
"Sialan! Kenapa bisa-bisanya kau menemui para fairy tanpa mengajakku?!" protes Aria yang entah kapan datangnya.
"Oi! Kenapa kau kesini?! Bagaimana kalau ingatanmu diambil mereka?!" tanyaku dengan nada sebal.
"Tak ada waktu untuk berbicara lagi!!" bentak Aria lalu berlari ke arah para fairy dan membakar beberapa fairy dengan sihir apinya.
Aku pun ikut menarik pedangku yang bermanipulasi sebagai tongkat jalan,Alice pun juga memunculkan sabit hitam besar miliknya. Kami semua lalu membunuh satu per satu para fairy.
Ternyata mereka agak melelahkan untuk ditaklukan. Karena mereka semua sangat kecil dan dapat terbang.
"Kita mundur saja, seluruh fairy !" perintah fairy terbesar.
Semua fairy pun tiba-tiba hilang. Sialan! Dasar penakut!
"Padahal aku baru datang! Dasar fairy sialan!!" protes Aria sambil mengepalkan kedua tangannya dan menonaktifkan sihir apinya.
*****
~Aria
Bell, Sabtu, 28 Februari 1970
Setelah kesibukanku di akademi yang sangat banyak, akhirnya aku punya waktu luang untuk pergi ke rumah Zein dan mengambil mayat elang yang ditawarkannya.
Saat aku bangun, jam menunjukkan pukul lima. Sedikit lebih cepat untuk hari libur biasanya. Karena kalau biasanya aku bangun awal pada hari libur, tak ada yang bisa kulakukan, apalagi dalam lima hari sebelumnya aku sangat sibuk dan butuh waktu istirahat yang lebih lama.
Aku keluar dari kamarku dan melihat beberapa homunculus yang sedang bekerja. Mereka hampir tak ada bedanya dengan para robot dan ciptaan manusia lainnya. Tapi, aku akan membuat homunculus yang lebih baik dibanding mereka semua!
Oh ya, kebetulan sekali! Program ingatan manusia dengan homunculus kan sedikit berbeda. Aku bahkan bisa menyimpan ingatannya dan memasukkan kembali pada homunculusku bila ia mengalami amnesia. Bagaimana kalau homunculus saja yang menggantikanku untuk mengalahkan para homunculus itu?!
"Hey, buatkan aku air panas untuk mandi!" perintahku pada salah satu homunculus sambil menepuk punggung homunculus itu.
"Baik. " ucap homunculus itu singkat lalu pergi ke untuk menjalankan perintahku.
Kakek sendiri yang menyuruhku untuk memanfaatkan para homunculus itu sebagai pelayan. Kalau bukan atas suruhan kakek, mana mungkin aku tega menyuruh-nyuruh mereka.
Sambil menunggu homunculus itu membuat air panas, aku memutuskan untuk mengemil di ruang tamu sambil merancang homunculus yang akan kubuat.
Sebelumnya aku mengambil dokumen-dokumen rancangan homunculusku dan mengambil dua buah toples kue kering di dapur.
Jadi, aku berencana membuat homunculus berjenis kelamin wanita. Lalu aku akan mencampur tiga jenis hewan untuk pembuatannya. Yang pertama adalah tupai. Tupai adalah hewan yang gesit dan lincah. Ia bisa membuat pergerakan homunculusku menjadi cepat dan lincah.
Kedua, anjing yang merupakan anjing kesayangan milik Bu Enny. Karena sifat anjing yang setia kepada pemilik namun galak akan musuhnya, anjing milik Bu Enny bisa membuat karakter homunculusku persis seperti itu.
Yang terakhir adalah elang. Elang merupakan binatang predator yang sangat kuat, cerdas, dan bila sudah dilatih dengan baik, ia akan sangat setia pada pemiliknya. Karena itu, ia sangat baik bila digunakan untuk bahan homunculus.
Lalu untuk organ tubuh dan darah homunculus, aku akan mencarinya di rumah sakit. Aku akan membeli bagian tubuh mayat manusia yang masih baik dan akan membeli kantong darah yang didonorkan beberapa orang.
Saat aku sedang asik-asiknya merancang homunculus, tiba-tiba homunculus yang kusuruh membuat air hangat tadi muncul.
"Nona, airnya sudah siap digunakan untuk mandi. Alat-alat mandinya juga sudah saya taruh di kamar mandi. " ucap homunculus itu.
"Sialan! Setidaknya ditunggu dulu bicaranya! Tuh kan, otakku hilang!" ucapku dengan nada sebal dan tanpa berpikir.
