The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Pembantaian anak



"Jadi kau menemukan anak itu dipinggir jalan?" tanya Pak Alter pada telepon.


Aku memutuskan untuk memberitahu soal gadis yang kutolong tadi saat pulang sekolah.


"Iya, Ia terbaring pada jalan trotoar dengan penuh luka, lalu aku segera membawanya ke rumah sakit dan meminta pihak rumah sakit untuk memanggil polisi." jelasku.


Disaat aku sedang bicara serius, Pak Alter malah menertawaiku. Apa yang lucu? Apa ada yang aneh dari ucapanku? Padahal aku mengatakan semua sesusai dengan yang terjadi.


"Kenapa bapak malah tertawa?" tanyaku dengan penuh keheranan.


"Jadi kau memanggil polisi untuk menanggung biaya pengobatan gadis itu?" tanya Pak Alter sambil tertawa.


"Tidak seperti itu! Tapi, karena saat aku membawa gadis itu ke rumah sakit, aku sama sekali tak membawa uang, jadi aku tak bawa uang..." ucapku.


Kalau dipikir-pikir, tanpa sengaja aku malah menyerahkan biaya pengobatannya ke para polisi. Niatnya menolong tapi aku malah memberatkan orang lain.


"Ya ya, aku mengerti! Biar saja Couria! Itu memang tugas pemerintah..." ucap Pak Alter.


"Jadi bagaimana Pak, perlukah kita menyelidikinya?" tanyaku dengan nada serius.


"Ya! Besok saat pulang sekolah datanglah ke rumah sakit bersama Aria dan Carrie, bapak juga akan kesana!" ucap Pak Alter lalu menutup telepon.


*****


Bell, Selasa, 17 Februari 1970


Pagi ini terasa sangat berbeda. Tak ada Bibi Addle yang membukakan jendela dan menyiapkan pakaian dan perlengkapan mandi. Semua hari ini aku lakukan sendiri.


Kemarin, Weinhard bilang kalau Bibi Addle sedang mengalami leukimia, benar-benar penyakit yang serius.


Aku mengambil yukata, sabun, dan handuk di gudang, dan membawanya ke kamar mandi.


Saat aku membuka pintu kamar mandi, aku melihat Ikkye yang sedang tidur di langit-langit kamar mandi. Mungkin hantu lain punya hobi yang sama dengannya. Tapi baru kali ini saat aku masuk kamar mandi Ia masih tidur pulas.


Aku jadi ingin usil sesekali, jadi aku mendekatinya dengan berjalan sangat pelan.


Dan...


"BAAA!!!"


Alu mengejutkan Ikkye hingga jatuh ke lantai kamar mandi. Walau ia tak punya badan, nampaknya ia sangat kesakitan.


"Jahat sekali kau Couria!!" protes Ikkye sambil berusaha berdiri.


Aku pun menertawakannya dengan tawa yang puas. Akhirnya, aku bisa membalaskan dendamku.


Ikkye lalu memandangiku dengan serius.


"Kenapa kau yang membawa alat mandinya, bukan Bibi Addle? Oh ya! Karena Bibi Addle tak kemarilah aku masih tidur! Kalau Bibi Addle kemari, aku bisa bersiap mengejutkanmu!" ucap Ikkye sambil memasang wajah sebal.


"Oh, jadi kau memanfaatkan Bibi Addle untuk mengejutkanku?! Baik, kau cukup cerdik!" protesku sambil menjitak jidat hantu bocah yang satu itu.


Karena kesakitan, Ikkye mengusap-usap jidatnya. Aku memanfaatkan mata kiriku untuk membuat efek yang sakit pada hantu seperti Ikkye.


"Setidaknya gunakan mata kirimu itu untuk hal yang penting saja!" protes Ikkye. Aku kembali menertawainya.


Karena aku tak punya banyak waktu, aku memutuskan menaruh peralatan mandiku di pinhgir kolam, lalu menceburkan diri ke dalam kolam. Hari ini kolamnya hanya kolam air dingin biasa, bukan kolam air hangat. Tubuhku sedikit tak terbiasa, tapi aku dapat memakluminya.


