The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Sekali lagi



Kamis, 12 Mei 1970


~Paisaca


"Sudah kuduga sejak awal. Bell pasti akan bertindak. Apa yang akan kau lakukan, Jack? Apa kau mau membunuh para polisi dan intelijen itu?" tanyaku.


Setelah makin banyak anak-anak yang kami culik, penjagaan di Bell jauh lebih ketat. Kami mungkin bisa menyusup, tapi sekali saja ketahuan, kami akan gagal.


Aku mungkin punya sihir, tapi, banyak sekali manusia dengan kekuatan khususnya masing-masing yang belum kami ketahui, inilah yang membuat kami sedikit ragu.


"Apa-apaan ini?! Kau takut dengan manusia biasa?! Yang benar saja!" protes Jack.


Sudah kuduga, bicara dengan Jack akan membuatku terkena makiannya. Lebih baik untuk saat ini aku diam saja.


"Kalau kau masih ingin menculik anak-anak, aku tak kenapa, aku akan tetap ikut seperti biasa. Namun, bila terjadi hal yang tidak-tidak, kau dan aku harus siap, " jelasku lalu pergi meninggalkan Jack yang sedang merenung sendirian.


*****


Betapa senangnya aku! Luka yang aku alami sudah hampir sembuh total!


Kemarin, Indhira mengoleskan semacam tanaman obat pada lukaku. Meski saat itu lukaku sudah jauh baikan dari saat aku baru mengalaminya, saat tanaman obat itu dioleskan pada lukaku, rasanya sangat amat perih.


Tapi kini, lukaku bahkan hampir benar-benar sembuh! Dengan begini, aku bisa menyelesaikan semua perlakuan Ayah dengan sesegera mungkin.


"Bagaimana Couria? Apa ada hasilnya setelah lukamu diolesi tanaman obat oleh Nona Indhira?" tanya Kak Sylya sambil memasak di dapur.


Indhira memang mengobatiku langsung dirumahku. Jadi, semua orang-orang di rumah tahu kalau aku sempat diobati oleh Indhira.


"Sangat manjur! Lukaku hampir sembuh total!" jawabku dengan sangat bersemangat.


"Nona Indhira juga membacakan mantra sambil mengobati Tuan Couria bukan? Mungkin saja doa dari Nona Indhira ikut membantu penyembuhan Tuan Couria!" ucap Weinhard.


Weinhard sepertinya ada benarnya juga. Sambil mengoleskan tanaman obat, Indhira membaca mantra dengan bahasa yang tidak kukenal. Mungkin saja bahasa Sansekertha.


Intinya, aku sangat berterima kasih atas penyembuhan yang Indhira berikan padaku! Daripada penyembuhan secara medis, penyembuhannya jauh lebih cepat dan manjur!


Sayang sekali, saat Indhira mengobatiku, Aria sudah pulang duluan. Kalau ia melihat penyembuhan yang dilakukan Indhira, mungkin saja mereka akan berhenti bertengkar.


Nantinya, pasti ada saja saat dimana Indhira perlu bantuan Aria saat sednag bertarung, dan Aria pun pasti akan membutuhkan pengobatan dari Indhira bila ia mengalami cidera atau luka.


"Haah! Andai saja aku meminta Nona Indhira untuk mengobati luka di tanganku ini!" ucap Kak Sylya dari dapur.


Eh? Memangnya tangan Kak Sylya kenapa? Kenapa ia tidak mengabariku kalau ia sedang terluka?


"Tangan kakak kenapa?" tanyaku.


"Ah, jangan khawatir! Cuma luka karena terkena pisau! Aku memang anak yang ceroboh. Lama-lama pasti akan sembuh... " jelas Kak Sylya.


Oh... kupikir Kak Sylya mengalami luka berat. Kalau cuma gara-gara pisau dapur, mungkin akan cepat sembuh, aku tak perlu terlalu khawatir.


"Jadi, anda secara fisik sudah siap melawan Ayah anda sendiri kan?" tanya Weinhard.


"Tentu saja! Mungkin aku susah siap sekarang!" ucapku dengan bersemangat.


"Tapi, dari dalam batin anda sendiri, apakah anda benar-benar sudah siap?" tanya Weinhard lagi.


Eh, itu...


Weinhard benar juga. Aku memang belum benar-benar siap. Mungkin, di depan mereka semua yang menyemangatiku, aku akan tampak sangat siap, karena aku tak ingin mengecewakan mereka.


