
~Alice
Lima bangsawan mengalami krisis, bahkan kematian massal. Dan ditemukanlah solusi dari masalah itu, solusi terbaik, yakni perang menara bell. Di perang tersebut, masing-masing bangsawan mengirim satu orang untuk perang tersebut.
Bagi peserta yang kalah karena meninggal, marganya akan selamat dari kutukan, bagi yang menang, dapat mengabulkan sebuah keinginan pada menara lonceng, dan bagi yang statusnya belum pasti, marganya akan tetap menerima kutukan.
Perang itu membutuhkan seorang pengadil dari gereja, dan diutuslah seorang wanita dari gereja bell bernama Havea Noria.
Namun Haeva Noria justru dibunuh oleh utusan dari marga George, Harry George. Setelah itu, perang pun menjadi kacau balau.
Hingga tersisa dua peserta, yakni aku sendiri, Alice Fatia dan Tenbri Himala. Kami justru memilih berdamai dan menjalin hubungan asmara. Karena perang tak usai hingga ratusan tahun, Himala dan Fatia masih terkena kutukan dan kami berdua yang hanya dapat mati bila dibunuh orang yang bersangkutan perang memanfaatkannya dengan hidup tenang bersama.
Hingga akhirnya, Haeva Fatia, temanku yang berharga itu, tanpa kusadari, sebelum ingatanku musnah, muncul dan mengaku dulunya Haeva Noria, dan memintaku dan Tenbri untuk saling membunuh agar perang usai.
Aku menolak, namun Tenbri justru bunuh diri. Saat aku diberi kesempatan mengabulkan permohonan, aku pun meminta Tenbri lahir sebagai anak Haeva dan akan membunuh salah satu di antara Haeva dan suaminya, Jack Himala.
Kini, aku menyesali kutukan itu, dan ternyata menyebabkan masalah yang sangat besar.
Bell, Senin, 2 Maret 1970
Sambil sarapan, aku mendengarkan berita di radio. Namun pagi ini ada yang kurang. Karena ingatannya kembali, Alice tak mau keluar dari kamarnya, meski sudah kubujuk berkali-kali. Sedangkan Ikkye tak merasa ganjal saat ingatannya kembali dan bersikap ***** seperti biasanya.
"Beberapa masyarakat, kemarin malam, melaporkan bahwa ingatan mereka sudah pulih. Anehnya, semua mendapat ingatannya kembali secara bersamaan! Namun, disaat yang bersamaan, salah satu anggota keluarga bangsawan de Lia, Fiore de Lia, tewas di rumah sakit. Ia ditemukan tewas oleh seorang perawat pada pukul 08.30. Penyebab kematiannya mungkin adalah penyakit jantung yang dibawanya sejak lahir. Semoga Fiore de Lia, diterima di sisi Nya... " ucap reporter berita di radio.
Setelah mendengar nama "Fiore de Lia", aku terdiam dan menjadi tidak nafsu makan.
"Ada apa, Tuan Couria?" tanya Rose padaku.
"Nyonya Fiore cukup terkenal, ya?" tanyaku sambil menunduk karena tak bisa menahan rasa sesal yang kumiliki karena harus membunuhnya.
"Menurut data yang saya tahu, marga de Lia adalah salah satu dari lima bangsawan tertua di Bell. Sama halnya dengan tempat saya dulu Fatia, dan kini Himala. " jelas Rose.
Entah kenapa, aku merasa sering mendengar nama "Paisaca" yang disebut Fiore adalah penyihir yang menciptakan tubuh ketiganya. Dan yang lebih buruknya lagi, Ayah meminta penyihir seperti dia untuk membalaskan dendamnya padaku. Memangnya kenapa Ayah memiliki dendam padaku?! Tak mungkin Ayah sampai memiliki dendam padaku hanya karena aku gagal melindungi Ibu.
"Apa kau kenal dengan orang yang bernama Paisaca?" tanyaku pada Rose sambil berusaha melupakan kejadian kemarin.
Tak ada gunanya merenungin dosaku kemarin dan yang lalu. Satu demi seribu lainnya memang idealisme yang seharusnya dapat kutempuh sebagai salah satu penerus marga Himala.
"Paisaca? Saya tak pernah mengenal nama itu karena Tuan Elric tak pernah mengisi data itu ke saya. Jadi mohon maafkan saya. " ucap Rose sambil menundukkan kepalanya.
"Ah, tidak apa. Aku hanya penasaran, itu bukanlah hal yang penting, tak usah dipikirkan. " ucapku lalu kembali makan.
Setelah selesai sarapan, aku masih belum bisa tenang, karena sejak kemarin malam hingga sekarang, Alice belum makan sama sekali. Jangankan orang lain, aku saja tak bisa membujuk Alice agar ia segera makan. Apa masa lalu Alice separah itu sampai mendengarkanku saja ia tak mau.
