The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Wanita kuat itu pergi



Bell, Selasa, 24 Februari 1970


Hari ini, Bibi Addle akan dikeremasi setelah beberapa rangkaian ritual. Dan hari ini juga hari terakhir aku bisa melihatnya. Karena setelah ini, aku hanya dapat melihat tulang-belulangnya saja.


Entah dimana aku bisa menemukan sosok Ibu sepertimu, Bibi.


*****


Bibi Addle adalah wanita sekuat baja, namun hatinya selembut sutra. Ia menyayangiku tak sebatas karena perintah terakhir Ibu, melainkan hatinyalah yang tulus mengakui bahwa aku merupakan salah satu anaknya.


Ia mengalami kepedihan yang sama sepertiku. Ia kehilangan seluruh keluarganya. Namun, ia bilang, kalau Ibulah yang membuatnya tetap bisa tersenyum hingga akhir hayatnya.


Kesendirian adalah nasibnya. Namun, ia tak pernah merasa sendirian dan tetap melempar senyumnya kepada siapapun, meski orang yang diberinya senyum adalah orang yang membuatnya selalu jatuh ke dalam kegelapan.


Meski ia adalah salah satu orang biasa dari sekian banyak orang yang menyerupainya, namun ia bagaikan bunga yang kembang diantara bunga-bunga yang masih kuncup.


Sambil menutupi seluruh kepedihannya, Weinhard dan beberapa orang lainnya menggosong peti mati Bibi Addle. Aku mengiringi di belakang bersama rekan-rekan Bibi Addle yang lain, meski rekannya hanya pekerja-pekerja di rumahku.


Setelah berjalan beberapa kilometer dari rumah, kami berhenti pada tempat pengkremasian yang sebenarnya diperuntukkan untuk keluarga Himala. Namun, aku sudah menganggap Bibi Addle sebagai keluargaku, jadi, aku tak perlu memikirkan kasta atau apapun itu.


Di tempat pengkremasian atau bisa disebut setra, sudah ada pendeta pengiring upacara, Aria, Paman Arrie, dan Carrie yang sudah datang duluan dengan kendaraan mereka masing-masing.


Peti mati Bibi Addle diturunkan di samping tempat pembakaran. Lalu jasad Bibi Addle yang pucat pasi tanpa ada tanda kehidupan, dikeluarkan dari peti tersebut, lalu ditaruh di tempat pembakaran mayat. Meski yang didepanku kini adalah badan kasar, namun senyuman akhirnya yang sangat ikhlas terlukis di wajah Bibi Addle. Seakan-akan ia berkata "terima kasih. "


"Silahkan taruh benda-benda milik orang yang meninggal di atas jasadnya serta persembahan lainnya. " pinta pendeta pelaksana upacara pada kami semua yang berada di setra.


Dengan rasa penuh keterpaksaan, aku berjalan ke arah jasad Bibi Addle sambil membawa benda-benda Bibi Addle, seperti bajunya, sepatunya, dan riasan rambutnya. Lalu Kak Sylya membawakan makanan kesukaan Bibi Addle, yakni tumis sayur.


Lalu aku menaruh benda-benda milik Bibi Addle di atas dada Bibi Addle. Lalu Kak Sylya menaruh tumis sayur di samping jasad Bibi Addle.


"Silahkan semua menjauh dan mencari tempat yang teduh setelah jasad didoakan, karena saya akan memulai proses kremasi!" pinta orang yang akan membakar jasad Bibi Addle.


Setelah kami semua mendoakan Bibi Addle, sesuai aba-aba, kami pun menjauh dan mencari tempat untuk duduk.


Namun, mana mungkin aku setega itu membiarkan Bibi Addle dibakar?! Setengah dariku mungkin sudah percaya kalau Bibi Addle sudah meninggal. Namun, setengah dariku yang lain mengatakan kalau Bibi Addle masih hidup. Aku tak yakin dengan semua bisikan yang menghantuiku. Lalu, apa yang bisa aku lakukan?!


Tepat saat orang yang bertugas membakar jasad akan memulai membakar jasad Bibi Addle, aku segera berlari dan menghentikannya.


"BIBI ADDLE MASIH HIDUP!! JANGAN MEMBAKARNYA!! IA AKAN KEPANASAAN!!"


Beberapa orang memegangiku dan menahan gerakanku. Sial! Bahkan Weinhard?! Mereka sudah tak waras!! Siapa yang terima kalau Bibi Addle benar-benar meninggal?!