"Tunggu, otak nona, hilang?" tanya homunculus itu dengan tampang aneh.
Eh?! Apa tadi aku bilang otakku hilang?! Wah sial!! Saking kesalnya dan stresnya aku, aku sampai tak bida bicara dengan baik! Mungkin benar saja otakku hilang!
"Eh! Maaf-maaf! Aku salah bicara!" ucapku sambil berdiri dan kebingungan harus berbuat apa.
"Otak hilang adalah hal yang aneh. Mungkin anda terlalu sibuk dan kurang istirahat. Setidaknya istirahatlah agar otak anda dapat beristirahat dan tidak hilang. " ucap homunculus itu dengan nada datar lalu pergi begitu saja.
Cih! Apa homunculus itu yang kehilangan otaknya?! Kenapa ia sampai serius menanggapi ucapanku yang salah tadi itu?!
Tapi ya sudah. Lebih baik aku pergi mandi untuk menenangkan otakku supaya tidak hilang. Maksudnya konsentrasinya. Aku segera menaruh dua toples kue ke dapur dan menaruh berkas-berkas pembuatan homunculusku di kamar. Dan aku pun pergi mandi.
*****
Setelah diantar Brain dengan mobil milik Fatia, akhirnya aku sampai di rumah Zein pada pukul tujuh pagi. Di sekeliling rumah Zein dan jalan yang dilewati untuk masuk ke rumah Zein, aku hanya melihat kebun jagung dengan pohon-pohon jagung yang sudah cukup tinggi, bahkan ada yang sudah berbuah.
Rumah Zein juga tampak sederhana. Mungkin ia menjadi orang yang cukup kuat karena ia kerap bercocok tanam bersama keluarganya. Aku memutuskan untuk mengetok pintu rumahnya.
"Zein! Zein! Ini aku, Aria!" ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya.
Tak lama kemudian, seorang ibu-ibu yang menggunakan baju dres yang sederhana dengan rambut pirang yang di ikat ponitaile dan mata biru yang cerah, agak mirip dengan Zein. Mungkin orang iyu adalah Ibunya Zein. Ia juga melemparkan senyum yang sangat manis.
"Apa kamu temannya Zein?" tanya Ibu itu.
"Ya bibi. Apa Zein ada di rumahnya?" tanyaku sambil berusaha tersenyum. Entahlah, dari dulu, aku cukup kesulitan berkomunikasi dengan orang yang baru ku kenal, padahal itu modal yang harus dimiliki seorang pemimpin.
"Oh. Zein sedang pergi ke kebun bersama Ayahnya. Perlu bibi antar?" tanya Ibu itu.
"Terima kasih banyak. Tapi sebelumnya, apa bibi ini Ibunya Zein?" tanyaku dengan agak ragu. Karena mungkin saja pertanyaan itu terdengar tak baik.
"Tidak. Bibi ini bibinya Zein, adik dari Ayahnya Zein. Ibunya sudah lama meninggal, tepatnya saat Zeinmasih berusia tiga tahun. Awalnya Zein adalah anak yang sangat pintar, namun, setelah Ibunya meninggal, anak itu jadi tak punya semangat. Tapi baru-baru ini semangatnya mulai muncul, terlihat dari prestasinya baru-baru ini. Kamu tahu kan?" tanya Bibinya Zein.
Aku hanya menjawab dengan mengangguk. Aku juga baru tahu Zein kehilangan Ibunya sejak kecil, bahkan diusia yang sama sepertiku saat Ibuku meninggal. Namun bukannya makin semangat sepertiku, Zrin malah makin tenggelam dalam kepedihan, dan untunglah bisa merehab dirinya sendiri meski dalam kurun waktu yang agak lama.
"Maafkan aku karena sudah menanyakan itu. " ucapku sambil sedikit membungkuk.
"Tidak apa-apa kok! Mari, bibi antar ke kebunnya!" ajak Bibinya Zein, lalu berjalan ke kebun jagung di sekeliling rumah Zein.
Aku pun segera ikut dengan Bibinya Zein ke kebun jagung milik Zein. Setelah menyusuri kebun jagung milik Zein beberapa meter, akhirnya aku melihat Zein dan Ayahnya yang sedang memanen jagung.
"Zein! Kenapa tidak bilang-bilang kalau kamu sudah punya pacar?!" tanya Ayah Zein saat baru melihatku.
