
Bell, Sabtu, 07 Februari 1970
Nona Erica memainkan wajahku dengan leluasa. Ia mencoretkan beberapa kosmetik ke wajahku. Aku tak tahu nama-nama kosmetik yang diaplikasikan nona Erica padaku. Aku hanya perlu duduk tenang dan mematuhi prosedurnya.
Sebelum merias wajahku, aku sudah memakai pakaian wanita yang sederhana seperti masyarakat pada umumnya.
Aku dirias bergantian dengan Carrie.
Kasihan nona Erica. Ia merias orang sendirian. Ia tak punya anak buah atau teman dengan pekerjaan yang sama. Yakni menyamarkan identitas orang.
*****
"Akhirnya selesai juga!" ucap nona Erica, lalu mendengus lega, setelah wajahku dirias.
Aku juga lega. Karena berhias adalah sesuatu yang menyakitkan dan membuatku tak nyaman, juga memakan banyak waktu. Aku tak mengerti kenapa wanita sangat suka merias dirinya. Aku malah senang dengan wanita yang apa adanya.
Wajah Paman Arrie dan Pak Alter tampak sangat kagum melihatku dan Carrie. Sedangkan Aria tertawa dengan maksud meledekku dan Carrie.
"Tak ada bedanya dengan wanita biasa!" komentar Aria, lalu kembali tertawa, bahkan sampai memegangi perutnya.
"Nona Erica memang luar biasa!" puji paman Arrie, sedang pak Alter mengangguk, mengiyakan.
Aku lalu melihat bayanganku ke sebuah kaca besar.
Hah?! Apa ini benar-benar bayanganku?! Sungguhan?! Bayangan kaca itu menampilkan seorang gadis yang bagaikan cantik alami. Dengan riasan wajah yang tidak menor dan menyerupai riasan wajah nona Erica. Rambut panjang se bahu yang sebenarnya wig itu menambah kesan feminim. Dan itu bayanganku?!
Couria juga tampak terkejut saat melihat pantulan bayangannya di kaca.
"Bagaimana? Dengan begini sempurna kan?" tanya nona Erica sambil melempar senyum padaku.
Aku menghela nafas dan mengangguk. Mau bagaimana lagi. Aku harus menjadi orang yang bukan diriku. Ini takdirku. Ini tugasku sebagai seorang mata-mata dalam badan intelijen. Perubahan pada penampilan seharusnya sedikit wajar.
"Nah, Couria, Carrie, kalian sudah siap kan?!" tanya Pak Alter dengan penuh wibawa.
"Sudah!!" jawabku dan Carrie dengan tegas.
*****
Aku dan Carrie di antar sampai beberapa meter dari kediaman Enzo Alban dengan mobil Pak Alter, agar tidak ada kecurigaan. Karena sebagian besar masyarakat di Bell tidak memiliki mobil.
Sesampaiku dan Carrie di kediaman Enzo Alban, ada penjaga di depan gerbangnya.
Tampang penjaga itu sangat menyeramkan. Ia macam bodyguard. Penjaga itu tak memiliki sehelai rambut pun di kepalanya. Lalu Ia memakai baju formal dengan aksen warna monokrom. Lalu penjaga itu memakai kaca mata hitam.
"Hai gadis-gadis! Apa urusanmu kesini?!" tanya penjaga itu.
"Saya ingin mengikuti seleksi masuk sebagai pelayan disini..." ucap Carrie dengan suara yang sangat menyerupai wanita. Lembut sekali. Bagai suara wanita polos namun anggun. Misal seperti suara Daisy saat tidak aktif mode sadisnya.
"Ooh begitu! Baik-baik! Lihat ruangan itu?!" tanya penjaga itu sambil menunjuk sebuah bangunan yang terpisah dengan rumah Enzo Alban dengan jari telunjuknya. Aku dan Carrie mengangguk.
