The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Aria story: seorang atheis



Wellington, 7 Juli 1962


Malam ini Ibu sedang dipanggil kakek Elric. Entah apa yang terjadi. Karena tragedi dulu, aku jadi ingin terus mencari tahu apa yang sedang terjadi pada orangtuaku. Tak akan kubiarkan sesuatu terjadi pada Ibu Sellya.


*****


"Kenapa kau malah mengadopsi anak sialan!" bentak kakek Elric pada Ibu sambil menampar Ibu Sellya.


Aku diam-diam melihat apa yang terjadi. Ternyata memang benar, ada yang tak beres.


Tapi kalau dipikir-pikir, bukannya malah aku penyebab masalahnya.


"Tuhan memberkatiku seorang anak yang sangat pemberani! Anak dari Tuhan! Mana mau aku membuat alat seperti para homunculus itu!" ucap Ibu Sellya sambil menunjuk para homunculus yang sedang berada di sebuah tabung.


"Suamiku. Dia, menghina Ibunya." ucap nenek Queennela dengan nada datar khas para homunculus, tapi berbeda dengan bibi Haeva, yang punya prilaku dan gaya bicara layaknya manusia biasa.


Kakek Elric lalu menendang perut Ibu Sellya hingga Ibu Sellya jatuh.


Ibu tampak sangat kesakitan.


Aku sudah sangat geram. Tapi tak ada gunanya untuk muncul sekarang. Akan lebih baik kalau aku muncul saat aku memang sudah mampu menunjukkan bakatku.


"Orang atheis! Semoga Tuhan memberikanmu karma!" teriak Ibu Sellya.


Karena sangat geram, Kakek Elric lalu melempar sebuah gelas kaca ke arah Ibu Sellya sampai pecah.


"Sialan! Pergi dari sini!!" bentak kakek Elric.


Ibu Sellya lalu berdiri dan berjalan keluar dari laboratorium.


Sebelum Ibu Sellya tahu aku disini, lebih baik aku ke kamarku.


Akhirnya Ibu Sellya tak tahu bahwa aku menguping tadi. Aku langsung berpura-pura bermain boneka agar Ibu Sellya mengiraku sedang di kamar sejak tadi.


Ibu Sellya akhirnya datang. Ia melempar senyum yang ikhlas padaku. Aku lalu berusaha membalas senyumnya, agar terlihat seperti tak terjadi apapun.


"Apa kamu sedari tadi kamu bermain boneka di kamar?" tanya Ibu Sellya sambil ikut duduk denganku di ranjang.


Aku menjawab "iya" dengan mengangguk.


"Kau suka kan dengan boneka-boneka yang Ibu beri?" tanya Ibu Sellya sambil memperhatikanku yang sedang bermain boneka.


"Ya! Aku suka!" jawabku dengan nada semangat.


Ya, aku bohong. Aku adalah gadis yang sama sekali tak suka main boneka atau permainan wanita lainnya. Aku justru suka bermain diluar layaknya dulu.


Tapi kini aku dibesarkan di kehidupan bangsawan, jadi aku tak dapat membantah cara hidup para bangsawan yang sangat membosankan. Sialan!


Akhirnya Ibu Sellya terlihat senang karena aku bilang suka akan boneka yang diberinya.


Itulah tujuanku berbohong. Aku ingin melihat Ibu Sellya yang terlihat senang. Karena itu akan mengurangi penderitaannya.


Tenang saja bu! Aku pasti akan menunjukkan bahwa keberadaanku dan Ibu sebagai manusia pasti sangat berharga. Toh kakek Elric sendiri adalah seorang manusia!


Karena aku merasa bosan dan lagipula aku sudah mengantuk, lebih baik aku tidur saja.


"Bu, aku mengantuk!" ucapku sambil merapikan boneka-boneka yang kumainkan.


"Ya, baiklah, tidur saja" ucap Ibu sambil membantuku merapikan bonekaku.