"Tuan Muda! Kumohon! Inilah kenyataannya! Saya sendiri juga tak mau percaya! Tapi, inilah kenyataannya!!" bentak Weinhard.


"Iya Tuan Muda! Percayalah! Bibi Addle akan sedih bila melihat anda terus begini!!" bujuk Kak Sylya setelah Weinhard membentakku.


"Ayo Couria! Kalau kau tak tega melihatnya, maka diamlah dirumah. Biar paman yang antar. " bujuk Paman Arrie.


Aku tak peduli dengan mereka dan tetap melepaskan diri dari mereka. Alice yang tadinya hanya duduk diam kini mendekatiku.


"Couria. Bibi Addle, memang sudah meninggal! Jika kau tak percaya maka lihatlah arwahnya yang terus meminta maaf di atas sana! Ia sendiri sangat sedih karena harus meninggalkan kita! Ia ingin kita tenang saat upacara ini berlangsung! Sebelum, ia, beanr-benar, melupakan kita. " bentak Alice lalu menangis.


Mungkin bila aku membuka mata kiriku, aku akan melihat hal yang sama dengan Alice. Tapi, bagaimana pun juga, hatiku akan terus berkata kalau Bibi Addle masih hidup.


Ya. Mungkin aku terlalu egois. Sifatku yang sembrono ini justru membuat Bibi Addle sedih.


Setelah aku memakluminya dengan penuh keterpaksaan. Diriku yang lain berbisik padaku.


"Kenapa? Kau sudah menyerah?!"


Lalu diriku yang lain bagai menarikku dan membuatku tertidur.


*****


"Kenapa kau malah membawaku pergi di detik-detik seperti ini?!" protesku pada COURIA.


Ya, aku menamainya COURIA, ia diriku yang lain. Aku tak dapat mengelak keberadaannya, tapi ialah masalah utama di hidupku. Ia jugalah musuhku. Aku mengenalnya, namun aku tak mengerti maunya. Seharusnya aku mengerti, tapi aku yang tak menyadarinya. Kemungkinan besar, ia adalah keterbalikan dari idealismeku.


"Kenapa?! Bukannya sudah jelas bukan?! Aku benci rasa sabar yang kau miliki!!" ucap COURIA dengan bangganya.


"Oh?! Jadi kaulah yang membuatku tak dapat mengelola emosiku?!" protesku lagi.


Sialan!! Aku memang menyayangi Bibi Addle. Dan rasa sayangku itulah yang ternyata dimanfaatkan COURIA untuk kesenangannya semata.


"Apa salahnya?! Tubuhmu juga milikku! Tapi, kau selalu ingin mengelola tubuh ini sendirian! Sesekali coba beri aku menggunakan tubuh ini!!" pinta COURIA.


"Aku menolaknya! Kau hanya akan merusak hidup kita sendiri! Kau adalah perwujudan keegoisan, kemewahan, dan kaulah penyebab kesengsaraan. Pergilah dari sini segera!!" bentakku lalu mendorong COURIA.


"Kau akan menderita tanpaku! Sudahlah! Bangun saja sana! Sepertinya memang belum waktunya aku melakukan apa yang harus aku lakukan!!" ucap COURIA lalu tertawa dengan liciknya.


Lalu aku dibawanya kembali ke dunia sadar setelah ia membawaku ke dunia bawah sadar.


*****


Aku terbangun di kamarku sendiri. Disampingku, ada Paman Arrie yang tampak senang melihatku yang tersadar.


"Apa kau baik-baik saja Couria?" tanya Paman Arrie dengan nada khawatir.


Aku jadi hilang fokus karena COURIA membawaku ke alam bawah sadar. Jadi aku membutuhkan waktu beberapa lama untuk memproses jawaban untuk pertanyaan Paman Arrie.


"Eh, iya. Aku baik-baik saja. " ucapku dengan suara yang serak.


Sial! Kerongkonganku terasa panas. Bahkan sampai sekaran mataku berkunang-kunang. Setiap COURIA memanggilku, hal ini pasti akan terjadi. Apalagi kalau ia mengambil alih tubuhku. Aku tak dapat membayangkannya sama sekali.


"Duh kamu ini! Kalau orang sedang emosi, biasanya kesehatannya juga memburuk. Lebih baik kau istirahat dan jangan banyak berpikir ya? Apalagi hanya aku yang merawatmu disini. Kalau keadaanmu memburuk, aku jadi susah sendiri!" pinta Paman Arrie lalu tertawa kecil.