"Kalian masuk saja kesitu! Disitulah kalian akan mendaftar! Ujian masuknya sangat mudah! Tapi gajihnya sangat banyak! Banyak yang bersyukur kerja disini!" ujar penjaga itu.
Ternyata begitu cara Enzo Alban dengan anak buahnya untuk membujuk orang-orang agar terjebak nafsu Enzo Alban. Cara yang pasaran!
"Terima kasih!" ucapku dengan berusaha meniru suara wanita. Lalu aku dan Carrie berjalan ke tempat yang ditunjuk penjaga tadi.
"Suaramu seperti wanita kak Couria! Kau berhasil!" bisik Carrie.
"Sungguh?!" tanyaku dengan sangat tidak percaya. Carrie menagngguk.
Sebenarnya sejak tiga hari lalu, Carrie membantuku belajar meniru suara wanita. Aku benar-benar susuah payah belajar dengan Carrie, tapi akhirnya bisa.
Kami sampai di depan pintu ruangan yang kami tuju. Aku mengetuk pintu ruangan tersebut. Suara ketukan pintu membuat seorang yang sepertinya anak buah Enzo Alban membuka pintu dari dalam.
Penampilannya tak jauh beda dari penjaga tadi. Tapi orang yang satu ini memiliki rambut di kepalanya.
"Kalian akan mencalonkan diri bekerja disini?" tanya orang itu.
"Ya! Aku sangat tak sabar!" ucap Carrie. Suaranya seperti seorang perempuan yang sedang semangat.
Orang itu mengangguk-angguk. Sepertinya Ia tak ragu membawa kami masuk, entah karena penampilan kami, atau kecakapan kami dalam bicara.
Setelah orang itu selesai berpikir, orang itu lalu mempersilahkan kami masuk.
"Baikah! Masuklah!"
Kami berpura-pura bahagia.
"Terima kasih!!" ucap aku dan Carrie dengan semangat, lalu masuk ke dalam ruangan itu, juga orang yang mebukakan pintu tadi.
"Tunggu ya, saya akan cari tuan Enzo..." ucap orang yang membukakan pintu tadi sambil naik ke tangga yang ada di ruangan ini.
Ruangan yang kumasuki ini terlihat gelap. Seharusnya para wanita sudah curiga akan ruangan ini. Tapi kalau seorang wanita sudah bertwkad membahagiakan orang terdekatnya dengan usahanya, mereka tak akan takut akan apapun. Begitu menurutku seorang wanita.
Sama halnya dengan Ibu. Ibu bersusah payah dan berani dibunuh atau membunuh, demiku dan Ayah. Padahal Ayah adalah seorang yang kubenci. Dia adalah orang yang tak punya hati. Berapa kali Ia menyakiti Ibu!
Tiba-tiba aku mencium aroma obat-obatan yang berupa gas. Aku segera menutup hidungku.
"Tutup hidungmu Carrie!" ucapku memperingati Carrie. Carrie dengan sedikit takut segera menutup hidungnya.
Aroma obat itu semakin keras. Sepertinya itu semacam bius. Semakin kuat dsn banyak sampai aku tak tahan lagi.
Kepalaku pusing, mataku berkunang-kunang. Carrie yang tadinya berdiri di sampingku kinu sudah jatuh pingsan.
"Carrie! Ber, tahan, lah..." ucapku dengan terbata-bata, lalu jatuh ke lantai.
Sial! Aku tak tahan lagi! Mataku tak tahan lagi. Tak lama kemudian mataku terpejam.
Sialan!
*****
Akhirnya badanku terasa baikan. Aku berusaha membuka mataku. Pelan-pelan aku bangun dari lantai. Mataku berkedip beberapa kali, agar aku dapat menglihat lebih jernih.
Tiba-tiba aku terbangun pada ruangan lain. Di manapun aku melihat ada banyak sekali wanita. Dan jauh di depanku ada Enzo Alban dengan dua wanita di samping kanan kirinya. Dan sepertinya dua wanita itu sudah terpengaruh obat-obatan.
