
~Amba Della
Aku selalu menyayangi dan mencintai seluruh anak-anakku. Para anak-anakku pun juga menyayangiku. Semua terasa nyaman dan damai. Namun, siapa yang tahu kalau itu hanya sandiwara belaka?
Bila anak-anakku sudah menginjak usia lima belas tahun, mau tak mau aku harus menyerahkan anak-anakku pada tentara negara. Para tentara itu menjanjikan kalau anak-anakku akan menjadi para tentara yang hebat, yang akan terus mengingat perjuanganku saat membesarkan mereka.
Dan itu bohong.
Karena penasaran, aku pergi ke tempat pelatihan tentara untuk melihat anak-anakku yang sudah hebat dan tangguh. Dan ternyata mereka memang benar-benar sudah sangat hebat. Aku sangat gembira melihatnya. Karena aku sudah sangat lama tak bertemu mereka, aku memutuskan untuk mengajak mereka mengobrol.
"Woody! Selly! Lian! Ibu sangat rindu dengan kalian!!" panggilku pada tiga anakku yang sedang istirahat setelah berlatih.
"Ibu, apa maksudmu?!" tanya Lian.
Apa yang terjadi. Apa mereka hanya bercanda? Mana mungkin anak-anakku yang sangat kukasihi dan kucintai bisa melupakanku?!
"Iya! Ini Ibu Amba! Apa karena saking lamanya kalian tak pernah bertemu kalian sampai lupa wajah Ibu?" tanyaku dengan penub harapan kalau mereka hanya bercanda.
"Sejak dulu kami hidup disini, kami tak pernah dirawat di panti asuhan manapun. Jangan bercanda!!" bentak Selly.
Mereka melupakanku. Mereka pada akhirnya hanya akan menjadi alat untuk negara ini. Kalau tujuan hidup mereka hanya untuk menjadi alat dan melupakan kenangan manis di hidupnya, bukannya lebih baik mereka mati dan memulai hidup yang baru?
*****
~Couria
Sebelum Lia benar-benar dilukai Amba Della, dengan cepat Alice mendorong Lia dan merelakan dirinya sendiri.
Sialan! Kenapa aku malah membeku melihat Alice terluka?!
"Apa kau tahu istimewanya sebuah kehidupan?!! Jika kau ingin mengubah kehidupan seseorang, ubahlah dengan memberi hidup yang lebih baik, bukannya memberi kematian untuk kehidupan yang baru!!" bentak Alice sambil memegangi bahu kirinya yang tertusuk pisau daging.
"Kalian orang asing mana mungkin mengerti penderitaanku dan anak-anakku!" protes Amba Della sambil mengibaskan pisau daging yang dibawanya agar bersih dari darah.
Dengan penuh rasa kesal, aku segera berlari dan menyiapkan serangan kepada Amba Della. Dengan cepat ia menghindar dan menahan pedangku.
"Jangan menghalangiku!!" bentak Amba Della yang mulai kewalahan menahan pedangku.
"Setidaknya jelaskan dulu alasanmu membunuh mereka!" bentakku lalu berhenti menyerang Amba Della.
Amba Della pun menghentikan serangannya dan menjatuhkan kedua bilah pisau daging yang dibawanya ke tanah.
"Aku berharap anak-anakku menjadi orang kuat dan hebat, yang akan terus mengingat jasa dari Ibunya. Memang benar akhirnya mereka menjadi orang yang kuat, tapi... seluruh kenangan manisnya dengan satu-satunya Ibu mereka ini dihapus! Padahal aku sangat menyayangi dan mencintai mereka semua. Namun aku hanya dimanfaatkan sebagai tangga untuk pergi ke tempat yang jauh, tanpa pernah mengingat tangga yang pernah digunakannya. " jelas Amba Della lalu matanya terbanjiri dengan air mata.
Kalau dipikir-pikir, ia adalah salah seorang sosok Ibu yang patut dibanggakan. Namun, ia juga salah dalam memilih sebuah jalan. Ia telah memilih jalan yang berlawanan yang tidak seharusnya dilaluinya. Sedang aku hanya seorang pengecut yang hanya berjalan ditempat dan tak tahu harus memilih jalan yang harus kulalui.
