The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Nafsu



Bell, Rabu, 4 Februari 1970


Dua hari berlalu. Dan tak ada kasus yang kuurusi dalam dua hari ini.


Belakangan ini sering ada kasus kriminal di Bell. Para anggota kepolisian, tentara, dan intelijen, kewalahan menangani kasus-kasus tersebut, termasuk aku.


Ah, semoga saja aku dapat banyak waktu istirahat. Aku benar-benar lelah belakangan ini.


*****


Bibi Addle dan Kak Sylya terdengar membicarakan sesuatu dengan sangat asik. Itu mengusikku dan Alice yang sedang enak-enaknya makan.


"Kenapa Bibi? Kak Sylya? Apa yang Bibi dan Kak Sylya bicarakan?" tanyaku yang sudah tidak tahan lagi.


"Temanku bilang Tuan Enzo Alban, melakukan tindak kriminal dengan membuka lowongan pelayan dengan anjuran gajih yang besar! Katanya orang yang terjebak akan dijadikan babu dan akan di jadikan mainannya Tuan Enzo!" ucap kakak Sylya dengan sangat serius.


Memang benar Enzo Alban membuka lowongan pelayan, aku melihatnya kemarin di koran harian. Aku kurang mengerti maksud "babu" dan "mainan" dari kakak Sylya.


"Mainan? Apa maksudnya?" tanyaku.


Kakak Sylya malah memandangku dengan muka aneh.


Apa aku terlalu polos, ya?


"Ma' maksudnya. Yang tergiur dengan pekerjaan itu akan diberi obat-obatan dan digunakan sebagai.... alat pemuas nafsu, mengerti, Tuan Muda?" tanya kak Slylya sambil memilih kata-kata.


Astaga!


Reflek aku melompat dari kursi.


"A' lebih baik aku mencari tahunya sendiri? Kan, tak baik bergosip?" tanyaku dengan ragu.


"Iya sih..." ucap Kakak Sylya. Alice sangat kebingungan. Ia sesekali menoleh ke arahku, lalu menoleh ke kakak, dan kembali menolehku, terus seperti itu.


"Aku sudah selesai sarapan. Jadi, aku berangkat" ucapku lalu meninggalkan ruang makan.


Aku segera pergi ke pintu depan. Di sana ada Weinhard dengan membawa tas selempangku.


Aku mengambil tas selempang yang dibawanya.


"Tuan muda wajahnya terlihat memerah, ada apa?" tanya Weinhard.


Aku jadi semakin malu ditanyai dengan pertanyaan itu.


"It' itu! Bukan urusanmu!" ucapku dengan nada kesal, dan segera pergi ke mobil.


Weinhard segera menyusulku.


Ia tampak tersenyum tipis.


"Kenapa kau tersenyum?!" tanyaku sambi memukul jok yang didudukinya.


"Apa? Tidak ada!" ucap Weinhard.


Lalu Weinhard segera menghidupkan mobil dan menancap gas.


"Anda sangat sensitif dengan sesuatu yang menjijikkan ya?" tanya Weinhard sambil mengemudikan mobil.


"Bukankah itu wajar?!" tanyaku. Aku masih sebal dengannya.


"Oh... untunglah otak anda tak liar juga!" ucap Weinhard lalu tertawa.


Sialan Weinhard. Ia yang paling berani bicara macam-macam padaku dibanding pekerja lai di rumahku.


Karena aku sedang bosan. Kalau dipikir-pikir kenapa tidak menyuruh Weinhard memutar lagu.


Mobil dengan radio di dalamnya sangat sedikit dan jarang di negeri Bell saat ini. Bahkan hanya bangsawan yang punya mobil. Jadi mobilku bisa dibilang cukup mewah. Tapi aku malah lebih suka naik motor sendiri.


"Putarkan lagu ex-treme!!" perintahku pada Weinhard.


"Baiklah, tuan muda..." ucap Weinhard sambil tersenyum, lalu mengotak atik radio mobil.


Lagu dari ex-treme memang yang paling baik! Memang, seleraku sangat aneh. Aku suka banyak hal yang berlawanan. Misalnya lagu. Kadang seriosa, kadang rock, dan kadang lagu pop.


Lalu makanan. Kadang yang manis, atau yang pedas, bisa juga asam.


Tapi aku suka sesuatu yang lokal, atau memang dari negara ini.


Budaya Asia dengan Eropa yang bersatu padu menjadi sebuah negara. Sangat indah.


Lagu grup band ex-treme berlarut dengan keadaan mobil yang mengebut dan sesekali menyalip kendaraan lain membuatku sangat puas.


