
"ARIA!!!"
Sialan! Dasar wanita bodoh! Kenapa dia merelakan dirinya demi menyelamatkanku?!
*****
"Cih, ini lumayan sakit lho, wanita lemah! Mungkin sana sakitnya dengan luka yang sempat Couria alami! Kau sering bilang aku bodoh kan? Nah sekarang, apa kau mau membayarnya?!" tanya Aria sambil memegang perutnya yang terkena peluru senapan Ayah.
Apa-apaan ini?! Yang didepanku ternyata bukan Ayah! Tak mungkin Ayahku berniat membunuhku! Aria, maaf! Kau sampai rela ditembak seperti ini, ini semua salahku!
Aku memang orang sialan! Akulah yang bodoh! Cih! Apa-apaan coba aku ini?! Aku membuat orang yang masih hidup dan punya mimpi seperti Aria dalam bahaya!
"Oh, aku cukup terhibur, Aria Fatia! Kau membuat semacam drama disini. Bagus! Aku suka itu!" ucap si wanita berjubah hitam sialan itu.
Lama-lama, darah dari perut Aria makin banyak menetes. Sesekali ia batuk dengan dahak darah. Sial! Dia sampai begini karena kecerobohanku.
Maafkan aku... aku akan membalaskan lukamu itu! Aria benar, yang di depanku ini bukan Ayahku. Aku benar-benar bodoh hingga terkevoh dengan trik murahan seperti ini.
"Aria, pergilah!" pintaku.
"T'terima kasih! Aku serahkan padamu!" ucap Aria lalu berlari.
Aku mengeluarkan pisauku dari sarungnya. Aku tak perlu ragu lagi. Badan kasar tidak dapat menunjukkan kebenarannya. Aku harus membunuh orang di depanku ini, dia bukan Ayahku!
Aku menusuk dadanya. Lihatlah, wanita berjubah hitam yang penuh dosa! Aku berhasil menaklukan teknik busukmu! Apa kau mau melihatnya lagi?! Baiklah! Akan kutusuk lagi! Kutusuk, kutusuk, kutusuk, terus menerus, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi! HINGGA KAU PUAS!
"Oh?! Apa kau sudah gila?" tanya wanita berjubah hitam biadab.
"Mungkin. Tapi, tak cuma dia yang akan kusiksa seperti itu. AKU AKAN MELAKUKANNYA PADAMU!"
*****
~Couria
Hewan-hewan aneh itu mulai ingin menyerang kami seperti hewan buas pada umumnya.
Alice memberanikan diri lalu memunculkan sabitnya dan membunuh setiap hewan-hewan aneh yang mendekatinya. Carrie juga menyerang hewan-hewan itu dengan pisau di sakunya yang sangat banyak itu.
"Berapa banyak pisau yang kau simpan?" tanyaku sambil tetap menyerang hewan-hewan yang ingin menyerangku.
"Entahlah kak! Kemarin, aku membuatnya dari beberapa ranting... " jelas Carrie sambil melempar-lempar pisaunya ke aeah hewan-hewan buas.
Belakangan ini, dia ahli dalam hal membuat senjata. Tapi, ia tak sekedar ahli, dia bisa membuat apapun menjadi senjatanya. Entah sejak kapan ia bisa melakukannya, mungkin saja ia sudah lama menyembunyikan keahliannya itu.
Akhirnya, semua hewan-hewan buas yang mengepung kami tadi akhirnya musnah. Baguslah! Kalau begini, kita bisa melanjutkan pencarian kita!
"Ayo, Alice, Carrie! Kita lanjut menca-"
"Mencari siapa?!" tanya seseorang dari arah belakang.
Aku langsung melirik orang yang tadi bicara. Orang itu bukanlah Ayah, bahkan hawanya saja jauh berbeda. Meski orang itu punya semacam hawa kegelapan, hawanya tidak sekuat hawa Ayah.
Yang membedakannya adalah, sepertinya orang itu mendapat sifat buruk atau hal-hal yang berhubungan dengan kegelapan bukan dari dirinya sendiri, melainkan faktor lingkungan.
Kalau dari penampilan, orang itu nampaknya sudah lanjut usia. Badannya kurus tinggi dan kekar. Rambutnya putih karena usia, wajahnya sudah berkerut, dan bola mata birunya sudah tak bercahaya layaknya kalangan orang muda.
"Apa kau anak buah Jackstein Himala?" tanyaku tanpa ragu.