"Ibu sudah cerita dengan Lia, tapi Ibu juga salah besar! Lia minta Ibu dan anak-anak lainnya untuk membebaskan diri dari panti asuhan dan berjuang hidup bersama-sama, bukannya mati dan memulai hidup yang sama sekali tak dapat kita tentukan!!" bentak Lia sambil menangis.
"Kalau kau merasa hidup anak-anakmu itu sudah rusak, toh hidupmu juga jauh lebih rusak lagi?! Dan kau malah mengakhiri hidup anak-anakmu yang rusak?! Bagaimana dengan hidupmu yang jauh lebih rusak ini?! Apa perlu diakhiri juga?! " tanya Aria tanpa berpikir terlebih dahulu.
Amba Della lalu menatap Aria dengan tatapan hampa.
"Aku tahu itu, karena itulsh aku berusaha sesegera mungkin mengakhiri kutukan anak-anak di dunia ini dan mengakhiri kutukanku. Aku tak bisa mati sebelum aku membunuh anak-anak yang menderita" jelas Amba Della sambil kembali mengambil bilah pisaunya yang terjatuh di tanah tadi.
Kalau Amba Della sudah sebodoh dan seburuk itu, tak ada cara lain selain membunuhnya. Saat aku melihatnya dengan mata kiriku, aku menyadari kalau lebih dari lima ribu nyawa anak-anak sudah berakhir di tangannya. Ia memang, harus mati.
Tanpa sadar tanganku sudah mengangkat pedang yang sedari tadi hanya menggores angin, dan sudah sangat haus akan darah.
Di sisi lain aku berkata kalau seorang Ibu seperti Amba Della harus diizinkan hidup, tapi diriku yang lain berkata kalau satu nyawa harus dimusnahkan demi seribu nyawa lainnya.
Dengan perasaan yang tercampur aduk itu, aku menyiapkan sebuah serangan yang mematikan. Kekuatan yang dipendam puluhan tahun oleh pedang peninggalan kakekku ini.
"Kau harus mati, kau tak pantas hidup lagi. Anak-anak itu harus tetap hidup tanpa memikirkan keegoisanmu itu. " ucapku sambil mengangkat lebih tinggi bilah pedangku itu.
"Apa kau tak mengerti perasaan seorang Ibu?! " tanya Amba Della sambil menyiapkan serangannya.
"Satu nyawa untuk seribu!! " bentakku sambil meneteskan satu dua tetes air mata.
Lalu bilah pedangku dilimpahi kekuatan tiada batas.
"SAMIKSAKA!!! "
Pedangku yang bernama "Samiksaka" menebas Amba Della dari jarak beberapa meter dengan kekuatan yang cukup besar yang membuat tanah di sekitar jarak serangannya retak.
Di sisi lain aku merasa sanhat lega, namun pada sisi lainnya aku menjadi sangat menderita karena aku harus merelakan nyawa seorang Ibu.
Amba Della mengalami luka tebasan yang sangat besar pada dada dan perutnya. Darah dengan warna merah pekat bercucuran dari luka tebasannya. Badannya jatuh tersungkur ke tanah.
"Inilah akhir bagi pendosa sepertiku" ucap Amba Della dengan suara yang tipis dan serak.
"Aku tak pernah tahu aku harus berjalan kemana, tapi kau membuka jalanku, nak! " ucap Amba Della padaku.
Aku menggeleng kencang. Mana mungkin?! Mana mungkin aku bisa memberi jalan pada orang kalau aku sendiri saja tak tahu jalan yang seharusnya kutempuh?!
"Dari dulu, aku tak tahu, harus pergi kemana. " ucap Amba Della.
*****
~Amba Della
Sejak dulu, aku tak pernah tahu kemana seharusnya aku pergi.
Aku tak tahu asal-usulku dan siapa yang merawatku, dan aku malah langsung diserahkan tugas sebagai seorang Ibu pengasuh di panti asuhan.
