
Setelah mengucapkan janji besarku pada Nati dan seluruh dunia, aku pelan-pelan terbangun di dunia nyata.
"Untunglah, kau sadar juga!" ucap Indhira dengan wajah lega.
"Dasar ceroboh! Makanya, saat selesai melakukan sesuatu, jangan langsung lega!" ucap Aria.
Cih! Siapapun pasti akan mengalami hal sepertiku! Lagipula, meski Ayah melakukan hal sekeji ini, aku masih belum bisa membencinya. Kalau begini terus, mungkin aku tak dapat membunuhnya dengan baik.
"Tapi kau cukup hebat, nak! Dengan peluru yang sebesar dan setajam itu, kau masih bisa bangun bahkan di hari yang sama saat kau mendapat luka!" puji Paman Arrie.
Hebat darimana coba?! Kalau aku memang benar-benar hebat, seharusnya aku bisa setidaknya mengejar Alice tadi! Sudah kuduga, aku memang paati akan sangat kesulitan untuk menepati janjiku pada Nati.
*****
~Alice
Cih! Sial! Badanku yang terlalu kecil atau bagaimana?! Kenapa aku tak bisa lepas dari besi tua seperti ini?! Aku tak ingin sama sekali merepotkan Couria, aku takut, saat ini, aku malah membebani pikiran Couria, terlebih setelah ia mendapat luka parah dari Ayahnya sendiri. Aku harap, kini ia baik-baik saja.
Berkali-kali aku berupaya melepaskan diri, tapi tetap saja rantai-rantai besi yang mengikatku tak lepas, bahkan berubah posisi pun tidak.
"Ya ampun, apa-apaan ini? Lalat kecil sepertimu ingin melepaakan diri. Ya, aku tahu, lalat adalah hewan yang kecil, cukup sulit untuk ditangkap, tapi, saat kau berhasil menangkapnya, tak ada hal yang tak mungkin. Kau bahkan, bisa menyiksanya, mulai dari mematahkan sayapnya, kakinya, hingga jantungnya. " ucap wanita pendamping Ayah Couria dengan jubah hitam dan rambut hitam terurai panjang sampai betisnya, dengan sesikit bagian rambut yang dikepang.
Tapi, entah kenapa, aku merasa pernah melihat wanita itu. Ah sudahlah, mungkin itu hanya imajinasiku. Intinya, wanita ini sudah membantu pembalasan dendam Ayah Couria, atau mungkin, ia malah mengasah dendam Ayah Ayah Couria.
"Wanita dengan lidah panjang dan runcing sepertimu tak berhak bicara!" bentakku.
"Menuduh orang tanpa bukti itu buruk, jangan dibiasakan, lalat kecil... " ucap wanita berjas hitam itu.
Sial! Dari penampilan dan gaya bicaranya saja aku sudah tahu kalau wanita itu merupakan orang licik!
Tapi, ya, memang benar, seluruh tragedi ini merupakan buah dari kesalahan besarku yang mengutuk Haeva yang sama sekali tak bersalah. Justru akulah yang terlalu naif, dan terbutakan oleh cinta.
Andai aku tak melakukan hal itu, andai aku menyerahkan diri di perang menara bell sebagai peserta kalah dan membiarkan diriku mati. Sudah kufuga kalau aku adalah wanita hina. Padahal ini salahku, aku malah membenci orang yang menyimpan dendamnya karenaku.
"Kalau kau mau, kau boleh membunuhku. " ucapku pelan.
Wanita dengan jas hitam itu tampak terkejut setelah negosiasiku tadi.
"Dengan syarat, tidak melanjutkan dendam Jack Himala pada anaknya. " lanjutku.
"Sudah kuduga. Tapi, tak akan semudah itu, lalat kecil! Kau pikir aku dan Jack sebodoh itu?! Dengar, lalat kecil! Karenamulah, segala hal ini terjadi. Kau hanya perlu menikmatinya... " ucap wanita berjas hitam itu lalu pergi.
Sial! Wanita itu tak salah juga! Andai aku tak segila itu dulu, hal-hal seburuk ini tak akan pernah terjadi!
*****
~Couria
Aku berusaha bangun perlahan dari kasur, tapi tiap aku berusaha melakukannya, luka di perutku selalu terasa kambuh, bagai ditembak lagi.
