
Sabtu, 7 Mei 1970
Sampai kemarin, tiga orang siswa dan siswi meninggal di sekolah. Benar-benar seperti kata Indhira, mereka yang meninggal kehilangan tubuhnya yang sesuai dengan letak cakra.
Aku sebenarnay sudah sangat geram, tapi, mata kiriku sekali pun tak dapat melihat jejak pelaku pada mayat korban. Indhira bilang, si tersangka hanya akan menampakkan diri, kalau korbannya sudah genap tujuh. Tapi, aku mana bisa membiarkan si tersangka berhasil?!
*****
"Bersabarlah Couria, kemungkinan, hari ini, semua akan berakhir. " ucap Indhira yang berusaha menenangkanku.
Ya, di jam istirahat pertama ini, aku belum makan sama sekali. Lagipula mana bisa aku makan dengan tenang?! Akan ada satu orang lagi meninggal di sekolah!
"Apa tak bisa kita langsung mencari si tersangka?!" tanyaku.
"Kau terlalu naif ya. Kalau bisa, aku sudah mencari dan menemukannya dari awal kasus. Terkadang, kita harus mengorbankan beberapa orang demi hasil yang ideal. Ya, seperti, "satu demi seribu", kau tahu kan?" tanya Indhira.
Sial! Lagi-lagi aku harus menerapkan idealisme bodoh seperti itu! Entah aku yang bodoh, atau dunia yang memaksaku bodoh. Aku selalu berharap semua selesai tanpa adanya pengorbanan. Ya. Mungkin orang-orang benar. Aku terlalu naif. Aku tak pernah setuju untuk mengorbankan beberapa orang untuk mencapai kedamaian, yang bahkan hanya sementara.
Kemana pun kau pergi, kedamaian hanyalah mimpi. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat bagi seluruh penghuni dunia. Kalau kau terlalu naif, kaulah yang tenggelam. Aku juga sering mendengar kalimat itu.
Kadang aku sering berkata dalam hati, siapa peduli?! Biar aku yang menderita sendiri! Tapi ada saja yang menolaknya. Banyak orang mendukungku, aku tak bisa mengecewakan mereka.
"Dasar bodoh! Apa maksudmu menunggu hah?!" tanya Aria pada Indhira sambil mengepalkan tangan. Terlihat seperti ingin memukul Indhira.
"Kak Arialah yang bodoh. Apa kau tak terbiasa melihat mayat yang merelakan dirinya demi masa depan yang cerah?" tanya Carrie.
Carrie juga lama-lama berubah banyak. Dari hari-hari kemarin, selama kasus berlangsung, ia tampak biasa saja, bahkan sedikit puas saat melihat mayat. Entah apa yang terjadi padanya.
Wajar juga kalau Aria marah. Dari sikap kasar dan masa lalunya yang berpadu, sikap bodoh dan cerobohnya pasti muncul.
"Tenanglah semuanya. Aku punya sebuah ide. " ucap Indhira sambil tersenyum.
"Apa itu?" tanya Carrie.
"Bangunan lantai tiga dibuat teratur seperti tubuh manusia. Toilet adalah bagian terkotor, sama seperti kaki, karena itulah toilet diletakkan di selatan. Kelamin, dan perut, berada di tengah, seperti lorong. Lalu, dalam sehari, ada dua korban, yang satunya di kelas bagian kanan atau timur, dengan tangan kanan yang hilang, dan ruang kelas bagian kiri atau barat, dengan tangan kiri yang hilang. Semua makin tampak disitu. Dua hari lalu, ada korban yang kehilangan lehernya, tepat di depan kelas kita. Kelas kita sangat mendekati ujung utara bukan? Terakhir, kemarin, korban meninggal dengan kepala bagian bawah, yakni mulut, telinga, pipi, dan hidung yang hilang. Dan karena ruang paling utara adalah ruang beribadah, kalian paati tahu bukan?" jelas Indhira.
Tentu saja aku mengerti sekarang!
"Korban akan meninggal disana?!" tanyaku dengan sangat yakin.
"Tepat sekali! Tapi, lama-lama aku makin sadar, kalau si tersangka sangat tahu tatanan lantai tiga sekolah ini. Ngomong-ngomong, siapa perancangnya?" tanya Indhira.
"Kata Ayah, orangnya sudah meninggal. Namanya adalah Habble Velvet. " jelas Carrie.