"Omong-omong Bibi Addle kemana?" tanya Ikkye sambil duduk di pinggir kolam.


"Ia sakit." jelasku singkat. Aku tak mau banyak omong, biar Ikkye sendiri yang lanjut bertanya.


"Sakit apa?" tanya Ikkye lagi.


Sudah kuduga Ikkye akan lanjut bertanya. Aku menghela nafas, dan memutuskan untuk menjelaskan semuanya pada Ikkye.


"Bibi sakit leukimia. Itu penyakit yang cukup berbahaya, yang terjadi kare-"


"Karena sel darah putih dalam tubuh yang melawan tubuh itu sendiri kan?" sela Ikkye. Aku pun menganggukan kepala.


"Ternyata kau sedikit pintar." ucapku. Ikkye jadi tampak sangat bahagia.


Ikkye adalah hantu yang suka mencari tahu sesuatu. Aku jadi berpikir, kalau ia ingin melakukan hal yang banyak di dunia ini, kenapa ia bunuh diri coba?


"Jadi bagaimana mandi air dingin, enak?" tanya Ikkye sambil ikut mencebur ke kolam.


Hantu yang satu itu terus berpakaian dimana pun ia berada. Tapi meski ia masuk ke dalam air, bajunya sama sekali tidak basah.


"Rasakan sendiri!" ucapku.


"Oi! Walau aku sudah mencebur ke dalam api sekali pun, tak akan terasa Couria!!" protes Ikkye sambil memasang wajah masam padaku.


Aku menggelengkan kepala lalu menyelam ke dalam air dan berenang. Sedikit dingin, tapi cukup segar dibanding mandi air hangat. Setelah berenang beberapa waktu, wajahku muncul di atas permukaan air.


"Omong-omong bagaimana nasib anak yang kau selamatkan kemarin?" tanya Ikkye.


Darimana dia bisa tahu? Padahal aku tak ada menceritakannya.


"Darimana kau tahu?" tanyaku.


Ikkye lalu melempar senyum ikhlas padaku.


"Sebenarnya, sejak dulu aku selalu bersamamu, tapi tak selalu juga aku bisa bersamamu. Banyak hantu atau makhluk halus lain di luar sana. Karena kebetulan saat itu tak ada siapapun,aku bisa terus bersamamu!" jelas Ikkye.


Dasar hantu bocah itu. Apa yang ia inginkan sebenarnya? Suka sekali menguntit seseorang. Apa saat hidup cita-citanya adalah menjadi mata-mata, atau justru sudah jadi mata-mata sepertiku? Entahlah. Lebih baik itu tersimpan pada ingatan dan kenangan manis untuk Ikkye sebelum ia menghilang dari dunia ini. Karena kalau saat itu sudah tiba, maka hilanglah semua ingatannya selama hidup.


Karena itulah aku sangat takut untuk mati, dan menekan diri agar tak mengambil nyawa seseorang kecuali kalau memang harus. Aku tak ingin kehilangan masa-masa manis maupun pahit di dunia ini. Aku juga tak ingin membuat orang yang masih hidup merasa sedih karena aku maupun ingatanku tentang mereka hilang.


Begitu juga dengan orang lain. Aku tak ingin mereka kehilangan masa manis dan pahit mereka semasa hidup, dan tak ingin menyakiti hati orang yang ditinggalkan. Tapi, jika orang itu memang tak berhak hidup, maka tanpa ragu aku akan menodai tanganku dengan merahnya darah.


Aku sampai keluyuran karena memikirkan itu. Aku segera mengambil sabun dan membasuhnya pada tubuhku.


Setelah seluruh tubuhku terselimuti busa sabun, aku segera kembali berenang, supaya busa pada tubuhku terhanyut pada air.


Setelah seluruh busa pada tubuhku hanyut, aku segera mengeringkan tubuhku dengan handuk dan mengenakan yukata.


