
~Daisy
Aku selalu yakin bahwa Kerry mencintaiku, jadi aku akan mengalah dengan apapun yang Kerry inginkan dariku.
Kerry memintaku untuk pergi bersamanya ke markas gengnya pada malam hari. Demi cintaku padanya, aku menurutinya. Lagi pula aku sudah tak ada tempat di manapun. Orang tuaku memiliki masalah ekonomi dan mereka selalu bertengkar, sedang aku adalah seorang anak yang tak diharapkan. Aku percaya bahwa tempatku hanya di hati Kerry.
Saat aku masuk ke markas geng Kerry, ada lima laki-laki lain. Tentu saja aku terkejut.
"Mereka adalah sahabatku. Leone, Arthur, Jack, Fendy dan Pitch. Kami akan menikmati tubuhmu, Daisy. Maukah kau melakukannya demi cintaku?" tanya Kerry.
Demi cintanya, aku akan melakukan apapun. Aku mencintai Kerry, dan Kerry mencintaiku. Apapun demi terus bersamanya.
"Ya Kerry, aku bersedia, demi cintamu!"
Semua dari mereka menikmati tubuhku dengan leluasa. Tak hanya menikmati tubuhku, mereka bahkan mengigit dan menggores beberapa bagian tubuhku dengan benda tumpul.
Aku ternodai, tapi aku tak peduli. Aku membiarkan mereka memainkan tubuhku. Demi cinta Kerry untukku.
Semenjak hari itu, tiap hari mereka melakukannya, hal yang sama pada hari itu.
Aku benar-benar menderita, tapi ini demi cinta Kerry. Sampai suatu saat, aku mengalami kehamilan. Saat itu juga Kerry mengkhianatiku, entah kemana hilangnya, Ia pergi ke tempat yang jauh tanpa mengabariku. Ia mengkhianati cintaku. Tapi aku mencintainya, sampai saat ini. Karena itu. Aku harus membunuhnya. Karena aku mencintainya lebih dari siapapun.
*****
Bell, 31 januari 1970
~Couria
"Kriiiing, kriiiiiing"
Telepon rumahku berdering, aku mengangkat telepon perak itu.
"Couria, ini Paman Arrie, maaf mengganggu, padahal sekarang hari libur..." ucap Paman Arrie dari telepon.
"Kenapa?" tanyaku singkat.
"Berkumpulah di sekolah pukul sepuluh. Kemarin, salah satu siswa kelas 9-3 bernama Leone, meninggal di sekolah saat pulang sekolah kemarin. Menurut diagnosa forensik, korban sama sekali tidak memiliki penyakit, segores luka pun tak ada, tak ada tanda-tanda keracunan juga. Namun menurut wali kelas 9-3, korban sering stres, depresi, dan ketakutan. Korban juga sering bolos. Mungkin karena itu Ia meninggal. Karena kasus ini sedikit aneh, aku minta kau datang juga ya..." jelas Paman Arrie padaku.
"Baiklah, aku baru akan sarapan, jam berapa aku harus ke akademi?" tanyaku.
"Usahakan segera ya, ponakan cebol paman......" ucap Paman Arrie sambil tertawa.
"Itu lucu pamam, ponakan cebolmu ini akan segera datang..." ucapku lalu segera menutup telepon.
Aku mendengus sebal dan segera pergi ke ruang makan. Disana sudah ada Alice dan Bibi Addle. Makanan yang ada di meja makan sama saja seperti biasanya, pancake dengan saus madu, semangkuk es krim, secangkir susu, dan buah-buahan.
Aku berdoa lalu makan mulai dari pancake. Aku saat ini menganut agama Hindu. Di Negara Bell, masyarakat sebagian besar beragama kristiani, hindu, dan islam. Sedang sisanya tak menganut agama atau atheis.
Sejatinya keluarga Himala itu menganut agama hindu sejak dulu. Tapi beberapa generasi dari generasi cicitku mulai keluar dari agama atau bisa dibilang sejak saat itu Himala menjadi atheis. Tapi karena Ibuku merupakan umat hindu, aku memilih mengikuti Ibu.
Setelah selesai makan aku memutuskan untuk mengatakan acara mendadak tadi.
"Nah Bibi Addle!" ucapku.
"Kenapa Tuan muda?" tanya Bibi Addle sambil merapikan tumpukan piring.
