The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Membunuh karena mencintai



~Daisy


Aku selalu mencarimu, Kerry. Kemana kau pergi? Aku mencintaimu, aku ingin selalu berada di sisimu. Karena itu, aku ingin membunuhmu! Aku ingin membunuhmu! Aku ingin membunuhmu, Kerry! Dengan begitu aku akan selalu berada di sisimu.


*****


~ Couria


"Lama sekali kau Cou!" protes Aria sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.


"Hah?! Aku sudah berusaha segera kesini!" protesku.


"Sudahlah kalian...." ucap Paman Arrie sambli menggelengkan kepala.


"Nah Paman Arrie. Ayo kita segera ke markas mereka ber lima!" ucap Aria sambil menoleh ke Paman Arrie.


"Sejak kasus kematian Leone, kalian selalu bilang, kalau mereka kena ilmu hitam, aku bisa mempercayainya. Tapi kenapa? Darimana kalian tahu?" tanya Paman Arrie.


"Aroma. Ada aroma kemenyan dan sedap malam di tubuh mereka" ucapku. Paman Arrie mengangguk pelan.


Ada yang ganjil. Aku mencium aroma sedap malam dan kemenyan. Ternyata itu dari berkas penyelidikan.


"Aria! Kau yang membawa berkas itu?" tanyaku serius.


"Memang kenapa?!" tanya Aria.


"Kau bertemu dengan siapa tadi? Kenapa berkasnya beraroma kemenyan dan sedap malam?" tanyaku makin serius.


"Eh? Tunggu! Kalau diingat-ingat...... gawat!" ucap Aria dengan panik.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tadi aku membawa berkas ini. Karena saking banyaknya, aku tak dapat melihat jalan dan aku menabrak Daisy, siswi kelas 9-2. Ia membantuku merapikan berkas-berkas ini. Dan bahkan Ia menanyakan dimana Kerry sekarang. Tunggu! Kalau seandainya memang dia pelakunya.... bahaya! Ia kan membantuku merapikan berkas!!" ucap Aria dengan sangat panik.


"Dilihat dari datanya, Daisy memiliki darah orang Bali, Indonesia..." ucap Paman Arrie.


"Tak ada waktu untuk berpikir, cih! Sialan!" teriakku lalu menengok ke parkiran sekolah, ada Weinhard yang bersandar di pintu mobil.


"Weinhard!! Pulanglah!! Ambil tongkatku!!" teriakku pada Weinhard. Weinhard menyadarinya dan mengangguk, lalu segera masuk ke mobil, dan segera pergi ke rumahku.


"Apa yang akan kau lakukan Couria?" tanya Paman Arrie.


"Sebentar lagi Ia akan brutal. Aku akan mencegahnya!" ucapku.


"Jangan bilang kau!!" Aria mendelik kepadaku.


"Aku akan membunuhnya!" ucapku.


"Couria....." ucap Paman Arrie sambil menunduk.


*****


Weinhard datang dengan membawa tongkat jalanku. Aku segera mengambilnya dan berlari ke kelas 9-2. Atas penjelasanku tentang kasus Leone dan teman-teman gengnya, aku diizinkan untuk membunuh Daisy oleh Pak Alter Winstein, kepala Badan Intelijen Bell. Aku melapor kemarin padanya di telepon. Aku bilang "Bila aku sudah tahu tersangkanya, aku boleh membunuhnya kan?," dan Pak Alter mengiyakan.


"Permisi, apa ada siswi atas nama Daisy disini?" tanyaku pada guru yang mengajar di kelas 9-2 sekarang.


"Tidak ada... Ia tidak ada di sekolah tanpa memberitahu apapun..." ucap guru yang mengajar.


"Bohong! Tadi aku bertemu dengannya di lorong saat menuju ruang osis" ucap Aria sambil panik.


"Entahlah, Daisy sering bolos atau tidak hadir tanpa keterangan belakangan ini!" ucap ketua kelas 9-2, Wimpy, sambil berdiri dari bangkunya.


