
(PERHATIAN!!!: SELAMA 3 BAB KE DEPAN, THE GARDEN OF LIES AKAN BERISI MASA LALU ARIA DAN SUDUT PANDANG DI ALIHKAN KE ARIA)
*****
Aku sangat kecil dan bodoh saat itu. Aku tak tahu apapun. Bahkan aku tak tahu kalau hidupku sangat keras dan keji.
*****
Gallei, Januari 1959
"Aria! Berhenti bermain! Ayo makan!" perintah Ibu padaku.
Saat itu usiaku masih tiga tahun. Wajar kalau keseharianku adalah bermain.
Saat itu aku main tanah liat. Aku membasahi tanah liatnya dengan air. Lalu kubuat menjadi beberapa bentuk. Ada bentuk burung, kucing, dan lainnya.
Karena Ibu memanggilku, aku segera pergi ke dapur, sambil membawa sebuah patung kucing yang kubuat dari tanah liat.
Aku datang ke dapur dengan tubuh yang penuh dengan tanah liat. Mulai dari ujung rambut hingga ujjung kaki, semua penuh tanah liat. Baju dan celanaku juga penuh dengan tanah liat.
Ibu terkejut melihatku. Ia langsung memasang wajah sebal sambil memegang kedua pinggangnya.
"Dekil sekali! Mandi sana!!" perintah Ibuku.
Aku lalu memberikan Ibu patung kucing yang kubuat tadi, sambil memasang wajah tersenyum polos.
"Apa itu?" tanya Ibu sambil melihat patung kucingku.
"Kucing!" jawabku dengan penuh semangat.
Wajar saja Ibuku keheranan saat itu. Patung yang kubuat sama sekali tak terbentuk, hanya aku yang menganggapnya bentuk kucing.
Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah! Mandi sana!!" perintah Ibu.
Aku tertawa dan segera berlari ke kamar mandi yang ada di luar.
Di dalam kamar mandi, ada sebuah pancoran. Aku segera melepas bajuku dan menaruhnya pada sebuah ember, lalu menghidupkan keran pancoran itu.
Aku mengarahkan mulutku pas pada tempat air dari pancoran turun. Aku segera membuka mulutku sambil mengoceh.
"Wuibui adua suwatu pwapwa adwa swatu!" ucapku saat air masuk dalam mulutku. Sebenarnya aku bilang "Ibu ada satu Papa ada satu."
Lalu aku berkumur dengan air pancoran, dan membuang air di mulutku. Air di lantai kamar mandi sudah tergenang, aku melompat-lompat kegirangan.
Air di lantai itu berbunyi gemericik saat aku melompat-lompat.
Asik sekali aku bermain air saat itu. Tiba-tiba Ibu memanggilku.
"Cepat mandinya Aria!"
"Iya bu!" sahutku.
Aku segera mematikan keran air mancur dan mengambil sebatang sabun dan menggosokkannya ke bandanku. Aku ini termasuk orang yang berkecukupan. Banyak orang di luar sana yang hanya bisa mandi di sungai dan jarang-jarang bisa beli sabun.
Aku kembali menghidupkan keran air mancur dan membasuh badanku.
Segarnya air membuatku tak tahan lagi. Akhirnya aku main air lagi sampai lupa waktu.
"Aria!! Cepatlah!!" bentak Ibuku dari luar.
Aku mendengus sebal. Padahal sedang seru-serunya. Aku pun mempercepat mandiku, dan langsung membasuh badanku dengan handuk.
Saat aku membuka pintu kamar mandi, Ibu sudah berdiri di depan kamar mandi dengan tatapan galak.
"Cepatlah!!!" bentak Ibu. Aku langsung tertawa dan segera pergi ke kamarku. Diam-diam Ibu menatapku dengan tersenyum dan menggelengkan kepala.
Aku segera memakai pakaianku. Kalau tak segera, Ibu bisa marah. Kalau sampai marah akan menjadi sangat bahaya. Ibu bisa saja memukuliku. Tapi, ya... memang aku yang nakal.
Selesai menggunakan pakaian, aku segera pergi ke tempat menjemur pakaian dan menjemur handukku, lalu pergi ke dapur.
Sesampaiku di dapur, aku mendapati pancake di meja. Tentunya aku sangat senang! Habis aku sudah sangat lapar.
Tak lama kemudian Ibu datang.
"Cuci tangan dulu!" perintah Ibu.