"Aku akan pergi ke akademi karena ada rapat, aku titip Alice pada Bibi..." pintaku.
"Baiklah, Tuan muda!" ucap Bibi Addle.
"Kau akan pergi?" tanya Alice sambil menatap wajahku.
"Eh?!! I'iya, memang kenapa?" tanyaku.
"Aku ikut! Boleh?" tanya Alice.
"Ah, em..... karena ini urusan yang mendesak....." ucapku sambil berpikir. Bila aku mengajak Alice Ia bisa menjadi kontraversi dan membuat pertanyaan baru bagi orang-orang.
"Kenapa tidak? Tentu saja boleh kan? Itu tak melanggar aturan bangsawan.." ucap Weinhard sambil berjalan mendekati aku dan Alice.
"Weinhard!!" ucapku sebal. Weinhard justru menertawaiku.
"Baiklah! Kau boleh ikut!" ucapku.
"Terima kasih!! Couria memang baik!!!" ucap Alice sambil melompat seperti biasanya kalau sedang ceria.
Padahal rencananya aku akan naik motor sendirian. Sial. Aku jadi harus naik mobil bersama Alice, untuk pertama kalinya.
****
"Hai gadis kecil, siapa namamu?" tanya Paman Arrie pada Alice.
"Alice. Aku kenalan Nyonya Heava..." ucap Alice sambil agak menunduk, menatap muka Pak Arrie diam-diam. Sepertinya Ia baru pernah bertemu orang banyak.
"Oke, apa rapatnya sudah boleh dimulai?" tanya Aria.
"Tentu saja! Ayo kita mulai!" ucap Paman Arrie, lalu semua orang yang mengikuti rapat duduk pada kursi kayu.
"Seperti yang aku katakan ke kalian semua di telepon, seorang siswa bernama Leone, meninggal karena serangan jantung yang disebabkan sters dan depresi berlebihan. Itu wajar untuk orang dewasa, dan cukup aneh untuk anak muda seperti kalian. Kalau hanya karena itu aku tak perlu menggelar rapat seperti ini. Yang aneh adalah, keempat teman dekat korban, Arthur, Jack, Pitch, dan Fendy juga belakangan ini mengalami hal yang sama, sesuai opini dari Pak Youweea, wali kelas 9-3" ucap Paman Arrie sambil menoleh ke arah Pak Youweea yang duduk tak jauh dari Paman Arrie.
"Ya, itu benar. Belum lagi satu diantara keenam anak berandal itu, Kerry, tak pernah datang ke akademi selama dua bulan. Walau mereka adalah siswa yang tak dapat diatur, aku tak ingin kehilangan siswa lagi!" ucap Pak Youweea sambil menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa mereka punya masalah dengan sesuatu? Atau salah satu dari mereka pernah mengatakan sesuatu?" tanyaku pada Pak Youweea. Aku tak ragu bertanya meski Pak Youweea sedang sedih saat ini.
"Ya, saat aku sedang mengajar matematika, karena aku juga seorang guru matematika, tiba-tiba, Leone berteriak, "aku tak ingin meninggal! Sialan! Jangan ganggu aku!" Lalu Ia berlari keluar dari kelas. Menurut diagnosa forensik, mereka pernah menggunakan obat-obatan narkotika, jadi masih ada kemungkinan penyebab kematian Leone dan penyebab depresinya juga karena narkoba" jelas Pak Youweea sambil menatapku pelan-pelan.
"Lalu bagaimana dengan keempat temannya yang lain?" tanya Aria.
"Aku memutuskan untuk membawa mereka ke badan kepolisian agar mereka dapat direhabilitas, tapi Kerry, aku tak tahu. Sudah tiga bulan Ia tak ada kabar, aku menanyakan Ayahnya, sial, Ia juga tak tahu apa. Pasalnya Ayahnya juga memiliki sifat brandal dan pemabuk. Padahal dulu mereka adalah siswa yang tekun, tapi... Ah!! Sialan!!" teriak Pak Youweea lalu Ia tak dapat menahan tangisnya.
"Apa Leone sudah di kubur atau kremasi?" tanyaku sambil berdiri dari kursi kayu yang kududuki tadi.
"Kata orang tuanya Ia akan dikremasi tiga hari lagi" ucap Paman Arrie.
"Baguslah! Aku akan kesana!" ucapku.