"Benar sekali, tapi, beliau tidak memperlakukanku bagai bawahan. Dia menemukanku terlantar di hutan ini. Aku tak punya ingatan tentang keluarga, teman, sahabat, atau bahkan nama sendiri. Tapi, saat aku kehilangan arti hidup, beliau datang untuk memberi arti sebuah kehidupan. Melatihku bela diri, dan banyak hal lainnya. Sedangkan untuk urusan melayaninya, akulah yang memutuskan. Karena itu, aku siap melayaninya sampai harus membunuh anak muda seperti kalian... " jelas pria tua itu sambil mengambil anak panah di punggungnya dan panahan.
Sial! Sepertinya Ayah berencana mengulur waktu dengan mengirim lagi temannya, agar Ayah bisa melakukan hal yang diinginkannya, atau mungkin sengaja membuatku melawan Ayah sendirian tanpa teman-temanku.
"Kakak Couria cari saja Paman Jack! Biar aku dan Alice yang menangani orang ini!" usul Carrie.
Setelah Carrie membicarakan usulannya, Alice menganggukkan kepala.
Baiklah Couria! Kalau memang ini mau Ayahmu, kau harus siap! Teman-temanmu sudah sangat mempermudah jalan, aku juga tak boleh mengecewakan mereka!
"Baiklah! Aku serahkan dia pada kalian!" ucapku lalu pergi.
*****
~Aria
Sialan! Pendarahan pada lukaku belum berhenti juga! Padahal aku sudah membasuhnya dengan air. Bagaimana ini, apa ada semacam tanaman obat di hutan ini?! Aduh! Bertahanlah sebentar lagi, Aria!
Meski tadi itu muncul bagai tokoh tambahan yang siap mati, sebenarnya aku belum ingin mati sama sekali! Ah, bodoh sekali! Mana mungkin wanita kuat sepertiku bisa mati hanya karena sekali tembak?!
Selain itu, kalau aku bisa selamat, aku bisa mengejek Indhira lagi bukan?! Dia pasti sangat menyesal! Ah, semoga saja dia berhasil meski lemah dan bodoh!
"Aria! Kau baik-baik saja?!" tanya Paman Arrie yang berlari mendekatiku yang berada di pinggir sebuah sungai.
Bodoh sekali! Kenapa Paman malah meninggalkan Indhira sendirian?!
"Kenapa Paman kesini?! Bagaimana dengan Indhira?!" protesku.
"Setelah kau terluka, dia sangat marah. Dia menyuruhku mencarimu dan dia bertarung dengan sekuat tenaga. Tapi tenang saja, aku akan segera membantu Indhira lagi setelah berhasil mengamankanmu... " jelas Paman Arrie.
Cih! Lagipula aku sangat baik-baik saja! Buktinya aku bisa berjalan sampai sungai ini dengan jarak yang cukup jauh! Kalau Indhira ditinggal, keadaannya malah makin kacau!
"Aku tak perlu! Aku bisa sendiri... " jelasku.
"Jangan mengelak! Aku sendiri juga khawatir, kalian semua aku khawatirkan! Kau, Couria, Indhira, Alice, apalagi anakku sendiri, aku mengkhawatirkan kalian semua! Karena itu cepatlah obati lukamu itu!" ucap Paman Arrie sambil menarik tanganku dan langsung berlari.
Cih! Aku benar-benar baik-baik saja. Andai mereka semua tahu betapa kerapnya aku mendapat luka fisik, bahkan mental sekalipun. Luka seperti ini, hanyalah zero bagiku.
Tapi kalau mereka semua yang selama ini kubuat kesal malah menyayangi dan menerima keberadaanku, aku juga harus menyambutnya dengan baik. Mengingat banyak hal bodoh yang selama ini aku lakukan di tim ini, membuatku ingin tertawa sekarang.
Tapi, meski aku kini sedang nostalgia, jangan pikir aku akan meninggal sekarang! Ragaku akan terus panas, degup jantung ini takkan berhenti! Aku akan menjadi orang yang punya hasrat hidup yang tinggi meski tampil jadi tokoh sammpingan!
Tak masalah jadi tokoh sampingan bukan?! Asal orang-orang mengenalku dari semangatku yang menggebu-gebu, aku sangat bangga! Selemah, dan sebodoh apapun diriku, semangat menutupi segalanya!
"Tenang saja Paman... " bisikku.