Memang hal-hal seperti ini sering terjadi. Tapi aku selalu menikmatinya.


*****


Saat ini akademi sangat hancur. Untungnya kelasku tidak ikut ambruk, kalau tidak nanti aku akan belajar di luar seperti siswa yang berada di kelas lain.


Saat aku sampai di kelas, aku melihat Eins sedang duduk di bangkunya.


Tumben sekali dia tak menggangguku.


Aku mendekatinya, lalu Ia menolehku dengan tatapan polos.


"Kau kenapa? Tumben tidak nakal!" ucapku pada Eins sambil menepuk-nepuk bahunya.


Eins malah menunduk.


"Oi! Tak biasanya kau begini!" ucapku sambil melepas tanganku dari bahunya.


Ekspresi Eins makin menjadi-jadi. Wajahnya makin murung dan kepalanya makin menunduk.


"Pacarku masuk rumah sakit.... Cou..." bisik Eins pelan.


Hah?! Sejak kapan Ia punya pacar?! Orang ***** sepertinya?!


Aku memutuskan untuk menanyakannya lebih lanjut.


"Oi, kapan kau punya pacar?! Kenapa tidak bilang-bilang?!" tanyaku sambil nyengir.


Eins terdiam sebentar, lalu menolehku.


"Kamu kan tidak pernah ada di akademi.... aku baru saja menembaknya minggu lalu. Ia sangat sayang padaku... tapi karena kehancuran kemarin, Ia kena luka parah..." ucap Eins sambil menyeka matanya yang mengeluarkan beberapa tetes air mata.


Aku lalu duduk di sampingnya yang merupakan bangkuku. Aku menaruh tas selempangku di kolong bangku.


"Doakan saja Eins! Berdoa! Pacarmu pasti akan sembuh!" ucapku sambil nyengir.


Eins menunduk lagi.


"Aku, dari dulu keluargaku atheis Cou..." ucapnya pelan.


Aduh ***** sekali anak itu! Kalau Ia benar-benar tulus, mau keluarganya tak percaya adanya maha kuasa pun Ia tetap boleh kan?!


"Kalau kau cinta pacarmu, sekali ini saja!" ucapku sambil mendongak ke jendela di samping kiriku.


Jendela itu menampakkan hamparan pohon-pohon cemara, tak jarang aromanya masuk dan memberi ketenangan.


"Sungguh?" tanya Eins sambil memasang wajah berharap.


Polosnya sahabatku yang satu ini.


"Iya!!" bentakku sambil mendeliknya.


Eins langsung menyatukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan dada, dan memejamkan mata.


Kalau dipikir-pikir, bila Eins sedang jatuh cinta Eins menjadi orang yang sangat sensitif, tak seperti biasanya.


Eins lalu membuka matanya dan mendengus lega.


Puk!


Tiba-tiba ada yang memukul punggungku dari belakang.


Aku menoleh kebelakang, dan ternyata Aria yang memukulku.


"Sialan! Apa lagi sih?!" tanyaku dengan nada kesal.


Aria malah nyengir. Apa pula manusia yang satu itu.


"Ayo! Ke ruang osis! Ada Pak Alter!" perintah Aria sambil berjalan ke sampingku, lalu menarik kerah bajuku dan membawaku keluar.


"Tunggu! Sialan!!" bentakku sambil melepas tangan Aria yang menarik kerah bajuku.


"Aku bisa jalan sendiri ya?!" protesku sambil memelototinya.


"Kalau begitu cepatlah!!" bentak Aria lalu berlari, aku menyusulnya dengan cepat.


Sesampaiku di ruang osis, aku bertemu Carrie, Paman Arrie, dan Pak Alter.


"Hai, Couria Himala!" ucap Pak Alter sambil melempar senyum padaku.


Dengan ragu aku membalasnya,


"Pagi, Pak Alter..."


Lalu aku dan Aria duduk di dekat Pak Alter, Paman Arrie dan Carrie yang duduk juga.


"Nah, anak-anak! Aku sangat bangga dengan prestasi kalian belakangan ini..." ucap Pak Alter pada kami.


"Terima kasih!" ucapku, Aria, dan Carrie dengan semangat.


"Tapi... ini bukan usaha kami sendirian... ada Alice di samping kami!" ucap Aria.


Pak Alter tampak kebingungan.


"Alice siapa?" tanya Pak Alter.


"Kenalan Ibuku. Ia tinggal dirumah saya saat ini" jelasku.


Pak Alter mengangguk, sedang aku melempar senyum padanya.


"Maaf, anda kesini karena apa?" tanya Pak Arrie agak ragu.