"Kakak jangan memaksakan diri!" bujuk Carrie sambil membawaku kembali di posisi awal di kasur.
Setelah aku kembali di posisi awalku, aku memutuskan untuk mengatakan beberapa hal yang selalu mengganjal di pikiranku yang membuatku tak bisa tenang.
"Nah, Carrie, apa setelah kau membunuh Bu Rosalia, apa kini kau merasa tenang?" tanyaku.
"Dibilang tenang tidak juga. Mungkin, mendekati puas. " ucap Carrie sambil tersenyum.
Puas, ya? Mungkin saja itu benar. Ia puas karena ia bisa meluapkan dendamnya yang dipendam selama hidupnya. Kalau begitu, apa Ayah mengalami hal yang sama dengan Carrie.
"Jika seandainya kau gagal membalaskan dendammu, apa kau akan marah?" tanyaku lagi.
"Aku yakin kakak ingin melihat sudut pandang Paman Jack dariku kan? Jangan bodoh! Paman Jack memiliki dendam pada kakak tidak berdasarkan bukti-bukti dan fakta sebenarnya, dan mungkin saja, karena cinta bodoh, ia rela mengorbankan kewarasannya. Bukannya sombong, aku sangat berbeda. Aku selalu menyelidiki penyebab kematian Ibuku, aku mencari banyak bukti, hingga aku yakin sepenuhnya kalau Rosalia Velvet memang benar-benar membunuh Ibuku. Rasa puas yang aku dapat setelah membunuh Rosalia Velvet, tidak membuat hidupku tenang. Karena, misi utama hidupku, adalah melanjutkan tujuan hidup Eable. " jelas Carrie sambil tersenyum.
Mungkin saja ia memang benar. Mana mungkin anak jenius sepertinya hidup hanya untuk membalaskan dendamnya. Nati juga sering menekankan kalau Ayah telah kehilangan kewarasannya.
"Maafkan aku Carrie, aku malah menyamaimu dengan Ayah... " ucapku sambil menunduk.
"Sudah-sudah jangan dipikirkan! Aku tahu, di keadaan seperti ini, kau sangat ingin tahu seperti apa Paman Jack kan? Tapi kak, jangan gentar. Tak ada yang akan menyalahkanmu bila kau membunuh Paman Jack!" bujuk Carrie.
Setelah mendengarnya, aku jadi sedikit lega. Entah kenapa, aku bisa merasakan hawa kasih sayang seorang Ayah darinya, apa ini karena bekas perasaan Tenbri yang tetap membekas hingga kini.
"Couria, Carrie!" panggi Paman Arrie sambil masuk ke kamarku dengan cepat lalu duduk di kursi yang ada di samping Carrie.
"Tadi, Tuan Alter menelpon ke telepon rumah ini! Katanya, Jack Himala mulai melakukan aksi gilanya. Ia membantai anak-anak dan remaja di Bell tanpa menutupi identitasnya!" jelas Paman Arrie.
"Cih! Jelas-jelas itu adalah pancingan agar kita segera membunuhnya dengan tergesa-gesa!" protes Carrie.
Carrie mungkin benar. Tapi, di keadaan seperti ini, aku sungguh tak bisa berpikir dengan tenang. Apa yang harus kulakukan?! Alice, dan orang-orang Bell membutuhkan kami, tapi, sial!
"Maafkan aku Couria! Untuk saat ini, kau istirahat saja, aku akan bicara pada Tuan Alter untuk setidaknya membuat penjagaan agar kakak tidak menjadi-jadi. Baiklah, aku permisi dulu, Carrie, kau jaga saja Couria!" pinta Paman Arrie lalu pergi keluar.
"Kak Couria jangan tergesa-gesa! Kalau kakak tenang, aku yakin, luka kakak akan segera pulih!" pinta Carrie.
Setelah mengalami perubahan sifat yang terjadi akibat dendam yang ia pendam sejak lahir, ia masih bisa berpikir sehat. Sudah kuduga, aku ini adalah orang yang sangat payah!
"Apa lebih baik kita mengusung rencana sekarang?" tanyaku.