"Aku bukan pacarnya!" ucapku dan Zein berbarengan dengan sangat kesal.
Ayahnya Zein pun tertawa terbahak-bahak. Ayah Zein dan Zein tampak berlumuran lumpur di beberapa bagian tubuh mereka.
"Ayo! Setelah itu cepatlah pulang!" ucap Zein lalu pergi begitu saja.
Sialan memang orang itu! Aku pun segera menyusulnya dengan berlari. Habis Zein langsung saja berjalan tanpa pikir panjang.
Masih di kebun jagung milik Zein, akhirnya aku sampai pada sembuah kuburan yang mungkin adalah kuburan elangnya.
"Erskell adalah burung elang kesayanganku yang merupakan hadiah ulang tahun dari Ibuku saat ulabg tahunku yang ke dua tahun. Jadi, manfaatkanlah Erskell dengan baik. Ia merupakan hal yang sangat istimewa dan bersejarah bagiku. " ucap Zein lalu membuka kuburan mayat elangnya yang katanya namanya Erskell itu.
Aku hanya mengangguk lalu membantunya membuka dan mengambil mayat Erskell. Akhirnya aku melihat mayat Erskell yang masih tampak gagah meski sudah mati. Warnanya abu-abu bercampur putih, hitam, dan cokelat tua. Sangat indah!
"Indahnya... aku pasti akan membuatnya menjadi homunculus yang sangat baik!" ucapku dengan bersemangat sambil mengambil mayat Erskell.
"Setelah ini tunjukkanlah pada diriku homunculus yang sangat hebat, namun tetap memiliki perasaan!" pinta Zein.
"Tentu saja!" ucapku dengan sangat semangat.
*****
Bell, Minggu, 1 Maret 1970
Dari kemarin, aku tak tidur sama sekali karena sedang sibuk membuat homunculus, dan aku akan segera menuntaskan proyek ini sekarang juga.
Kemarin, aku sudah menyambungkan hampir seluruh bahan dan membiarkan semua bahannya berkembang pada sebuah tabung yang berisikan cairan pembantu pertumbuhan yang berisi zat-zat yang diperlukan untuk mengembangkan homunculus seperti halnya bayi.
Setelah kubiarkan semalam, wujud homunculusku mulai tampak. Ia memiliki rambut berwarna cokelat muda, mata merah, dan besar tubuh seperti anak seusiaku, sesuai dengan ekspetasi.
Aku sengaja membuat homunculus ini secepatnya karena Kakek Elric yang memaksaku. Aku sudah menyerahkan sangat banyak mannaku demi homunculusku agar berkembang sangat cepat, namun tetap memiliki kualitas yang baik.
Kakek tua itu memang sialan! Ia memaksaku untuk melakukan seusatu yang bahkan ia sendiri tak dapat melakukannya.
Namun mau bagaimana lagi. Semoga homunculusku menjadi ciptaan yang sangat baik. Aku juga pasti akan merawatnya dengan sangat baik!
Saat aku masih mengawasi perkembangan homunculusku, Ibu Sellya pun datang dengan membawa sepiring pancake, secangkir kopi hitam, dan dua toples kue kering.
"Wah mantap nih! Aku bisa ngemil terus-menerus deh!" ucapku sambil segera mengambil sepiring pancake dan langsung memakannya.
"Jangan memaksakan diri ya, Aria! Ibu mau melihat homunculusmu dulu sebentar di sini. " ucap Ibu Sellya sambil menaruh dua toples kue kering dan secangkir kopi hitam di mejaku, lalu mendekati homunculusku dan menontoninya.
Saat aku sibuk makan, Ibu Sellya pun sangat asik menontoni homunculusku.
"Apa kau akan memberikan homunculus ini nama?" tanya Ibu Sellya.
"Bya. Nyamuanyua uairis. " ucapku sambil mengunyah pancake.
"Iris ya. Nama yang bagus. Semoga ia bisa menjadi homunculus yang sempurna. " ucap Ibu Sellya lalu duduk di kursi di sampingku.
Aku pun mengangguk kencang. Aku tak sebatas membuat Iris karena perintah Kakek Elric, melainkan karena aku ingin benar-benar mambuat sosok yang bisa menjadi teman baikku dan bisa menjadi sosok yang berguna untuk semua orang.
Nanti malam, aku akan membebaskan Iris dan mulai merawat perkembangannya. Aku juga menggunakan seluruh bagian tubuhnya dari bagian tubuh orang muda supaya usianya panjang, setidaknya sepuluh tahun.