"Meninggal? Apa maksudnya ini. Sudah berapa tahun lamanya ia meninggal?" tanya Indhira.
"Pak Habble adalah arsitek terkenal di Bell. Ia meninggal sudah sekitar dua tahun lalu. Ia dikenai hukuman gantung, karena diduga melakukan pembunuhan pada seorang siswi, ya, di sekolah ini. " jelas Aria.
Ya, aku baru ingat. Kejadiannya tepat dua tahun lalu, saat aku baru sekolah disini.Pak Habble diduga membunuh seorang siswi, di toilet. Oh ya! Entah kenapa, si tersangka ada hubungan eratnya dengan Pak Habble, seperti meneruskan mimpinya saja.
"Indhira! Seingatku, Pak Habble membunuh siswi kelas sembilan dulu di toilet lantai tiga! Kau mengerti kan?!" tanyaku.
"Lalu, siapa tersangkanya? Apa Pak Habble punya kerabat dekat?" tanya Indhira.
Kalau diingat-ingat...
"Istrinya, Bu Rosalia Velvet!"
*****
"BU ROSALIA?!" tanya Viola dengan sangat tak percaya.
Ya, Bu Rosalia Velvet yang kami rasa adalah pelaku dari kasus ini, juga merupakan guru agama dan pembina tim kedua yang diketuai Viola sendiri. Orang kasar dan naif seperti Viola pasti akan sangat sulit untuk dibujuk memata-matai pembinanya sendiri.
Tapi, kami sudah punya jalan lain untuk masalah itu, jadi aku tak perlu payah-payah memaksa Viola hingga melakukan hal kasar.
"Sudah kuduga, kau sangat bodoh. " ucap Aria sambil geleng-geleng kepala.
Ya, aku dan Aria saja yang ditunjuk untuk misi ini.
"Ya, kamu memang tak bisa memaksa, karena masih banyak tersangka lain yang kami duga. Tapi, kumohon! Hanya memata-matai!" pintaku sambil menunduk.
"Tak bisa! Bu Rosalia bukan orang yang jahat seperti itu! Mana mungkin juga pembinaku sendiri membunuh teman tersayangku! Bye, aku harap kalian menemukan tersangka yang sebenarnya!" ucap Viola sambil melambaikan tangan, lalu pergi.
Sudah kuduga ini akan gagal. Orang bermerk Aria itu memang orang yang sangat sulit dibujuk.
"BODOH! MATI SANA!" bentak Aria sambil menendang angin.
Padahal ia sama bodohnya.
"Sekarang kita beralih ke rencana B kan?! Jadi tenang saja!" ucapku.
*****
~Viola
Kenapa tim satu malah gegabah seperti itu?! Mana mungkin Ibu Rosalia melakukan hal hina seperti itu?! Ah, lebih baik aku lapor saja! Siapa tahu Bu Rosalia punya solusinya. Ia adalah penyelamat di saat seperti ini.
Tanpa pikir panjang, aku mengunjungi Bu Rosalia yang selalu berada di ruang ibadah.
"Wah, Viola, ada apa? Kenapa kau kemari?" tanya Bu Rosalia.
"Ada hal penting yang harus kubicarakan!" ucapku dengan tegas.
"Wah, apa itu? Baiklah, agar lebih rileks, kita bicarakan dengan duduk sambil menyeruput kopi. " ucap Bu Rosalia.
"Tentu saja Bu!" jawabku dengan semangat.
Setelah duduk dan meminum kopi hangat, aku menceritakan pembicaraanku pada Couria dan Aria.
"Ya ampun, kenapa tim terbaik nomor satu di sekolah ini malah gegabah seperti itu?" tanya Bu Rosalia sambil menggelengkan kepala.
"Maka dari itu aku kesini. Kalau kita dapat menyelesaikan kasus ini, akan jauh lebih baik bukan?" usulku.
"Tentu saja! Aku punya sebuah ritual untuk mepihat pelakunya! Ini tak begitu efektif sih, tapi, ini akan sangat membantu! Nah Viola, aku butuh bantuanmu!" ajak Bu Rosalia.
Aku menganggukkan kepala. Asik! Bu Rosalia memang yang terbaik! Hmmph! Mana mungkin orang baik seperti Bu Rosalia membunuh! Meski suaminya meninggal karena dugaan prmbunuhan, istrinya belum tentu juga pembunuh!
