
~Amba
Maafkan aku semua anak-anakku. Aku melakukan ini demi kalian. Ibu hanya ingin membebaskan kalian dari masa depan yang sangat kelam nan gelap. Sebelum kalian menjadi boneka mereka, bukankah lebih baik memulai hidup yang baru?
*****
"Bibi baik-baik saja kok" ucap Bibi Addle dengan suara yang sangat serak. Wajahnya sangat pucat. Hanya dalam dua hari tubuh Bibi Addle sudah sangat kurus.
"Bibi jangan bohong!" ucapku dengan sedikit marah.
Bisa-bisanya Bibi Addle bilang kalau Ia baik-baik saja, padahal keadaannya kini sangat buruk.
"Bagaimana dengan pekerjaan anda, tuan muda?" tanya Weinhard sambil mengaduk bubur yang akan diberikannya pada Bibi Addle.
"Sepertinya aku akan melakukan penyelidikan besok di panti asuhan. Maaf ya Bibi Addle, aku tak bisa terus-terusan disini!" ucapku.
"Tidak apa-apa kok, tuan muda..." ucap Bibi Addle dengan suara yang sangat serak.
Aku masih belum bisa mengatur jadwalku yang sangat padat itu. Entah karena aku yang masih belum mandiri, atau jadwalku yang memang sepadat itu.
Kini sosok Bibi Addle yang kuanggap Ibuku sendiri itu sedang terbaring lemah tak berdaya. Apa yang bisa kulakukan untuknya? Apa akan kubiarkan seorang Ibu sekali lagi meninggal?
Weinhard menyuapi Bibi Addle dengan sangat lembut. Weinhard yang biasanya memasang wajah jahilnya kini tenggelam dalam kesedihan. Satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya hanya Bibi Addle. Tak terbayang apa yang akan terjadi kalau Bibi Addle yang khas dengan senyum ikhlasnya itu dipanggil ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Bibi sudah kenyang" ucap Bibi Addle setelah berhasil menelan bubur.
"Bibi baru memakannya beberapa suap saja. Ayo makan sedikit lagi!" bujuk Weinhard sambil mengambil bubur di dalam mangkuk dengan sendok.
"Bibi sudah kenyang, sungguh!" ucap Bibi sambil menepis tangan kanan Weinhard yang bersiap menyuapinya dengan tangan kirinya yang sangat kurus itu. Beberapa urat pada tangannya pun terlihat. Bibirnya juga sangat kering dan pucat.
"Ya sudah kalau memang begitu" gumam Weinhard sambil menaruh mangkuk bubur pada sebuah meja disampingnya.
"Tuan muda, ini sudah mulai malam bukan? Kenapa kalau anda tidak pulang saja? Mengendarai motor pada malam hari pasti akan sulit dan berbahaya. Lebih baik anda pulang sekarang." bujuk Bibi Addle sambil memaksa untuk memberi senyum yang terbaik padaku.
"Bibi yakin?" tanyaku.
Baru saja aku menjenguknya beberapa menit, tapi Bibi Addle malah sudah menyuruhku pulang.
"Ya. Lagipula sekarang saatnya makan malam bukan?" tanya Bibi Addle dengan tujuan mengingatkanku untuk segera makan.
"Aku memang lapar. Tapi kalau Bibi terus seperti ini, nafsu makanku jadi hilang!" protes Alice.
Bibi Addle pun langsung menertawainya dengan suara yang sangat tipis.
"Apa karena saya tidak ada untuk menyajikannya, Nona Alice?" tanya Bibi Addle lalu kembali tertawa.
"Bukan begitu!" ucap Alice dengan nada sebal. Bibi Addle pun berhenti tertawa. Namun senyumannya masih terlukis indah di wajahnya.
"Bagaimana dengan boneka anda, Nona Alice?" tanya
Bibi Addle.
"Aku sudah menjahitnya sendiri. Aku mempelajarinya dari buku. Sebenarnya Haeva sudah pernah mengajariku dulu." jelas Alice dengan wajah yang cemberut.
Tiba-tiba terdengar suara perut yang seakan meminta makan dari perut Alice. Sontak kami semua menertawakan Alice. Alice yang polos itu hanya mendengus sebal.
"Kalau sudah begini sepertinya aku harus pulang." ucapku sambil berdiri dari kursi yang kududuki tadi. Disusul dengan Alice.
"Aku pulang ya Bibi!" ucapku sambil melempar senyum terbaikku.
Bibi Addle hanya mengangguk pelan. Aku dan Alice pun pergi keluar dari kamar tempat Bibi Addle dirawat.
*****
Bell, Rabu, 18 Februari 1970
Pagi ini aku lagi-lagi harus mengurus diri sendiri. Memang tidak biasa bagiku, tapi justru ini lebih baik. Aku justru tak senang diperlakukan terlalu istimewa. Aku malah berharap bisa terlahir di lingkungan orang biasa.