Tapi, aku belum tahu apa jadinya kalau aku berhadapan langsung di depan Ayahku sebagai musuhnya. Aku sungguh belum tahu, apa aku siap membunuhnya.


"Weinhard! Apa maumu bertanya seperti itu?! Memangnya enak bila kau jadi Couria dan ditanyakan begitu?!" protes Kak Sylya.


"Tidak apa-apa kok. Aku tak tersinggung dengan pertanyaan seperti itu!" ucapku sambil berdiri.


"Aku malah sangat berterima kasih. Kalau Weinhard tidak menyadarkanku, mungkin aku malah ragu tepat saat aku sudah harus menghadapinya! Kalau begini, aku bisa mempersiapkan mentalku dengan baik!" ucapku sambil berusaha tampak seperti sedang sangat baik-baik saja.


Ya, mungkin aku sedikit tertekan mendengar kata-kata Weinhard tadi. Tapi bagiku, itu justru menjadi kata-kata pembangun dan saran, bukan kritikan. Semoga saja aku bisa siap menghadapi Ayah pada waktunya.


"Omong-omong, makanannya sudah matang lho! Ayo makan!" ajak Kak Sylya.


*****


"Jadi, ini latihan terakhir kita sebelum menjalankan misi kita?" tanya Aria.


Setelah pulang sekolah, aku memutuskan untuk mengumpulkan seluruh anggota timku di lapangan sekolah untuk berlatih.


Ya, aku juga berjanji pada mereka bahwa ini adalah latihan terakhir, besok, aku harus sudah benar-benar siap.


"Ya. Aku minta tolong pada kalian, untuk sangat serius pada latihan ini! Aku pun, akulah yang harus paling siap... " ucapku.


Meski tekadku untuk membunuh Ayah masih belum bulat, untuk saat ini, aku harus dapat melatih fisik dulu. Aku masih belum tahu sekuat apa Ayahku sekarang.


"Latihan terakhir, ya? Hmm... semoga misi besok menjadi misi terakhir Indhira! Setelah itu, pergilah jauh-jauh dari tim ini! Khususnya dariku!" seru Aria sambil memelototi Indhira.


Jelas-jelas kata-kata Aria tadi membuat Indhira merasa tersinggung. Wajah Indhira menampilkan emosinya yang meluap-luap. Padahal selama ini Indira berusaha tidak membuat masalah, tapi macan terbakar itu yang jadi biang masalahnya sekarang.


Sialan! Mereka pasti akan bertengkar lagi! Padahal aku baru saja meminta mereka agar serius, untuk saat ini saja!


"Justru sebaliknya! Badan intelijen di mana pun, tidak butuh orang yang tidak punya kesabaran, apalagi ceroboh dan bodoh sepertimu! Kalau kau memintaku jauh-jauh dariku, kaulah yang menjauh!" ucap Indhira sambil siap memukul Aria.


Sesuai dugaan, mereka bertengkar lagi, lagi dan lagi. Kadang-kadang, aku ingin menjitak dahi mereka. Tapi, itu bukan hal yang boleh kulakukan.


Sial! Lama-lama, pertengkaran mereka menjadi-jadi dan tampaknya akan selesai sangat lama! Apa lebih baik aku membentak mereka saja?!


"BERHENTILAH BERTENGKAR! AKU SUDAH MINTA KALIAN UNTUK SERIUS HARI INI SAJA BUKAN?!" bentakku.


Seketika Aria dan Indhira berhenti bertengkar. Walau aku sedang agak serius, melihat wajah Arai dan Indhira yang terkejut secara bersamaan itu membuatku tertawa terbahak-bahak.


"Setelah menegur orang, kau malah tertawa?!" protes Aria.


"Lagipula, apanya coba yang lucu?!" protes Indhira juga.


Ya ampun, saking lucunya wajah mereka berdua tadi, aku sampai ikut-ikutan tidak serius. Baiklah Couria! Kontrol dirimu, jangan buat mereka tidak percaya padamu.


"Maaf... mari kita mulai latihannya!" ucapku dengan nada serius.


"Nah, itu baru ketua tim kita!" seru Indhira dengan bersemangat.


Ah, semoga saja kali ini mereka berdua mau benar-benar serius. Semua takkan selesai kalau mereka berdua terus-terusan bertengkar.


"Hah?! Kau memuji ketua tim seperti dia?! Manusia tanpa daging dan sok humoris seperti dia?! Yang benar saja!" ejek Aria.


