
~Paisaca
Di kehidupan seburuk apapun, Tuhan pasti juga memberikan suatu keajaiban, itu adalah pendirian yang selalu kupegang teguh.
Sebenarnya itu adalah kata-kata Ibuku, yang juga seorang penyihir sepertiku. Satu pagi kata-kata yang selalu ia tekankan, "meski orang memberimu luka, balaslah dengan bunga. Meski kau dibuat menderita, berikanlah orang yang membuatmu menderita tanda terima kasih. "
Tapi, aku tak bisa melihat keturnan-keturunanku menderita. Aku tak peduli seberapa dosa, penderitaan, luka yang akan kudapat, kedamaian di akhir lah yang paling penting, meski aku tak dapat menikmatinya.
Lihat saja Eable, aku akan membalas pengusiranmu padaku dengan kedamaian yang dapat kuraih di akhir nanti.
*****
Minggu, 8 Mei 1970
"Alice, Fatia, bukan?!" tanya Jack sambil menggoda Alice yang kami ikat di sebuah tiang.
"Kaulah pencipta seluruh tragedi ini! Yah, juga pangeranmu itu, COURIA HIMALA! AKU AKAN MEMBUNUHNYA!" lanjut Jack sambil menusuk-nusukkan pisau di lantai kayu gudang tempat kami merancang misi dan menawan lawan.
"Jangan terlalu berlebihan, Jack. Akan ada waktunya dimana kau bisa membunuhnya. Merusak bangunan ini, hanyalah kegiatan yang membuang-buang waktu!" bujukku.
Kadang-kadang, karena dendamnya, Jack bertindak seperti orang gila. Karena itulah, aku ingin membantunya membalaskan dendam, agar semua penderitaannya terbalaskan.
"Couria tak akan sebodoh itu! Ia akan bertindak beraturan, meski kau menculikku!" ucap si tawanan sekecil lalat itu dengan sangat percaya diri.
Jack langsung saja memukul perut lalat itu hingga si lalat kecil itu memuntahkan darah.
"TUTUP MULUTMU LALAT!" bentak Jack.
Ya ampun, bagaimana caraku untuk mengatur emosinya itu? Padahal dari data yang kutahu, dulu, ia adalah pembunuh berantai yang ahli dan tak pernah gegabah. Tapi, ia berubah sangat jauh semenjak istri bodohnya itu bunuh diri.
*****
~Couria
"Oi, Couria!" sapa seseorang.
Semua masih terlihat hitam. Aku masih berusaha membuka mata, dan ternyata aku tak terbangun di dunia nyata, melainkan di dimensi lain.
Aku terbangun tepat di bawah menara Bell, di antara hamparan bunga-bunga. Tapi aku yakin ini merupakan dimensi lain. Tak ada hawa kehidupan sama sekali.
Saat aku bangun dan menoleh ke belakang, aku melihat Nati yang sedang berdiri dengan wajah tersenyum. Mungkin ia yang menyapaku tadi.
"Kenapa kau membawaku ke dimensi buatanmu?" tanyaku.
"Asal kau tahu, tempat ini adalah tempat paling bersejarah yang tak akan pernah kulupakan. " ucap Nati sambil melirik kesana-kemari.
"Disini, adalah tempatku meninggal. Aku sudah tahu kapan aku mati, karena itulah, aku menentukan tempat terbaik untuk mati. Dulu, disini juga, orang-orang tak bersalah dieksekusi. Sisa harapan mereka berubah menjadi tetesan air mata, dan menyebabkan ribuan bunga indah tumbuh disini. Black bunny, kelinci Alice, adalah makhluk yang disiapkan sebagai pelindung tempat bersejarah ini. Pedangmu pun, diciptakan bersamaan. Tempat ini sangat strategis untuk mati bukan? Karena itu, Ibumu juga mengakhiri hidupmu disini, di menara Bell. " jelas Nati sambil meneteskan air mata beberapa kali.
Tak kusangka, menara Bell penuh dengan sejarah yang terbuang. Pedangku dan sabit Alice pun tak pernah muncul di sejarah, apalagi kematian Nati dan ribuan orang tak bersalah lainnya.
"Apa kau tak memiliki dendam pada orang-orang yang menyiksamu?" tanyaku.
Pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi, aku memang sangat penasaran, hal ini tak pernah nampak di mata kiriku, tapi, penderitaan tiada bataslah yang dapat kulihat dari pemilik asli mata kiriku ini.
"Dendam? Mana mungkin! Tapi, satu-satunya hal yang membuatku hilang kendali adalah, nafsuku terhadap kehidupan bahagia. Aku berusaha menahannya, tapi... "
Nati tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
"Tapi apa?" tanyaku dengan sangat penasaran.
"Ah lupakan! Aku hanya bercanda, jangan dipikirkan!" ucap Nati sambil melambai-lambaikan tangan kanannya.
Yang benar saja! Wajah seriusnya tadi itu bercanda?! Hanya anak kecil saja yang akan benar-benar menganggap kata-katanya tadi itu lelucon.
Ah, sudahlah! Masalah itu bisa aku pinggirkan dulu. Yang jadi masalah sekarang adalah diculiknya Alice dan penembakan peluru padaku yang dilakukan Ayahku sendiri.
"Dimana Alice sekarang?!" tanyaku sambil mengambil tangan kanan Nati.
"Tenanglah sedikit... untuk saat ini, Alice baik-baik saja, karena tujuannya menculik Alice bukan untuk dibunuh. " jelas Nati.
"Tapi untuk memancingku untuk masuk dalam jebakannya kan?!" tanyaku lagi.
"Tentu saja! Karena itu, kau harus memikirkan secara matang, cara menolong Alice. " ucap Nati menyarankan.
"Apa bisa kita merencanakan sesuatu secara cepat? Kalau Alice kenapa-napa, bagaimana?!" tanyaku. Aku ingin segera menyelesaikan semuanya.
"Jangan ceroboh karena naif, Couria. Pengorbanan yang kulakukan dulu bukan kecerobohan seperti hal yang akan kau lakukan sekarang. Dulu, aku sudah memikirkan matang-matang semuanya sebelum aku merelakan diri. Tuhan juga memberiku izin untuk melakukannya, akhirnya, penderitaan pada awal zaman lahirnya Bell lenyap. Hal itu bagiku sudah sangat membuatku merasa bangga, meski tak ada yang mengingatnya apalagi mengenangnya. Tapi kau beda Couria, kau bahkan bisa memberi kesucian padaku. Jadi, kumohon!" pinta Nati.
Setelah mendengar permintaan Nati, entah kenapa, aku jadi merasa merinding. Memberinya kesucian? Apa yang ia maksud?! Tapi, berdasarkan masa lalunya, aku jadi tahu betul bahwa Nati adalah orang yang lapang dada dan rela melakukan apapun demi sebuah perubahan. Aku jadi penasaran, siapa orang tuanya dan kenapa ia bisa berakhir menjadi sumber kutukan seperti sekarang.
"Siapa orang tuamu?" tanyaku.
"Kau sangat penasaran atau perhatian?" tanya Nati lalu tertawa.
Cih! Padahal aku serius! Sudahlah! Biar dia yang menyadari sendiri kalau aku memang sangat ingin tahu dan sangat ingin membantunya! Mata kiri yang diberinya adalah pemberian terbaik darinya.
"Ah, baiklah! Lagipula, ini pertama kalinya ada yang ingin tahu tentang diriku sampai sebanyak ini. Kalau gadis paranormal yang mengobatimu waktu ini hanya mencari tahu garis besar tentang diriku. " ucap Nati.
Sial! Kata-katanya menarik empatiku untuk terus bersama, melindungi, dan menyelamatkannya! Andai saja aku salah satu orang pada zaman kehidupannya, mungkin aku akan mengajaknya berteman.