Saat aku akan pergi ke kamar mandi, Kakak Sylya segera mengejarku. Entah apa yang sedang terjadi.
"Tuan Couria! Telepon di ruang tamu berdering!" ucap Kakak Sylya dengan nafas yang tersengal-sengal.
Aku hanya mengangguk dan segera pergi ke ruang tamu dan mengangkat telepon rumah yang masih berdering.
"Dengan siapa?" tanyaku.
"Ini Alter. Nah Couria, ada kejadian yang sama pada panti asuhan lainnya!" ucap Pak Alter tanpa basa-basi.
"Maksud Bapak ada pembantaian anak lagi?!" tanyaku dengan sanagt terkejut. Bagaimana tidak?! Ada pembantaian yang mengorbankan nyawa ratusan bahkan ribuan anak.
"Dari penyelidikan yang aku lakukan sendiri, aku mendapatkan sampel sidik jari tersangka. Saat aku mencocokkannya dengan kasus yang baru saja terjafi kemarin, sidik jari yang ditemukan sama. Dan itu dimiliki oleh Ibu panti asuhan atas nama Amba Della" jelas Pak Alter.
Yang benar saja! Apa tujuan seorang Ibu membunuh anak-anaknya?! Apa mungkin Ibu panti asuhan tersebut mengalami gangguan jiwa atau ada suatu tekanan atau paksaan untuk melakukannya?
"Kami sedang mencari tersangka. Entah kemana perginya. Kalau dilihat-lihat, panti asuhan tempatnya mengasuh dengan panti asuhan yang baru dibantainya kemarin, jaraknya cukup jauh. Jadi ada kemungkinan kalau tersangka sedang berkelana." lanjut Pak Alter
"Lalu, apa yang bisa saya lakukan?" tanyaku. Kalau Ia berkelana begitu jauh, bagaimana aku bisa melakukan sesuatu?!
"Mungkin ini adalah misi yang konyol. Aku tahu betul tentang matamu dari Ibumu. Jadi, aku butuh matamu untuk memcarinya dan, membunuhnya." pinta Pak Alter.
Mencari dan membunuh seorang Ibu dengan mataku?! Yang benar saja! Memerlukan tenaga yang banyak sekali untuk itu! Belum lagi tersangkanya adalah seorang Ibu! Haruskah ada seorang Ibu yang terbunuh ditanganku?
"Sepertinya aku tak bisa melakukannya pak, maaf." ucapku dengan berusaha bersabar.
"Satu nyawa dengan seribu nyawa lainnya. Mana yang akan kau pilih?" tanya Pak Alter dengan nada yang serius.
Ini ujian yang sangat sulit. Aku harus mengorbankan satu nyawa yang berharga untuk nyawa lainnya yang sama berharganya. Tentu aku memilih seribu nyawa untuk diselamatkan meski aku harus menghapus sebuah nyawa. Tapi... sialan!!
Dengan penuh keterpaksaan, aku menjawab, "aku memilih, seribu nyawa."
"Jadi, itu yang harus kau lakukan, bukan?!" tanya Pak Alter.
Aku meneguk air ludahku. Kepalaku penuh dengan pertanyaan. Satu atau seribu, mana yang akan diselamatkan?! Itu adalah pertanyaan yang paling kuhindari selama hidupku ini. Dimana akan kujumpai sunia yang damai?! Dimana ada seorang yang tak disakiti dan dikhianati?!
Dari awal penciptaan dunia sampai akhir zaman manusia, selagi masih ada yang namanya kebohongan, dunia ini tak akan pernah damai. Itulah yang kuketahui dalam lima belas tahun hidupku ini. Aku harus bisa menerima ini sampai akhir hidupku di dunia ini. Tidak, sampai aku kembali turun ke dunia ini sebagai orang lain pun, inilah yang akan kulihat. Dunia dimana kedamaian itu hanya mimpi.
"Aku mengerti, Pak Alter." ucapku dengan penuh keterpaksaan.
"Aku harap kau bisa menerima kasus ini dengan lapang dada. Aku mengerti perasaanmu saat kau harus kembali melihat seorang Ibu yang terbuang demi nyawa lainnya di dunia ini." ucap Pak Alter lalu menutup telepon.
Dengan seribu kata "sialan!" di otakku, aku berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang patah-patah. Ikkye yang menyadari diriku yang sedang tenggelam dalam lautan penyesalan pun tampak keheranan.
"Kau kenapa?" tanya Ikkye dengan penuh keheranan.
"Aku harus membuang sebuah nyawa demi nyawa yang lainnya. Meski begitu, itu hanya akan mengurangi kehancuran, dan tak akan mengubah kenyataan bahwa dunia ini tak damai" jelasku sambil masuk ke kolam.