Lama kelamaan, badanku terasa kaku, lalu kepalaku terasa sangat sakit. Apa ini efek sampingnya?! Apa Bu Rosalia juga merasakannya. Tapi, aku tak ingin mengeluh, lebih baik aku diam saja.
Tapi, aku makin tak tahan. Bahkan kepalaku mulai berdarah. Apa-apaan ini?! Apa kami gagal?! Kenapa Bu Rosalia tampak baik-baik saja?!
"Bu?! Ada apa ini?!" tanyaku sambil memegangi kepala bagian atasku yang serasa akan copot.
"Kaulah yang ketujuh, Viola. " ucap Bu Rosalia dengan tatapan kosong.
Apa maksudnya?! Ketujuh?! Jangan-jangan, Couria dan Aria benar?!
"BU! JANGAN BILANG KAU SI PEMBUNUH-"
"YA! AKULAH PEMBUNUHNYA! Sudah sekian lama aku menunggu hari ini, YA! TEMUANKU DAN SUAMIKU AKAN BERHASIL! MANU RAKSASA, PASTI AKAN BERHASIL KAMI BUAT!" ucap Bu Rosalia dengan sangat bersemangat.
Jangan bilang, kalau aku akan mati disini! Tuhan! Kumohon! Kenapa di tempat suci seperti ini, aku harus meregang nyawa?!
"Kenapa aku?!" tanyaku.
AKU TAK INGIN MATI DISINI! MASIH BANYAK HAL YANG INGIN KULAKUKAN!
"Egois, naif, kasar, tak berperasaan, itulah sifat dominanmu! Karena itu, kau sangat cocok untuk inti suci Manu Raksasa!" ucap Bu Rosalia.
Lama-lama, darah tumpah sangat banyak dari dahiku. Ya, aku sangat egois, naif, kasar, dan tak berperasaan. Ini mungkin saat terakhir hidupku. Semua, maafkan aku, aku sudah menyakiti kalian.
"Semua akan berakhir dalam TIGA, DUA, SAT-"
"Kakak yang bodoh. "
Tiba-tiba, seseorang datang tepat di depanku. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas, kepalaku sudah sangat sakit dan pusing.
"Oi, kakak, aku sudah memutus mantranya. Kau baik-baik saja kan?" tanya orang didepanku, yang ternyata adalah Mine!
Mine adalah adikku dulu. Ia diambil keluarga Mathon di saat usianya yang masih enam tahu. Ya, sudah jafi tradisi bagi bangsawan di Bell, kalau memiliki anak perempuan lebih dari satu, maka satunya lagi harus diaumbangkan kepada bangsawan yang tidak punya anak perempuan.
Tapi, keluarga Himala tak pernah meminta anak dari bangsawan lainnya. Jadi, marga Mathon memanfaatkannya.
Aku sering beranggapan, kenapa tak aku saja yang diambil?! Kenapa harus anak bungsu?! Kenapa Mine harus berpisah dari kami semua?!
"Iya, aku baik-baik saja. " ucapku pelan.
Aku berbohong. Jarang-jarang aku pura-pura baik-baik saja seperti ini. Biasanya, aku sangat mudah mengeluh dan menyerah. Bisa dibilang, aku hanya beban dan sampah bagi orang-orang disekitarku. Tadinya, kupikir sampah sepertiku akan musnah.
Mine jauh lebih berani dariku. Marga George hanya membekalinya pedang pemutus mantra, sangat cocok untuk kejadian kali ini. Namun, pedang itu awalnya hanya dapat memutus mantra kecil, tapi Mine mengembangkannya menjadi pedang yang sangat baik.
Kami, marga George, merupakan bangsawan dengan kelebihan pandai besi sejak turun temurun. Dibanding keturunan George yang lain, aku hanya bisa melahirkan cairan logam dan menggunakannya sebagai senjata, atau menyerang musuh langsung. Itu hanyalah dasar, dan tak hebat sama sekali.
Sedangkan, banyak yang memproduksi secara langsung saat ingin digunakan, dan bahkan ada yang bisa meng-copy senjata orang, hanya dengan melihat komposisinya. Kemampuan itu hanya dimiliki satu orang sepanjang sejarah George.
Mine juga termasuk hebat. Ia bisa memproyeksikan kemampuan khusus apapun pada senjata-senjata yang dimilikinya. Seperti perambatan energi pada logam, bukan pembuatan logam. Jadi singkatnya, senjata apapun yang Mine pegang, bisa memiliki kemampuan khusus, kecuali sekali gores langsung mati, dan beberapa kemampuan yang terlalu ajaib lainnya.