"Aku pergi ya!" ucapku. Ikkye lalu menjawabnya dengan mengangguk.


Lalu aku keluar dari kamar mandi dan pergi ke kamar tidurku.


*****


"Weinhard! Antar aku ke akademi!" perintahku pada Weinhard yang sedang berdiri di depan ruang tamu.


"Baik, tuan muda!" ucap Weinhard sambil menaruh tangan kanannya pada dadanya, lalu pergi ke mobil.


Aku lalu melambaikan tangan ke Alice yang sedang berdiri di belakangku. Alice pun menjawabnya dengan mengangguk.


Aku langsung pergi dari ruang tamu dan masuk ke mobil.


Weinhard lalu menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobil keluar dari rumah.


"Karena aku sibuk, tolong kau yang menjenguk Bibi Addle. Jangan lupa bawa buah-buahan!" perintahku pada Weinhard saat mobil sedang berjalan. Weinhard pun mengangguk, karena Ia sedang fokus menyetir.


Sebenarnya Weinhard adalah keponakan Bibi Addle. Ayah dan Ibu Weinhard meninggal saat Ia masih sudah seusiaku, karena tragedi bom di Gallei. Iya, ia termasuk korban bom di Gallei seperti Aria.


Ia lalu diasuh Bibi Addle dan diajak bekerja disini. Aku tahu masa lalunya itu dari Ibu.


Jadi saat ini, usianya kira-kira duapuluh lima tahun. Dan sampai sekarang ia setia melayaniku dan tak punya pasangan sama sekali.


"Jadi, berapa yang harus dibayar untuk pengobatannya?" tanyaku.


"Entahlah, saya belum menanyakannya..." ucap Weinhard sambil menyetir mobil dengan kecepatan 80/km.


"Saat kau sudah tahu, segera katakan padaku!" perintahku.


Weinhard malah diam, namun Ia menolwh kearahku sesaat.


"Anda tak perlu membayarnya. Gajih yang anda sudah beri sudah cukup untuk membayarnya." ucap Weinhard lalu kembali fokus menyetir.


"Oh, kalau kurang, bilang ya?" tawarku. Weinhard pun mengangguk.


Sebenarnya saat ini aku sangat bosan dan ingin meminta Weinhard memutar lagu, tapi aku memilih diam saja karena suasana hati Weinhard kini sedang tak begitu baik.


Beberapa menit pun berlalu, dan sampailah mobil peninggalan Ayah ini pada akademi. Weinhard baru akan membuka pintu mobil, lalu aku pun menghentikan tangannya.


"Aku sendiri saja, kalau kau mau jenguk Bibi Addle juga boleh!" perintahku sambil keluar dari mobil.


"Terima kasih..." ucap Weinhard dan segera menancap gas saat aku sudah keluar dari mobil.


Aku menghela nafas dan berjalan menuju ruang kelas. Saat aku masuk ke dalam kelas, Eins melempar senyum yang sangat lebar padaku dari bangkunya.


"Hai Couria! Aku datang duluan?" ucap Eins dengan sangat percaya diri.


"Aku tidak ada bertanya." ucapku sambil menaruh tas selempangku di kursi.


"Ah Cou! Kau hanya bisa tak dingin kalau aku sedang sedih! Hmm... lebih baik aku sedih saja!!" ucap Eins dengan penuh percaya diri.


Siapa yang peduli dengan rencana bodohnya itu coba?Karena malas menjawabnya, aku memilih diam dan duduk sambil membaca novel buatan Acreman, penulis terkenal di negeri ini.


"Masih suka baca novel?! Apa serunya coba?!" ucap Eins sambil memukul-mukul punggungku.


Sialan anak itu! Karena aku sangat terganggu, aku pun menepis tangannya dengan tangan kananku.


"Jangan macam-macam denganku! Aku sedang stres sekarang." jelasku, supaya anak itu mau diam.