"Apa maksudmu? Dari kata-katamu, jangan bilang kalau kau ..." ucap Ikkye sambil berpikir.
"Ya, aku dituntut untuk membunuh." jelasku.
Ikkye tak tampak terkejut. Sepertinya memang benar itulah yang ada yang dipikirannya. Ikkye lalu melempar senyum hambar padaku.
"Padahal dulu hidupku tak seburuk itu, tapi, mau bagaimana lagi. Kau benar, dunia ini, sampai kapan pun tak akan pernah damai. Ibu pertiwi akan terus menangis karena ulah anaknya. Semua akan terus seperti itu." ucap Ikkye sambil duduk di pinggir kolam.
"Kalau begitu, mau berapa kalipun aku akan mencoba, kedamaian itu tak akan pernah abadi bukan?" tanyaku.
Ikkye hanya menjawab dengan mengangguk pelan.
"Setidaknya kau merubah sedikit saja, akan ada beberapa yang terselamatkan, percayalah!" bujuk Ikkye sambil melempar senyum yang ikhlas.
Aku tak akan pernah puas kalau aku memberi perubahan "sedikit saja" pada dunia ini. Lagipula jangankan merubah dunia, memperbaiki hidup sendiri saja aku tak kuasa. Aku harap Tuhan Yang Maha Kuasa masih memaafkan diriku yang papa ini.
"Memangnya aku benar-benar bisa? Memperbaiki hidup sendiri saja aku tak bisa!" ucapku lalu menyelam ke dalam kolam.
"Setidaknya tumbuhkan rasa percaya dirimu itu! Bukannya kau adalah orang dengan percaya diri yang tinggi?" tanya Ikkye dengan harapan dapat menyemangatiku.
Sejak dulu Ibu juga sering bilang, "Kau bisa membuat dunia ini lebih baik!" Tapi aku tak pernah takin akan hal itu. Namun, Ibu memiliki harapan yang besar padaku. Banyak orang juga menaruh kepercayaannya padaku. Apa aku harus diam saja? Apa aku harus mengecewakan mereka? Kalau tidak, apa harus aku merelakan sebuah nyawa yang berharga demi seribu nyawa lainnya?
Jadi memang ini yang harus kutanggung demi merehab "sedikit" saja dunia ini? Jika iya, mau bagaimana lagi. Maafkan aku, sungguh! Aku tak tahu harus bagaimana.
"Baiklah, demi merubah sedikit saja!" ucapku dengan keterpaksaan namun sedikit percaya diri.
Ikkye senang mendengar keputusanku. Sepertinya Ia tak mau melihat satu-satunya temannya saat ini tenggelam dalam keputusasaan.
"Berjuanglah!!" ucap Ikkye sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Ya!!" jawabku dengan mantap.
*****
"Langsung bunuh?! Apa Pak Alter sudah tak waras?!" tanya Aria dengan sangat terkejut saat aku menjelaskan permintaan Pak Alter tadi pagi setelah makan siang.
"Begitulah. Ia meminta untuk menggunakan mataku untuk mencarinya." jelasku.
Aria yang tadinya agak serius, malah memasang wajah herannya.
"Tidak terduga ya, ternyata Pak Alter sepercaya itu dengan dirimu? Itu cukup, menggelikan!" ucap Aria lalu tertawa dengan sangat kencang.
Sialan orang itu! Masih saja bertingkah santai pada saat seperti ini!
"Bukannya artinya ini adalah hal yang serius?" tanya Carrie dengan ketakutan.
"Kalau kau menganggap mataku adalah hal yang konyol, kenapa tidak kau saja yang mencarinya?" tanyaku sambil melempar senyum sinis pada Aria.
"Itu, merepotkan!" protes Aria.
"Kqrena itulah jaga dengan baik mulutmu itu!" protesku.
Aria yang sialan itu malah mendengus sebal. Ia adalah orang yang paling tak punya moral yang kutahu. Siapapun yang diajaknya bicara, di saat apapun ia bicara dan dimana pun ia berbicara, ia tak akan pernah mengubah cara bicaranya.
"Jadi Kak Couria akan mencari tersangka sekarang?" tanya Carrie dengan nada serius. Aku hanya menjawabnya drngan mengangguk.
Tanpa basa-basi aku segera membuka perban yang menutupi mataku. Carrie cukup terkejut saat melihat pupil mata kiriku yang bergerak taka karuan. Warna merah darah dari bola mataku juga membuat kesan yang cukup menakutkan untuk Carrie.
Hanya bermodalkan nama Amba Della, aku cari orang dengan nama itu. Kepalaku pusing, kerinagtku bercucuran. Sangat sulit mencari orang dengan mata kiriku ini. Lagipula sudah lama sekali aku tak menggunakannya, tentu rasanya menjadi menyakitkan.