Setengah wanita di tempat ini kebingungan dan masih sadar, sama sepertiku. Setengahnya lagi kelihatannya terpengaruh obat-obata.
Tak lama Carrie yang ada di sampingku bangun.
"Dimana ini?!" tanya Carrie padaku.
"Entahlah!" ucapku sambil menggeleng.
Semua wanita yang sadar tampak kebingungan. Ada yang bertanya, "Dimana ini?" ada juga yang berkata, "Sialan!" atau bertanya, "Apa kita akan menjadi wanita yang lainnya?!", atau ada juga yang membeku sepertiku dan Carrie.
Hal seperti ini memang dapat di tebak sih. Masih sesuai pikiranku.
Tiba-tiba ada salah seorang gadis yang terkena pengaruh obat tertawa sendiri, lalu menggulingkan dirinya di lantai.
"Bos! Ada barang rusak!" lapor seorang anak buah pada Enzo Alban.
Enzo Alban lalu memasang wajah kesal.
"Bunuh saja!" ucap Enzo Alban.
"Baik!" ucap seorang anak buah itu.
Anak buah itu segera mendekati gadis yang berguling di lantai tadi sambil mengeluarkan pistol.
Dorr! Dorr!
Peluru pistol itu mengenai gadis yang berguling di lantai tadi dua kali, hingga gadis itu membeku tak bernyawa.
Seluruh wanita yang masih sadar tampak ngeri. Beberapa berteriak. Ada juga yang sudah menangis. Ada juga yang tertunduk.
Sudahlah! Aku tak tahan lagi!
Aku bangun dan segera mendekati anak buah Enzo Alban yang membunuh gadis tadi.
"Tunggu kak!" pinta Carrie. Aku tak peduli dan tetap mendekati anak buah Enzo Alban.
"Oi oi! Wanita mana yang berani tarung denganku hah?!" tanya anak buah Enzo Alban.
Aku memasang wajah sebal.
"Wanita adalah harta bagi dunia! Siapa yang mengizinkan kalian menjadikan wanita sebagai barang siap saji dan bisa habis masa berlakunya dan dibuang?!" tanyaku.
Enzo Alban melihatku dari jauh sambil tersenyum.
"Ah mau bagaimana lagi! Bunuh gadis sialan itu!!" perintah Enzo Alban pada anak buahnya.
"Baik!!" ucap anak buah Enzo Alban sambil mengeluarkan pistol dari sakunya.
Aku segera mengambil pisau yang tadi kusembunyikan dan memotong kedua telapak tangan anak buah Enzo Alban.
Anak buah Enzo Alban berteriak kesakitan.
Tanpa basa-basi menusukkan pisau itu pada dada anak buah Enzo Alban.
Enzo Alban tampak sedikit ngeri, tapi wajah ngerinya tak lama kemudian berubah menjadi marah.
"Semua!! Bunuh gadis itu!!" perintah Enzo Alban pada anak buahnya yang lainnya.
Para wanita tampak ketakutan. Ada yang menangis, ada yang melihatku dengan heran, ada juga yang menunduk.
Para anak buah Enzo Alban menembakkan peluru ke arahku. Aku segera menghindar, sambil mendekati para anak buah Enzo Alban.
Satu per satu dari mereka kutebas dengan pisau yang kubawa.
Setelah seluruh tim penembak mati, kini anak buah Enzo Alban yang lain menyerang dengan pisau.
Satu persatu anak buah Enzo Alban jatuh tak bernyawa.
Sial! Ada seorang anak buah Enzo Alban yang menarik wigku. Aku segera memotong badan oran itu dengan pisauku.
Wigku juga ikut lepas. Semua orang di sini heran.
"Penyusup!!" teriak Enzo Alban.
Aku kembali membunuh satu per satu anak buah Enzo Alban. Hingga akhirnya semua anak buah Enzo Alban mati.