"Tapi untuk saat ini, jadikan itu sebagai pembicaraan santai. Jadi, kalau menurutku, hal pertama yang harus kita perhatikan adalah keselamatan warga negeri Bell. Pertama, kita harus memancing Paman Jack dan orang-orang yang membantunya untuk berperang dengan kita di lingkungan yang harus jauh dari para warga Bell, dengan begitu, korban orang yang tidak terlibat dapat kita cegah. " jelas Carrie.
Aku mengangguk pelan. Itu juga ada di pikiranku. Tapi, memancing Ayah dan orang-orang yang membantunya tak semudah memancing hewan agar mau pergi dengan mudah. Mereka cukup pintar, kadang mereka malah selangkah lebih maju dari kita.
"Apa kau tak punya ide, bagaimana cara memancing mereka?" tanyaku.
"Untuk saat ini, masih belum sih... " ucap Carrie dengan sedikit khawatir.
Sebenarnya aku memiliki sebuah idea untuk hal ini sih. Baiklah, daripada disembunyikan, langsung saja aku jelaskan.
"Aku memiliki sebuah rencana, tapi rasanya ini sama sekali tak manjur, aku rasa, tapi aku harap kau mau mendengarnya. Jadi, kita akan mengirimkannya undangan bertarung di tempat yang jauh. Namun, kalau mereka justru suka melihat banyak korban jiwa, aku rasa ide ini sangat bodoh. " jelasku.
Cih! Memangnya aku bisa mengelabui orang sakit jiwa yang cerdas seperti Ayah dan orang-orang yang menemaninya?!
"Itu tidak sepenuhnya ide bodoh kak! Aku rasa, Paman Jack tak sedang mengalami sakit jiwa akut yang membuatnya selalu terobsesi dengan pembantaian. Ya, mungkin kini beliau sudah gila. Tapi, ia hanya punya satu tujuan, yakni membunuh kakak. Ia rela melakukan apapun untuk memuaskan dendam, yang seharusnya tidak dilempar ke kakak. Beliau sudah berlebihan, jadi, menurutku, kalau kakak mengirimi beliau undangan berperang, ia akan menyambutnya dengan sangat bahagia, percayalah!" jelas Carrie dengan sangat percaya diri.
Carrie ada benarnya juga, tak salah juga kalau aku mencobanya. Kalau pun gagal, kita bisa melakukan hal lain. Sialan! Aku harus dapat segera menyembuhkan lukaku!
Bukannya aku ingin muncul sebagai penyelamat, aku malah lebih merasa menjadi si tersangka. Karena akulah, Ayah melakukan hal yang tak terpuji seperti ini! Aku tak ingin ada yang meninggal lagi hanya karena dendam Ayah padaku!
"Jika hal itu gagal, apa ada ide lain darimu?" tanyaku pada Carrie.
"Kalau hanya sekedar melarikan diri ke tempat yang jauh dari lingkungan orang banyak, sepertinya, itu adalah hal yang bodoh. Karena kini kita tak sedang memancing hewan buas. Kalau begitu, aku sama sekali tak punya ide. Tapi Kak Couria, entah kenapa, aku malah merasa kalau Paman Jack sendirilah yang akan mengundangmu untuk berperang di tempat yang jauh dari lingkungan masyarakat. Ia melakukan hal-hal keji ini untuk-"
"Meningkatkan emosiku dan bila seandainya ia mengirimi permintaan perang, aku akan menjawabnya dengan tergesa-gesa, hingga aku mati bukan?" tanyaku di sela Carrie sedang bicara.
Aku tahu Carrie akan mengatakan hal itu. Itu adalah trik pembantai yang cukup jarang, tapi pada masa-masa kerajaan di kerajaan mana pun, trik itu sering dilakukan oleh kerajaan yang jenius.
"Itu salah besar, kak!" elak Carrie.
"Paman Jack bukan ingin membuatmu lemah di pertarungan, tapi malah sebaliknya! Coba kakak pikir, siapa manusia pertama yang paling mengerti pola pikir kita paling awal, jelas orang tua kita! Meski tak sepenuhnya benar, kakak selalu memunculkan aura unik! Setiap kakak marah, kakak akan makin kuat dan semangat, bukannya makin ceroboh! Kakak bukanlah manusia seperti Kak Aria yang akan sangat-amat marah dan gegabah saat emosinya sedang dipermainkan!" jelas Carrie dengan sangat yakin.
*****
Senin, 9 Mei 2020
Dibanding kemarin, tubuhku rasanya sudah jauh lebih baik, daripada aku berbaring terus-menerus, lebih baik aku sekolah saja.