Sendirian? Apa upacaranya masih belum selesai? Huh. Inilah jadinya kalau aku dipanggil COURIA. Aku jadi tak tahu sudah berapa lama aku berada di alam bawah sadar.


"Memangnya upacaranya belum selesai?" tanyaku dengan suara yang masih serak.


"Kau sudah pingsan selama satu jaman sih. Upacaranya kan memang lama. " jelas Paman Arrie.


Paman Arrie lalu berdiri dari kursi kayu yang didudukinya tadi.


"Paman mau ke kamar kecil. Kau diam dan istirahatlah!" perintah Paman Arrie.


Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk pelan. Paman Arrie pun berjalan keluar dari kamarku.


*****


Meski keterkaitanku dengan Bibi Addle tak begitu dekat, namun, kematiannya cukup membuat hatiku terguncang kepedihan.


Bagaimana tidak? Ia adalah salah satu sosok wanita kuat yang pantas diperjuangkan. Ia juga terkena dampak tragedi bom Gallei dulu, dan tetap berjuang untuk bertahan hidup.


Ia juga sosok Ibu yang baik, meski ia tak pernah punya anak. Ia merawat Weinhard dan Couria seperti anaknya sendiri.


Dan kini, hak hidupnya sudah dikembalikan kepada Yang Maka Kuasa, dan ia pun tak dapat menolak tali takdirnya.


Dua jam berlalu, jasad Bibi Addle pun sudah dilalap api, seluruhnya. Hanya tulang-belulangnya saja yang tersisa.


Sialnya, Couria malah pingsan dan tak mengikuti upacara ini sampai akhir.


Kami semua yang berada di setra, segera mengambil tulang-belulang Bibi Addle dan menaruhnya pada wadah yang terbuat dari tanah liat, untuk ditumbuk nantinya.


Tulang-belulang Bibi Addle membuktikan kalau Bibi Addle adalah wanita yang kuat. Tulang kaki dan tangannya membuat aku yakin kalau tangan dan kaki Bibi Addle sangat kekar. Jika ia berfokus untuk menjadi tentara atau intelijen, ia pasti adalah sosok yang kuat. Tapi, ia sudah memutuskan untuk setia mengabdi pada Bibi Haeva dan Couria.


Setelah tulang-belulang Bibi Addle dikumpulkan, kami segera menumbuk tulang-tulang tersebut secara bergantian.


Lalu tulang-tulang Bibi Addle yang sudah ditumbuk, dimasukkan ke dalam guci dan dikubur di samping kuburan tulang orang-orang Himala yang sudah tiada.


"Semuanya, silahkan mengucapkan kata-kata terakhir pada orang yang meninggal, sebelum nantinya tulang orang yang meninggal akan kembali di upacarai dan lepaslah hubungan orang yang sudah meninggal dari hal-hal duniawi, termasuk kita semua yang ditinggalkan. " ajak pendeta yang mengiring jalannya upacara.


Kami semua pun mendoakan dan memberi pesan terakhir pada Bibi Addle.


"Semoga Bibi Addle damai disana. Memang, aku tak begitu mengenal Bibi Addle dengan baik, maka dari itu, maafkanlah aku. Maklumi juga Couria yang terlalu tak percaya akan apa yang terjadi dan akhirnya harus istirahat karena sakit. Ia juga pasti mendoakan Bibi Addle dari rumahnya. Sekali lagi, maafkan aku bila aku melakukan kesalahan atau pernah menyakiti Bibi Addle. " ucapku dalam hati.


Setelah mendoakannya kami semua bersiap untuk kembali ke kediaman masing-masing.


*****


Setelah mandi, aku pergi ke ruang tamu untuk memgobrol dengan Ibu Sellya.


Betapa senangnya aku, ternyata Ibu Sellya sudah menyiapkan kue kering untuk kami makan. Aku segera duduk di sofa tepat di samping Ibu Sellya.


"Bagaimana acara tadi?" tanya Ibu Sellya.


"Tidak berjalan dengan baik. Tadi Couria emosi sampai jatuh pingsan. Hmmph! Dari dulu ia memang orang yang merepotkan!!" ucapku dengan nada sebal, lalu mengambil beberapa kue kering di toples.


"Tak boleh bicara seperti itu lho! Kematian adalah perpisahan yang memilukan. Kau sendiri tahu bukan?" tanya Ibu Sellya sambil memasang senyum tipis pada wajahnya.


"Ya ya aku tahu! Tapi aku tak selemah itu menghadapi kematian!!" ucapku lalu melahap kue kering sambil memegangi setoples kue kering yang tadinya ada di meja.