Sial! Apa maksus Aria coba?! Sudahlah Couria, jangan peduli. Jangan sampai membuat masalah hanya karena diejek begitu. Siapapun juga tahu kalau mulut Aria benar-benar lancar.


"Daripada memilih wanita bahenol sepertimu, Couria jauh lebih baik!" ejek Indhira.


"Apa?! Wanita bahenol?! Hmmph! Lantas, kenapa aku bisa terpilih sebagai ketua osis di sekolah?! Andai kau tahu! Saat aku baru masuk ke akademi, semua kakak kelas mendiskriminasi dan mengejekku! Tapi, akademi, bisa sebaik sekarang, itu karena aku! Tak ada lagi orang yang terhina dan terdiskriminasi di akademi karenaku!" protes Aria.


"Hei-hei! Tak baik mengakui jasa orang sebagai jasamu sendiri! Dasar wanita egois! Hmmph! Kenapa wanita sepertimu tidak didiskriminasi sampai sekarang dan seterusnya saja?!" ejek Indhira.


Sial, mereka bertengkar lagi! Padahal waktu yang kita punya tinggal sedikit! Apa coba yang ada di kepala mereka berdua?!


Kalau ditanya siapa yang memulai pertengkaran mereka, jelas-jelas mereka sendirilah yang melakukannya. Tanpa sadar, mereka juga membuat orang lain repot.


"Apa mereka perlu kupukul?!" tanya Zein dengan nada kesal.


Zein memang orang yang tidak suka basa-basi. Tapi kalau dia memukul mereka berdua, masalahnya malah jadi makin besar.


"Sebaiknya jangan!" bisikku namun dengan nada tegas.


"Apa lebih baik kita tinggalkan saja mereka?" tanya Carrie dengan suara yang sangat kecil.


Wah, saran Carrie tadi ada benarnya juga! Sudahlah! Tinggalkan saja mereka berdua agar mereka sendiri yang malu! Dengan begitu, kita tak perlu menonton pertengkaran mereka terus-terusan!


"Boleh juga!" seruku.


"Sshhhht!" seru Zein dan Carrie dengan suara yang kecil sambil menaruh jari telunjuk tangan kanan mereka di depan bibir mereka masing-masing.


Waduh, saking setujunya aku, aku malah terlalu semangat. Ingin rasanya melihat mereka berdua malu karena terlalu sering bertengkar.


"Maaf, ayo kita tinggalkan mereka... " bisikku.


Zein dan Carrie menganggukkan kepalanya dan kami pun meninggalkan Aria dan Indhira yang terlalu sibuk bertengkar.


Aku, Zein, dan Carrie langsung pergi menjauh dari Aria dan Indhira. Entah kapan mereka berdua akan menyadari kalau kami bertiga sudah menjauh dari mereka.


Aku tetap akan berlatih di lapangan, tapi aku tetap berusaha sejauh mungkin dari Aria dan Indhira. Nampak dari kejauhan, ternyata mereka berdua tetap masih bertengkar.


"Semoga saja tiba-tiba Pak Kepala Akademi atau Pak Alter datang kesini, mereka pasti sangat malu saat dimarah, apalagi kalau kita sudah mulai latihan!" ledek Zein.


Benar juga ya! Tapi aku merasa sedikit bersalah karena seolah-olah tidak bertindak sama sekali. Tapi, kalau aku menghentikan mereka dengan bicara langsung, mereka tetap tidak akan berhenti.


Ah sudahlah! Akan lebih baik, aku mulai berlatih saja! Berdiam diri sambil membayangkan hal yang tidak perlu hanya akan membuang-buang waktu yang masih tersisa.


"Ayo semua, kita berlatih!" ajakku.


Kami bertiga mulai berlatih. Zein melakukan teknik bela diri yang merupakan keahliannya. Dia melakukannya pada beberapa pepohonan atau subjek apapun yang ada, bahkan beberapa pohon tumbang karena pukulannya. Dia memang ahlinya!


Lalu Carrie menjauhi diri dari kami dan mendekati beberapa pepohonan untuk ditancapkan beberapa pisau sakunya. Belakangan ini, dia suka menggunakan teknik seperti itu.


Sedangkan aku berlatih pedang dengan pedang kayu, dan hanya sekedar mengayun-ayunkannya.


Kami bertiga berlatih dengan sekuat tenaga, dan sangat bersemangat. Keringat kami bercucuran, lama-lama tubuh semakin letih, tapi itu tidak menyurutkan semangat kami.


Kami sampai tak tahu sudah berapa lama kami berlatih. Tapi, meski rasanya kami merasa sudah berlatih dalam waktu yang lama, Aria dan Indhira masih saja belum datang ke kami bertiga.