"Oh, ya ya! Maaf! Aku terlalu bertele-tele!" ucap Pak Alter sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pak Arrie lalu membuka satu per satu halaman berkas.


"Banyak orang yang melaporkan, kalau saudari atau kenalannya tak kunjung kembali saat sedang mengikuti lowongan kerja sebagai pelayan di keluarga Alban yang di publikasikan di koran harian atau menempel poster pada beberapa tempat umum. Dan yang membuka lowongan itu adalah Enzo Alban" jelas Pak Alter sambil memperlihatkan berkas kasus yang dibawanya tadi.


Aku jadi teringat gosip Kak Sylya. Sialan! Aku jadi teringat hal yang menjijikkan. Aku reflek melompat dari kursi.


"Oi kau kenapa?!" tanya Aria sambil memasang wajah heran.


"T' tadi, dirumah..." ucapku dengan ragu.


Pak Alter melempar wajah bingung, seperti menunggu lanjutan kalimatku.


Aku mendengus sebal dan berusaha melanjutkan kalimatku tadi.


"Dirumah.... pelayan dan juru masak mrmbicarakan Tuan Enzo Alba, kalau dia......" ucapku.


Aku bingung untuk melanjutkannya dengan kalimat seperti apa.


"Dia! Dia.... menghilangkan keperawanan orang-orang!!" teriakku.


Pak Alter, Aria, Carrie dan Paman Arrie tampak kebingungan. Apa kataku tak sejelas itu?


"Oh...." gumam Pak Alter sambil mengangguk.


Lalu Aria tertawa terbahak-bahak.


"Kau hanya mau bilang itu butuh waktu satu abad?! Oi Couria, itu bukan hal langka lagi pada zaman yang sudah berkembang ini!!" ucap Aria lalu tertawa lagi.


Aku mendengus sebal dan memutuskan untuk kembali duduk ke kursiku. Kami semua kembali serius.


Pak Alter kelihatannya sedang berpikir. Ia memegang dagunya dengan tangan kanannya.


"Kita... sepertinya harus menyusup dan mematai Enzo Alban..." ucap Pak Alter sambil menatapku dengan serius.


Aku mengangguk, menyetujuinya.


Pak Alter lalu berdiri dari kursinya.


"Saatnya aku pulang... kalian akan memulai pembelajaran sebentar lagi kan? Aku harap jam pembelajaran kalian tak terganggu. Selamat tinggal... aku menunggu kalian pada pukul empat sore hari di kantor intelijen..." ucap Pak Alter, lalu berjalan keluar ruang osis sambil melambaikan tangan.


Aria tampak mendengus lega.


Aku lalu berdiri dari kursi.


"Aku ke kelas ya, Paman, Carrie..." ucapku sambil melempar senyum tipis.


"Loh? Aria gimana?" tanya Paman Arrie sambil memasang wajah heran.


Aku nyengir.


"Siapa peduli!" ucapku, lalu berlari ke luar ruang osis setelah Aria berdiri dari kursi dan mengejarku dengan muka masem yang khas.


*****


Jam pertama selesai. Kami seluruh siswa diistirahatkan. Senangnya!! Habis tadi kami mendapat pelajaran bahasa asing. Hal itu diperlukan karena kami bisa saja menyelesaikan kasus yang ada di luar Bell.


Eins tak semangat seperti biasanya. Malah aku lebih semangat darinya. Eins menunduk sangat dalam.


"Kau tak makan, Eins? Ayo! Ikut aku makan ke ruang osis!" ajakku sambil melempar senyuman terbaik untuknya.


Eins tetap menunduk, menutupi wajah murungnya. Padahal ajakanku tadi adalah ajakan terbaik. Karena Eins sangat ingin ikut osis, tapi tak terpilih.


Aku mendengus pelan, lalu mengeluarkan bekalku di tas selempangku.


Aku malas belanja, karena makanan Bibi Addle sudah sangat enak.


Pernah sekali aku belanja ke kantin akademi. Aku malah menjadi pusat perhatian. Karena itu aku malas ke kantin lagi.


Eins tiba-tiba menolehku.


"Aku sebenarnya berbohong tadi..." ucap Eins, lalu kembali menunduk. Ia menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya yang Ia lipat di atas meja.


Aku berpikir sejenak, memilih kata-kata.


"Bohong kenapa?" tanyaku.


Eins kembali meneteskan air mata.


"Kemarin... pacarku berniat bunuh diri..." ucapnya sambil menangis.


Aku mulai serius mendengar curhatannya.