"Aku tak ingat siapa orang tuaku. Aku terlantar di desa Bell, desa yang sangat besar yang kini menjadi sebuah negara pada usiaku yang ke lima. Setelah itu, aku memutuskan untuk tinggal di sebuah hutan tanpa penghuni desa, meski hutan itu merupakan wilayah Bell. Aku tinggal seperti kera, mencari makanan sendiri, tak tahu yang namanya makanan enak, tapi, itu sangat menyenangkan. Aku tinggal di hutan hingga usia lima belas tahun. Sampai suatu hari, suara tangisan, teriakan, dan seluruh suara yang mencerminkan penderitaan dari arah pemukiman selalu terdengar bahkan sampai di hutan tempatku tinggal. Awalnya, karena penasaran, aku mampir ke pemukiman penduduk. Disana, seluruh orang-orang tampak seperti mayat hidup. Kulit mereka pucat, air liur keluar dari mulut mereka, matanya tampak hampa, bahkan ciri-ciri itu dialami beberapa anak kecil. Untunglah masih ada yang sehat, tapi hanya fisiknya. Tentu mereka yang masih sehat akan kesulitan merawat sanak keluarga, dan orang-orang di lingkungannya yang sakit. Karena agak takut, aku memutuskan untuk kembali di hutan. Tapi, karena hutan tempat tinggalku yang dulu sangat dekat dengan desa, aku memutuskan untuk pergi lebih jauh. Hingga aku sampai di sebuah kuil ditengah hutan. Kuil itu sudah sangat hancur, aku juga dapat menyimpulkan kalau tempat itu dulunya adalah tempat pengeksekusi orang, karena banyak ada salib disana, tapi, hanya satu bagian kuil yang masih sangat baik, yakni menara Bell. Karena aku merasa tempat itu aman, aku tinggal disana. " jelas Nati.
Kedengarannya, masa Bell saat itu sangat memprihatinkan. Tapi, kalau Nati berlindung, seharusnya ia tidak kenapa-napa.
"Lalu, kenapa kau bisa jadi korban demi kedamaian Bell?" tanyaku.
"Kau pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku kalau kau terus berlindung dan bersembunyi dari masalah. Ya, penyesalan. Aku menyesal telah menjauh dari desa, aku menyesal karena pura-pura tak tahu apa. Apapun ingin kulakukan demi semua orang baik-baik saja. Tanpa tahu tujuan, aku memutuskan untuk kembali ke desa. Intinya, aku ingin menyelamatkan setidaknya sedikit warga desa. Tapi, sesampaiku di desa, semua mengincarku seperti mayat hidup. Semua bilang, "Serahkan dirmu pada kami. Berikan izin pada kami untuk memasamg kutukan kami padamu!" Aku sangat heran. Jadi, penyakit yang mereka idap ini karena sebuah kutukan? Siapa yang menanamkan kutukan pada orang-orang desa? Banyak pertanyaan muncul setelah warga desa memintaku untuk menjadi tumbal. Sampai akhirnya aku menyadarinya. Aku tak terlahir dari rahim siapapun, aku lahir atas do'a para warga desa pada Tuhan. Aku bukannya tidak memiliki tujuan hidup, tapi, memang inilah tujuan hidupku. Kalau memang begitu, tentu saja aku mau?! Aku izinkan mereka menanamkan kutukan mereka padaku. Perlahan, mereka semua sembuh. Kutukan paling parah ditanamkan di mata kiriku, oleh pendeta kuil menara Bell, Rail Bell. Dulunya, Rail Bell memiliki mata kanan yang maha suci, namun, mata itu diambil seseorang yang tak dikenal. Karena kesucian utamanya hilang, ia jadi sasaran utama para kutukan. Tubuhnya paling baik bagi kutukan paling terkutuk. Karena itu, dirinya sebagai orang paling terkutuk dan paling terakhir sembuh, memberikanku kutukannya, semua pun berakhir. " ucap Nati sambil tersenyum.
Jelas senyuman yang terlukis di wajahnya bukanlah senyuman senang. Entahlah, mungkin ia bangga, tapi merasa sangat menderita. Aku tak bisa tahu betul perasaannya. Di penderitaannya yang teramat sangat itu, ia bisa berakhir dengan senyuman dan muncul sebagai hantu yang ceria.
"Tak mungkin, aku bisa melakukan hal sehebat itu, Nati. " ucapku sambil menunduk.
Yang benar saja. Menyucikan Nati? Aku? Aku bisa apa? Kenapa ia memilihku? Jangankan takut gagal, bisa saja tidak.
"Padahal kau sudah diberi banyak bisikan, tapi kau masih menganggap dirimu rendah?! Oi oi Couria! Aku saja dengan sangat percaya diri merelakan diri. Itu adalah suatu rahmat bagiku. Jangan bilang kau keberatan karena takut?" tanya Nati lalu tertawa.
Sialan! Siapa yang takut?! Yang jadi kendala utamanya adalah, apa memang aku? Apa aku bisa? Dan, kenapa harus aku? Resiko terbesarnya nanti adalah, apa iya aku bisa menahan segala penderitaan dan berhasil memberi kedamaian?