"Tunggu, Kak Couria! Apa baik memperiksa mayat yang akan segera di upacarai?" tanya Carrie dengan nada ketakutan.
"Tentu boleh! Kenapa tidak?! Kalau Ia mati dengan kasus yang belum selesai, bukannya arwahnya akan menangis dan meminta bantuan kepada kita?" tanyaku sambil memasang wajah tersenyum ke Carrie. Carrie malah ketakutan, wajahnya penuh keringat dingin.
"Bagus Couria! Aria! Kau ikutlah dengan Couria!!" suruh Paman Arrie.
"Ke' kenapa aku?!!" tanya Aria dengan nada tak terima.
"Kau suka mayat, bukan?" tanya Paman Arrie.
"Nah Paman Arrie!" ucapku.
"Kenapa?" tanya Paman Arrie.
"Paman kesini dengan sepeda motor, kan?" tanyaku pada Paman Arrie. Paman Arrie mengangguk, mengiyakan.
"Aku pinjam ya? Aku malas menelpon Weinhard dengan telepon sekolah, itu akan lama!" ucapku.
"Baiklah, tapi... kau bisa mengendarai motorku?" tanya Paman.
"Sama saja dengan motor Ibu dulu! Tapi, sekarang tak dapat digunakan, aku sudah belajar sejak 3 tahun lalu lho!" ucapku.
"Hati-hatilah!" ucap Paman Arrie sambil memberiku kunci motornya.
"Aku ikut, Couria!" ucap Alice.
"Baiklah" ucapku, saat aku baru berjalan tiga langkah keluar pintu, aku baru teringat sesuatu.
"Rumah Leone dimana?" tanyaku sambil menatap Paman Arrie.
"Eh? Kau tak tahu?" tanya Paman Arrie.
Paman Arrie segera menuliskan alamat rumah Leone pada secarik kertas. Aku lalu segera mengambilnya dan pergi keluar ruang osis. Alice menyusulku dari belakang.
Sesampaiku di parkiran, aku naik ke atas motor paman, memasukkan kunci dan menghidupkan mesin motor.
"Naikklah!" pintaku pada Alice. Dengan ragu Alice naik ke motor Paman Alice.
Aku memasang gigi motor dan menancap gas motor. Lalu motor Paman melaju dengan kecepatan 80 km/ jam.
Mungkin karena Alice baru pernah naik motor, Ia agak ketakutan dan memelukku dengan erat. Aku sedikit geli.
Aku menaikkan kecepatan menjadi 100km/jam dan menyalip puluhan mobil dan motor lainnygAlice.
Akhirnya kami sampai di rumah Leone. Di depan rumah Leone sudah ada Aria yang menungguku. Ada banyak pelayat juga.
"Kenapa kau lama sekali?!" tanya Aria dengan muka kesal.
"Couria membawaku terbang" ucap Alice sambil gemetaran.
"Hah?!" tanya Aria sambil memasang wajah aneh.
"Aku mengendarai motor dengan kecepatan 100 km/jam, tentu Alice ketakutan!" jelasku pada Aria.
"Intinya kau lama! Cepatlah!!" ucap Aria lalu masuk ke rumah Leone. Aku dan Alice menyusulnya.
Cukup banyak pelayat yang datang. Ada seorang Ibu-ibu yang menangis terisak.
"Lihat Ibu itu?" tanya Aria sambil menunjuk Ibu yang menangis itu dengan jari telunjukknya.
"Ia adalah Ibu Leone. Jangan peduli dengan tangisannya. Itu hanya tangisan buaya. Memangnya kapan Ia pernah peduli pada anaknya?!" ucap Aria.
Aku langsung menghampiri Ibu Leone.
"Bi, saya ingin menyelidiki mayat anak bibi, apa boleh?" tanyaku.
"Menyelidiki? Sudah jelas bukan?! Ini adalah karmaku karena gagal menjadi Ibu!! Aku kehilangan anakku! Satu-satunya anakku!!" ucap Ibu Leone sambil berteriak. Walau Ia merupakan Ibu yang gagal, aku tetap menghargai seluruh Ibu di dunia ini. Aku merasa sedih melihat Ibu itu.
"Jangan peduli Couria! Dia sudah depresi sama halnya dengan anaknya, lihat saja! Nanti Ia akan bernasib sama seperti anaknya!" ucap Aria tepat di depan Ibu Leone.
