
~Fairy Queen
Dijuluki sebagai Ratu fairy saja sudah menjadi kebanggaan yang sangat luar biasa bagiku.
Selama ini, aku hidup dengan kehampaan. Semua yang kulihat hanya hitam gelap, tak terdengar apapun, tak tercium aroma apapun. Karena aku terlahir tanpa memiliki semua itu.
Aku hanya bisa membayangkan betapa menyenangkannya hidup di dalam mimpiku, di dalam dunia fairytaile.
Tapi, seorang penyihir bernama Paisaca itu membuat mimpi itu menjadi nyata. Ia sangat hebat! Ia memberiku tubuh kedua dimana dunia fairytaile benar-benar ada di depan mataku. Aku benar-benar terlahir sebagai Ratunya para fairy. Sungguh menakjubkan!
Dan aku bisa menghilangkan penderitaan orang dengan memakan ingatan mereka.
*****
~Couria
Bell, Senin, 2 Maret 1970
Sinar surya lamat-lamat datang menggantikan gelapnya malam. Para tanaman menyambut pagi dengan tarian mereka. Angin malam yang dingin tergantikan dengan udara pagi yang segar.
Aku terbangun dengan damai. Tak ada mimpi-mimpi yang membuatku risau. COURIA pun tak menggangguku. Hari ini terasa sedikit damai daripada biasanya. Namun aku tak dapat meramal keadaan nanti, mungkin saja ada saja sedikit kekacauan.
Setelah aku bangun dari kasurku dan membuka jendela untuk memberikan angin masuk ke kamarku, aku pergi ke ruang tamu untuk sekedar mendengarkan radio sambil menunggu air hangat.
Ya, kemarin, kakeknya Aria, Kakek Elric datang dan memberikanku tiga orang homunculus secara cuma-cuma. Awalnya sih aku menolak, tapi kakek yang satu itu susah untuk dilawan dengan kata-kata. Jadi, mau tak mau aku menerima tiga orang homunculus darinya. Mereka memiliki nama masing-masing. Ada yang bernama Dolce, Rose, dan Blossom.
Kakek Elric suka menamai homunculus maupun keturunannya dengan nama bunga atau nama-nama yang sedikit religius.
"Kemarin, sudah ada 13 orang yang menjadi korban dari wabah amnesia yang kini telah menyebar hampir ke seluruh Bell. Dan dari awal hingga hari ini, sudah tercatat 544 korban. Sampai kini kasus amnesia massal ini masih diselidiki dan belum diketahui sama sekali penyebabnya. Namun para warga diharapkan untuk tenang dan jangan membebani pikiran, karena rasa stres mungkin menjadi salah satu penyebab orang terkena amnesia. " ucap seorang reporter berita di radio.
Ternyata hari ini tak benar-benar damai. Mungkin damai untukku, tapi tidak untuk orang di luar sana. Aku masih tak tahu jelas, apa para fairy masih kabur atau malah kembali ke gedung lama dekat kuburan hi mala. Yang pasti, aku tak bisa mengabaikan kasus ini begitu saja.
"Tuan Muda Couria, air panasnya sudah siap. " ucap Rose, salah satu dari tiga homunculus yang dibawa Kakek Elric kemari dengan nada yang datar.
"Kalau kau menambahkan Tuan Muda, bicaramu akan panjang bukan? Lebih baik kau panggil aku Couria saja!" pintaku pada Rose sambil mematikan radio dan bangun dari sofa.
"Jadi anda ingin dipanggil dengan nama Couria saja?" tanya Rose.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku lebih suka bila sapaan untukku lebih akrab dibanding lebih terhormat.
"Baiklah, Couria. Silahkan anda pergi ke kamar mandi, alat-alat mandi sudah ada disana. " ucap Rose lalu pergi.
Aku pun pergi ke kamar mandi. Namun ada yang aneh saat aku sampai di kamar mandi.
Ikkye memang ada di kamar mandi, namun ia sangat heran saat melihatku. Apa ada yang aneh denganku, atau malah terjadi sesuatu denga Ikkye.
"Oi, Ikkye! Tak seperti biasanya! Kenapa kau malah tak mengejutkanku? Bukannya tadi ada homunculus kesini, kan kamu bisa bersiap mengejutkanku!" ucapku sambil masuk ke kolam.