"Ayo kita berangkat, Tuan Muda. " ajak Weinhard.
"Tunggu sebentar, aku ingin membujuk Alice untuk segera sarapan. Aku takut nanti dia sakit. " ucapku lalu pergi ke kamar Alice.
Sudah beberapa kali kuketuk pintu kamar Alice, tapi tak ada satu pun jawaban darinya. Aku memutuskan untuk memanggilnya.
"Alice! Alice! Ayo sarapan! Aku sudah akan berangkat ke akademi!!"
Meski sudah kupanggil berkali-kali, tak ada sekalipun tanggapan Alice. Apa perlu aku membuka kunci kamarnya dengan paksa?! Setelah kupikir-pikir, memang lebih baik begitu. Untunglah mata kiri yang jadi beban sejak kematian Ibu ini bisa membantu.
Aku pun mengaktifkan mata kiriku untuk menyalin bentuk lubang kunci pintu kamar Alice, dan membuat kunci buatannya dengan kayu, lalu membuka pintu kamar Alice.
Alice yang sedang duduk di lantai dengan wajah menunduk terkejut saat aku datang.
"Couria! Kenapa kau kesini?!" tanya Alice dengan nada tinggi dan sangat marah.
Tanpa basa-basi aku mengambil tangan kanan Alice dan memutuskan untuk memintanya menceritakan apa yang membuatnya menderita.
"Jelaskan semuanya padaku, Alice!" pintaku.
Setelah terdiam beberapa detik, Alice pun meneteskan air matanya, dan lambat laun, tangisan gadis kecil itu menjadi-jadi. Ia berteriak, mengacak rambut pirang bergelombangnya yang halus, dan memukul pundakku berkali-kali.
Kurasa itu adalah pelampiasan penderitaannya yang sebenarnya luar biasa menyakitkan.
"Ya, begitulah. Lampiaskan semua. Meski aku bonyok karena dipukul, asal kau tenang, aku pun lega. " ucapku sambil memasang senyuman pada wajahku.
Tak lama kemudian, Alice berhenti memukul pundakku dan kembali menundukkan kepala. Aku sangat ingin Alice segera menenangkan diri, aku ingin ia berbagi penderitaanya padaku. Lalu aku pun memeluk gadis kecil seerat-eratnya, sekencang-kencangnya, senyaman-nyamannya, dengan penuh luapan emosi.
Tangisan Alice semakin keras. Ia kembali berteriak, dan sesekali mengatakan, "aku pendosa!!" dengan suara yang keras, seolah-olah gadis kecil itu ingin semua orang di dunia ini tahu kalau ia adalah pendosa.
"Aku yakin, setelah ini, kau akan membenciku. " ucap Alice sambil menunduk.
"Tidak akan. Kesalahan sebesar apapun itu, aku tak akan pernah membencimu. Karena asal kau tahu, aku merasa, kita memiliki ikatan yang sangat erat-"
"Dimasa lalu, kita memang selalu bersama, Tenbri. " ucap Alice sambil tersenyum tipis.
"Tenbri? Siapa?" tanyaku. Baru kali ini Alice menyebut nama itu. Lagipula, jika seandainya itu orang di ingatan Alice yang telah kembali, kenapa aku ada hubungannya.
"Karena aku terpilih untuk mengikuti perang antar lima bangsawan beberapa abad lalu, aku diberikan umur tambahan seribu tahun lagi. " jelas Alice sambil menghapus air matanya.
Perang lina bangsawan?! Itu adalah legenda yang pasti diketahui setiap warga Bell. Perang yang terjadi akibat sebuah kutukan. Namun dibalik kutukan itu, ada sebuah keajaiban, yakni kesempatan bagi satu orang saja untuk mengabulkan satu doanya. Demi pergi dari kutukan dan mendapat keajaiban, perang lima bangsawan pun muncul. Bisa dibilang, peserta perang adalah korban kepada kutukan demi marganya bila kalah, namun menjadi sangat beruntung bila peserta memenangi perangnya.
Katanya, akhir dari perang itu masih belum diketahui. Lima bangsawan yang berpartisipasi dalam perang itu adalah marga George, de Lia, Fatia, Wathon, dan Himala.
Dan Alice bilang, kalau ia mengikuti dan akhirnya memenangkan perang itu?! Pantas saja aku merasakan hawa kehidupan yang tak biasa pada Alice. Alice mungkin seharusnya sudah mati, namun ia masih hidup karena telah memenangkan perang lima bangsawan itu.
"Apa hal yang memicu emosimu, ada di perang itu?" tanyaku dengan serius. Aku benar-benar ingin tahu.
