaan untuk mengetahui sesuatu yang sangat ingin kau ketahui. " ucap orang asing itu.
Sedetik setelah ia selesai bicara, tiba-tiba aku berada di atas kasurku.
"Cuma mimpi, ya?"
*****
Selasa, 3 Maret 1970
Untunglah, hari ini Alice sudah seperti biasanya. Kemarin, hanya kalau aku yang membujuknya, ia baru mau keluar dari kamarnya. Sekarang ia sudah makan lahap seperti biasa.
"Wah wah, apa kau ingin menambah makananmu, Alice?" tanya Kak Sylya.
Karena kemarin Alice hampir tak makan, sekarang Alice malah makan sangat banyak. Setelah Alice mengangguk pada Kak Sylya sambil memakan makanannya dengan sangat lahap, kami semua yang ada di ruang makan pun menertawakannya.
Meski Alice sudah berusia berabad-abad tahun, tingkahnya masih sama seperti anak kecil. Tapi, aura keberanian dan aura elegannya selalu terlihat saat memegang sabit besar miliknya.
Karena sarapanku sudah habis, aku ingin segera kesekolah. Aku tak mau mengulangi kejadian kemarin.
"Weinhard, antar aku ke sekolah sekarang!" pintaku.
Weinhard yang sedang berada di ruang tamu pun mengangguk dan pergi menyiapkan mobil. Aku juga bangun dari kursi dan menyiapkan diri untuk pergi ke akademi.
Setelah aku masuk ke mobil dan duduk di jok kiri depan, Weinhard menghidupkan mesin mobil dan menancapkan gas. Lalu menyetir mobil ke luar rumah.
"Jadi, bagaimana yang kemarin?" tanya Weinhard sambil menahan tawa.
Cih! Weinhard sialan! Lagipula keterlambatanku bukan karena kelalaianku! Ingin rasanya aku memukul mulut Weinhard!
Namun, lebih baik Weinhard begitu. Biasanya, semenjak kematian Bibi Addle, Weinhard hampir tak pernah bergurau di mobil.
"Aku tak terlambat!" ucapku sambil tersenyum.
"Oh ya? Bagaimana bila kutanyakan Pak Arr-"
"Para guru kebetulan sedang rapat saat itu! Bila kau bertanya padanya, reputasimu juga akan hancur, Weinhard!!" bentakku. Padahal Weinhard belum selesai bicara. Namun, bila Weinhard benar-benar melakukannya, kacaulah hidupku.
Karena bosan, aku memandangi jalanan kota Bell dari kaca jendela mobil. Semua terlihat biasa saja sih. Tapi entah kenapa, aku merasa, hal seperti kemarin akan terjadi lagi.
"Ya, itu akan terjadi. "
Tiba-tiba, aku mendengar suara bisikan seseorang di kuping kiriku. Tapi tak ada seorang pun yang sedang berbisik padaku.
Dan tanpa sadar, aku sudah sampai di akademi.
"Sudah sampai, Tuan Muda!" ucap Weinhard.
"Aku sudah tahu! Perintahku selanjutnya adalah, segera pulang dan tidur!!" ucapku lalu keluar dari mobil.
Weinhard pun tertawa dan pergi dari halaman sekolah. Dasar bawahan sialan! Memang dia yang paling sok akrab denganku, padahal leluconnya sama sekali tak lucu.
Setelah naik ke lantai tiga, tiba-tiba aku menemukan kerumunan murid-murid tepat di tengah lorong. Saat aku bergabung ke kerumunan itu, aku melihat seorang murid laki-laki dari kelas lain, mungkin IXC, tewas dengan kondisi tubub telanjang dengan alat kelamin yang hilang.
Yah, tak ada satu pun murid perempuan di kerumunan ini. Justru para murid perempuan menjauh, namun mereka membicarakan si korban kedua setelah Melodi ini.
"Sudah kuduga, aku makin yakin dengan kesimpulanku kemarin. " ucap Indhira sambil masuk ke dalam kerumunan.