Ketemu! Akhirnya aku menemuaknnya. Ia menuju panti asuhan di desa terpencil, yakni panti asuhan desa Iris. Tak ada gunanya aku menyimpan informasi ini sendiri. Pak Alter dan tim penyelidik lainnya juga harus tahu.
"Amba Della sedang menuju ke panti asuhan Iris." ucapku pada Aria dan Carrie sambil berhenti menerawang.
"Apa ia sudah dekat?!" tanya Aria.
"Butuh srtrngah hari lagi, kira-kira. Karena ia berjalan kaki dan harus menempuh lima belas kilometet lagi!" jelasku.
"Apa kita perlu permisi sekolah atau saat jam pulang sekolah saja?" tanya Carrie dengan nada panik.
"Lebih baik segera bukan?!" tanya Aria sambil memasang wajah bersemangatnya.
*****
Setelah mendapat izin dari Paman Arrie untuk menyelesaikan misi, Paman Arrie sendiri yang akhirnya menemaniku, Aria, Carrie, dan Alice untuk mencari Amba Della.
Paman Arrie mengantar kami dengan mobilnya. Selagi mengantar kami, aku tetap mencari keberadaan Amba Della dengan mata kiriku, supaya saat seandainya Amba Della pergi ke tempat yang lain, kami bisa segera mencarinya. Tapi untunglah Amba Della tetap lurus menuju panti asuhan Iris.
Akhirnya dari jarak beberapa meter, aku bisa melihat Amba Della tepat di depan mobil.
"Apa itu Amba Della?" tanya Paman Arrie sambil memperlambat laju mobilnya.
"Ya!" jawabku dengan mantap.
Paman Arrie lalu mematikan mesin mobilnya.
Aku, Alice, Aria, Carrie, dan Paman Arrie pun turun dari mobil. Amba Della dengan kedua pisau daging di tangannya menatap kami semua dengan tatapan kosong.
"Siapa kalian?" tanya Amba Della.
Dengan rasa terpaksa, aku mengeluarkan pedang yang berkamuflase sebagai tongkat jalanku.
"Kenapa kau ingin membunuh para anak-anak tersebut?!" tanyaku sambil mengarahkan pedang ditanganku pada Amba Della.
"Tak ada yang tahu kalau ternyata masa depan anak-anakku dan anak lainnya sangat gelap." ucap Amba Della sambil menunduk.
"Apa maksudmu?!" tanya Aria sambil bersiap menyiapkan sihir apinya.
"Akhirnya anak-anak itu hanya akan diperalat. Akhirnya mereka menjadi sebuah boneka. Jika sudah begitu, tak ada cara lain selain memulai hidup yang baru bukan? Karena itulah, aku memberikan kebebasan pada mereka, dengan harapan, semoga mereka mendapat hidup yang lebih baik. Kalian yang sama sekali tak tahu apa-apa, jangan menghalangiku!" jelas Amba Della lalu memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang kami dengan kedua pisau daging penuh darah yang dibawanya.
"Apa maksudmu?! Alat?! Boneka?! Kami sama sekali tak mengerti!!" tanyaku. Aku benar-benar tak mengerti maksudnya.
"Intinya jangan menghalangiku!!" teriak Amba Della lalu menyerangku.
Beberapa kali aku menangkisnya dengan pedang yang kubawa. Sial! Gerakannya sangat cepat, untung mataku bisa memperkirakan arah serangannya dan dapat melihat titik lemahnya.
"Kenapa Ibu setega ini?" tanya gadis yang kuselamatkan dua hari lalu.
Entah kapan dan dengan siapa gadis kecil itu berjalan kemari, bahkan mataku tak merasakan keberadaannya.
Sontak saja, Amba Della menghentikan serangannya padaku. Ia juga sama terkejutnya denganku, tidak, mungkin lebih terkejut lagi.
"Lia! Kau, kau tak tahu apa-apa!! Aku membunuh rekan-rekanmu dan berusaha membunuhmu karena aku ingin kehidupan kalian menjadi lebih baik!!" ucap Amba Della sambil sedikit menangis.
"Ibu Amba bohong!! Kalau begitu kenapa Ibu tidak membawa kita kabur dan membawa kita ketempat yang lebih baik dari panti asuhan?!!" tanya gadis kecil itu sambil menangis.
"Ibu tak yakin bisa memberi hidup yang lebih baik pada kalian, jadi Ibu menyerahkan kalian pada Tuhan Yang Maha Esa. Apa yang salah dengan itu? Lagipula, kenapa kau masih hidup. Kehidupan baru, apa kau tak menginginkannya?!!" tanya Amba Della lalu berlari ke arah gadis kecil yang ternyata bernama Lia itu.