
"Bagaimana, kau sudah siap dengan rencana yang aku buat?" tanya Nati.
Dia sudah menjelaskan sebuah rencana yang baginya pasti sangat manjur. Dia juga sudah membantuku untuk tidak ragu lagi besok. Dia berjanji akan memberiku kebebasan untuk menangis, berteriak, atau hal apapun yang dapat mengekspresikan emosiku.
Dia mungkin sadar betapa menyesakkannya bila aku berhasil membunuh Ayah besok, karena dia juga pernah mengalami hal yang sangat pilu, bahkan tentang dirinya sendiri.
Aku belum apa-apa, tapi ini saja sudah membuatku sangat terpukul. Aria, wanita tanpa kesabaran itu saja berhasil membunuh Ayahnya yang sudah tega membunuh banyak nyawa, termasuk ibunya sendiri. Bahkan, ia sendiri tak tahu kalau harus berhadapan langsung dengan Ayahnya yang ia pikir sudah meninggal sejak lama.
Aku juga tak boleh ragu! Sebaik apapun masa lalu yang kujalani bersama Ayah, yang harus kupentingkan adalah nyawa banyak orang dan masa depan negeri ini. Aku sudah tak peduli lagi dengan ragaku sendiri.
Selain itu, meski rencana yang Nati usulkan tadi sangat beresiko, khususnya pada mental dan ragaku sendiri, aku harus benar-benar siap melakukannya. Karena, mungkin saja itu satu-satunya jalan.
"Aku siap!" seruku tanpa ragu.
*****
~Paisaca
"Dimana kita akan menculik anak-anak lagi, Jack?" tanyaku.
Ah, anak itu memang tak bisa dibujuk. Ia malah menikmati penculikan dan pembunuhan yang dia lakukan, padahal awalnya hal itu hanya untuk memancing Couria agar menampakkan diri.
Tapi, asal itu membuatnya senang, aku tak ingin mengacaukannya sama sekali. Lagipula, anak-anak yatim piatu lemah yang kami culik rasanya tak perlu masa depan. Daripada membiarkan mereka tersiksa dengan kehidupan duniawi, lebih baik kami menuntun mereka ke keajaiban yang sebenarnya.
"Dimanapun kita menemukan seorang anak tanpa tujuan hidup, kita langsung saja ambil dan bunuh semuanya!" seru Jack lalu berjalan keluar dari markas kami berdua.
Dasar anak gegabah! Ah sudahlah, daripada mementingkan itu, lebih baik aku mengikutinya. Aku yakin hari ini penjagaan di kota Bell akan mulai ketat. Aku setidaknya harus mengeluarkan beberapa sihir dasar seperti sihir untuk kabur atau tak nampak.
Selain itu, entah kenapa, waktu kami untuk bersenang-senang membunuh anak-anak tanpa tujuan hidup ini hanya akan kami lakukan sekali lagi. Ah, lupakan! Lagipula sudah cukup kami bersenang-senang.
"Baiklah! Lakukan semua sesukamu!" ucapku lalu mengikuti langkah Jack.
Sudah kuduga, tawanan kecil bernama Alice itu sudah tak bisa tenang lagi. Setelah melihat kami pergi, dia nampak sangat marah dan sangat ingin lepas.
Tenang saja lalat kecil, kau akan kami bebaskan bersama dengan pangeranmu, ke alam sana!
*****
~Couria
Kamis, 23 Mei 1970
"Tidak belajar?!" tanya Aria dengan sangat terkejut.
Ya, Paman Arrie memberi dispensasi kepada seluruh anggota tim dua, karena kami akan fokus menghentikan Ayah beserta orang-orang yang diajaknya menculik anak-anak tak bersalah.
Kemungkinan besar, kami akan mulai mencari Ayah dan orang-orang yang diajaknya hari ini juga. Kemarin, aku sudah berjanji pada Nati, bahwa hari ini, aku akan membunuh Ayahku sendiri sesuai dengan rencana yang diusungnya kemarin.
"Memangnya kenapa hah?! Bukannya wanita bodoh sepertimu senang diberi kompensasi?!" tanya Indhira dengan maksud menyindir Aria.
"Kalau begitu, wanita lemah sepertimu tidak usah ikut misi!" sindir Aria.
Lagi-lagi, mereka bertengkar! Kemarin saja, mereka pulang hanya karena suara hewan malam, seperti jangkrik dan hewan lainnya. Juga langit yang makin gelap dan suasana yang semakin sunyi.