"Kau bejat juga ya?" tanyaku pada Indhira. Aku hanya menggodanya sih. Memang wajar ia melihat mayat. Perempuan maupun laki-laki.
"Menyimpulkan sesuatu tentang orang yang baru saja kau kenal, adalah hal yang sangat tak baik loh, Couria... " ucap Indhira dengan muka sebal.
"Jadi, kapan jasad murid ini kalian lihat?" tanyaku pada orang-orang di sekitar.
"Saat kami baru sampai, kami sudah melihat, nya... " ucap salah satu murid lalu menangis.
Kemungkinan besar, murid yang satu itu adalah teman korban. Sedangkan orang-orang lainnya mulai membubarkan diri. Mungkin mereka tak biasa melihat mayat. Sedangkan aku dan Indhira fokus akan mayat korban.
"Seperti kemarin, bagian yang hilang bagaikan patah, bukan dipotong. Tapi sudahlah, kalau kita berlama-lama disini, justru kita bisa dituduh. Ayo, lapor ke seseorang! " ajak Indhira.
Aku lalu menganggukkan kepala, dan kami berdua pergi mencari seorang guru, siapa saja. Yang penting mayat murid tadi bisa ditangani dengan baik.
Kami lalu memilih menemui Pak Charles, satpam sekolah, karena hanya ia guru atau staf yang baru hadir di akademi.
"Pak, tadi, di lantai tiga, ada mayat siswa daei lantai tiga. " ucapku.
"HAAH?! Kenapa tak ada yang melapor?! Baiklah, bapak akan menghubungi polisi! Peringatkan siswa lainnya untuk jangan menyentuh jasad siswa itu!" ucap Pak Charles lalu segera pergi ke ruang guru untuk menelpon pihak berwajib.
*****
"Tidak terdeteksi sidik jari siapapun di mayat korban!" ucap seorang polisi setelah memeriksa jasad murid tadi.
Sepertinya, ini memang bukan pembenuhan biasa. Kemarin juga tak terdeteksi jejak sedikit pun. Mungkin, yang Indhira simpulkan memang benar adanya.
"Sial!! Murid kami meninggal tanpa jejak seperti ini, apa yang harus kami lakukan?!!" tanya Paman Arrie dengan rasa bingung dan takut.
"Yah, kita memang harus lebih waspada lagi. Tersangkanya, kemungkinan orang dalam. " ucap Indhira.
Orang dalam?! Kenapa ia menyimpulkannya dengan sangat mudah? Apa mungkin, matanya bisa melihat kejadian, karena rasa sakit korban pada saat itu?! Ah, mungkin tidak juga. Intinya, akan lebih baik kalau kasus ini selesai.
Tak lama kemudian, bel tanda masuk kelas berbunyi. Mau tak mau, aku dan Indhira kembali ke kelas, dan para guru yang tadi ikut melihat otopsi jasad kembali ke ruang guru untuk bersiap mengajar.
Saat aku masuk ke kelas, Aria segera berlari ke arahku dan Indhira.
"Apa yang terjadi?! Seperti apa mayatnya?! Sialnya, orang yang dapat ikut harus dibatasi!!" tanya Aria
Yah, kalau soal mayat, Aria pasti akan sangat penasaran. Menolaknya untuk ikut otopsi, baginya adalah kesalahan besar.
"Memangnya, apa yang bisa kau temukan dari mayat tadi?!!" tanya Aria dengan nada kesal.
"Tunggu!! Kau meremehkanku?!! Apa kau bercanda?!!" tanya Indhira dengan sangat marah.
Perdebatan dua wanita pecinta mayat pun dimulai. Ah, lebih baik aku duduk di bangkuku ketimbang berdiri di depan mereka berdua, bagai wasit.
Saat aku duduk di bangkuku, Eins langsung memelukku sambil tertawa.
"Apa-apaan ini coba?!" tanyaku.
"Tak ada! Aku cinta kamu, Couria!!!" ucap Eins sambil mendekati wajahku.