"Begitulah. Itu karena aku membenci diriku sendiri. Di perang itu, aku merupakan perwakilan marga Fatia, lalu dari marga George, ada Harry George. Perwakilan dari marga Wathon adalah Watclis Wathon, namun ia memilih bunuh diri demi marganya. Dari de Lia, dipilih seseorang bernama Sielfrid de Lia. Dan terakhir, ini adalah perwakilan dari margamu, Tenbri Himala. " jelas Alice.
"Lalu, bagaimana perang itu terjadi?" tanyaku.
"Karena perang itu bisa saja merenggut nyawa orang yang tak bersangkutan, seseorang dikirim dari gereja, untuk mengawasi dan mengadili perang tersebut. Ia adalah, Haeva Noria. Namun, tak lama setelah kematian Watchlis Wathon, Haeva Noria dibunuh oleh Harry George. Ia adalah peserta yang mengumpulkan kekuatannya dari mayat manusia, karena itulah, sudah jelas ia tak menyetujui keberadaan pengawas pada perang itu. " jelas Alice.
Aku bisa membayangkan kekacauan yang terjadi karena kematian pengadil itu, jadi aku mengangguk dan menunggu Alice kembali menceritakan masa lalunya.
"Ya, kau pasti menduga, perang itu menjadi makin kacau. Memang benar itulah yang terjadi. Bukannya sombong, tapi karena Fatia adalah marga yang cukup bijak, aku diminta oleh anggota marga lainnya untuk segera membunuh George, dan itulah yang terjadi. Akhirnya tersisa tiga peserta. Lalu Sielfrid de Lia berhasil dibunuh Tenbri Himala. Dan tersisalah kami berdua. " jelas Alice. Namun, di akhir, Alice tampak murung.
"Apa kau membunuh Tenbri?" tanyaku.
"Kami justru menjalin hubungan asmara, dan selama berabad-abad, kami tinggal di menara Bell, hingga sang pengawas perang kembali lahir sebagai, Haeva Fatia. " jelas Alice lalu menundukkan kepala.
Ibu?! Ibu adalah reinkarnasi Haeva Noria?! Bukannya Alice seharusnya sudah lupa ingatan saat Ibu sudah ada?!
"Apa upaya Ibu untuk menyelesaikan perang itu?!" tanyaku dengan sangat serius.
"Haeva, datang ke diriku dan Tenbri, dan meminta kami untuk berperang. Namun aku menolak dan memutuskan untuk melawan Ibumu. Sebentar saja sebelum sedikit lagi aku menyerang Ibumu, Tenbri tiba-tiba muncul di depan senjataku hingga ia terkena senjataku, dan meninggal. " jelas Alice lalu meneteskan air matanya.
Pantas Alice merasa bersalah. Mungkin para fairy mengambil ingatan Alice agar Alice tak menderita. Mungkin ceritanya usai sampai disana.
"Setelah itu semuanya usai kan?" tanyaku.
"Tidak. " ucap Alice dengan tegas.
"Saat, aku diberi kesempatan untuk mengabulkan doa, doa yang kuminta adalah, "kembalikan Tenbri ke bumi sebagai anak Haeva dan sebagai pembunuh Haeva atau suaminya". Setelah ini, kau mengerti kan? Sudahlah, kini kau pasti membenciku" ucap Alice lalu kembali meneteskan air matanya.
Apa?! Tak mungkin?! Apa karena Ibu takut Ayah meninggal, Ibu rela bunuh diri?! Yang benar saja! Baru kali ini aku ragu dengan perkataan Alice.
"Alice, jangan membohongiku-"
"Aku tak bohong!" bentak Alice.
Kalau memang bukan kebohongan, berarti tak ada seorang pun yang salah disini. Aku tak mau bila Alice merasa dirinya berdosa padahal itu bukan salahnya. Aku malah merasa kalau diriku yang dulu adalah penyebab konflik itu.
"Tak ada yang salah, Alice. Kau bukan wanita pendosa. Tapi aku rasa, Tenbri dan akulah yang salah. Tapi, sekarang sudah terlambat, Alice. Ayah sudah terlanjur menyimpan dendam padaku, bahkan hingga memakan korbam yang lain. Karena itu, aku sepertinya memang harus, membunuh Ayahku!" ucapku dengan tegas.
Alice menatapku dengan wajah heran.
"Kau memang bodoh, Couria. " ucap Alice, lalu tertawa, tapi menangis.
"Oi, Tuan muda,ini hampir jam delapan lho!!" ucap Weinhard yang entah sejak kapan ada di kamar Alice.
Yang benar saja?!! Mana mungkin aku terlambat hari ini?!!
"Bilang kalau hari ini aku sedang sakit pada Paman Arrie!" pintaku lalu tertawa.
"SAYA TAKKAN MAU MELAKUKAN TUGAS TABU ITU!" bentak Weinhard lalu menarik paksa tanganku.
"Oi oi baiklah! Aku akan ke sekolah!!!"