Orang-orang bilang kalau, "menghidupi anak-anak yang tak tahu harus kemana akan membuatmu menjadi sangat bahagia. Bayangkanlah saat anak-anakmu berdiri sebagai orang yang hebat dan mengingat jasa-jasamu! "
Kata-kata yang sangat manis. Aku sangat senang kalau aku dapat membuat orang-orang sukses karena hasil dari pekerjaanku, dan mereka yang sudah sukses akan mengingat jasa-jasaku. Memang sedikit egois, tapi itulah kebahagiaan dan kedamaian bagiku, dimana aku bisa membuat jalan untuk orang lain.
Tapi aku tak boleh lagi mendengarkan kata-kata manis itu lagi, tak semua orang mau berkata jujur. Mereka yang mengatakan dan menggiurkan pekerjaan sebagai Ibu panti asuhan padaku adalah pengkhianat!
Saat aku melihat anakku berdiri dengan gagah dan dengan rasa percaya diri yang tinggi, mereka malah sama sekali tak menganggapku sebagai salah satu penuntun mereka.
Jangankan dianggap, diingat saja tidak. Bagaikan aku tak pernah ada di dunia mereka sama sekali, padahal kasih sayang dan pengorbanan sudah kuserahkan sebanyak-banyaknya pada mereka, tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun.
Jika hidupku dan anak-anak ku pada akhirnya sekejam itu, kenapa tidak berakhir saja?!
Aku melakukannya tanpa berpikir. Apa itu merupakan jalan yang benar? Apa memang itu jalan satu-satunya?
Akhirnya aku baru menyadarinya saat ini. Ini salah, aku memilih jalan yang seharusnya aku tutup sejak dulu.
Aku memang sampah bagi dunia ini. Memang dari dulu seharusnya aku tak pernah mengharap menjadi pahlawan. Aku hanya egois, aku hanya ingin dipuji.
Orang sepertiku, patut untuk mati.
Dan aku sangat bersyukur karena aku mati dengan terhormat. Kupikir, aku akan mati dengan tubuh yang remuk bagai onggokan daging dan dimakan puluhan belatung, hingga tak ada satupun jejakku di dunia ini.
Walau aku tak mengenal sosok bocah yang membunuhku itu, tapi aku sangat berterima kasih. Orang itu pasti memiliki hati yang kuat nan tangguh, aku yakin itu.
*****
~Couria
Setelah mengatakan kata "terima kasih," Amba Della menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Ia pergi ke alam sana dengan sebuah kepuasan, mungkin ia sudah mengharapkan kematian sejak dulu.
Tapi apa ia pergi dengan membawa kesan kalau aku adalah orang yang sangat kuat sampai-sampai mampu membunuh seorang Ibu sepertinya?!
Jika memang iya, berarti tanganku ini penuh dengan dosa. Apa yang kulakukan?! Kenapa aku malah menodai tanganku?!
Tapi disisi lain, aku malah merasa bangga, aku tlah melenyapkan sebuah nyawa untuk ribuan nyawa lainnya.
Entah sejak kapan diriku yang sangat berlawanan dengan diriku sendiri ini muncul.
Tiba-tiba sosok gelap diriku mengajakku ke sebuah tempat yang hampa. Entahlah. Ini mungkin mimpi atau dunia bawah sadarku.
"Kenapa kau membawaku kemari?! " tanyaku pada sosok diriku yang lain itu sambil menghempas tangannya yang sedang memegangi pergelangan tanganku.
"Kau sangat bodoh ya? Kau mambg pintar, tapi kau bodoh juga. Kau adalah orang paling naif yang pernah kutahu! " ucap diriku yang lain sambil melempar senyumnya yang kelam.
Aku merasa sangat dekat dengannya, tapi ialah sosok yang paling kubenci. Aku mengenalnya, tapi ialah sosok yang tak pernah kutahu wujudnya. Ia sosok yang paling kubenci dan paling menakutkan bagiku.
"Saking naifnya, dirimu sampai menjadi orang terbodoh yang kutahu. Memusnahkan satu nyawa untuk ribuan nyawa saja kau susah! Kau tak akan bisa hidup jika seperti ini terus! " protes diriku yang lain.
"Tutup mulutmu! Apa yang kau tahu dariku?! " tanyaku sambil berusaha memukul sosok diriku yang lain itu, tapi tanganku selalu membeku saat akan memukulnya.