Enzo Alban sangat kesal. Ia bangun dari sofa yang didudukinya tadi. Dua wanita di sampingnya tampak heran.
Carrie sudah sangat tegang. Ia tampak sangat kebingungan.
"Sekarang!!" teriak Carrie.
"Oh oh! Kau pasti salah satu anggota badan intelijen! Kedokmu sudah ketahuan. Tapi aslinya kau memang cantik ya?!" komentar Enzo Alban sambil mendekatiku.
Tiba-tiba ada semprotan obat yang sama saat di ruang tunggu tadi. Sial! Aku menjadi melemah.
Sedangkan Enzo Alban masih berdiri tegak.
"Apa kau meminum penawar obat ini?!" tanyaku dengan kesal pada Enzo Alban.
Enzo Alban lalu tertawa terbahak-bahak.
"Apa salahnya?!" tanyanya sambil memegangi daguku.
"Kalau dipikir-pikir, kau.... anak dari Haeva, Couria Himala kan?!" tanya Enzo Alban sambil tertawa terbahak-bahak.
"Cukup sampai situ!" ucap Pak Alter yang tiba-tiba ada di depan pintu ruangan ini.
Aku senang akhirnya Pak Alter, Paman Arrie, Alice, dan Aria akhirnya datang. Aku pun menghela nafas lega.
Enzo Alban tampak sangat terkejut. Tingkahnya aneh. Ia ingin memerintahkan anak buahnya, tapi semua sudah lenyap. Ia tak dapat bertindak.
Untung obat dalam bentuk gas itu sudah mereda. Meski begitu aku sudah terlanjur menghirupnya tadi.
Alice berlari ke arah Enzo Alban dengan membawa sabitnya.
Alice melompat dan memenggal kepala Enzo Alban.
Akhirnya semuanya selesai.
Pusingku menjadi-jadi, mataku sangat berkunang-kunang. Aku tak tahan lagi hingga aku pun tertidur.
*****
"Couria!"
Aku mendengar panggilan Alice dengan tak jelas. Setidaknya dari sepuluh kali panggilannya, paling aku hanya mendengar tiga kali panggilannya dengan jelas.
Kerongkonganku sakit. Kepalaku masih pusing, tapi aku terbaring pada tempat yang empuk dengan selimut yang menghangatkan tubuhku. Sepertinya aku sedang ada di kamar.
Aku berusaha membuka mataku. Semuanya hitam. Aku malas berbaring terus.
Akhirnya aku bisa membuka mataku, tapi semua masih terlihat buram.
Alice duduk disampingku dengan wajah khawatir. Di kanan ranjangku ada Bibi Addle yang tak kalah khawatir.
"Anda baik-baik saja tuan muda?" tanya bibi Addle dengan sangat khawatir.
Aku mengangguk pelan. Aku tak dapat bicara dengan kerongkonganku yang masih sakit dan panas.
Bibi Addle dan Alice pun melempar senyum padaku. Senyum lega.
Saat aku melihat ke seluruh arah, aku tersadar kalau aku kini berada di kamarku sendiri, entah bagaimana bisa.
Tapi seingatku, Enzo Alban dibunuh dengan sabit Alice. Aku sangat ingin menanyai Alice, tapi badanku berkata lain. Badanku minta istirahat. Maha Kuasa memberiku fisik yang baik, karena itu aku akan selalu mensyukuri dan menjaganya dengan baik.
Bibi Addle segera menyentuh dahi, leher, dan perutku untuk memeriksa suhu tubuhku.
"Sepertinya tuan muda demam! Istirahatlah!" ucap bibi Addle. Aku lalu mengangguk pelan.
"Couria memaksakan diri!" komentar Alice sambil melempar ekspresi sebal padaku.
Aku merasa kerongkonganku sudah baikan, aku memutuskan untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang sedari tadi hanya mengoceh di otakku.