Ikkye makin heran dan tak mendekatiku sama sekali.
"Ikkye? Siapa Ikkye? Dan kau sendiri siapa? Apa ada hantu lain selain diriku disini?" tanya Ikkye sambil melihat kesana kemari.
Ini aneh sekali. Apa yang terjadi dengan Ikkye?! Apa ia hanya bergurau?!
"Kalau bukan Ikkye, memangnya kamu siapa?!" tanyaku, kali ini aku mulai sedikit serius. Ya, tak apa meski aku akan terjebak ke dalam candaannya. Aku sama sekali tak ingin percaya kalau Ikkye benar-benar lupa segalanya.
"Entahlah. Mungkin aku kehilangan ingatanku sejak aku mati. Namun, aku ingat satu hal. Aku melihat seorang fairy di hadapanku. Aku hanya mengingat itu. Aku harap, kau bisa membantuku mencari ingatanku yang hilang dan aku harap kita bisa berteman!" ucap Ikkye dengan agak ragu.
Oi, ini bukan candaan lagi. Ikkye benar-benar kehilangan ingatannya! Sialan! Ia bilang ingat bertemu fairy bukan?! Tak salah lagi, fairy mencuri ingatan Ikkye. Ikkye adalah sahabatku. Aku hampir tak memiliki teman, tapi ia adalah temanku yang sangat kusayangi. Tak ada basa-basi lagi! Fairy! Aku akan memusnahkan kalian semua!!
*****
"Jadi, teman hantumu itu kehilangan seluruh ingatannya dan ia merasa sempat melihat fairy ?!" tanya Aria setelah aku menjelaskan kejadian tadi pagi setelah makan siang.
"Begitulah. Kita tak punya waktu lebih lama lagi! Kumohon padamu, bantu aku melenyapkan makhluk-makhluk itu!" pintaku pada Aria. Baru kali ini aku minta tolong padanya. Walau itu, agak memalukan, tapi aku butuh bantuannya.
"Oh?! Baru kali ini kau minta tolong, tapi... tanpa kau minta sekalipun, aku pasti akan melakukannya! Akan kubuat seluruh dari mereka jadi abu! Tanpa ada bukti keberadaan mereka sedikit pun!" ucap Aria dengan sangat bersemangat.
Untunglah ia mau membantuku. Tidak, ini memang kewajiban kita. Para fairy itu akan membuat ulah semakin banyak lagi kalau tidak segera dihentikan.
"Lagipula, aku tak perlu cemas kalau seandainya aku kehilangan ingatanku! Iris bisa membantuku kapan pun!" ucap Aria dengan sangat semangat.
Iris? Siapa yang Aria maksud? Apa Iris adalah salah satu homunculus Kakek Elric. Tidak mungkin! Aria tak mungkin percaya dengan homunculus dari kakeknya.
"Siapa Iris?" tanyaku.
"Oh?! Aku lupa bilang padamu tadi! Iris adalah homunculus yang telah kubuat. " jelas Aria dengan sangat bangga.
Hah?! Makin aneh saja! Mana mungkin Aria bisa membuat homunculus dalam waktu dua hari?! Apa ia bercanda?! Setahuku, Zein bilang padaku tafi pagi kalau Aria telah meminta mayat elangnya dua hari yang lalu dan Zein berharap Aria tidak mengecewakannya.
"Kau terkejut ya?! Memang benar kok, aku membuatnya selama dua hari! Kalau tak percaya, lihat saja malam ini!" ucap Aria lalu pergi dari ruang osis.
Ah sudahlah. Apapun yang terjadi, intinya, fairy harus segera musnah bagaimana pun caranya. Meski aku harus percaya pada Aria sekali pun.
*****
Sesuai rencana, tepat pukul tujuh malam, Aria datang ke rumahku. Ia datang dengan seorang homunculus selain Brain. Ya, tampaknya homunculus itu bukan milik Kakek Elric. Biasanya homunculus Kakek Elric memiliki rambut perak atau pirang, dengan mata biru keunguan. Sedangkan homunculus itu memiliki mata merah dengan rambut bergelombang berwarna cokelat muda.
Aku pun mengajak Aria dan homunculus itu ke ruang tamu dan menyuruhnya duduk di sofa sambil menunggu kue kering dan teh yang sedang disiapkan Dolce.