"Kalau kau makin menjijikkan seperti itu, aku akan membuangmu dari jendela, dan bertambahlah korban kematian di sekolah. " ucapku sambil melepaskan pelukan Couria.
Eins pun merasa kecewa dan kembali duduk tenang, namun sedikit kecewa. Lagipula apa-apaan tingkah menjijikkannya itu?! Tumben sekali!
"Karena kamu sering menghadapi kematian, aku selalu mengkhawatirkanmu, kita kan sahabat!" ucap Eins sambil menyembunyikan kepalanya ke atas meja.
Eh? Ternyata dia mengkhawatirkanku. Yah, memang benar, kita sudah menjadi sahabat yang cukup dekat. Tapi aku terlalu serius akan masalah pribadi, dan tak pernah sekali pun fokus pada masalah pertemanan.
"Aku, menyukai sesuatu yang seru dan menarik! Aku ingin tahu, apa saja hal seru dan menarik yang kau lihat selama masuk tim penyelidikan dari akademi ini. Jadi... " ucap Eins sambil menoleh ke arahku.
"Jadi?" tanyaku.
"CERITAKAN APA SAJA HAL SERU YANG KAU LEWATI!!" ucap Eins dengan sangat semangat.
Ya ampun, ternyata ia sangat penasaran! Baiklah, aku tak pernah sekali pun bercerita soal misi-misi yang kudapat, itu tak ada salahnya.
"Baiklah. Akan ku-"
Tiba-tiba, Pak Habble, guru fisika masuk ke kelas kami. Eins jadi sangat kecewa karena tak dapat mendengar cerita seru dan menarik dariku.
"Baiklah, anak-anak sekalian, kita mulai pelajarannya!" pinta Pak Habble.
Aku sangat heran dengan guru itu. Bagaimana tidak? Ia terlihat dingin. Ia bicara di depan kelas tanpa nada sama sekali. Kalau ada murid yang salah atau nakal, ia tak pernah peduli, paling hanya bilang "diam!" tanpa nada. Justru, guru seperti itu lebih menakutkan daripada guru yang suka marah.
Kadang itu membuatku merasa tak nyaman setiap menatapnya.
*****
Meski aku pulang lebih awal setengah jam karena tragedi yang terjadi di sekolah belakangan ini, bukan berarti aku harus menunggu Weinhard sejam lebih seperti keadaanku saat ini!! Dasar Weinhard sialan!
Namun tiba-tiba, sebuah mobil datang ke depan akademi. Padahal aku sudah berharap kalau mobilku yang datang, eh, malah mobil lain!!
Lalu Indhira berjalan ke arah mobil itu. Tapi saat ia melihatku, Indhira menghentikan langkah kakinya.
"Mau pulang bersamaku?" tanya Indhira.
"Tidak!! Aku tunggu saja Si Weinhard sialan itu!!" ucapku dengan nada sebal.
Ya ampun! Sampai ditawari pulang begini, awas kau Weinhard! Sampai rumah, aku akan menghajarmu!
"Kalau ternyata tersangka kejadian selama ini adalah makhluk astral, kau akan kesusahan lho! Belum lagi, mataku mengatakan, saking sehatnya fisikmu, sangat nikmat disinggahi arwah liar, dan kau, malah jadi tersangka!" ucap Indhira sambil tersenyum licik.
Sialan! Aku tiba-tiba malah merinding dan memang lebih baik aku pulang sih!!
"Baiklah! Aku pulang denganmu! Tapi dengan jok VIP!!" pintaku.
"Padahal numpang, tapi sudah minta VIP! Kau tak punya sopan santun ya!!" ucap Indhira sambil menaruh tangan kirinya di pinggang.
Aku rasa Indhira adalah wanita merk Aria dan Viola. Menyebalkan sekali!! Tapi, Indhira sedikit berguna sih. Mata sakit dan sehatnya, membuatku terpaksa bergantung padanya.