"Iya bu..." ucapku dengan nada mengeluh sambil pergi ke keran air.
Aku menghidupkan keran air, lalu membasuh tanganku dengan air dan sabun. Selesai mencuci tangan, aku lalu segera berlari ke meja.
Aku segera mengambil piring, tiga buah pancake dan menyiramnya dengan madu. Sentuhan terakhir, sepotong keju di atas pancake.
Aku segera duduk pada kursi kayu dan menikmati pancake itu.
Beberapa saat kemudian Ayah datang ke dapur. Seperti biasa Ia tak peduli dengan apapun dan begitu saja mengambil sarapan, bahkan Ia tak mengucapkan sepatah kata pun pada istri dan anaknya.
Setelah mengambil sepiring pancake, Ayah pergi begitu saja dari dapur. Ibu menundukkan kepalanya sambil memotong sayuran. Kelihatannya Ibu akan menangis.
"Ibu kenapa?" tanyaku pada Ibu.
Ibu menoleh kearahku sambil mengusap matanya.
"Tak kenapa-napa Aria! Sudah! Makan saja!" perintah Ibu lalu kembali memotong sayur. Aku mengangguk dan kembali memakan pancakeku.
Tiba-tiba saja Ibu menghentikan kegiatannya. Aku menoleh ke Ibu. Ternyata beberapa tetes air mata turun dari matanya.
"Aria. Jadilah.... wanita yang kuat! Kau anak semata wayang Ibu! Kamu wanita! Wanita adalah sampah di mata banyak orang. Berjanjilah Aria! Jadilah wanita kuat!!" ucap Ibu sambil menangis.
Aku hanya mengangguk. Aku tak tahu apa yang Ibu maksud. Tapi, saat ini, bagiku, itu adalah pesan yang sangat sarat akan makna. Akan selalu kuingat.
*****
Malam ini hujan sangat lebat. Aku segera pergi ke kamar tidur, sebelum aku dimarahi Ibu.
Tapi Ibu sendiri masih di ruang tamu. Entahlah. Mungkin Ia sedang melakukan hal yang penting.
Aku berusaha memejamkan mataku. Tapi petir datang silih berganti. Aku takut. Aku menarik selimutku lebih kencang.
Tiba-tiba aku mendengar keributan di ruang tamu. Aku segera bangun dari kasurku dan mendongak ke arah ruang tamu.
Ternyata Ayah sedang menyiksa Ibuku. Ayah memukul-mukul kepala Ibuku dengan kayu.
"Sialan! ********! Mati kau! Apalah gunanya kau! induk ****!!" bentak Ayah sambil memukul Ibu.
Ibu hanya bisa tertunduk dan menangis. Bahkan kepala Ibu sampai berdarah. Aku sangat sebal. Apa yang Ayah mau?! Tapi aku malah takut mendekat, dan tetap menontoni kejadian ini.
"Ayah membuangku karena menikahi induk **** sepertimu!! Sial! Kenapa aku bisa mencintai induk ****?! Kau hanya bisa melahirkan **** baru! Dan kalian berdua adalah sampah!! Wanita adalah sampah-"
"Jangan mengatai seorang wanita sampah!!" bentak Ibu saat Ayah mengatakan kalau wanita adalah sampah. Ibu lalu menampar wajah Ayah.
"Ternyata kau dan Ayah sama saja! Lebih baik aku pulang ke Grace bersama Aria! Daripada aku tinggal bersama ******** sepertimu!!" teriak Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
Grace adalah kampung halaman Ibu, rumah Ibu saat belum menikah. Dan Ibu akan mengajakku kesana? Aku masih tak mengerti maksud Ibu.
Ibu memanggil sebuah panci dan memukulkannya ke kepala Ayah, lalu Ibu pun menangis.
Aku ikut menangis saat itu. Padahal aku tak mengerti apapun. Hanya saja, aku sangat sedih bila Ibuku terluka.
Aku menangis sampai berteriak. Ibu dan Ayah menyadari keberadaanku.
Tiba-tiba Ayah ada di depanku.
"****! Kau dan indukmu itu hanya membuat hidupku hancur!" ucap Ayah padaku dengan wajah kesal.
Aku berteriak ketakutan. Tapi, aku pikir, takut adalah hal yang sama sekali tak berguna. Aku segera menendang perut Ayah dengan kaki kecilku.