"Stres kenapa? Apa ada masalah?" tanya Eins sambil mendekatkan wajah penasarannya pada wajahku. Sangat dekat. Aku segera mendorong wajahnya dengan tanganku.


"Pelayanku sedang sakit." jelasku.


Semua lengang sekejap, namun Eins malah tertawa terbahak-bahak.


"Seorang pelayan saja bisa membuatmu sangat sedih seperti ini, oi oi! Kau justru lebih sensitif dariku tahu!" ucap Eins sambil tertawa.


"Ia, sudah kuanggap Ibuku sendiri! Aku memang sendirian selama ini. Jadi, biarkan aku menjadi terlihat bodoh begini!" ucapku sambil mengusap air mataku.


Eins tiba-tiba berhenti tertawa saat menyadari kalau beberapa tetes air mataku turun.


"Maaf Couria." ucap Eins dengan sedikit sedih.


Aku kembali mengusap air mataku yang bercucuran ke pipi dan daguku. Sialan! Kenapa aku sampai cengeng begini?! Kalau orang tahu sisi sensitifku, aku akan menanggung malu ke orang banyak.


"Tapi, aku tidak cengeng! Aku menangis karena marah padamu! Ingatlah baik-baik! Air mataku menetes karena aku marah padamu! Mengerti?!" bentakku sambil menjitak jidat Eins.


Eins mengaduh kesakitan. Tangannya terus mengelus pelan jidat sempitnya itu.


Tiba-tiba ada Aria yang sedang tertawa di samping Eins. Entah dia tiba-tiba muncul atau aku yang tak sadar kalau ada dia disitu sejak tadi.


"Lihat ini! Aku mendapati Couria yang menangis!! Ayolah, apa aku bermimpi?!" ucap Aria sambil menahan tawanya dengan memegangi perutnya, tapi tak ada gunanya, Ia kembali tertawa.


"Cih! Aku sedang marah tahu! Bukannya menangis!!" protesku sambil berdiri dari bangkuku.


TENG! TENG!


Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, tandanya seluruh siswa diminta berbaris di lapangan.


"Cih! Sekarang aku malah harus berjemur bagai pakaian! Sialan guru-guru itu!!" protes Aria sambil memukul meja Eins. Suaranya terdengar sangat keras sampai seluruh siswa di kelas melihat ke arah Aria dengan wajah terkejut.


"Kenapa kalian malah melihatku begitu hah?! Memangnya ada pertunjukan sirkus?!!" tanya Aria sambil memukul meja Eins sekali lagi.


Sontak seluruh siswa di kelas segera keluar untuk berbaris di lapangan. Aku dan Eins juga berdiri dari bangku dan keluar dari kelas. Beberapa saat kemudia Aria pun menyusul keluar dengan keadaan yang sangat sebal.


*****


"Kasus lagi?!" tanya Aria sambil memukul meja ruang osis dengan sangat keras.


Selesai makan siang tadi aku menjelaskan kasus yang akan aku, Carrie dan Aria jalani. Tapi Aria malah protes. Memang ia tak mau dapat pekerjaan dan dapat uang?!


"Maaf, Kak Couria. Tapi hari ini Kakak Aria sedang dalam siklus menstruasi..." jelas Bougenville, seorang homunculus muda yang ikut mengemban pendidikan pada akademi ini. Kali ini ia berada pada kelas 8-1.


"Sialan! Kenapa kau menjelaskannya?!!" protes Aria sambil memamerkan kepalan tangannya pada Bougenville.


"Karena, Kakak Couria, tampak, kesal dengan Kakak Aria." jelas Bougenville dengan nada polos.


Beruntung Ibu adalah homunculus yang sempurna. Kalau Ibuku seperti homunculus pada umumnya, entah apa yang terjadi padaku.


"Lain kali kau tak perlu mengatakannya!!" perintah Aria sambil memelototi Bougenville dengan wajah khas Aria yang tampak seperti wanita tomboy, karena Ia memang tomboy.


"Maaf." ucap Bougenville.