Aku takut tak bisa menahan diri dan malah akan menyakiti orang-orang di sekitarku. Nantinya aku justru menjadi penambah penderitaan, bukan pembawa kedamaian.
"Ah, sudahlah. Sepertinya, kau butuh waktu untuk menyimpulkan segalanya. Tahu jati diri saja tidak tahu! Kembalilah! Alice membutuhkanmu!" ucap Nati sambil menepuk bahuku.
Nati memang yang terbaik! Tapi, satu hal yang membuatku justru enggan untuk maju. Yakni, Ayahku sendiri.
"Tapi, mana bisa aku membunuh, Ayahku sendiri?" tanyaku sambil menundukkan kepala.
"Kalau kau melakukan itu saja tak kuasa, bagaimana selanjutnya? Asal kau tahu, dari kasus Daisy hingga sekarang, semua adalah ulah Ayahmu sendiri-"
"Aku tahu. Tapi aku pura-pura tak tahu. Aku tak ingin mempercayainya. Aku membohongi diri sendiri. Mau kebohongan ataupun hal sebenarnya, aku tak bisa membedakannya lagi. " ucapku.
Sungguh, aku benar-benar tak ingin tahu. Aku takut mengetahui kenyataannya. Hanya karena cinta, dan kebohongan kecil, masalah besar seperti ini bisa terjadi. Ingin rasanya memutar waktu jauh-jauh hari agar tak ada tragedi seperti ini.
Sama seperti Nati dulu, aku kabur. Padahal akulahg yang diincar Ayahku hingga mengorbankan banyak orang. Tapi, aku justru muncul sebagai pahlawan bagi mereka yang selamat. Aku manusia yang sangat hina, kenapa aku malah ditunjuk oleh Nati untuk melakukan hal besar seperti itu?
"Tak ada pahlawan tanpa kesalahan, Couria. Pahlawan yang belum menentukan hasil akhir dan tak pernah menyelamatkan diri, sama saja dengan orang bodoh. Ada kalanya pahlawan bersembunyi dan menahan diri untuk menyelamatkan orang dan memunculkan kedamaian di ending. " jelas Nati.
"Jadi, kini kau menganggapku pahlawan? Orang seperti diriku?" tanyaku dengan sangat tak percaya.
"Bodoh sekali! Merendahkan diri dan naif adalah kesalahan dan kelemahan terbesarmu. Kalau kau terus begini, kau sangat rendahan dariku!" ucap Nati lalu tertawa.
Cih! Dia bercanda lagi! Ya, aku tak ingin mengekang suruhannya. Setidaknya, aku akan mencoba suruhannya pelan-pelan.
"Baiklah! Aku akan menurutimu! Tapi aku akan melakukannya perlahan!" ucapku. Aku masih ragu sih, tapi, bagaimana lagi.
"Kalau begitu, berjanjilah, Couria! Ulangi kata-kataku! Disini, di taman penuh kebohongan ini, aku berjanji, akan melindungi orang-orang baik, membasmi para pendosa, meski sang pendosa itu adalah orang yang paling kusayangi, dan aku, akan membawakan kedamaian bagi dunia!" pinta Nati.
Janji yang Nati minta padaku memiliki makna yang sangat luas dan sangat beresiko, juga harus sangat dipertanggungjawabkan. Aku harus benar-benar rela merelakan siapapun demi tugas besar ini. Ya, satu untuk seribu adalah idealisme yang harus kupegang teguh. Membunuh adalah hal yang harus kuanggap makanan sehari-hari.
Apa iya aku bisa melakukannya?! Membunuh orang yang baru kukenal saja memerlukan banyak pertimbangan, apalagi membunuh orang-orang terdekatku.
"Jadilah orang kuat, Couria!" bentak Nati.
Baiklah, aku memutuskannya. Meski tak abadi, semua orang pasti menginginkan kedamaian, memang harus ada yang membawanya, sedikit saja. Daripada aku terus terpengaruh kenaifanku, lebih baik aku memberi sedikit demi sedikit kedamaian.
"Disini, di taman penuh kebohonga ini, aku berjanji, akan melindungi orang-orang baik, membasmi para pendosa, meski pendosa itu adalah orang-orang yang kusayangi, dan aku, akan membawakan kedamaian pada dunia!!!"