Boneka-boneka yang sebagian besarnya merupakan boneka hewan-hewan itu akhirnya sudah tersimpan rapi pada sebuah kotak.


Tanpa basa-basi aku segera tidur di ranjang. Aku menarik selimut yang lebih tebal dibanding dulu, dan memeluk sebuah guling. Lalu Ibu Sellya pun menyusulku setelah Ia menaruh kotak boneka pada lemari kayu besar milikku.


"Nah Aria..." gumam Ibu Sellya sambil menolehku.


"Kenapa?" tanyaku dengan pelan sambil menoleh ke Ibu Sellya.


"Apa kau senang dengan nasib yang kau dapati sekarang?" tanya Ibu sambil memandang langit-langit kamarku.


"Kalau dibilang senang sepertinya tidak juga bu. Tapi, apapun yang Tuhan berikan, semuanya adalah berkah bukan?" tanyaku sambil memeluk Ibu Sellya.


Ibu Sellya lalu melempar senyum ikhlas layaknya Ibu dulu padaku.


"Berarti kau kuat nak!" ucap Ibu Sellya dengan nada semangat.


Tentu aku akan sangat senang saat ada orang yang mengatakan diriku ini kuat. Tanpa sengaja aku pun melukis senyum yang sangat lebar pada wajahku. Aku pun mengangguk.


"Nah kalau begitu Ibu mau mematikan lampu dulu..." ucap Ibu Sellya sambil berdiri dari ranjang dan berjalan ke saklar lampu.


Setelah lampu kamarku mati, aku segera memeluk gulingku dan memejamkan mataku.


*****


Hangatnya matahari menyusup dari jendela kamarku yang masih tertutup. Aku terbangun dari tidurku yang menghabiskan waktu satu malam.


Ibu Sellya sudah tidak ada di kamar. Entah kemana perginya?


Aku segera bangun dari ranjangku dan mencarinya.


Rambut masih berantakan bak sarang burung. Mata masih sipit. Semua pelayan yang merupakan homunculus menatapku dengan wajah kosong mereka.


"Nona. Anda, masih, tidak rapi." ucap salah seorang pelayan homunculus itu dengan suara datar.


"Siapa peduli!" ucapku dengan nada kesal.


Aku terus berjalan di lorong untuk mencari Ibu Sellya.


Akhirnya ketemu juga. Ternyata Ibu Sellya sedang membantu para homunculus menyiram tanaman. Kenapa ribet-ribet membantu mereka? Itu kan memang tugas mereka?


Aku segera mendekati Ibu Sellya dengan wajah sebal.


"Aria! Kenapa rambutmu masih acak-acakan begitu sih?" tanya Ibu Sellya dengan heran.


"Habis Ibu tak ada di kamar! Aku sedang mencari Ibu tahu!" ucapku dengan nada sebal.


Ibu malah menertawaiku. Apa yang lucu coba?


"Setidaknya minta salah seorang homunculus di dalam untuk merapikan rambutmu!" perintah Ibu.


Dengan sebal dan terpaksa aku kembali ke dalam dan mencari homunculus untuk merapikan rambutku.


"Oi! Aku minta tolong rapikan rambutku!" pintaku pada seorang homunculus yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan dariku.


"Baiklah. Nona." ucap homunculus itu lalu menyusulku ke kamarku.


Bukannya aku benci pada homunculus-homunculus itu. Justru aku kasihan. Mereka diciptakan sebagai alat dan hidupnya hanya maksimal tiga tahun.


Belum lagi mereka ada kemungkinan rusak. Bila mereka sudah rusak, tanpa basa-basi kakek Elric pun membuang mereka.


Dengan lugunya homunculus itu mau merapikan rambutku hingga terlihat jauh lebih rapi dibanding tadi yang seperti sarang burung.


Aku jadi penasaran, apa mereka mengerti arti akan sebuah kehidupan.