Saat aku sarapan, semua orang dirumah tampak heran. Entahlah, tapi aku merasa mereka sedang heran.
"Tunggu dulu Couria! Kau mau sekolah sekarang?!" tanya Kak Sylya sambil mengayunkan sendok satur yang dibawanya.
Oh, jadi alasan mereka semua heran adalah keputusanku untuk sekolah hari ini. Seharusnya aku memang bisa sekolah hari ini. Ya, mungkin hanya mnaluriki, sebenarnya Ayah mungkin agak gentar untuk menyerangku, ia hanya ingin mempermudah jalan rencananya dengan menyerangku.
"Sudahlah, lukanya tidak seburuk itu! Aku sudah merasa sehat!" ucapku.
"Sudahlah Sylya! Lagipula Tuan Couria tak sedang sekolah di pulau jauh dan sekolah tak sendirian! Paman, sepupu, kalau kenapa-napa Tuan Vouria akan mendapat banyak pertolongan!" ucap Weinhard sambil melempar tas kearahku. Mau tak mau aku harus menangkapnya.
Jauh lebih baik kalau suasana dirumahku seperti ini. Meski mereka dulunya dianggap anggota rumah paling bawah, kini mereka bisa menjadi layaknya keluargaku.
"Kalau begitu aku berangkat dulu ya! Weinhard, ayo!" ajakku.
"Ya! Ayo!" ucap Weinhard lalu pergi keluar.
Setelah menggendong tas selempangku, aku langsung menyusul Weinhard dan masuk ke mobil. Weinhard langsung menghidupkan mesin mobil dan menyetir mobil.
"Apa Tuan mau diputarkan lagu?" tanya Weinhard.
"Ah, tidak usah. Nanti aku malah mabuk perjalanan. " ucapku sambil memandangi pemandangan di kaca mobil jendela.
"Mabuk perjalanan?!" tanya Weinhard dengan sangat tak percaya.
"Ti' tidak usah peduli! Ini bukan urusanmu! Menyetir saja dengan baik sana!" pintaku.
Cih! Karena luka ini, aku memang merasa tak enak di mobil. Rasanya, kalau Weinhard memutar lagu, aku mungkin malah merasa tidak nyaman, mabuk perjalanan, bahkan parahnya mungkin sakitnya kambuh lagi.
"Oh begitu. Aku yakin Tuan Couria belum benar-benar sembuh. Aku menyesal membela Tuan Couria saat Sylya memarahi anda!" ucap Weinhard sambil tersenyum.
Ih! Ya ampun! Saat ini aku sedang dalam pemulihan! Mabuk perjalanan, nyeri yang kambuh lagi, semuanya wajar. Kalau mereka terus khawatir begini, aku bisa apa? Berbaring berhari-hari?!
Karena larut dalam emosi, tanpa sadar, aku sudah sampai di depan akademi. Tampaknya aku tak terlambat atau pun hadir paling awal.
"Aku turun sekarang!" ucapku lalu pergi keluar dari mobil.
"Kalau sakitnya kambuh pinjam telepon sekolah dan panggil nomor telepon rumah! Agar aku tahu dan segera menjemput Tuan!" ucap Weinhard lalu pergi bersama mobil rumah yang disetirnya.
Aku menghela nafas dan mulai melangkahkan kaki pelan-pelan. Sial! Aku baru ingat kalau akademi masih hancur lebur. Ada kemungkinan besar aku akan belajar di luar, sangat tidak nyaman!
"Hei!"
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang. Cih! Setelah menoleh kebelakang, ternyata Einslah pelakunya! Aku sampai terkejut!
"Cih! Bisa tidak melakukan hal nakal seperti itu?!" protesku.
"Eh? Bilang saja kamu kesal karena kau terkejut!" goda Eins sambil memasang senyuman nakal.
Cih! Aku benar-benar malas mengatakan kalau aku sedang dalam proses penyembuhan dari luka yang cukup parah, karena letaknya yang cukup dekat dengan organ vital.
"Ah sudahlah! Omong-omong, kita akan belajar dimana, di keadaan seperti ini?!" tanyaku sambil menoleh kesana-kemari, sambil mengira-ngira tempat kami belajar.