"Kita terlambat!" ucapku. Sial. Daisy pasti sedang brutal saat ini.


"Maksudmu?" tanya Aria, Alice juga kebingungan, Ia berdiri di samping Aria.


"Aku akan ke ruang kelas 9-3!" ucapku lalu pergi begitu saja.


"Tunggu!" ucap Aria lalu menyusulku bersama Alice.


Brakk!!


Terlambat! Sial! Terjadi kekacauan di kelas 9-3. Seluruh siswa di kelas 9-3 berhamburan keluar kelas.


Saat aku masuk ke ruang kelas 9-3, ruang kelas 9-3 sudah sangat ambruk. Dan disana ada Daisy yang berdiri di atas beberapa reruntuhan tembok.


"Couria, himala, ya?! Jangan menghalangi jalanku! Aku harus bertemu Kerry. Maaf. Aku harus membunuh lagi, kalau tidak, aku tidak akan bisa bertemu Kerry..." ucap Daisy sambil menoleh ke seorang siswa yang meninggal dengan tusukan pisau di dadanya, dan sangat jelas Daisy yang membunuhnya, dilihat dari tangan Daisy yang membawa pisau dengan darah.


"Kau sudah tak waras, Daisy!!" ucapku sambil melepas sarung pedangku yang tadi terlihat seperti tongkat jalan.


"Jangan halangi aku! Aku harus bertemu Kerry! Demi anakku!!" Teriak Daisy sambil mengincarku.


Aku terus menghindar darinya. Gerakannya tak beraturan. Ia mengincarku sambil memegang perutnya dengan tangan kiri.


"Kenapa kau menghindar, Couria?!!" ucapnya sambil mengincar dadaku. Aku melompat, lalu berlari keluar kelas 9-3. Para siswa se-akademi sudah keluar dari akademi. Tapi Aria dan Alice masih berdiri di dekat kelas 9-3.


"Kalian pergilah!!" pintaku.


"Hmmph! Jangan remehka aku!" ucap Aria sambil mengeluarkan api dari tangannya.


"Sihir?!" tanyaku.


"Sudah sangat lama aku menyembunyikannya, sekarang tidak!" ucap Aria sambil mendekatiku.


"Aku muak dengan kalian!!" ucap Daisy sambil mengepalkan kedua tangannya, kelihatannya Ia sangat marah.


"Vidhvansaka dole!!" teriak Daisy. Seketika apapun yang dilihatnya hancur.


"Mata penghancur ya?!" tanyaku saat menyadari maksud mantra yang diucapkannya tadi.


"Ragacya agita maranara!!" teriak Aria lalu melambaikan tangannya ke Daisy dan kobaran api yang hanya akan membakar target pun terarahkan. Daisy dengan cepat menghindar dan api itu pun lenyap.


"Sial, tidak kena!!" protes Aria.


Daisy mendelik kepadaku. Karena aku menyadari kekuatan matanya, aku segera berlari menghindar, disusul Aria dan Alice. Kami berlari di lorong, sedang Daisy mengejar kami.


Saat Daisy lengah, kami bertiga bersembunyi di laboratorium IPA.


"Kemana kalian bersembunyi?!" teriak Daisy di depan ruang kelas 8-3, tepat di samping laboratorium IPA. Aku segera mendekat dan mengangkat pedangku.


"Sapa, vinasa!!!" tetiakku sambil melompat, lalu mengarahkan pedangku pada kepala Daisy.


"Enyahlah!!!" teriak Daisy. Sial! Tangan kananku berhasil diserang dengan matanya sehingga luka parah.


Aku jatuh ke lantai.


"Couria!!!" teriak Alice.


"Awas! Kau bisa diserangnya!!" teriakku sambil berusaha bangun mencegah Daisy yang sedang berdiri di depan pintu laboratorium IPA.