"Ayah jahat! Aku dan Ibu bukan ****! Aku dan Ibu wanita kuat!!" bentakku.
Ayah mendelik padaku lalu mencekikku. Sangat sakit, aku tak dapat bernafas.
Ibu lalu berlari ke arah Ayah dan memukul-mukul Ayah. Tapi Ayah sama sekali tak peduli.
"Lepaskan! Lepaskan anakku!! Sialan!!" bentak Ibuku.
Aku nyaris pingsan saat itu. Tapi Ayah melepaskan cekikannya dan malah menendang Ibu.
Aku lamat-lamat melihat Ibu yang berusaha bangun setelah ditendang Ayah. Ibu lalu mendekatiku dan memelukku. Malamnya dingin berubah menjadi hangat karena pelukan Ibu.
"Aria. Berjanjilah! Jadilah wanita kuat!" ucap Ibu dengan suara yang bergetar dan masih memelukku.
Aku mengangguk pelan, dan ikut menangis.
Aku tak akan pernah melupakan malam itu. Sialan Ayah! Ayah adalah seorang pengangguran, Ibulah yang bekerja demi kehidupanku dan Ayah. Tapi inikah perlakuan Ayah?! Tentu aku tak akan melupakan penghinaannya terhadap kami!
*****
Pagi datang menyambut hari yang baru. Aku bangun dari ranjangku dan pergi ke dapur mencari Ibu yang sedang memasak.
Ibu menolehku dan melempar senyum. Aku masih ketakutan dan sedih, karena kejadian kemarin. Ibu hebat. Ia tetap tegar, seolah-olah tak terjadi apapun.
Karena aku merasa ingin kuat. Aku memutuskan untuk minta izin pada Ibu untuk berguru dengan Pak Hector, mantan tentara.
"Bu, boleh tidak aku belajar di Pak Hector?" tanyaku pelan.
Ibu tampak terkejut dengan perkataanku, dan tertawa kecil.
"Kamu masih kecil nak!" protes Ibu.
Aku mendengus sebal dan memalingkan wajah dari Ibu.
"Aria kan wanita kuat! Mau Aria baru lahir pun Aria tetap akan berlatih!" protesku.
Ibu mulai kebingungan. Anaknya yang masih tiga tahun ini memang sangat konyol.
"Kalo Ibu tak mau! Baiklah! Aria ke sana sendiri!!" protesku.
Ibu makin keningungan. Dan akhirnya menghela nafas.
"Baiklah. Tapi kalau tak bisa jangan memaksakan diri ya..." ucap Ibu menasihatiku.
Aku melompat kegirangan. Akhirnya Ibu mengizinkanku berlatih bela diri. Sudah lama aku menantikannya.
"Nah, sekarang makan dulu! Ada sandwich hari ini!" perintah Ibuku.
Aku mengangguk dan pergi ke keran air untuk mencuci tangan.
Aku berusaha melupakan malam yang sangat gelap dan dingin itu. Tapi aku tak pernah melupakannya. Semua itu selalu terbayang di otakku. Betapa sulitnya melupakan dan menghapus nama Ayah dari otakku. Apa lagi julukan **** yang diberikannya. Itu akan terus membuatku marah dan menjadikannya dasar memulai hidup yang baru.
Aku segera menyambar piring dan menaruh sepotong roti sandwich pada piring itu, lalu memakannya dengan nikmat.
Ibu tampak senang melihat anaknya yang sudah ceria lagi. Lalu Ibu ikut mengambil piring, dan menaruhnya di piring. Lalu memakannya.
Kami makan bersama dengan bahagia, karena tak ada Ayah yang dapat merisaukan Ibu. Aku berjanji di dalam hatiku. Aku akan membuat Ibu bangga pada kekuatanku nanti!
*****
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku diantar Ibu ke rumah Pak Hector untuk berlatih bela diri.
Sampai disitu, aku dan Ibu melihat Pak Hector sedang melatih anak tetangga bela diri. Aku sangat takjub melihat gerakan Pak Hector. Sangat lincah!
Lalu tak lama, Pak Hector melihatku dan Ibu sedang berdiri di depan rumahnya.
"Wah bu! Ada apa?" tanya Pak Hector pada Ibu.
"Oh ini, anak saya ingin berlatih bela diri di sini, apa boleh?" tanya Ibu dengan nada sopan.
Pak Hector tampak kebingungan.