"Apa, yang terjadi?" tanyaku dengan suara serak.
"Kata pak Alter, saat misi selesai, tuan muda tiba-tiba jatuh pingsan. Pak Alter datang denga membawa tuan muda kemari" jelas bibi Addle.
Aku menangguk pelan.
"Bagaimana dengan Carrie?" tanyaku lagi dengan suara yang masih serak.
"Sama dengan tuan muda, tuan Carrie juga jatuh pingsan" jelas bibi Addle.
Aku pun menghela nafas lega. Ternyata misi berjalan lancar dengan akhir yang baik, meski aku dan Carrie harus dalam keadaan tidak baik ini.
Bibi Addle lalu berdiri dari kursi yang didudukinya tadi.
"Bibi mau kemana?" tanya Alice.
"Mau membuatkan tuan muda bubur. Tuan muda tunggu ya..." ucap bibi Addle lalu pergi ke luar kamarku.
"Sudah malam, ya?" tanyaku dengan suara yang masih serak, sambil menoleh ke Alicw.
Alice pun mengagguk.
Belakangan ini gadis kecil yang satu ini membuatku ingin terus berada di sisinya.
Ia adalah wanita yang kuat, sama dengan Ibuku. Entah perasaan apa yang menghantuiku tiap aku bertemu dengannya.
Rambut emasnya yang berkilau, mata birunya yang bercahaya, gerak geriknya yang lucu namun elegan, dan terutama, aromanya yang bagaikan bunga terbaik dan terharum di seluruh dunia membuatku tak tahan jauh darinya.
Aku perlahan bangun dari ranjangku, lalu memegang kedua bahu Alice dengan kedua tanganku.
Alice reflek terkejut.
"Kenapa, Couria?" tanya Alice.
Aku diam membeku. Aku tak tahu harus berkata apa.
Aku pun memutuskan untuk mengatakan apa yang kurasakan.
"Kau pernah bilang kalau kau ingin terus berada di sisiku kan?" tanyaku pada Alice dengan serius. Detak jantungku tiba-tiba tak beraturan.
Alice mengangguk pelan. Ia juga sama kikuknya denganku.
"Kenapa kau membahas ini?" tanya Alice pelan. Nafasnya sangat panas.
"Entahlah. Aku tak ingin terus diam..." ucapku sambil menunduk. Nafasku juga panas. Detak jantungku semakin kencang.
Baiklah! Aku tak tahan lagi! Aku tak dapat membendung perasaanku!
"Aku ingin selalu disisimu! Aku ingin selalu bersamamu! Aku ingin membantumu mencari masa lalumu! Entah kenapa, sebelum saat ini, aku merasa pernah bertemu denganmu, tidak, bahkan aku merasa dulu kita selalu dekat!"
Wajah Alice memerah.
Aku memutuskan untuk menuntaskan segala rahasia hatiku dari Alice.
"Entah kenapa..... aku, aku...." ucapku. Tiba-tiba aku ragu mengatakannya.
".... kenapa?" tanya Alice dengan ragu.
Baikalah! Ini saatnya aku mengatakannya!
"Aku mencintaimu Alice! Jangan pernah pergi dariku!"
Hening. Semua menjadi hening.
Akhirnya! Aku bisa mengatakannya pada Alice! Aku sendiri merasa gila. Otakku serasa pecah. Aku benar-benar memiliki perasaan seperti itu!
Lalu muncullah senyum pada wajah Alice yang sangat indah.
"Aku juga mencintaimu, Couria!" ucap Alice sambil meneteskan satu dua tetes air mata, lalu menyekanya dan kembali tersenyum.
Aku juga ikut meneteskan air mata. Karena kini aku berhasil mengeluarkan perasaanku sebelum akhirnya meledak nanti.
Aku menyentuh pipi Alice dengan lembut. Alice pun memegangi tanganku.
Dan akhirnya, sampailah bibirku pada bibir Alice yang sangat lembut dan hangat.