"Datanglah!! Kilara sikala!! " teriak Alice sambil mengangkat tangannya. Lalu muncullah sebuah sabit raksasa di tangannya. Alice mengayunkannya ke arah Daisy. Daisy menghindarinya sambil berusaha menyerang Alice dengan matanya.


"*Ragacya agita maranara!!"


"Sapa visana*!!!" teriakku dan Aria bersamaan sambil mendekati Daisy dan menyiapkan serangan.


"ENYAHLAH!!!!!" teriak Daisy dan hampir semua bagian lantai 1 dan 2 sekolah ambruk.


*****


Kami bertiga berhasil selamat dan tidak terkena reruntuhan bangunan. Kami berkumpul di ruang guru, lantai 1. Sedang sedari tadi kami bertiga berada di lantai dua.


"Ia sudah brutal" ucapku.


"Sialan orang itu! Tampangnya saja yang polos! Kenapa aku tidak sadar akan kelakuannya?!!" tanya Aria sambil memukul-mukul lantai.


"Masih untung Ia tidak memiliki barang yang kita miliki. Jika sampai begitu, Ia bisa memberi kita ilmu hitam. Perlahan tapi pasti mati..." ucapku sambil mendengus sebal.


"Kenapa kalian kabur?" tanya Daisy.


"Kenapa kau ingin membunuh Kerry dan teman-temannya?!" tanyaku. Aku sudah tak kuat tak tahu apa-apa.


"Merekalah yang melakukannya padaku duluan" ucapnya sambil menunduk.


"Apa maksudmu?" tanyaku. Daisy kembali mengelus-elus perutnya.


"Mereka menyiksaku, mereka memberiku banyak luka, dan anak" ucap Daisy lalu nyengir karena kesal.


"Anak?!" tanya Aria terkejut.


"Aku dikhianati Kerry. Ia meninggalkanku dan anakku. Ia pergi ke tempat yang jauh. Ia hanya meninggalkan rasa sakit. Karena itulah aku akan membunuhnya. Karena, aku mencintainya..." ucapnya sambil menutup wajahnya dengan tangan kanannya.


"Setelah kau membunuh Kerry, kau akan berhenti kan?" tanyaku.


"Ya! Tentu! Jika kau menghalangi lagi. Aku akan terus membunuh, sampai ada yang mau membantuku. Jika tidak begitu, maka.... nasibku dan anakku akan berakhir pada penderitaan" ucap Daisy dengan penuh semangat.


"Jangan bilang kau akan membantunya!" protes Aria padaku. Karena Daisy adalah seorang Ibu. Aku memutuskan untuk mengalah.


"Ya, aku akan membantunya mencari Kerry. Sampai saat itu tiba, saat dimana Kerry dibunuhnya, aku akan menyerahkannya pada pihak kepolisian, biar disana urusannya, mau Ia dibunuh, atau dipenjara seumur hidup, aku tak peduli. Kalau Ia tidak hamil, aku sudah membunuhnya sekarang" ucapku. Ini kebijakan terbaik dariku.


"Kau kelewat baik Couria! Sampai-sampai kau menjadi bodoh!" ucap Aria sambil melipat tangannya di depan dada.


"Setidaknya kita mengorbankan satu lagi untuk keselamatan banyak jiwa. Apa salahnya?" tanya Alice sambil tersenyum ke Aria. Baru kali ini Alice bicara dengan kata-kata bijak seperti itu. Entah Ia mendapatkannya dari buku atau dari sumber lain.


"Hmmph!! Nah Daisy! Camkan itu! Kau siap kau mati kan?!" tanya Aria sambil menunjuk Daisy dengan jari telunjukknya.


Daisy mengangguk sambil tersenyum.


Ya, Daisy memang seorang wanita yang gila. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Ia adalah orang yang polos yang ingin bisa diberi ruang di hati seseorang.


"Apa kau tahu alamat rumah orang tua Kerry?" tanyaku pada Daisy.