"Jadi kau mendapati seorang bocah SD di pinggir jalan?!" tanya Aria padaku.


"Tampaknya anak itu anak panti asuhan dari seragamnya, mungkin saja ada pembantaian yang dilakukan seseorang." jelasku.


"Hoo?! Bagiku tak seperti itu! Anak di panti asuhan sudah sangat terjaga. Puluhan tentara berjaga pada tempat itu. Jadi, akan sangat mungkin kalau ada orang dalam yang melakukannya. Kalaupun orang luar, pasti orang itu sangat kuat. Wah-wah, ini akan seru!!" ucap Aria dengan penuh percaya diri.


"Silahkan sampaikan opinimu itu pada Pak Alter." ucapku lalu keluar dari ruang osis.


*****


Setelah pulang, aku segera bersiap menuju rumah sakit untuk menginterogasi anak yang kutolong kemarin.


Setelah aku makan sedikit aku segera pergi ke teras rumah untuk menghidupkan motor. Aku menyuruh Weinhard menemani Bibi Addle di rumah sakit yang sama dimana anak yang kutolong kemarin dirawat.


"Tunggu Couria!" pinta Alice sambil menarik tanganku.


"Kenapa?" tanyaku sambil menoleh ke arah Alice.


"Aku ingin ikut. Sambil menjenguk Bibi Addle." pinta Alice.


Aku menghela nafas. Mau bagaimana lagi, kalau Alice memang ingin menjenguk Bibi Addle, mau bagaimana lagi.


"Baiklah, ayo!" ajakku sambil naik ke motor, disusul Alice.


Aku menghidupkan mesin motor dan membawa motor keluar dari rumah.


Agar cepat sampai, aku mengendarai motor dengan kecepatan 100km per jam. Alice memelukku dengan sangat erat.


Satu dua mobil aku salip dengan cepat.


Karena motor yang melaju sangat cepat itulah akhirnya aku sampai hanya dalam waktu beberapa menit.


Saat sampai, Alice malah sama sekali tidak turun.


"Kau kenapa Alice?" tanyaku.


"Pusing." jelas Alice singkat.


Karena merasa itu lucu, aku pun menertawainya. Karena bagiku, itu sudah biasa. Saat masih kecil, Ibu sering mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Jadi kebiasaan itu mungkin juga turun ke diriku.


Aku menunggu Alice agar baikan beberapa waktu sambil bersiul.


Lima menit berlalu, dan dalam lima menit itu aku hanya bersiul sambil menoleh kesana kemari. Tentu itu sangat membosankan.


"Bagaimana?" tanyaku lagi.


Alice pun mengangguk lalu turun dari motor.


Saat kami berdua berjalan ke dalam rumah sakit, aku melihat Aria di depan pintu masuk.


"Lama!" protes Aria.


"Tidak. Aku pusing tadi, makanya agak lama." jelas Alice sambil memegang bagian kepalanya yang tadi pusing.


"Dan itu karena Couria yang ugal-ugalan membawa motornya kan?! Kau tak perlu menyalahkan diri Alice!" ucap Aria sambil mendelik kearahku.


"Lagipula Paman Arrie dan Carrie belum datang kan?" tanyaku sambil menoleh kesana kemari untuk memastikan kalau Paman Arrie dan Carrie sedang tak ada.


"Ya! Kalian semua sialan! Lambat sekali!!" protes Aria.


Diam-diam Paman Arrie yang baru datang berjalan ke belakang badan Aria.


"Oh, begitu ya?!" tanya Paman Arrie sambil memasang wajah sinis. Aria segera menyadari keberadaannya dan sangat terkejut.


"Eh tidak! Bukan begitu! Anu, aku hanya bilang Couria!!" ucap Aria dengan gugup dan takut.


Karena wajah aneh Aria yang khas itu, aku tertawa terbahak-bahak.


"Ya sudah, tak ada gunanya basa-basi disini, ayo kita bicara di dalam rumah sakit saja!" ajak Paman Arrie lalu berjalan bersama Carrie ke dalam rumah sakit. Aku, Alice, dan Aria pun segera menyusulnya.