"Nah, siapa namamu?" tanyaku pada homunculus itu.


"Saya tak punya nama. Tapi saya merupakan nomor 441" ucap homunculus itu dengan nada datar.


"Apa kau berharap diberi nama?" tanyaku.


"Saya cuma alat. Jadi, meski saya mengharapkan nama, saya, tidak mungkin punya nama..." ucap homunculus itu.


Cukup mengejutkan. Alis homunculus itu sedikit mengkerut.


"Apa kau puas diberi usia hanya sampai tiga tahun?" tanyaku.


"Mau bagaimana pun saya sudah diberi sebuah kehidupan. Mau bagaimana lagi, beginilah kenyataannya." ucap homunculus itu sambil berjalan keluar kamarku.


Kasihan sekali mereka. Lebih baik kakek Elric tidak membuat kehidupan lain selain ciptaan Tuhan dibanding akhirnya ciptaannya hanya akan terbuang sia-sia.


Tapi bibi Haeva adalah salah seorang homunculus yang paling sempurna bagiku. Semoga saja Ia datang lagi kesini.


Saat aku keluar dari kamar. Tiba-tiba ada seorang homunculus yang terjatuh di ruang tamu. Lalu homunculus yang lainnya membawa homunculus yang jatuh itu ke laboratorium kakek Elric.


Karena penasaran akan nasib homunculus itu, aku diam-diam menyusul para homunculus.


Sampai disana, aku melihat para homunculus itu menyerahkan homunculus yang jatuh tadi ke kakek Elric. Lalu kakek Elric menyelidiki penyebab homunculus itu terjatuh.


"Homunculus nomor 331 sudah rusak, buang saja!" perintah kakek Elric pada kedua homunculus yang menggosong homunculus yang jatuh tadi.


"Baik!" ucap kedua homunculus itu lalu membawa homunculus yang mati itu ke sebuah kolam yang didalamnya penuh dengan mayat homunculus lainnya.


Keji sekali kakek Elric! Ia membuat sebuah kehidupan dan membuangnya begitu saja saat temuannya rusak atau gagal.


Dengan sebal aku kembali ke kamarku.


Di kamar ada Ibu Sellya yang sedang merangkai bunga.


Ibu Sellya meletakkan bunga-bunga seperti bunga mawar, daisy, bakung, krisan, dan dahlia pada sebuah gelas kaca yang panjang. Semua dirangkai dengan sangat indah.


Aku lalu berlari ke arah Ibu Sellya.


"Ibu! Apa ini untuk dikamar?" tanyaku dengan semangat. Aku suka kamarku dihiasi bunga yang indah dan wangi.


"Tentu saja! Kali ini di taman, tanaman-tanamannya berbunga banyak sekali! Kau tahu? Ibulah yang menanam sebagian besar tanaman bunga di taman!!" ucap Ibu Sellya dengan semangat. Aku membalasnya dengan melukis senyum terkesima diwajahku.


"Bibi Haeva juga pernah bilang begitu! Berarti Ibu tidak bohong!" ucapku. Ibu lalu tertawa. Aku hanya membalasnya dengan nyengir.


"Nah Ibu! Apa kakek membenci Ibu hanya karena Ibu enggan membunuh orang? Bukannya itu justru bagus?! Lagipula Ibu juga tak harus membuat homunculus seperti kakek! Kasihan!" ucapku.


Tiba-tiba senyum dan tawa Ibu Sellya menghilang. Disusul wajah murung.


"Kenapa, kau membahas ini? Aria lihat yang kemarin ya?" tanya Ibu Sellya sambil sedikit menoleh kearahku.


"Iya, tak sengaja saat aku mau ke kamar kecil." jawabku.


Ibu Sellya lalu menundukkan kepalanya, menutupi wajah sedih miliknya. Aku jadi ikut sedih dan malah menyesal karena menanyakan hal ini.