"Aria! Sopanlah sedikit!!" bentakku pada Aria. Bisa-bisanya Ia bicara begitu. Malah aku merasakan hawa marah dari arwah Leone. Arwah Leone akan terus berada di dunia ini jika Ia belum selesai di upacarai atau ada hal yang belum Ia selesaikan. Untuk saat ini aku tidak dapat melihatnya jelas karena mata kiriku masih kututup.
"Tidak, nak! Anak perempuan itu benar! Ini karmaku! Aku membiarkan Ia melakukannya! Gadis itu! Gadis itu akan segera datang menuntutku setelah anakku!!" bentak Ibu Leone.
Gadis? Aku jadi berpikir, ini pasti ada hubungannya dengan Leone.
"Siapa gadis yang Bibi maksud?" tanyaku pelan sambil menyentuh bahu Ibu Leone. Namun Ibu Leone tetap menangis.
"Rugi saja! Ia sangat depresi! Ayo kita lihat mayat korban!" ucap Aria lalu membuka gorden kamar mayat.
Di dalam kamar itu, ada mayat Leone yang telanjang dan di tutupi plastik bening dan sudah diberi es agar mayatnya awet. Bau mayat sangat menusuk penciumanku, aku dan Alice menutup hidungku.
Aria bersiul dan tanpa basa basi Ia membuka plastik yang menutupi mayat Leone.
"Kurus sekali! Mungkin Ia mati kelaparan karena tak pernah makan. Tunggu! Dari awal aku selalu mencurigai Ibu itu! Dan.... Couria! Kenapa kau menutup hidungmu?! Bukannya kau harus menelusuri apa yang Leone lakukan sebelum Ia mati dengan hidungmu?!" suruh Aria.
"Memang kau pikir baunya seperti di hidung orang normal?! Tepatnya kau tidak memiliki hidung!!" bentakku.
"Hah?! Diam kau?! Ini penting! Kita harus tahu riwayatnya! Bukannya kau tadi bilang "kalau kasusnya tidak diselesaikan maka arwah Leone akan menangis" bukan?!" pinta Aria sekali lagi. Aku mendengus sebal.
Aku mendekati mayat Leone yang terlentang di kasur. Aku melepas tangan di hidungku.
"Izinkan aku mencari tahu alasan kematianmu" ucapku.
Aku lalu mencium mayat Leone, mulai dari perut, leher, dan bagian tubuh yang lainnya. Jujur, aku hampir muntah. Saat aku menemukan keganjilan aku segera berhenti menelusuri aroma mayat Leone, aku pun batuk-batuk.
"Bagaimana?" tanya Aria.
"Ada aroma minuman anggur, obat-obatan, dan satu aroma yang langka dan aneh. Aroma sedap malam dan kemenyan! Itu adalah sarana ilmu hitam di Indonesia!" ucapku. Oh ya, aku tahu itu karena keluarga Himala memiliki hubungan erat dengan Indonesia, khususnya Bali. Bahkan keluarga Himala memiliki sebuah pura.
"Ooh? Korban terkena ilmu hitam bagimu?" tanya Aria. Aku mengangguk tegas.
"Memang sih, hanya orang niat saja yang memiliki bunga sedap malam. Harganya sangat mahal. Dan umumnya memang untuk sarana ilmu hitam. Wah, ini menarik! Tapi bagaimana kita menjelaskannya ke kalangan umum?" tanya Aria.
"Itu belakangan. Untuk sementara kita rahasiakan temuan kita hari ini!" ucapku.
"Ya! Hmmph! Untuk pertama kalinya aku percaya padamu!" ucap Aria sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bilang saja kalau temuanku hari ini istimewa!" ucapku dengan penuh percaya diri.
"Couria!" panggil Alice.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kau pernah, mencium aroma kematian milikku, kan?" tanya Alice.
"Memangnya, kenapa?" tanyaku.
"Aku sepertinya setengah hidup setengah mati. Orang-orang yang sudah mati suka bercerita padaku. Tadi ada arwah yang mengaku bernama Leone. Ia bilang, "Aku takut pada gadis itu. Ia sudah brutal. Ia akan membunuh yang lainnya. Jadi kumohon, hentikan dia", begitu" ucap Alice sambil meranglul dirinya sendiri.
Sudah kuduga. Pasti gadis yang sejak tadi disebut itu adalah kunci dari semuanya.