"Mau siapapun si tokoh utama, tokoh tambahan ini tidak akan kabur dari cerita begitu saja! Aku akan tetap ada sampai sejauh apapun endingnya!" sorakku.
Paman Arrie malah makin kebingungan. Aduh, memangnya apa salahku bicara seperti itu? Meski terdengar seperti orang bercanda, aku ini sedang sungguh-sungguh lho! Bahkan aku ingin meloncat dan segera membakar beberapa tokoh antagonis di dalam cerita yang sedang berlangsung ini!
"Aduh! Lupakan sajalah! Intinya, sampai kapan pun akhirnya, aku akan tetap hidup seperti saat biasanya. Menjadi wanita bodoh, ceroboh, yang tidak terlalu kuat, tapi penuh semangat! Aku suka menjadi diriku yang sekarang meski itu umumnya hanya sifat tokoh sampingan!" jelasku dengan penuh semangat.
Paman Arrie terdiam. Bahkan langkah kakinya berhenti. Apa dia akan berkomentar? Sudahlah Paman! Harusnya dia tidak peduli!
"Wah-wah... kau memang calon istri Zein ya!" ucap Paman Arrie dengan semangat sambil menoleh kearahku dengan senyum bodoh.
APA?! APA-APAAN COBA OMONGANNYA TADI?!
Kenapa aku malah disangkut pautkan dengan Zein! Zein?! Hahaha! Pria bahenol dengan sifat sok adil itu, dicocokkan denganku yang cerdas dan kuat ini?! Yang benar saja!
"JANGAN MELAWAK DI SAAT SEPERTI INI!" ucapku lalu tertawa.
"Aku serius lho. Saat ia lomba, ia sempat dipukul musuh. Saat istirahat, ia bilang beginu padaku, "meski aku bukan orang kuat, aku akan tetap seperti biasanya! Selalu semangat meski tampil bodoh dan lemah!" Itu berarti, kalian punya motto yang sama bukan?!" tanya Paman Arrie.
Eh?! Kenapa bisa sampai sama begitu?! Cih! Zein sialan! Kenapa dia menjiplak kata-kataku?! Ligat saja nanti, bukan Indhira, tapi kaulah yang kuajak duel!
"Cih! Ada bedanya kok! Jangan samakan aku dengan orang bodoh itu! Dia it-"
ADUH!
Sial! Lukaku kambuh lagi! Aduh, sakit sekali!
"Aria! Kau baik-baik saja?! Apa perlu Paman gendong?!" tanya Paman Arrie.
Ush! Cuma begini saja ditawari gendongan?! Memangnya aku bayi?! Tapi tawaran Paman Arrie boleh juga. Karena luka ini, tubuhku, bahkan seluruh bagiannya terasa sangat sakit! Aku bisa jadi sudah akan kesusahan berjalan sekarang.
"Ah baiklah!" ucapku dengan sangat terpaksa.
Kalau tidak, lukaku malah tambah menyakitkan.
*****
~Indhira
"Oh, akhirnya kau membunuhnya?" tanya wanita berjubah hitam.
Cih! Kenapa orang itu sangat mudah mengecoh diriku?! Apa aku memang orang bodoh?! Mungkin, bahkan aku lebih bodoh daripada Aria!
"Aku tidak ingin tenggelam pada lautan kebodohan... " ucapku.
"Kata yang cukup puitis! Bagaimana kalau aku melontarkan kata indah juga! Apa yang baru saja kau alami itu, itu adalah keajaiban yang Tuhan berikan padamu! Semua manusia, baik dengan keadaan hidup seperti apapun, pasti masih diberkati sebuah keajaiban oleh Yang Maha Kuasa!" ucap wanita berjubah hitam.
Hah?! Orang sekeji dan sehina dia, masih mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Kuasa? Ini benar-benar aneh. Ini jauh dari dugaanku. Apa dia masih berpikir kalau Tuhan Yang Maha Kuasa memberinya jalan untuk melakukan seluruh hal keji seperti ini?! Yang benar saja!
"Tak kusangka orang jahat dan keji sepertimu masih bisa berdoa dan percaya keberadaan Tuhan Yang Maha Esa! Jangan bilang kalau kau percaya Tuhan Yang Maha Esa memberi keajaiban tertentu untuk membantumu melakukan hal-hal keji!" ucapku sambil tersenyum pada wanita berjubah hitam.
*****
~Couria
Aku yakin Ayah ada di hutan ini. Bukan di luarnya, tapi jauh di dalam hutan ini. Lama-lama, setelah aku ditinggal teman-temanku yang lainnya, hawa Ayah makin terasa tepat di dalam hutan ini.