"Ya. Ia pernah mengajakku ke situ. Tapi Ia enggan mengajakku terus menerus karena keadaan keluarganya yang kacau, tapi tenang, alu masih ingat alamatnya" ucap Daisy sambil tersenyum tipis.


"Kenapa kau tak kesitu saja sejak dulu?!" tanya Aria dengan nada kasar.


"Aku pernah sekali kesana. Ibu Kerry tak mengizinkanku masuk dan mengusirku. Saat itu aku belum mendalami ilmu leak, hingga kini tak ada barang yang bisa kubuat sarama untuk membunuh Ibu dan Ayah Kerry" ucap Daisy sambil menunduk.


"Tapi, aku yakin, kalau kalian yang kesana, pasti kalian diizinkan masuk!" ucap Daisy sambil tersenyum.


"Kalau begitu......" ucapku sambil menoleh kesana kemari.


"Apa kita harus pulang dengan berjalan kaki?!" tanyaku dengan berteriak.


*****


Kami berempat akhirnya benar-benar berjalan kaki. Tapi kami pergi ke rumah Paman Arrie. Karena rumah Pak Arrie adalah rumah terdekat dari akademi, 3 km jaraknya dari akademi.


Saat kami datang dan aku memencet bel di samping pintu depan rumah Paman Arrie, Paman Arrie benar-benar terkejut melihat kedatangan kami, apalagi Daisy.


"Kenapa Daisy ikut kesini?" tanya Paman Arrie dengan wajah marah.


"Diary bilang Ia akan berhenti membunuh dan akan alan menyerahkan diri ke negara bila Ia diizinkan membunuh Kerry. Tentu aku tak mengizinkannya melakukan itu begitu saja! Saat ini Diary menghamili anak Kerry..." jelasku pada Paman Arrie.


Paman Arrie berpikir sejenak dan mengangguk setuju. Lalu kami pun masuk dan duduk di sofa.


"Sarry!! Siapkan empat minuman dingin!!" perintah Paman Arrie dengan pelayan dengan nama Sarry.


Lalu datanglah pelayan itu dengan membawa minuman jeruk peras dengan es yang pasti menyegarkan dan mengkilangkan rasa haus yang dari tadi menyiksa. Dari jauh saja aroma jeruknya sangat menyengat.


Aku, Alice, dan Aria segera mengambil minuman itu dan meminumnya dengan cepat.


"Kau tak suka jeruk peras, Daisy?" tanya Paman Arrie sambil menoleh ke Daisy.


"Tidak! Saya hanya baru kali ini, diperlakukan seperti ini.... apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian?" tanya Daisy.


Paman Arrie pun tertawa, mungkin bagi Paman Arrie, Daisy adalah gadis yang begitu aneh. Ia sering membunuh, tapi gadis itu malah bingung untuk membalas budi. Mana ada pembunuh keji yang masih berpikir balas budi.


"Lihat Couria, Aria, dan Alice! Apa mereka menyiapkan sesuatu sebagai balas budi untuk layananku? Tidak kan? Mereka dengan cepatnya mengambil minumannya tanpa berpikir apa-apa! Jadi Daisy, kau cukup meminum itu, hanya itu yang harus kaulakukan!" ucap Paman, setelah itu nyengir.


"Terima kasih" ucap Daisy sambil mengambil segelas jeruk peras, lalu meneguknya sedikit demi sedikit. Paman Arrie tersenyum melihatnya.


Setelah kami semua selesai meminum jeruk peras kami masing-masing, kami mulai membahas rencana kami.


"Jadi kita akan membantu Daisy untuk membunuh Kerry?" tanya Paman Arrie.


"Ya" jawabku singkat.


"Ingat Daisy, bila kau mengkhianati kami, kami tak segan membunuhmu" ucap Paman Arrie dengan tegas.


"Aku tak peduli dengan kehidupanku. Tapi karena kebaikan kalian, aku tak akan mengkhianati kalian!" ucap Daisy. Kelihatannya ucapannya sama sekali tak bohong.