Aku mengetahuinya karena pengakuan langsung dari Indhira. Indhira tadi berkata, "Cih! Karena wanita bodoh itu, aku sampai terlambat pulang! Sudah hampir malam, aku baru pulang! Ketua, buang jauh-jauh wanita bodoh itu!"
Bahkan hingga hari ini, mereka tetap saja bertengkar! Sudahlah, pasti ada kalanya mereka menertawakan dirinya sendiri!
"Kalian seriuslah sedikit!" seru Paman Arrie pada Aria dan Indhira.
Sontak, Aria dan Indhira berhenti bertengkar sambil menyembunyikan wajah mereka. Ah sudahlah, mereka harusnya mengerti keadaannya sekarang!
"Apa Kak Couria bisa melacak keberadaan Paman Jack dan rekan-rekannya dari hawa gelap yang mereka miliki?" tanya Carrie.
Ya, usulan Carrie tadi benar. Mata kiriku dapat melacak seseorang hanya dari kegelapan dri segi fisik maupun mental yang dimiliki seseorang. Setiap orang memilikinya dengan jumlah, besar, dan hawa yang berbeda-beda.
Aku mengenal hawa kegelapan Ayahku. Tapi, aku kurang yakin kalau ditanya bisa. Mungkin saja Ayah bisa menyembunyikan hawa gelapnya. Meski dia tidak punya kemampuan untuk hal itu, seseorang yang mendampinginya mungkin saja dapat mengelabui mataku.
Ah sudahlah! Apa susahnya mencoba! Siapa tahu aku bisa melacaknya!
"Akan kucoba, " ucapku lalu membuka penutup mata kiriku.
Aku mulai membayangkan kembali hawa yang dimiliki Ayah, lalu aku mencocokkan kegelapan seluruh orang di Bell. Hal ini memang sangat menguras tenaga dan menyakitkan, tapi hanya inilah yang dapat aku lakukan.
Sial, ada apa ini?! Sudah cukup lama aku menerawangnya, tapi aku masih belum menemukan hawa kegelapan yang Ayah miliki!
"Bagaimana Couria? Apa kau menemukannya?" tanya Paman Arrie.
"Maaf, aku masih belum menemukannya! Tunggu sebentar!" ucapku.
Tiba-tiba, aku merasakan hawa seseorang yang sangat kukenal, bahkan sangat kusayang di suatu titik. Tak cuma dia, ada banyak orang juga disana. Jangan-jangan...
"Tapi aku merasakan hawa Alice dan hawa beberapa orang!" seruku.
Karena lelah, aku berhenti melacak dan membalut kembali mata kiriku. Semoga saja aku dapat menyelamatkan orang-orang yang diculik Ayah, termasuk Alice.
"Kemungkinan itu adalah markas atau tempat tersangka menahan korban bukan?! Ayo kita kesana!" seru Indhira.
"Kalau seandainya bukan, kau mau aku hantam?" tanya Aria.
Ya ampun! Kalau Indhira tersinggung lagi, lagi-lagi mereka hanya akan mengulur waktu! Semoga saja mereka tidak bertengkar lagi!
"Kita kesana saja! Siapa tahu, kita bisa menyelamatkan banyak nyawa bukan?! Couria, tolong catat alamat tempat kau menemukan hawa Alice tadi!" pinta Paman Arrie.
Aku menganggukkan kepala dan langsung mengambil pena dan sebuah kertas untuk menuliskan alamat tempat aku merasakan hawa Alice tadi. Alice, semuanya, tunggulah kami!
Kalau tak salah, markas tempat aku merasakan hawa Alice tadi sepertinya ada di tengah hutan Bell yang ada di daerah utara negara Bell. Memang tak begitu jauh, tapi Ayah berhasil memilih tempat yang susah dijangkau orang-orang.
Setelah selesai menulis alamat yang Paman Arrie minta, aku langsung menyerahkannya ke Pamab Arrie.
Paman Arrie membaca dengan seksama alamat yang aku tulis. Alamat itu belum sempurna, karena aku tak dapat menjelaskannya secara labgsung pada tulisan. Nanti pada saat berada di hutan, aku mungkin akan mengarahkan mereka.
"Karena alamatnya yang tak bisa kujelaskan langsung, aku akan menuntun kalian disana nanti!" jelasku.