Sial! Apa perlu kucari mereka?!


"Wah-wah!" seru Zein sambil menghadap ke arah selatan, tepatnya tempat Aria dan Indhira bertengkar tadi.


Aku ikut menoleh kesana. Wah! Ternyata meski mereka beetengkar, pertengkaran mereka justru digunakan sebagai latihan!


Aria dan Indhira bertengkar sekuat tenaga. Aria melakukan teknik bela diri tangan kosong yang hampir sesempurna Zein. Sedangkan Indhira berhasil sesekali memukul beberapa bagian tubuh Aria hingga sakit.


Aku yakin Indhira bisa melakukannya karena sudah tahu karakteristik fisik Aria. Dia pandai mencari titik lemah, titik yang akan terasa sakit, dan titik lemah pada badan manusia. Sampai bisa membuat Aria sesekali kesakitan, dia pasti sudah sangat mengenal Aria, meski baru mengenalnya beberapa waktu lalu.


Aria sendiri juga sesekali membuat Indhira tumbang. Mungkin Aria tahu di saat kapan Indhira akan mulai kelelahan karena Indhira tidak sehebat dia dalam bela diri tangan kosong.


Sudahlah. Mau berapa banyak alasan pun, Aria dan Indhira tetap tampak sama, bahkan bagaikan anak kembar. Entah karena malu, atau karena tak ingin dianggap sama, mereka berusaha tampak tidak akur.


"Kalau begini, biar saja mereka berlatih seperti itu!" seruku.


Zein dan Carrie pun tertawa. Mereka berdua pasti setuju untuk membiarkan mereka berdua berlatih secara tidak langsung hingga letih.


"Couria!"


Eh! Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang memanggilku tepat di samping telinga. Dari suaranya, rasanya itu adalah suara Nati. Apa ada hal yang ingin dia bicarakan.


Tunggulah Nati! Daripada aku jatuh pingsan lagi disini, sebaiknya tunggulah!


"Maaf, Zein, Carrie. Aku pulang duluan ya! Ada hal penting yang harus aku lakukan!" ucapku.


"Ah, kita semua pulang saja! Dari warna langit, sepertinya sekarang sudah menjelang pukul enam sore!" ucap Carrie sambil melihat langit dan mengira-ngira.


"Iya, ayo kita pulang dan latihan madiri di rumah! Hmm... biar saja mereka berdua bertengkar sampai pingsan!" seru Zein lalu tertawa terbahak-bahak, disusul dengan tawaku dan tawa Carrie.


Setelah itu kami benar-benar pulang. Aku tak tahu bagaimana dengan Aria san Indhira. Mungkin mereka akan bertengkar sampai larut.


*****


Setelah makan malam, aku kembali ke kamar. Aku ke kamar bukan untuk tidur, melainkan untul berkomunikasi dengan Nati.


Untunglah Nati mengerti dan menunggu sampai aku sempat bicara langsung dengannya. Dengan begini, tak akan ada orang yang khawatir lagi! Kira-kira, apa yang akan Nati bicarakan? Di saat-saat seperti ini, memang sangat wajar Nati mengajakku bicara.


"Baiklah Nati, kau bisa bicara sekarang... " ucapku dengan suara kecil sambil merebahkan badan di kasur.


Sangat sesuai dugaanku, Nati mengajakku ke dimensi lain. Dia mengajakku ke dimensi taman menara bell lagi. Setelah masuk di dimensi itu, aku melihat Nati yang berdiri tepat di hadapanku.


"Bagaimana, ini waktu yang tepat bukan?" tanya Nati sambil tersenyum.


"Ya, hari ini mungkin adalah hari terakhir sekaligus penentuan. Penentuan membunuh satu orang untuk banyak orang lainnya... " ucapku.


"Itu, pasti sangat menyakitkan... Tapi Couria! Hari ini, kau harus mempersiapkan fisik, maupun mentalmu semaksimal mungkin, jangan sampai ragu!" pinta Nati.


Aku menganggukkan kepala dengan pelan. Membayangkan harus membunuh Ayah sendiri, sebenarnya aku sangat ingin menangis dan berteriak. Tapi, tindakan seperti itu sama sekali tidak berguna.


"Baiklah, aku tak punya banyak waktu! Aku akan membimbingmu secara langsung besok! Tapi, ada sebuah jalan yang pasti ampuh untuk besok. Dan, sangat beresiko, " bisik Nati.