
Kabut menyelimuti malam yang gelap nan sunyi. Satu dua kali terdengar suara jangkrik menderit, dan burung hantu yang bernyanyi dengan tenangnya.
Entah kenapa, meski malam dengan keadaan seperti itu adalah hal yang biasa, aku merasa kalau malam ini adalah malam yang sangat buruk dan mencekam.
Aku tak bisa tidur. Aku menarik selimutku dengan sangat erat. Sedangkan Ibu masih menonton televisi di ruang tamu.
Lalu tiba-tiba aku mendengar hentakan kaki Ibu yang sangat cepat, dan datanglah Ibu di depan kamarku.
Ibu tampak sangat ketakutan dan kepanikan.
"Di' di kota Gallei pusat, terjadi tragedi bom!" teriak Ibuku dengan sangat panik.
*****
Aku segera bangun dari ranjangku. Aku tak begitu mengerti, tapi sepertinya ini sangat serius.
"Ayo, kita pergi dari Gallei! Sebentar lagi para ******* itu akan datang kemari!!" perintah Ibu dengan sangat panik.
"Kenapa pergi?" tanyaku dengan polos.
Ibu sudah sangat kesal dan langsung mengemas barang-barangku.
Aku masih bingung maksud Ibu, tapi aku segera membantu Ibu mengemas barang-barang.
"Ya Tuhan... semoga kami selamat..." ucap Ibu sambil mengemas barang-barang dengan lebih cepat.
Padahal baru setengah dari seluruh barang-barangku yang dikemas, tapi Ibu sudah berdiri dan pergi ke kamarnya.
"Kenapa tak semua bu?" tanyaku.
"Tak akan sempat..." ucap Ibu sambil berlari ke kamarnya.
Aku pun menyusul Ibu.
Ibu mengemas barang-barangnya sambil mengusap air mata yang turun sedikit demi sedikit dari matanya.
"Dunia kini hancur. Tak ada yang pernah menyembah, tapi semua hanya dapat mengeluh dan meminta. Inilah jadinya..." ucap Ibu.
Aku berlari ke Ibu dan membantunya mengemas barang.
"Ibu, apa kita akan selamat?" tanyaku dengan bodohnya.
"Tentu saja!" bentak Ibu.
Baru setengah barang Ibu yang terkemas, Ibu langsung pergi ke dapur dan mengambil sebuah kantong plastik yang sudah berisi stok makanan.
Ibu lalu mengumpulkan seluruh barangku dan Ibu.
"Ayo kita per-"
"Bagi kalian yang menentang, lebih baik mati!!" tiba-tiba terdengar suara orang dengan pengeras suara.
Lalu tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahku.
"Ayo kita pergi!!" teriak Ibu sambil menarik tanganku juga sambil membawa barang-barang. Lalu mengajakku ke sebuah jendela yang cukup besar.
"Nak! Lompatlah duluan!!" perintah Ibu.
Aku segera mengangguk dan melompat dari jendela. Ibu lalu melempar barang-barang dari dalam rumah, dan Ibu pun menyusul keluar dari jendela.
Ibu mengambil barang-barang dan menarik tanganku, lalu berlari ke kebun milik kami.
"Terlambat!!" teriak Ayah yang tiba-tiba muncul di belakang kami.
"Ka' kau?!!" tanya Ibu dengan sangat terkejut.
Ayah lalu mengeluarkan pistol dari sakunya.
"Kalian tak akan pernah mendapat kesempatan hidup!" teriak Ayah lalu menbakkan peluru pistolnya.
Ibu segera menarikku dan menghindar dari peluru tadi, lalu pergi ke dalam kebun.
Saking cepatnya Ibu, aku sampai kehabisan nafas karena lelah.
"Wanita hebat! Wanita kuat! Jangan menyerah sekarang, Aria!! Kau anak kuat!!" ucap Ibu sambil melempar senyum padaku.
Meski begitu, senyum itu juga diselimuti ketakutan dan kemarahan. Aku lalu membalas senyuman Ibu, dengan senyum yang dipaksakan juga.
Tiba-tiba aku mencium suara hangus. Dan tidak ada selang waktu sedetikpun...
DUAAAAARRRR!!!!
Ledakan yang sangat besar terjadi. Aku dan Ibu juga terkena dampak ledakan itu. Aku berteriak sangat keras.
*****
Aku lalu terbangun. Entahlah, aku tak peduli dengan apa yang terjadi padaku. Diatas tubuhku, ada Ibu yang memelukku dengan sangat erat. Tubuhnya penuh luka gores dan darah.