"Apa yang kutahu?! Tentu aku tahu segala tentangmu! Dan karena itulah aku berani membencimu! Jadilah sepertiku Couria!! " pinta diriku yang lain sambil mengelus lembut pipiku.
"Sejak kau lahir, aku ikut tercipta denganmu! Kaulah diriku, diriku adalah kau! Sadarilah kalau kau sedang membuatku dan dirimu sendiri tersiksa! Kalau memang harus membunuh, maka lakukanlah tanpa ragu sedikutpun!! " bentak diriku yang lain lalu menyatu dengan diriku.
*****
Aku terbangun.
Di depanku ada Alice, Aria, Carrie, dan Paman Arrie.
"Kau baik-baik saja Couria? " tanya Alice dengan sangat khawatir.
"Ya" jawabku singkat dan berdiri.
Ternyata aku jatuh pingsan setelah melakukan serangan tadi dan sialnya aku dipertemukan dengan sosok diriku yang lain.
"Baiklah, karena kau sudah bangun, kita pulang saja sekarang!! " pinta Aria lalu masuk ke mobil Paman Arrie.
"Sudah berapa lama aku tertidur? " tanyaku pada Paman Arrie.
"Sudah agak lama. Kau baik-baik saja kan sekarang? " tanya Paman Arrie sambil menyentuh dahiku.
Aku hanya mengangguk pelan. Kerongkonganku cukup sakit. Semua tubuhku terasa lemas dan panas. Sial! Mungkin aku demam lagi.
"Baiklah, kau bisa naik ke mobil sendiri kan? Meski ringan, aku malas saja menggendongmu!! " ucap Paman Arrie lalu nyengir.
"Tentu saja bisa! " ucapku lalu berjalan dengan perlahan ke mobil. Kepalaku terasa sangat pusing hingga semua terasa sedang berputar.
"Couria jangan memaksakan diri lagi!! " pinta Alice padaku saat baru duduk di jok penumpang di belakangku.
Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk pelan.
Paman Arrie menghidupkan mesin mobil dan menancap gas.
Mobil mekaju dengan kecepatan normal. Mungkin Paman Arrie takut kalau sampai aku makin pusing dan akhirnya mabuk perjalanan.
Baru beberapa menit saja, kakiku tiba-tiba kesemutan. Sial!
Kalau dipikir-pikir, siapa yang akan merawatku di rumah nanti? Bibi Addle sakit, yang lain sibuk, Alice masih belum bisa merawat orang sakit. Mungkin aku memang harus merawat diri sendiri.
"Aria! Karena kau sangat ahli dalam bidang fisik manusia, kau yang akan merawat Couria di rumahnya, ya?! " pinta Paman Arrie.
Saking terkejutnya, Aria sampai hampir melompat dari jok yang didudukinya.
"Kenapa harus aku?! Aku kan memiliki banyak kesibukan?! Lagipula Couria adalah rivalku!! Bukannya lucu kalau aku merawat rivalku?! " tanya Aria sambil memukul jok yang kududuki dari belakang. Guncangan yang dibuatnya membuatku sedikit pusing.
"Berhenti memukul joknya! Kepalaku menjadi pusing!! " protesku dengan suara yang serak.
Paman Arrie malah tertawa, apa yang lucu coba?!
"Sudahlah kalian berdua. Apa kau mau kuhukum di sekolah, Aria?! " tanya Paman Arrie sambil memasang senyum sinisnya pada Aria.
"Baiklah! Aku akan diam!! " ucap Aria lalu mendengus sebal dan kembali duduk dengan tenang.
Meski Aria adalah orang yang membuatku sangat kesal, pertengkaranku dengannya dapat membuatku sedikit melupakan diriku yang lain yang sangat mengganggu kehidupanku.
*****
~Ozie
Siapa bialng aliansi negara baru sudah tumbang?! Lihat saja nanti! Aku sebagai ketua dari aliansi negara baru akan memimpin dengan baik timku dan akan membuat negara baru yang lebih baik!
Kami mau tak mau membunuh beberapa orang yang melawan dan tak setuju dengan negara baru yang akan aku dan tim aliansi negara baru buat. Lalu akan kubuat kedamaian versi kami.
Lihat saja nanti! Negara Bell baru pasti akan lebih baik!!