Kemampuan terbaiknya adalah memutus mantra. Ia juga punya kemampuan memutus ingatan, dan lainnya.
"Kakak memang ceroboh dari dulu ya?" tanya Mine sambil tersenyum.
Ya. Mine lebih pintar, cerdik, kuat, dan tak pernah ceroboh. Jauh lebih baik dariku. Aku jadi merasa kalau keluarga George lebih baik membuangku daripada Mine.
"Kalau tak karena tugas dari tim terbaik dari sekolah ini, aku mungkin akan terlambat. " ucap Mine lalu memasang kuda-kuda, dan tampak siap menyerang Bu Rosalia.
Ternyata, tim Couria sudah memikirkan semuanya matang-matang. Timnya ternyata memang tim terbaik yang kutahu. Meski timku dinobatkan sebagai tim terbaik nomor dua, ketuanya bukanlah apa-apa.
"Apa mereka tak akan membantu kita?" tanyaku.
"Mana mungkin. Sekarang, timnya sedang mengatakan situasi saat ini pada para guru, agar para guru bersiap akan hal buruk yang mungkin akan terjadi. Ups, kau kena spoiler, Bu Rosalia. " ucap Mine sambil memasang senyuman masam.
"Terima kasih atas spoiler nya, nak Mine! Sebelum itu terjadi, aku akan menyerang semuanya! Lebih banyak korban, akan lebih seru!" ucap Bu Rosalia dengan sangat bersemangat, sambil melepas kacamatanya.
Sial! Tak kusangka Bu Rosalia selicik itu! Kalau memungkinkan, aku ingin segera membunuhnya!
"Silahkan saja, asal kau bisa!" ucap Mine dengan percaya diri.
"Ah sudahlah, tanpa otak pun, Manu Raksasa sudah bisa bekerja dengan baik. Temuan suamiku memang sempurna!" ucap Bu Rosalia dengan nada liciknya.
"Jangan bilang?!-"
Dugaanku juga sama dengan Mine, dan itu benar saja, sangat sial! Makhluk bernama Manu Raksasa itu muncul dengan kepala bagian atas yang tak ada. Benar-benar menjijikkan.
Fisiknya sebagian besar diambil dari perempuan, namun kelaminnya laki-laki. Itu pertama kalinya aku melihat makhluk menjijikkan seperti itu!
"Kak, makhluk itu diluar jangkauan kita berdua! Setidaknya, kita butuh bantuan tim terbaik disini!" ucap Mine.
Sial! Menahan saja tak bisa, apalagi menyerang! Rosalia Velvet memang sangat licik! Kenapa aku mempercayainya selama ini?!
Makhluk itu mulai bergerak. Sekali hentakan kaki saja sudah mampu membuat seluruh sekolah bergetar. Semoga evakuasi tim Couria sudah selesai. Aku tak ingin ada korban tambahan karena kecerobohanku. Kalau aku mau memata-matai Bu Rosalia tadi, mungkin aku sudah membunuhnya!
Dengan tenaga yang masih tersisa, aku menahan makhluk menjijikkan itu dengan cairan logamku. Itu juga tak bisa bertahan lama. Tiap lima detik, aku harus membuat ulang semuanya.
Selagi aku menahannya, Mine berusaha menyerang makhluk menjijikkan itu berkali-kali, tapi makhluk menjijikkan itu memulihkan lukanya dengan sangat cepat, kurang dari satu detik.
"Sial! Kita harus begini terus-terusan. Jangan sampai lengah kak!" pinta Mine.
Aku hanya dapat menganggukkan kepala. Aku benar-benar harus fokus untuk menahan makhluk menjijikkan buatan Bu Rosalia ini.
*****
~Rosalia Velvet.
"Terkadang, kita harus mengorbankan banyak nyawa, dan reputasi kita sendiri demi kedamaian. "
Itulah kata-kata yang selalu dilontarkan Habble Velvet, yang tak lain adalah orang terbaik di dalam hidupku.
Demi mimpinya untuk menciptakan makhluk penyelamat dunia yang buruk rupa, Manu Raksasa, ia rela mengorbankan banyak nyawa, reputasi, bahkan nyawanya sendiri.
Ia meninggal demi mimpinya, namun sayang belum terkabulkan. Sebagai istrinya, tentu aku harus mengabulkan mimpinya!