"Baiklah! Sisanya aku serahkan pada pihak yang lebih berwenang. Dimana letak rumah Kerry sebenlumnya?" tanya Paman Arrie.


"Di apartemen Flowea, no. 27" ucap Daisy.


"Baiklah! Akyo kita kesana!" ucap Paman Arrie.


"Omong-omong dimana Carrie?" tanya Aria.


"Carrie? Ia sedang tidur. Ia tadi mengalami luka benturan di kepalanya. Sudah diobati, dan aku menyuruhnya untuk istirahat" jelas Paman Arrie.


"Dasar! Baiklah! Ayo kita pergi!" ucap Aria sambil berdiri dari sofa. Aku, Alice, Paman Arrie dan Daisy juga ikut berdiri.


Kami semua pergi ke teras rumah Paman Arrie. Lalu Paman Arrie masuk ke mobilnya dan menghidupkan mesin mobil.


"Naikklah!" ajak Paman Arrie. Lalu kami pun masuk ke mobil Paman Arrie.


Aku duduk di jok yang ada di samping jok sopir. Sedangkan Aria, Alice, dan Daisy duduk di jok penumpang yang ada di belakang. Paman Arrie menancap gas mobil dan mobil melaju keluar rumah Pak Arrie.


*****


"Ah? Kerry?! Kau menanyai Kerry?! Ia sudah pergi dan tak akan kembali kesini! Ia bilang Ia takut dengan seorang gadis yang merupakan mantan pacarnya dan pergi dari sini! Apa-apaan coba?! Aku kehilangan anak semata wayangku! Ah biar saja! Anak penakut macam itu patut dibuang!!" ucap Ibu dari Kerry. Dari nadanya dan gerakannya, kelihatan sekali kalau Ia di bawah pengaruh minuman ber alkohol.


Daisy memutuskan untuk tetap diam di mobil supaya tak ada masalah.


Aku yakin Ibu Kerry mengalami depresi.


"Apa Bibi tahu Ia dimana sekarang?!" tanya Aria dengan nada kesal. Mungkin Aria malas berbicara dengan orang mabuk.


"Oh?! Aku tak tahu! Dia bilang dia ke kota yang jauh dari sini! Kau tanya saja pamannya! Siapa tahu Kerry disitu! Ah! Kau mau alamat pamannya?!" tanya Ibu Kerry.


"Bodoh! Tentu saja! Kalau kemungkinan Ia kesitu kami pasti perlu alamatnya!!" bentak Aria.


"Nih!!" ucap Ibu Kerry sambil memberi Aria sebuah kartu nama.


"Harry, oh! Ternyata pamannya adalah seorang pengedar narkoba! Wah-wah! Pantas Ia bersembunyi disitu! Ayo Paman Arrie! Alice! Couria! Kita harus kesana!!" ucap Aria sambil memberi kartu nama yang dipegangnya ke Paman Arrie.


"Ini buruk! Bahkan aku tak tahu ada seorang siswa dengan keluarga yang hancur lebur seperti ini! Tak dapat dipercaya!" ucap Paman Arrie sambil menepuk jidatnya.


"Kalau begitu, kami pamit dulu Bi!" ucapku sambil sedikit membungkuk.


"Anak sok baik! Tak apa! Aku suka! Kau seperti anakku saat masih polos!" ucap Ibu Kerry sambil menepuk-nepuk bahuku. Aki hanya nyengir, pura-pura senang.


Yang aku takutkan, Ibu Kerry mengalami gangguan jiwa. Ia bahkan merias wajahnya dengan make up yang sangat merantakan dan menor.


Kami lalu kembali ke mobil.


"Bagaimana?" tanya Daisy singkat.


"Ada kemungkinan besar Kerry berada di rumah pamannya saat ini. Jika Ia benar-benar ada di situ, kau boleh membunuhnya dengan leluasa, tapi ingat dengan persetujuannya" ucapku.


"Ya!" ucap Daisy dengan semangat.