"Ibu, tak apa?" tanyaku dengan suara serak.
Ibu lalu melepas pelukannya, lalu melempar senyum ikhlas padaku. Aku sangat bahagia dan melempar senyum yang sama bahagianya dengan Ibu.
Dan tanpa sadar, aku dan Ibu meneteskan air mata.
"Jangan pernah khawatir Aria, kita wanita kua-"
Tiba-tiba Ibu memuntahkan darah dari mulutnya, dan jatuh tersungkur ke tanah.
Aku benar-benar kaget saat menyadari, kalau Ayah yang menembakkan pelurunya ke Ibu.
Pikiranku sangat kacau. Takut, sedih, marah, dengki, semua bercampur menjadi satu.
Aku berteriak dengan sangat kencang sambil mengacak-acak rambutku.
"Wanita kuat wanita kuat wanita kuat wanita kuat!! Aku muak mendengarnya!! Sudahlah!! Aku sangat lelah melihat hidup kalian yang konyol!!" bentak Ayah padaku sambil menginjak-injak perut Ibu.
Aku tak tahan lagi. Seluruh kesabaranku sudah habis terbakar.
Tanganku reflek mengeluarkan api, lalu memukul perut Ayah dengan tanganku.
Ayah langsung jatuh ke tanah dengan luka bakar di perutnya. Ayah menatapku dengan wajah heran bercampur takut.
"Pe, nyi, hir?!" tanya Ayah dengan nada heran.
Aku langsung memukul perutnya berkali-kali.
"Ayah jahat! Ayah jahat! Ayah jahat! Ayah jahat!!!" teriakku sambil memukul-mukul perut Ayah.
Luka bakar pada perut Ayah semakin besar dan melebar. Lamat-lamat Ayah mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada lengan kananku.
dorr!!
Sebuah peluru masuk ke lengan kananku.
Aku berteriak kesakitan. Darah lalu mengucur keluar dari lengan kananku. Aku jatuh ke tanah sambil memegang lengan kananku karena sangat sakit.
Ayah lalu tertawa.
"A' pa, kau, memang sehebat itu?" tanya Ayah dengan suara serak.
Aku tetap teriak dan sama sekali tak menjawabnya.
Aku menangis. Entah karena apa. Mungkin karena Ibu yang sudah terbaring tanpa nyawa. Atau mungkin karena luka ini. Mungkin juga karena aku takut, aku kehilangan hidupku yang indah selama tiga tahun ini.
Aku hanya bisa berdoa. Aku mengharapkan kehidupan yang jauh lebih baik. Enta dosa apa yang kumiliki di kehidupan sebelumnya. Aku menyesal, sangat! Bagaimana bisa aku selamat meski orang yang sangat kusayangi hilang begitu saja.
Ayah pun akhirnya menyusul Ibu ke atas sana.
Semoga... Ibu mendapatkan Moksa. Sebuah kebahagiaan tiada tara.
*****
Semua lengang. Tak ada lagi kekacauan. Aku bangun dari tanah dan berdiri dengan pelan. Lalu mencoba berjalan. Satu, dua langkah, lalu jatuh.
Ah, sudahlah. Tak terbayang masa depanku nanti. Bahkan aku tak tahu apa aku akan selamat sekarang.
Aku tak percaya lagi dengan ketenangan, senyuman, atau apapun yang orang katakan. Pada akhirnya, semua itu adalah bohong.
Aku sangat membenci kebohongan dalam bentuk apapun. Aku benci kalau orang membohongiku. Tapi, aku sendiri sering berbohong. Apa hidup ini mengharuskan adanya kebohongan?
Tak ada yang akan menjawabnya. Kalaupun ada, itu pasti jawaban bohong. Aku harap, kelahiranku pada dunia ini bukanlah kebohongan, atau melah menjadi penyebab kehancuran.
Tiba-tiba aku mendengar suara kaki yang sedang berjalan. Aku sangat takut. Apa orang itu adalah pembohong?!
"Apa ada yang masih selamat? Apa ada orang yang masih selamat?" tanya orang itu dengan suara keras. Dari pakaiannya, sepertinya Ia adalah relawan. Tapi aku tetap takut. Siapa tahu, Ia juga pembohong.
Aku lalu berteriak. Aku takut dengan segalanya. Aku bahkan takut hidup lagi. Tapi jika aku mati, pasti akan sangat gelap, dan sangat memyeramkan. Aku tak tahu harus apa.