"Yang kecil ini?" tanya Pak Hector sambil menoleh kearahku.
Ibu lalu menjawab Pak Hector dengan mengangguk.
"Anak ini masih terlalu kecil! Takutnya nanti kenapa-napa!" ucap Pak Hector.
Aku mendengus sebal dan mendelik ke arah Pak Hector.
"Tak apa! Aria anak kuat!!!" teriakku, dengan harapan tetap dapat diterima berlatih di sini.
Pak Hector menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya aku harus menyiapkan cara mengajar murid yang balita..." ucap Pak Hector.
"Maaf sekali Tuan Hector... tapi, mau bagaimana lagi! Anak saya ngotot minta belajar bela diri!" ucap Ibu sambil menolehku.
Pak Hector lalu menjongkok di depanku.
"Kau akan serius kan?" tanya Pak Hector padaku.
Aku spontan menjawab, "tentu!!"
Aku lalu berjalan masuk ke rumah Pak Hector bersama Pak Hector. Ibu melambaikan tangannya padaku, aku juga ikut melambaikan tangan, lalu Ibu pergi pulang.
"Nah nak, siapa namamu tadi?" tanya Pak Hector padaku.
"Aku Aria paman..." ucapku. Pak Hector lalu mengangguk-angguk.
"Baiklah! Mari kita mulai latihan! Tapi, sekarang kau latihan dengan istri paman! Setelah lama kau berlatih, baru kau akan latihan dengan paman!" ucap paman padaku. Aku mengangguk dengan wajah polos.
"Iry! Kesinilah dan ajari anak ini bela diri!" panggil Pak Hector.
Seorang wanita dengan usia tiga puluhan dengan cara berpakaian layaknya orang Bell pada umumnya, dengan baju panjang dan selendang yang terselempang pada lehernya membuat wanita itu terlihat elegan.
"Nak, kau masih umur berapa?" tanya wanita yang katanya namanya Iry itu.
"Ya bibi!" jawabku dengan semangat.
"Pantas paman Hector minta bibi Iry yang mengajarimu nak! Paman Hector tak handal dalam mengurus anak yang masih kecil, apalagi wanita!" ucap bibi Iry padaku.
Aku lalu menoleh ke Pak Hector yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nah, kalau begitu bibi akan memperkenalkan diri sekali lagi! Nama bibi adalah Iry!" jelas bibi Iry padaku.
"Aku Aria!" ucapku dengan semangat. Bibi Iry melempar senyum padaku.
"Kita mulai dengan melatih sikap kuda-kudamu terlebih dahulu ya!" ucap bibi Iry. Aku mengangguk dengan kencang.
Lalu bibi Iry melatih sikap kuda-kudaku, dan hal lainnya yang harus kupelajari dalam bela diri.
Aku berlatih dengan keras selama satu jam. Lalu aku pun sangat kelelahan. Tapi bibi Iry justru menertawakanku.
"Nah, Aria! Kamu cukup cepat mengerti di usiamu yang sangat dini ini! Karena itu, bibi ingin memberimu sesuatu!" ucap bibi Iry sambil mengambil sesuatu di kamarnya.
"Ambilah ini!" ucap bibi Iry sambil memberiku sebuah kalung.
Aku sangat takjub melihat kalung itu. Kalung itu berwarna perak dengan liontin merah berkilau.
"Itu sarana sihir!" bisik bibi Iry pada telingaku.
"Si-hir?" tanyaku dengan wajah yang sangat takjub.
"Ya! Sihir api! Besok, bibi akan mengajarimu cara menggunakannya!" ajak bibi Iry.
"Baik!!" ucapku dengan penuh semangat.
Aku lalu berpamitan dan pulang ke rumah sendirian. Itu bukan perkara sulit. Rumahku sangat dekat dengan rumah Pak Hector, hanya beberapa meter saja.
Saat aku sampai di rumah, aku melihat Ibu sedang duduk di taman sambil menangis.
Aku lalu segera berlari ke arah Ibu.
"Ibu kenapa?" tanyku.
Ibu lalu menoleh ke arahku lalu memelukku.
"Tenang saja! Kita pasti akan lepas dari belenggu Ayah!" ucap Ibu sambil memelukku dan mengelus kepalaku.
Aku tak mengerti maksud Ibu, tapi aku turut menangis.
Ternyata hari ini adalah hari terakhirku untuk hidup tenang dengan Ibuku.