"Lalu, lalu aku menyadarinya... tapi aku terlambat menolongnya. Untung Ia masih hidup sekarang... katanya, Ia sangat menyesal karena... Ia tak dapat menyelamatkan kakaknya. Ia sangat menyayangi kakaknya. Kakaknya tak pernah kembali setelah pergi ke rumah keluarga Alban... untuk bekerja disana..." ucap Eins lalu tangisannya menjadi-jadi.


Aku mengusap-usap punggung Eins. Aku baru tahu Eins adalah orang yang sensitif.


Oh ya! Tadi Eins bilang kakak pacarnya ke kediaman Alban. Ini terhubung dengan misiku nanti.


"Nah Eins! Ada berita baik untukmu!" ucapku dengan nada semangat.


"Kenapa?" tanya Eins sambil menolehku dan menghapus air mata di pipinya.


"Aku tadi disuruh menyelidiki keluarga Alban dengan Pak Alter! Dan kasusnya sama persis dengan kakak pacarmu! Sambil aku bekerja, aku akan mencarikan kakak pacarmu! Bagaimana?" tanyaku lalu nyengir.


Senyum mulai tertanam di wajah Eins.


"Ya! Boleh! Terima kasih Cou! Kau memang sahabat terbaikku!!" ucap Eins dengan semangat, lalu memelukku dengan sangat erat sampai-sampai aku sesak.


"Eins! Jangan terlalu erat!" ucapku sambil berusaha melepas pelukannya.


Eisns melepas pelukannya.


"Terima kasih!" ucap Eins lalu melempar senyum padaku.


Aku membalasnya dengan nyengir.


Pukk!


Lagi-lagi Aria memukul punggungku.


"Ikut makan tidak?! Kalau tidak, ya sudah!" ucap Aria lalu berjalan menuju pintu kelas.


"Tunggu!" bentakku.


"Cih cepatlah!!" protes Aria sambil memegang pinggang bagian kananya dengan tangan kanannya.


"Eins akan ikut!" ucapku sambil menunjuk Eins dengan jari telunjukku.


Aria mendengus sebal.


"Baiklah! Cepatlah!" perintah Aria.


Aku dan Eins lalu bangun dari kursi dan berlari menyusul Aria yang sudah ke luar kelas duluan.


*****


Aria menatap Eins dengan bingung.


"Jadi, karena itu, kau menangis?!" tanya Aria dengan nada tidak percaya lalu tertawa terbahak-bahak.


"Aria tak punya hati!" ucap Eins lalu mendengus sebal.


Setelah makan, aku menjelaskan penyebab Eins menangis tadi.


"Yah wajar! Kau baru pernah jatuh cinta!" komentar Aria.


Eins menatap Aria dengan tatapan sinis.


"Memang kau pernah jatuh cinta?!" tanya Eins dengan nada kesal.


"Jatuh cinta?! Kau menanyaiku tentang cinta?! Tak mungkin aku jatuh cinta! Lagian suka dengan lawan jenis itu hanya penyakit dan hobi monyet!" ucap Aria lalu menjulurkan lidah pada Eins.


Eins reflek ingin memukul Aria. Tapi Ia memutuskan untuk diam.


"Jangan peduli dengannya! Ia sendiri yang monyet!" bisikku pada kuping Eins.


Eins lalu tertawa geli.


"Apa bisik-bisik! Apa kau tahu?! Di dongeng monyet suka bisik-bisik!" ucap Aria.


Tak lama kemudian Carrie datang setelah pergi mencari Ayahnya untuk mengembalikan kotak makan.


"Kalian bicara apa dari tadi. Aku selalu mendengar kata "monyet". Ada apa dengan monyet?" tanya Carrie sambil duduk di kursi di samping Eins.


Aku melempar senyum pada Carrie.


"Tuh! Aria ingin jadi monyet!" ucapku pada Carrie.


Kami semua selain Aria tertawa lepas.


Tanpa kusadari Aria sudah ada di belakangku.


Plukk!


Sial! Ia memukulku punggungku lagi!


*****


~Enzo Alba


Mm! Nikmat sekali! Ribuan wanita kini terpengaruh obat dan menjadi milikku!


"Tuan Enzo! Ada barang rusak!" lapor seorang anak buahku sambil menunjuk salah seorang wanita yang sedang tertawa sendiri sambil berguling-guling di lantai.


"Bunuh saja!" jawabku spontan.


Anak buahku mengambi pistol di sakunya.


Dor!


Satu tembakan sudah membuat wanita rusak itu mati.


Huh! Mau bagaimana lagi! Kalau ada barang rusak kan dibuang?!