"Nah Iris, perkenalkan dirimu pada rivalku ini!" pinta Aria pada homunculus yang diajaknya yang sepertinya benar-benar si Iris yang ia maksud tadi pagi.
"Aku Iris Fatia. Homunculus yang dibuat oleh Nona, maksudku Aria Fatia. Salam kenal, Tuan Couria, rival Aria. " jelas Iris padaku lalu tersenyum tipis.
Lumayan mengejutkan. Homunculus pertama Aria itu sudah sedikit menyerupai manusia. Iris bisa mengukir ekspresinya dengan baik pada wajahnya.
"Kau masih tak percaya?!" tanya Aria sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.
Dengan rasa sebal dan terpaksa, akhirnya aku mengakuinya.
"Ya ya, kau lumayan. "
Cih! Dia sendiri yang buang-buang waktu, sekarang malah minta langsung beraksi tanpa persiapan yang baik. Dasar orang yang gegabah!
"Kita bicarakan dulu rencananya. " pinta Alice.
Aria pun meresponnya dengan menjitak jidatnya sendiri.
"Oh ya! Kenapa aku bisa gegabah seperti ini sih?!" ucap Aria sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan membicarakan rencanaku. Karena ada Iris disini, maka rencanaku akan berjalan lebih baik. Semoga kau bisa melakukannya, Iris!" pintaku pada Iris.
"Baik, Tuan Couria!" ucap Iris dengan wajah yang serius.
Lalu aku pun menjelaskan rencana yang kubuat pada Alice, Aria, dan Iris. Untunglah mereka mau menyimak dan menyetujui rencanaku dengan baik.
"Apa tak ada rencana "B" kalau rencana yang satu ini gagal?" tanya Aria.
"Aku tak seceroboh itu. Tentu ada, jadi dengarkanlah!" pintaku.
Aria dan yang lainnya pun kembali menyimak rencana yang aku buat. Aku sudah memikirkannya matang-matang, dan aku harap, malam ini juga, kami bisa memusnahkan semua para fairy.
"Apa ada pertanyaan?" tanyaku sebelum kami semua mulai melakukan misi pemusnahan para fairy.
"Tidak!" ucap Aria, Alice, dan Iris serempak.
Kami pun berangkat menuju gedung tua yang kini menjadi markas para fairy dengan menggunakan mobil Aria. Sebenarnya, orang-orang di rumahku, termasuk Weinhard tidak tahu apa yang sedang kulakukan.
Tunggulah, Ikkye! Aku pasti akan mengambil kembali seluruh ingatanmu dan masyarakat Bell yang menjadi korban para fairy!
*****
Kami pun memulai operasi rencana "A". Di awal, Irislah yang akan beraksi. Setahuku, para fairy bisa membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Merekatak memiliki kekuatan khusus untuk melakukan itu.
Tapi, para fairy bisa membedakannya dengan prilaku. Umumnya prilaku dan cara homunculus hidup berbeda dengan manusia. Namun untunglah ada homunculus yang sempurna seperti Iris. Jadi tugas Iris disini adalah sebagai pemancing dan penyerang nantinya.
Iris akan berjalan di sekitar gedung markas para fairy, agar tak mencurigakan, aku membekali Iris dengan beberapa barang belanjaan, agar Iris terlihat seolah-olah baru saja berbelanja di toko yang dekat dengan gedung markas para fairy.
Tugasku juga audah dimulai dari awal. Aku bertugas mengawasi dari jarak jauh. Dan saat fairy sudah menyerang Iris hingga Iris butuh bantuan, aku akan menyuruh Alice membantunya. Aku sengaja tak menyuruh Aria karena Aria merupakan manusia dan ingatannya dapat dimakan dengan mudahnya oleh para fairy.
Nantinya, bila fairy terbesar muncul atau menyerang, maka fairy terbesar itu akan jadi tugasku, Iris, dan Alice. Ingatanku takkan dapat dimakan karena aku sudah melindungi ingatanku dengan mata kiriku.
Sedangkan Aria nanti akan menjadi penyerang jarak jauh. Ia akan menembakkan apinya dari jarak yang agak jauh, katanya hal itu adalah mainan.