"Nanti juga kita akan diarahkan oleh para guru, tenanng saja! Sekarang lebih baik kalau kita santai-santai dulu!" ucap Eins dengan mudah dan santainya.
"Musuh pun menduga kalau kau akan ke akademi hari ini!" ucap Aria yang tiba-tiba berada di depanku dan Eins.
Apa-apaan coba maksudnya ia bicara begitu?!
"Ada apa? Apa maksudmu? Musuh, siapa?" tanyaku.
"Setelah kau mengikutiku kau akan tahu, sudahlah, ikuti aku! Paman Arrie memintaku untuk membawamu ke dia!" ucap Aria lalu pergi.
"Tunggu dulu!" ucapku lalu menyusul Aria.
*****
"Sudah kuduga, ponakan kecilku pasti akan sangat nakal!" ucap Paman Arrie sambil menepuk-nepuk bahuku.
Ya ampun! Perlakuan pamanku yang satu itu tak berubah sama sekali sejak aku kecil.
"Sudahla Paman! Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku.
Paman Arrie berhenti memukul-mukul pundakku dan mulai masuk ke situasi serius.
"Maaf kalau pembicaraan ini malah membuatmu makin tak senang. Jadi, lebih baik aku serahkan ini padamu!" ucap Paman Arrie sambil memberiku sebuah amplop yang sudah sempat terbuka.
"Tadi Pak Satpam sekolah yang menyerahkannya padaku. Katanya, orang yang memberinya surat itu tak bicara apa-apa selain meminta tolong untuk menyerahkan surat ini pada murid atas nama Couria dan rekan-rekannya. Karena kami merasa menjadi rekanmu, kami membaca isi surat itu juga. " ucap Paman Arrie sembari aku mengeluarkan surat dalam amplop.
Dalam surat tulis tangan itu tertulis,
*Aku yakin kalian semua sudah tak tahan lagi melihat tindakan-tindakan yang selama ini kami lakukan.
Mulai dari memanfaatkan kepolosan remaja bernama Daisy hingga membantu penegak revolusi menjalankan tujuannya. Tapi kami sudah tahu dan sudah siap untuk gagal.
Tapi itu bukanlah akhir, seperti yang kalian tahu, beberapa waktu ini kami membantai banyak warga Bell, dan kalian semua pasti tahu maksud kami, jadi jelas-jelas kalian tahu yang mana jebakan yang mana yang bukan jebakan, karena kalian semua terdidik dan jenius.
Setelah kami melakukan hal-hal keji sebanyak itu, kami sudah tak punya pilihan lain lagi. Rekan-rekan kami cukup banyak yang habis, kami juga tak punya waktu dan kesabaran lagi.
Kami juga menghargai persaingan imbang, karena itu akan membuat rasa persaingan kita semakin nikmat. Jadi kami menunggu salah satu rekan kalian, Couria Himala agar sembuh.
Setelah sembuh, kami tunggu surat dari kalian untuk penerimaan perang...
Salam persaingan,
Jack Himala*.
Ini benar-benar seperti yang Carrie katakan. Ternyata Ayah menginginkan persaingan yang imbang.
"Tapi bukannya ini aneh? Kenapa ia blak-blakan seperti ini?" tanya Aria.
"Dengan masih memasang nama "Himala" , aku sadar kalau kakak masih menjunjung tinggi hukum marga "Himala", yakni "Membunuh dengan terhormat", "Beberapa demi seribu", dan "rela hina demi bisa". Semua tindakannya selama ini tampak seperti keji, tapi sejak kecil, ia menginginkan kedamaian. Tapi tetap saja, manusia seperti ia harus dibasmi! Kau diberi kesempatan, Couria! Gunakan kesempatan ini dengan baik!" pinta Paman Arrie.
Rela hina demi bisa. Aku yakin, itulah yang Ayah lakukan saat ini. Ia tak takut dibenci, ia tak takut berdosa. Ia pikir, setelah membunuhku, ia bisa lega dan mungkin saja akan mengincar kedamaian dunia yang abadi. Ya, itu pencapaian yang ingin diraihnya.
Tapi, itu jelas keputusan yang sangat salah. Ya, ia sudah masuk fase dibenci dan berdosa, tapi ia tak peduli. Idealismenya sangat menyimpang, karena itulah langkahnya harus dihentikan!