Aku, Paman Arrie, dan seluruh anggota timku berdiri dari kursi yang masing-masing kami duduki.
"Tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat!" seru Paman Arrie.
Kami semua langsung keluar dari ruang guru, yang merupakan tempat kami mengusung rencana tadi.
Saking cepatnya Paman Arrie mengendarai mobil, Aria tampak kesal. Entahlah, apa dia akan mabuk atau hanya sekedar kesal.
Ya, hari ini pertama kalinya Paman Arrie mengendarai mobil seperti ini. Setiap di tikungan, kami semua yang berada di mobil sampai terlempar.
"Paman! Kurangi kecepatannya! Aku tahu kita harus buru-buru! Tapi, tak sampai begini juga!" protes Aria.
"Diam saja kau! Asal kita cepat, tidak senyaman apapun, kita harus tetap menjalaninya!" seru Indhira.
Sialan! Apa mereka mau bertengkar di sini?! Di keadaan seperti ini?! Ah sudahlah! Biar saja, nanti lagipula mereka akan mabuk kalau bertengkar di saat seperti ini!
Tapi, bukan hanya mereka yang mabuk kalau bertengkar di mobil, kami pun akan terganggu. Semoga saja mereka berdua bisa memikirkan keadaannya!
"Dasar wanita lemah! Mabuk saja sana!" ejek Aria.
"Hah?! Wanita yang tidak punya kesabaran sepertimulah yang akan mabuk! Hmmph! Begini saja protes!" ejek Indhira.
Meski mereka tidak bertengkar secara fisik, kata-kata serupa tadi terus diucapkan mereka berdua. Sepertinya Zein dan Carrie mulai kesal dengan mereka berdua. Apa perlu aku lempar mereka berdua daei mobil ini?!
"Kalian bisa tidak diam hari ini saja?!" protes Paman Arrie sambil menyetir.
Indhira dan Aria yang tadinya bertengkar langsung bungkam. Ya ampun! Kadang aku ingin sekali menghajar mereka, tapi kalau sudah ditegur begini, wajah polos dan terkejut mereka yang seperti tadi malah membuatku ingin tertawa.
Ah sudahlah! Intinya, hari ini adalah babak penentuan. Aku dan seluruh rekan-rekanku, harus berhasil di misi yang satu ini, yang merupakan, hal yang sangat penting dalam hidupku dan mungkin tak akan pernah terlupakan.
*****
"Itu markasnya?!" tanya Aria dengan suara kecil.
Ya, akhirnya kami semua menemukan markas Ayah yang cukup jauh. Setelah sampai di sebuah rumah warga sekitar, kami menitip mobil disana dan langsung masuk ke hutan dengan berjalan kaki.
Kami melewati hutan kurang lebih sepanjang beberapa kilometer, dan itu membuat kami agak kelelahan. Apa Ayah dan rekan-rekannya terus berjalan kaki saat menculik anak?! Apalagi mereka membawa anak-anak itu kesini. Sebenarnya apa tujuannya menyiksa anak-anak seperti itu?!
"Ya, disini! Aku merasakan hawa Alice!" bisikku.
"Bagaimana dengan hawa tersangkanya?" tanya Zein.
"Kalau sisa-sisanya tentu ada. Tapi, aku tak dapat menemukan hawa orangnya langsung. " jelasku.
Zein tampak kecewa mendengar jawabanku. Ya, Zein memang orang yang tidak suka basa-basi, apalagi kalau berhadapan dengan orang yang baginya jahat dan licik, ia sangat ingin menghajarnya habis-habisan.
Selain hawa Alice, aku merasakan hawa suci dari anak-anak yang masih polos dan belum banyak berdosa. Kemungkinan besar mereka adalah anak-anak yang Ayah culik.
"Selain Alice, seperti yang aku bilang tadi, aku menemukan hawa anak-anak yang sangat banyak, " ucapku.
"Baiklah, ayo kita selamatkan mereka semua!" ajak Paman Arrie.
Kami langsung ke dalam markas itu, namun tetap dengan waspada. Siapa tahu, mata kiriku terkecoh dengan semacam trik. Semoga saja semua berjalan sesuai rencana.
Namun sayang, pintu markasnya terkunci. Hal seperti ini sudah jadi digaanku dari awal. Tapi, Carrie bisa menyelesaikannya dengan cepat dengan membuat duplikat kuncinya menggunakan benda apapun.