"Iya, Ibu tak ingin meniadakan satu pun kehidupan di dunia ini. Padahal Ibu tahu, untuk menciptakan kedamaian, kita harus merelakan satu dua nyawa. Tapi Ibu sama sekali tak sanggup melakukannya. Ibu tak dapat berkontribusi pada revolusi dunia ini. Jadi Ibu hanya bisa menolong satu saja nyawa. Yakni dirimu, Aria! Aku bangga dapat menyelamatkan seorang anak yang pantang menyerah sepertimu!" ucap Ibu Sellya lalu menampilkan senyum ikhlas yang sangat indah di wajahnya.


Ternyata Ibu Sellya sangat senang karena dapat menyelamatkanku, meski aku sama sekali tidak seistimewa yang Ibu Sellya katakan. Meski begitu, kata-kata Ibu Sellya sudah dapat mendorong semangat dan keinginanku untuk terus maju.


Aku sangat senang dan terharu, sampai aku memeluk Ibu Sellya dengan sangat erat.


"Terima kasih Ibu!!" ucapku sambil memeluk Ibu Sellya.


Ibu Sellya menyusul memelukku dengan sama eratnya. Kami berdua pun tertawa dengan lepas.


*****


Wellington, 8 Juli 1962


Aku jadi ingin kembali latihan beladiri seperti dulu. Aku ingin menjadi lebih kuat lagi. Kebetulan ada tempat latihan beladiri di dekat kediaman Fatia ini. Tempat latihan beladiri itu adalah milik Pak Alter. Ia adalah kepala badan Intelijen Bell, tentu saja aku tergiur berlatih kesana.


Karena kebetulan sekarang aku libur sekolah dan waktu masih pagi, aku segera mengatakan keinginanku untuk belajar beladiri di rumah Pak Alter pada Ibu Sellya.


"Ibu! Aku ingin belajar beladiri di rumah Pak Alter!"i pintaku pada Ibu Sellya yang sedang mengurusi taman bersama para homunculus.


Ibu Sellya tampak terkejut mendengar permintaanku.


"Kau yakin Aria?" tanya Ibu Sellya dengan penuh rasa heran.


"Tentu saja!" ucapku dengan penuh semangat.


Ibu Sellya lalu berpikir. Aku menjadi tak sabar menunggu jawaban dari Ibu Sellya. Semoga jawaban Ibu Sellya adalah "Iya!"


Akhirnya tampang berpikir Ibu Sellya berubah menjadi senyum yang sangat lebar.


"Kalau anakku memang sangat hebat, tunjukkan kekuatanmu!!" ucap Ibu Sellya dengan sangat semangat.


Aku jadi sangat senang dan semangat.


"Tentu saja!!" ucapku dengan semangat.


Saat tiba pukul sepuluh, Ibu mengantarku ke rumah Pak Alter dengan mobil. Dari kediaman Fatia ke rumah Pak Alter, kira-kira jaraknya sekitar empat kilometer.


Setiap Ibu mengendarai mobil, mobilnya melaju sangat cepat. Seharusnya Ibu bangga dengan kelebihannya dalam mengendarai. Kadang aku malah ketakutan saat naik mobil dengan Ibu.


Akhirnya kami sampai di rumah Pak Alter yang cukup megah. Terdapat sebuah air mancur di halaman rumahnya. Lalu puluhan jenis bunga memenuhi taman rumah yang juga ada di halaman depan.


Saat kami baru memasuki mobil ke dalam rumah Pak Alter, seorang penjaga memberhentikan mobil kami.


"Anda Nona Sellya Fatia bukan? Kenapa anda kesini?" tanya penjaga itu dari jendela mobil di bagian kiri.


"Ya, memang benar saya Sellya Fatia. Saya kesini karena saya ingin memgantar anak saya, Aria Fatia untuk berlatih beladiri di sini." jelas Ibu Sellya.


"Oh, baiklah! Silahkan menaruh mobilnya si jejeran mobil Pak Alter itu!" ucap penjaga itu sambil menunjuk tempat untuk memakirkan mobil.