Aku benar-benar tak sabar membuktikan kalau aku dan wanita lainnya, termasuk Iris yang merupakan ciptaanku, merupakan wanita-wanita hebat! Namun, aku harap, paea wanita lainnya juga bertekad dan tak jatuh menjadi wanita kotor.
*****
Malam ini adalah malam yang kunanti-nanti. Iris Fatia akan terlahir sebagai homunculus yang sempurna. Aku membutuhkan manna yang sangat banyak untuk bisa sampai pada proses ini.
Kakek Elric, Ibu Sellya, Nenek Queennela dan beberapa homunculus pun datang untuk menyaksikan saat yang sudah kunanti-nanti ini.
"Aku akanmembantumu untuk proses ini. Karena kau masih pemula. " ucap Kakek Elric saat baru tiba di laboratorium.
"Terima kasih banyak! Aku tak menduga kalau kakek akan membantuku!" ucapku sambil menoleh ke arah Kakek Elric sambil tersenyum.
Dan proses kelahiran Iris pun dimulai!
Aku, Kakek Elric, Ibu Sellya, Nenek Queenela dan beberapa homunculus lainnya pun membuat medan pertahanan dan mengkerahkan manna agar Iris terlahir dengan sempurna.
Lalu sihir dari Iris pun mulai muncul. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka perlahan. Pertama kali, ia melihat ke arahku yang berada tepat di depan hadapannya. Lalu ia menoleh kepada yang lainnya dengan perlahan. Memang ia masih belum tampak berekspresi, tapi aku yakin, ia adalah homunculus yang sangat berperasaan.
"Wahai Tuhanku! Hari ini, Iris Fatia akan terlahir ke muka bumi ini. Maka dari itu, berkatilah kami kekuatan untuk dapat membuat Iris Fatia terlahir sempurna! Kumohon!" ucapku sambil mengkerahkan hampir seluruh manna yang kumiliki.
Akhirnya tabung tempat Iris Fatia berkembang pun pecah. Kami berhenti menyalurkan manna dan aku segera memegangi Iris yang hampir jatuh karena keseimbangannya masih belum sempurna.
"Hai! Aku yang menciptakanmu! Aku sangat senang karena bisa berhasil membuatmu! Namaku adalah Aria Fatia! Kau boleh memanggilku Kak Aria atau siapapun yang kau mau. Dan, namamu adalah Iris Fatia. " jelasku pada Iris yang lamat-lamat menatap wajahku. Aku memberikan senyum terbaikku padanya.
"Nama? Iris? Padahal aku hanya homunculus. Tapi, aku sangat bahagia karena bisa terlahir sebagai ciptaanmu dengan nama yang sangat indah, Nona Aria. " ucap Iris sambil tersenyum bahagia.
"Homunculusmu sudah bisa tersenyum meski baru lahir. Ini sudah lumayan. Selamat!" ucap Kakek Elric.
Akhirnya, Kakek Elric mau mengakuiku! Ya! Benar! Aku juga sangat bersyukur bisa membuat Iris dengan sangat sempurna.
"Tapi, ini masih belum selesai. " ucap Kakek Elric sambil memasang senyum sialannya lagi.
Apa?! Apa coba yang ia inginkan lagi?! Ingin sekali rasanya aku meremas mulut kakek tua itu!
"Kau harus mengadu Iris bertarung dengan Queennela saat usia Iris sudah mencapai satu minggu. Aku juga melakukan hal yang sama pada Haeva. Jadi, bersiaplah!" ucap Kakek Elric.
Sial! Satu minggu?! Apa ia bercanda?! Iris adalah homunculus yang dibuat dengan hewan. Berbeda dengan Bibi Haeva dan Nenek Queennela! Aku reflek memukul mulut Kakek Elric, namun Iris memegang tanganku agar aku membatalkan pukulanku.
"Tak apa Nona Aria. Aku siap kok. Satu minggu sudah sangat cukup. " ucap Iris sambil tersenyum.
Aku pum berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengizinkan Iris bertarung dengan Nenek Queennela.
"Baiklah kalau begitu! Ayo Iris, aku akan memberimu baju yang bagus!" ucapku sambil memegangi tangan Iris lalu mengajaknya ke kamarku.
Iris berjalan dengan sangat perlahan karena ia baru bisa menyeimbangkan tubuhnya sedikit demi sedikit.
Maafkan aku Iris, aku tak bisa membantah Kakek Elric. Tapi, kuharap kau tak terlalu memaksakan diri.