Kami semua berhenti pada sebuah pos tempat melapor. Disana ada seorang resepsionis.


"Apa anda tahu dimana kamar dari anak yang kemarin dibawa bocah ini?" tanya Paman Arrie sambil menunjukku.


"Oh, iya! Ada di lantai dua kamar nomor 213" jelas pekerja resepsionis tersebut.


"Kalau pasien atas nama Addle dimana?" tanyaku..


"Tunggu sebentar" ucap resepsionis itu sambil memeriksa sebuah buku.


"Di lantai empat kamar nomor 441" ucap resepsionis itu.


"Terima kasih!" ucapku.


"Sebenarnya kau akan kemana dulu?! Menjenguk Bibi Addle atau menginterogasi anak yang kau tolong kemarin?!" tanya Aria sambil memegang kedua pinggangnya dengan kedua tangannya.


Sebenarnya aku akan menjenguk Bibi Addle setelah menginterogasi anak yang kutolong kemarin. Semoga Bibi Addle dapat memakluminya.


"Aku akan menginterogasi anak yang kutolong kemarin dulu" jelasku.


"Setidaknya bilang rencanamu dulu!" protes Aria.


Aku mendengus sebal. Memang apa urusannya?! Suka sekali mengurusi urusan orang.


Kami lalu pergi ke tempat yang di katakan resepsionis katakan, yakni di lantai dua kamar nomor 213.


Saat kami sampai disana, pintu tertutup rapat. Aku mendengar dialog antara seorang polisi dengan anak gadis yang kutolong kemarin. Paman Arrie lalu mengetuk pintu kamar itu.


"Siapa?" tanya polisi yang sedang berdialog tadi.


"Kami dari agen intelijen." jelas Paman Arrie.


"Oh, silahkan masuk. Pintunya tidak dikunci" ucap polisi itu.


Paman Arrie pun membuka pintu kayu bercat putih didepannya itu.


Saat masuk ke dalam kamar itu, aku melihat gadis yang kuselamatkan kemarin sedang duduk di ranjang dengan infus di tangan kirinya dan berbalut perban pada kepalanya.


"Hai dik, masih ingat aku?" tanyaku dengan tujuan menguji ingatan gadis kecil yang kutolong kemarin.


Gadis kecil itu lalu tampak mengingat-ingat.


"Kakak yang membawaku kesini kemarin! Terima kasih kakak!" ucap Gadis kecil tersebut sambil melempar senyum bahagia padaku. Aku hanya membalasnya dengan mengangguk dan memeberi senyum yang ikhlas.


Kami semua lalu duduk pada beberapa kursi yang tersedia.


"Jadi, kenapa kau bisa dalam keadaan seperti ini?" tanya Aria.


Gadis kecil itu pun menunduk, sepertinya ia mengalami sedikit syok. Lagipula Aria juga sangat bodoh dalam cara berbicara. Setidaknya ia memperkenalkan diri dan bertanya nama gadis itu. Lalu memberinya sedikit candaan agar gadis kecil itu tak berlarut pada kesedihan. Barulah menanyakan apa yang terjadi dengan kata-kata yang tetap manis.


Lalu satu dua tetes air mata tumpah dari mata gadis kecil itu yang padahal tadinya terlihat cerah dan semangat.


"Aku, semua teman-teman panti asuhan, semua ingin dibunuhnya. Aku sendiri tak tahu siapa dia. Saat kami tidur, orang itu diam-diam menyerang kami semua. Ia bilang, "aku membunuh kalian karena pada akhirnya kalian akan menjadi alat, jadi maafkan saya." Ia menganiaya kami, namun Ia menangis. Entah apa tujuannya." jelas gadis kecil itu. Ia lalu menangis dengan terisak-isak.


Ternyata kejadian yang dialami gadis kecil itu cukup serius. Aku berjanji, aku akan menemukan siapa dibalik tragedi itu!