"Terima kasih!" ucap Ibu Sellya lalu memarkirkan mobil ke tempat parkir yang ditunjuk penjaga itu.


Dengan sangat semangat akupun turun dari mobil. Ibupun menyusul turun dari mobil. Kami berdua berjalan ke dalam rumah Pak Alter.


Kebetulan sekali ada Pak Alter dirumahnya. Ini pertama kalinya aku bertemu Pak Alter. Ia menggunakan kacamata plus pada matanya. Lalu Ia menggunakan pakaian yang cukup sederhana, tapi elegan.


Saat melihat kami, Pak Alter pun melempar senyum yang hangat.


"Kenapa anda kemari, Nona Sellya, dan..." ucap Pak Alter lalu melihatku dengan wajah bingung.


"Aku Aria Fatia! Anak angkat Ibu!" jelasku.


Pak Alter pun tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Anak saya ingin belajar beladiri di sini. Masih ada ruang kan?" tanya Ibu Sellya.


"Masih sangat banyak! Baiklah! Anak anda, hmm... Aria, boleh belajar disini!" ucap Pak Alter sambil menoleh kearahku dengan senyuman hangat yang masih sama seperti tadi.


Aku sangat senang. Akhirnya aku bisa belajar beladiri lagi setelah sekian lama. Saat aku belajar dengan Pak Hector saja cuma satu hari, bagaimana bisa aku dikatakan mahir kalau begitu?


"Kalau begitu Ibu tinggal ya, Ibu akan kembali pukul dua belas nanti, ya?" tanya Ibu Sellya. Aku pun menjawabnya dengan mengangguk.


Aku pun lalu belajar sangat keras disana. Jau lebih keras dibanding saat di kediaman Pak Hector. Aku belajar beladiri hingga pukul dua belas siang.


Saat Ibu Sellya menjemputku, Ibu Sellya tampak terkejut melihatku yang bermandikan air keringat.


"Apa anak saya serius dalam mempelajari beladiri, Pak Alter?" tanya Ibu Sellya sambil mendekatiku yang sedang duduk di lantai.


"Lumayan juga si Aria ini! Dia cepat dalam memahami apa yang kuajarkan!" ucap Pak Alter lalu tertawa.


Ibu Sellya pun ikut tertawa sambil mengusap peluhku dengan saputangan.


"Kalau begitu saya pamit dulu.Eh, hampir lupa, berapa yang harus saya bayar?" tanya Ibu Sellya sambil mengeluarkan dompetnya yang tadi tersimpan di tas selempangnya.


"Tak perlu bayar! Semua anak disini belajar secara cuma-cuma!" ucap Pak Alter sambil melempar senyumnya yang hangat.


Aku dan Ibu Sellya pun berdiri dari lantai.


"Kalau begitu terima kasih banyak Pak Alter!" ucap Ibu. Pak Alter hanya menjawab dengan mengangguk sambil tertawa.


"Oh ya, kenapa tidak Tuan Elric saja yang mengajari cucunya ini?" tanya Pak Alter.


Ibu Sellya pun sedikit murung. Pak Alter malah mengingatkan kami pada hal yang sedang membuat kami menderita.


"Anda tahu sendiri sifatnya bukan?" tanya Ibu Sellya.


"Dia masih saja seperti itu?!" tanya Pak Alter dengan wajah heran. Ibu Sellya pun mengangguk pelan.


"Kalau begitu saya permisi dulu..." ucap Ibu Sellya sambil menarik tanganku, wajahnya sedikit tersenyum.


Pak Alter mengangguk dan kami pun pergi dari rumah Pak Alter.


Saat mobil kami akan keluar, penjaga rumah Pak Alter memberi kami senyum yang sangat ramah.


Lagi-lagi Ibu mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku sampai sedikit mabuk perjalanan karena mobil yang melaju sangat cepat.