"Kalau aku yang mati, bagaimana reaksimu ya?" tanya Ibu Sellya sambil memasang senyum licik.


Baru kali ini Ibu Sellya bicara yang tidak-tidak. Apa ia hanya bercanda, atau ia memang ingin mengujiku?!


"Kalau Ibu mati, aku akan membunuh jasad Ibu! Lagipula untuk apa Ibu bicara begitu?! Setelah mendengarnya, tanganku hampir saja bersiap menjitak jidat Ibu!!" protesku.


Ibu Sellya lalu tertawa dengan terbahak-bahak.


"Baiklah Aria. Ibu hanya bercanda!" ucap Ibu Sellya setelah berusaha berhenti tertawa.


Sialan! Ternyata benar ia hanya bercanda! Takutnya ia malah diam-diam mengidap suatu penyakit atau sebagainya.


"Ngomong-omong bagaimana proyek homunculusmu? Apa sudah mulai?" tanya Ibu Sellya setelah melahap beberapa buah kue kering.


"Aku baru mendapat dua jenis jasad saja! Memang sialan Kakek tua itu! Masa ia menuntutku untuk membuat homunculus dari hewan namun harus sebagus homunculus yang dibuat dari jasad manusia!" protesku lalu mengambil lima buah kue kering dan memakannya sekaligus.


"Kalau sudah marah, makanmu banyak sekali ya, Aria!" komentar Ibu Sellya lalu tertawa.


Apa salahnya?! Makan kan sangat beguna, apalagi pada masa pertumbuhan seperti diriku saat ini.


"Makan membuatku sehat! Lagipula ada kemungkinan besar bila aku makan yang banyak, maka berat dan tinggi badanku akan bertambah!" ucapku sambil mengambil lima buah kue kering dan memakan kelimanya sekaligus.


"Ya ya, tapi kalau kau kebanyakan makan kue kering, yang ada kau akan batuk. Tinggi dan berat badanmu, biar awet saja!" ucap Ibu Sellya lalu tertawa lagim


Sial! Bukannya mendukungku untuk mendapat tinggi dan berat badan yang ideal, Ibu Sellya malah meledekku!


Tiba-tiba telepon rumah berdering.


"Nah Aria, kau yang angkat ya?" bujuk Ibu Sellya.


Cih! Padahal aku sedang enak-enaknya makan kue kering, malah ada saja orang yang menggangguku!


Aku segera mengangkat telepon itu. Ingin sekali aku berkata, "jangan mengganggu!" tapi mau tak mau aku harus berkata sopan.


"Halo, dengan siapa?" tanyaku pada orang yang menelpon.


"Aku Zein. Waktu sekolah, aku lupa bilang padamu kalau aku beberapa waktu yang lalu telah kehilangan burung elang kesayanganku. Ia sudah mati dan kukubur di dekat rumahku. Bagaimana kalau kau jadikan bahan untuk membuat homunculus saja!" tawar Zein padaku.


Elang! Ya! Elang adalah hewan yang hebat dan kuat! Bila ia sudah terlatih, ia akan setia pada pemiliknya. Dengan menggunakan jasad elang, aku bisa membuat homunculus yang sangat baik!


"Ya! Besok aku akan ke rumahmu! Dimana alamatnya?" tanyaku sambil mengambil sebuah buk dan pena di samping telepon rumah.


"Di jalan Kingdom no. 17. Yang dekat dengan akademi itu!" jelas Zein.


Aku segera mencatat alamat yang diucapkan Zein.


"Baiklah! Terima kasih!" ucapku dengan sangat bersemangat lalu menutup telepon.


"Siapa yang menelpon?" tanya Ibu Sellya.


"Temanku. Ia bilang akan memberiku mayat burung elangnya!" ucapku lalu kembali mengambil setoples kue kering, lalu memakan lima buah kuenya sekaligus.


"Itu berita bagus! Elang adalah hewan yang gagah, tangguh, kuat, dan setia!" ucap Ibu Sellya.


Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk sambil mengunyah kue kering.


*****


~Paisaca


"Wah-wah! Tuan Jackstein! Apa sudah waktunya aku memberi perintah pada fairy untuk bertindak? Couria, orang yang palinh kau benci itu sudah mulai kuat! Namun untunglah kini ia tenggelam dalam kepedihan!" ucapku lalu tertawa.


Tuan Jackstein juga tampak bahagia setelah mendengar kalau Couria sedang menderita.


"Ya, kau boleh menyuruh para fairy untuk bertindak!" ucap Tuan Jackstein lalu tertawa terbahak-bahak.