"Baiklah! Terserah kau!!" ucapku dengan sangat kesal, lalu ikut bersama Indhira dan masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, tak ada seorang pun yang menyetir. Lalu tadi, siapa yang menyetir mobil ini kemari?!
"Mana sopirnya?!" tanyaku.
"Buka perban di matamu, Couria!" ucap Indhira sambil tersenyum.
Karena aku penasaran dan tak paham, aku pun membuka perban di mata kiriku. Dan, aku pun melihat arwah seorang sopir. Kelihatannya, ia memiliki ras yang sama dengan Indhira.
"Ia adalah Pak Made Budhasa, sopir Ibu dan Ayah. Namun, beberapa tahun lalu, terjadilah insiden kecelakaan maut, karena sopir dari kendaraan yang menabrak kendaraan kami sedang dalam keadaan tak sadar. Saat itulah, Ayah dan Pak Made Budhasa meninggal, dan kini Ibu sedang dalam keadaan lumpuh dan kewarasannya pun hilang. Karena Pak Made Budhasa sering menemaniku saat kecil, aku memanggil arwahnya yang kesakitan karena tak dapat tempat di dunia kematian, dan menyuruhnya kembali bekerja, hingga ia puas dan akhirnya pergi ke alam sana. " jelas Indhira.
"Aku ingin bekerja sampai umur 70 tahun, dan aku meninggal di usia 53 tahun. Sungguh hal yang tragis. " ucap arwah Pak Made Budhasa sambil tertawa.
Ternyata, wanita merk Aria ini juga memiliki masa lalu yang kelam, dan agak mirip dengan Aria. Tapi, wanita sepertinya malah terlihat seperti sangat bahagia.
"Baiklah Pak Made, silahkan menyetir!" pinta Indhira.
"Ah baik!" ucap Pak Made Budhasa lalu mulai menyetir mobil.
"Oh ya, apa kau sudah tahu alamat rumahku?" tanyaku pada Indhira.
"Rumah salah satu dari lima bangsawan terhormat di Bell, tak mungkin aku tak tahu. " ucap Indhira sambil tersenyum padaku.
Ya sudah. Memang wajar bila Ia tahu. Belum lagi Ayahnya adalah teman dekat Paman Arrie sejak masih remaja, Ayahnya pasti sangat sering pergi ke rumahku.
Tiba-tiba, mata kiriku sangat sakit. Dan tepat saat itu juga, Mata kiri Indhira, mata sakit bereaksi.
"Apa-apaan ini?!" tanya Indhira sambil memegangi mata kirinya yang kesakitan.
"Ada apa dengan kalian berdua?!" tanya Pak Made Budhasa sambil menyetir, namun sesekali menoleh ke kami berdua yang duduk di jok belakang.
Tiba-tiba, penglihatan kedua mataku sangat buram, kepalaku mulai pusing, perut dan dadaku sangat sakit. Cih! Apa yang terjadi?!
"Couria!! Kau baik-baik saja?!" tanya Indhira sambil memeriksa keadaanku.
Karena keadaanku yang sangat parah, aku pun tak dapat menahannya dan akhirnya aku tak merasakan apapun.
*****
Akhirnya aku terbangun. Entahlah. Aku pingsan atau kenapa. Intinya, aku terbangun, entah di ruangan dan rumah siapa.
Di depan mataku, terlihat langit-langit ruangan yang berwarna krem. Lalu, saat aku melihat ke kiri, ada hal-hal aneh. Ada patung Dewa kecil di atas meja, ada sesajen, dan banyak hal aneh lainnya, saat aku menengok kekiri, ternyata ada Indhira di sampingku.
"Ini adalah kamar suci. Aku, di Bali, sering mengobati orang dengan cara spritual. Aku membawamu kemari karena seseorang, tidak, ada sesuatu di dalam dirimu yang menyakiti dirimu sendiri. Aku akan memanggil si pengganggu itu nanti. Tenang saja, aku sudah menghubungi orang-orang di rumahmu. " jelas Indhira lalu pergi keluar.