*****


Wellington, 12 Juli 1962


Malam ini Ibu Sellya kembali dipanggil oleh kakek Elric. Aku sudah tak kuat lagi menahan diri kalau melihat Ibu Sellya disakiti lagi. Kadi aku diam-diam melihat apa yang akan dilakukan oleh kakek Elric pada Ibu Sellya.


"Sialan! Serius sekali kau mengurusi anak itu, bahkan sampai mengajaknya berlatih beladiri di Alter! Lagipula apa gunanya?! Anak itu tak akan pernah berkembang sama sekali!" bentak kakek Elric lalu menendang Ibu Sellya sampai Ibu Sellya terjatuh ke lantai laboratorium.


"Aria adalah anak terkuat! Ia mungkin akan melampaiui alat-alat buatan Ayah!" ucap Ibu Sellya dengan sangat percaya diri.


Kakek Elric lalu menampar Ibu Sellya berkali-kali.


Aku sudah tak tahan lagi. Aku sangat marah. Tanganku bahkan reflek memukul tembok. Sepertinya nenek Queennela menyadari keberadaanku.


"Suamiku. Ada orang disana." ucap nenek Queenela sambil menunjuk kearahku.


"Menguping adalah tindakan pengecut! Tunjukan dirimu dan buktikan kekuatanmu!!" teriak kakek Alter padaku.


Tanpa basa-basi aku pun memperlihatkan diriku pada kakek Elric. Kakek Elric melempar senyum liciknya padaku. Aku pun mengeluarkan senyum percaya diriku.


Ibu tampak sangat khawatir. Ia takut terjadi sesuatu padaku. Meski begitu, aku tak peduli. Aku sudah bertekad untuk menunjukkan kekuatanku sebagai seorang wanita.


"Queennela! Coba serang anak itu! Tunjukkan kekuatanmu sebagai ciptaanku!!" perintah kakek Elric.


"Baik suamiku!" ucap nenek Queennela sambil mengambil dua buah pedang, dan melemparkan salah satunya padaku.


Dua hari lalu Pak Alter sudah mengajariku berpedang, kali ini kutunjukkan kemahiranku!


Nenek Queennela berlari kearahku sambil menyiapkan serangannya dengan menyamping. Saat nenek Queennlea sudah siap akan serangannya, aku segera menangkis pedangnya.


Lalu terjadi adu pedang antara aku dengan nenek Queennela. Ibu tampak khawatir sekali. Tapi tenang saja bu! Aku akan menjadi pemenangnya!


Aku berusaha menyerang kaki nenek Queennela. Tapi dengan cepat Ia melompat ke arah belakangku.


Karena sadar kalau punggungku diincar, aku segera berbalik dan menahan pedangnya.


Pedang nenek pun dapat melepaskan diri dari tahanan pedangku. Lalu tanpa basa-basi aku segera mengenai lengan kiri nenek Queennela. Dan akhirnya kena!


Satu dua tetes darah berjatuhan ke lantai. Namun nenek Queennela tidak tampak kesakitan sama sekali, namun tangan kanan nenek memegangi lengan kirinya yang terluka itu.


"Anak ini. Lumayan." ucap nenek Queennela sambil melukis senyum yang sangat tipis di wajahnya.


Ibu tampak sangat senang, sedangkan kakek Elric tampak sangat sebal.


"Baiklah! Akan kibiarkan kau dan Ibumu ini hidup! Tapi kalau selama hidupmu kau tak pernah menunjukkan lagi bakatmu hari ini, bersiaplah untuk mati!!" bentak kakek sambil mendelik ke arahku.


Aku sangat gembira mendengar hal itu, begitu juga dengan Ibu Sellya.


Semenjak hari itu, aku terus berlatih beladiri dan diam-diam melatih sihir api yang kumiliki. Karena itu sampai kapanpun, akan kutunjukkan kekuatan seorang wanita!