Kemungkinan besar ia berencana membuatku melawannya sendirian. Entah itu agar memudahkannya atau sekedar ingin menikmati duel. Intinya, aku harus siap dengan kemungkinan apapun yang mungkin akan terjadi.
Aku berlari sekencang-kencangnya hingga hawa hutan dan Ayah makin terasa. Namun syukurlah Ayah memilih tempat yang jauh seperti ini, jumlah kematian orang tak berdosa dapat dikurangi.
Semakin lama, aku semakin dekat dengan hawa Ayah. Karena sudah memasuki bagian tengah hutan, hewan dan tanaman tampak makin banyak. Sepertinya para hewan tak menduga kedatangan manusia sepertiku. Hewan-hewan segera kabur ke dalam semak-semak.
Ya, sedikit lagi. Sedikit lagi, aku akan bertemu dengan Ayah.
Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin langsung memeluk Ayah. Tapi, kenyataan berkata lain. Aku bukan berhadapan dengan seorang Ayah, tapi seorang pembunuh berantai yang gila hanya karena dendamnya.
Karena penyebab dendam Ayah adalah diriku sendiri, maka aku harus menghentikannya. Tapi menghentikannya hanyalah ide bodoh. Ia sudah gila, mata hatinya sudah buta akan dendam. Bicara baik-baik padanya hanya mimpi, apalagi kalau aku berharap ia menjadi Ayahku.
Jujur saja, aku belum benar-benar siap membunuh Ayah. Tapi, seperti slogan "hilang satu demi seribu", maka aku harus siap membunuh orang yang sangat berharga di hidupku demi ratusan juta nyawa lainnya.
Akhirnya, aku benar-benar melihat sosok Ayah didepanku. Awalnya kupikir ini hanya khayalan, tapi dunia tak mungkin bohong.
Aku dapat merasakannya, rasa ingin membunuhku pada Ayah yang amat kuat. Dia benar-benar amat sangat membenciku. Kebenciannya lebih dari segalanya. Aku tak dapat mengungkapkan kebenciannya padaku melalui kata-kata.
Baginya, akulah penyebab segala kepedihan di dalam hidupnya. Akulah sosok tergelap di matanya. Kelahiranku adalah dosa terbesarku di matanya.
"Dia tak boleh ada di dunia ini, ia harus lenyap dari dunia ini. Ia penuh dosa, ia tak punya hati, ia penyebab segala masalah di hidupku... "
Itulah yang selalu diucapkan Ayah pada hatinya. Hatinya yang tlah terisi kembali hampa hanya karena kedatanganku pada dunia ini.
"Aku sampai memilih tempat seistimewa ini untuk akhir hidupmu... berterima kasihlah!" ucap Ayah dengan sangat percaya diri.
Aku sebenarnya sangat kasihan pada Ayah. Ia terbutakan oleh kesalah pahaman yang disebabkan oleh hatinya sendiri. Bagai orang yang sengaja menenggelamkan diri di laut racun.
Tapi sayangnya kebutaannya tak dapat diobati lagi. Mungkin diriku menghantui pikirannya. Ia sudah menunggu saat seperti ini. Ia melakukan segala hal demi hari ini. Ia tak peduli berapa nyawa yang lenyap. Ia tak peduli berapa dosa dan karma yang menimpanya. Ia hanya tahu dan yakin kalau dia harus membunuhku, ia amat sangat membenciku.
"Kenapa kau membenciku hingga menyiksa diri sendiri seperti itu?" tanyaku.
"Karena rasanya, aku tak punya apapun selain kebencianku padamu. Aku tak peduli Tuhan akan memperlakukanku seperti apa, " ucap Ayah dengan sangat yakin.
"Hidupku hanya tentang kebencianku pada Couria Himala. Apa itu kata yang selalu kau ucapkan pada hatimu?" tanyaku lagi.
"Lebih tepatnya, aku tak punya ruang untuk mengucapkannya. Aku tak punya raga, apalagi hati. Aku tak sedang berada di manapun. Tapi, mungkin semua akan kembali saat aku membunuhmu. Aku akan sangat bahagia. Aku akan tertawa sepuasnya... " jawab Ayah.
Susah kuduga, ia akan bicara seperti itu padaku.
"Kalau begitu... " ucapku sambil mengeluarkan pedangku.
"Kau tak boleh memiliki apapun... "