"Carrie, kau bisa bukan?" tanyaku.
Carrie mengangguk dan langsung mengambil sebuah ranting kayu. Ia lalu mengubah ranting itu menjadi sebuah kunci hanya dalam waktu beberapa detik, dan langsung mencobanya ke pintu. Akhirnya berhasil!
"Ayo masuk!" ajak Zein.
Kami lalu segera berlari ke dalam markas Ayah. Dan benar saja! Kami menemukan banyak anak-anak yang diikat atau dikurung. Sedangkan Alice diikat tepat di tiang yang berada di tengah-tengah ruang utama markas ini.
"Couria!" seru Alice dengan terkejut dan senang.
"Couria, kau lepaskan Alice, kami yang akan melepaskan anak-anak!" ucap Paman Arrie lalu pergi bersama yang lainnya.
Aku langsung berlari ke arah Alice dan melepaskannya. Tapi ini aneh. Kenapa seluruh tawanan disini diikat hanya dengan tali, tanpa perlindungan tambahan apapun? Misalnya sihir atau sekedar borgol.
Apa mungkin, pertahanan dan persembunyian ini dilakukan hanya untuk sembunyi dari polisi atau intelijen lain? Itu mungkin saja. Ayah bahkan menculik anak-anak karena ingin memancingku.
Sambil memikirkan hal itu, aku akhirnya berhasil melepaskan Alice. Semoga saja yang lainnya juga berhasil.
"Couria! Kita tidak boleh lama-lama disini! Ayahmu, yang didampingi satu orang wanita, menggunakan jubah hitam sedang melakukan kembali aksinya!" jelas Alice.
Cih! Sudah kuduga! Kalau begini, kita harus sesegera mungkin mencari dan menghentikan Ayah dan orang yang diajaknya!
"Ya! Sebelum itu, ayo kita selamatkan anak-anak lainnya!" ajakku.
Alice langsung menganggukkan kepala dan kami pun segera melepaskan anak-anak yang diculik Ayah.
Beberapa dari anak-anak yang diculik Ayah menangis bahagia saat kami melepaskan mereka. Beberapa yang lain langsung berterima kasih atau memeluk kami.
Entah kenapa, aku melihat hawa ketakutan yang amat sangat pada anak-anak itu. Sudah bukan main, ketakutan mereka bahkan sampai seperti melihat hantu tiap saat.
"Kenapa anak-anak disini sangat ketakutan? Alice, apa yang Ayah lakukan disini selama kau ditahan?" tanyaku.
"Maaf, " ucap Alice sambil menundukkan kepala.
Eh? Apa maksudnya? Kenapa Alice malah meminta maaf? Apa yang Ayah lakukan selama ini?
"Aku hanya bisa menonton anak-anak itu dibunuh! Maafkan aku!" ucap Alice lalu menangis.
Sialan! Wajar saja Alice menyesal. Kalau aku menjadinya, aku mungkin sama-sama merasa berdosa seperti dia. Bahkan kini pun aku tetap merasa berdosa karena terlambat datang kesini.
Ah, larut dalam penyesalan di saat seperti ini hanya akan memakan waktu yang ada! Aku harus segera menyelamatkan anak-anak ini dan menyelesaikan urusanku dengan Ayah.
"Sudahlah Alice, aku tahu itu sangat menyakitkan. Tapi, kita harus membawa semua anak-anak yang selamat ini ke tempat yang aman!" ajakku.
Alice yang tadinya menangis mulai mengusap air matanya dan menahan tangisannya sambil mengangguk pelan.
Kami semua pun berhasil melepaskan seluruh anak-anak yang Ayah culik. Tanpa basa-basi, kami semua segera keluar dari markas Ayah.
Eh?!
Tiba-tiba kepala semua anak-anak yang kami selamatkan putus. Darah menetes kemana-mana bahkan sampai mengenai wajahku. Apa-apaan ini?! Siapa yang melakukannya?!
"Apa kalian pikir aku dan Jack tidak memperhitungkan hal seperti ini?!" tanya seorang wanita berjubah hitam yang tiba-tiba muncul di depan kami semua dengan senyuman licik di wajahnya.
Sialan! Apa dia yang melakukan semua ini?! Lagi-lagi, aku harus menonton ribuan nyawa orang tak berdosa yang hilang?!
"MANUSIA BIADAB!"