Nanti jika seandainya Aria tiba-tiba diincar fairy, maka rencana "B" akan diberlakukan.
Aku akan menggunakan mata kiriku untuk mengawasi Aria juga, jadi tugasku sangat banyak. Lalu setelah para fairy terlihat mendekati Aria, aku akan meminta Iris atau Alice untuk membantu Aria kabur atau setidaknya sembunyi.
Bila keadaan makin buruk, aku akan menggunakan rencana "C", yakni rencana yang dikhususkan untuk pelarian. Bila keadaan mendesak, kami tak boleh memaksakan diri, karena hal itu akan membuat kami terjebak dalam bahaya. Karena itulah, aku akan menggunakan teleportasi yang membuat kami langsung berada di mobil dan pergi, lalu memulai lagi seluruh rencana dari awal nanti.
Akhirnya sampai saat ini semua berjalan sesuai rencana. Beberapa fairy mulai mendekati Iris. Iris juga dapat berpura-pura seolah-olah Iris tak tahu keberadaan para fairy.
"Ada manusia! Ayo kita makan ingatannya!" ajak seorang fairy pada fairy lainnya.
"Ya! Ini demi hidup dan misi dari Nona!" ucap seorang fairy lainnya lalu bersiap menggunakan mantra mereka untuk memakan ingatan Iris.
Dan saat sesikit lagi para fairy memakan ingatan Iris, mantranya gagal dan membuat para fairy heran sekaligus panik.
"Sekarang! Iris!" pintaku pada Iris lewat komunikasi yang dibuat mata kiriku, yang sistemnya seperti jaringan telepon. Para fairy dan orang-orang tak akan mendengarnya karena Iris dan aku hanya perlu bicara dalam hati.
"Baiklah!" ucap Iris lalu mengeluarkan pistol di tas belanja yang dibawanya, lalu menembakkan peluru ke arah para fairy.
Para fairy benar-benar terkejut dan akhirnya lenyap. Untunglah, untuk saat ini misi masih berjalan lancar.
"Teman-teman kita dibunuhnya! Ayo, kita serang dia!!" ajak seorang fairy pada segerombol fairy lainnya yang siap menyerang Iris.
Mereka semua tak membawa senjata, mungkin saja mereka akan menggunakan sihir. Selain itu fairy akan takluk dengan air, karena bila mereka terkena air, mereka tak bisa mengeluarkan sihir mereka, jadi aku membekali Iris pistol mainan air.
"Tembakkan air pada segerombol fairy itu, Iris!" perintahku.
"Baik!" ucap Iris lalu dengan gesit mengambil pistol air mainan dan menembakkan airnya pada para fairy.
Lama-lama para fairy bertambah banyak. Sepertinya saat ini aku harus mengkerahkan tenaga tambahan dari Alice.
"Alice!-"
"Aku tahu, Couria!" ucap Alice lalu pergi membantu Iris.
Alice segera memunculkan sabitnya dan menebas ratusan fairy yang menghalanginya dan Iris.
"Aku tahu Couria, ini ulahmu, kan?! Maka aku akan datang untukmu!" ucap fairy terbesar yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Untunglah Aria langsung menembakkan apinya ke fairy terbesar itu, tapi ia menangkisnya dengan mudah dengan sayapnya.
"Cih! Apa-apaan coba sayapnya itu?!!" protes Aria.
"Wanita ini hanya akan jadi pengganggu, lebih baik aku memakan ingatannya saja!!" ucap fairy terbesar lalu bersiap memakan ingatan Aria.
"Iris! Alice! Cepat kemari! Kami butuh bantuan kalian!!" pintaku dalam komunikasi melalui mata kiriku.
Iris dan Alice pun segera datang dan membantuku menyerang fairy terbesar. Fairy terbesar tampak kelelahan melawan empat orang sekaligus.
"Cih! Aku tak boleh mengecewakan nona! Memoria, retrieval!!! " bentak fairy terbesar.
Aku sudah tahu ia akan mengaktifkan mantra pengambil ingatan, jadi aku segera melindungi Aria dari mantranya dengan perisai mantra yang dibuat mata kiriku.
"Sial!! Apa yang terjadi?! Jangan-jangan?!" ucap fairy terbesar dengan sangat heran.
"Semuanya pulanglah! Sepertinya ini memang urusanku seorang!"