Relawan itu lalu berlari ke arahku.
"Nak, sini, paman ajak ke tempat yang aman..." ajak relawan itu sambil mengulurkan tangannya.
"Apa paman berbohong padaku?! Sudahlah! Aria tak suka kalau orang orang bohong pada Aria lagi!!" teriakku sambil memukul tangan relawan itu.
Lalu relawan itu melempar senyum padaku.
"Kau pasti selalu diselimuti kebohongan ya nak! Paman sama! Paman selalu diselimuti kebohongan. Dan, ya, paman juga suka bohong! Tapi, paman berjanji, paman tak akan membohongimu!" ucap relawan itu sambil mengelus kepalaku.
"Benarkah?" tanyaku dengan penuh harapan. Relawan itu pun mengangguk.
Aku langsung berdiri. Rasa takutku sudah hilang. Aku bukannya cepat percaya dengan orang lain, tapi, paman relawan itu memasang senyum yang sangat ikhlas, sama halnya dengan Ibu. Aku tak dapat menolak senyum yang seperti itu.
Paman relawan itu lalu mengulurkan tangannya. Aku lalu mengambil tangannya dan mengikuti langkahnya.
*****
Dalam beberapa hari, aku dirawat di rumah sakit beserta anak lainnya yang tidak kukenal. Mereka tampak sedih sama halnya denganku. Mereka mungkin sama-sama kehilangan orang tua mereka.
Rumah sakit itu benar-benar tak nyaman! Aku selalu mencium aroma obat-obatan dan antiseptik yang terlalu menyengat.
Meski begitu, aku malah terbesit untuk mencari tahu tentang manusia melalui mayatnya. Iya, perasaan itu sudah tumbuh diusiaku yang masih sangat dini ini.
Karena pada tragedi itu, banyak orang yang mati, dan penyebabnya pasti berbeda-beda. Karena itu, aku ingin membantu mereka yang sudah mati untuk mencari tahu penyebab kematian mereka.
Saat aku sedang melamun karena memikirkan ideku untuk menelusuri mayat, tiba-tiba seorang pria tua datang, aku sama sekali tak mengenalinya.
Lalu pria tua itu menghampiri anak lain. Agak aneh kelihatannya. Bila pria tua itu Ayah atau kerabat anak yang dihampirinya, kenapa anak itu malah tampak kebingungan.
"Nah nak! Paman akan mengadopsimu! Ya, kau akan jadi anakku nak!" ucap pria tua itu.
Lalu mata anak yang dihampirinya berkaca-kaca, tapi ada senyum ikhlas di wajahnya, mungkin dia terharu karena Ia diadopsi seseorang.
Anak itu pun mengangguk.
Semua anak-anak lainnya melihat anak itu dengan muka heran, atau tanpa ekspresi, sedangkan aku melihat anak itu dengan wajah takjub.
Bagus sekali nasib anak itu! Meski anak itu akan tinggal dengan orang yang tidak dikenalnya, anak itu pasti akan bahagia seperti dahulu kala.
Pria tua dan anak itu lalu keluar dari kamar rumah sakit. Anak itu tampak sangat senang. Aku jadi berandai-andai mendapatkan sebuah keluarga baru yang lebih baik dari sebelumnya, dan semoga nanti orang-orang percaya akan kekuatan seorang wanita.
*****
Sudah lima bulan lamanya, aku masih tetap tinggal di rumah sakit. Katanya panti asuhan penuh, jadi aku dan beberapa anak kini sedang tidak beruntung.
Tiap pagi kami diizinkan jalan-jalan keliling taman rumah sakit. Lalu kembali ke kamar untuk sarapan. Setelah itu kami mandi pagi, lalu kembali lagi ke kamar, sorenya mandi dan kembali lagi ke kamar.
Itu adalah rutinitas kami anak-anak korban bom Gallei yang kehilangan orang tuanya. Sungguh sial nasib kami.
Belum lagi aku yang baru akan menjelang usia empat tahun, masih sangat kecil.
Tapi tak hanya aku yang masih kecil. Bahkan ada bayi yang belum sampai satu tahun sudah ditinggal orang tuanya, kasihan sekali mereka.
Tapi suatu hari, hidupku berubah. Seorang wanita berusia tiga puluhan datang untuk mengadopsiku.
Wanita itu datang sendirian, mungkin wanita itu belum menikah. Ia menggunakan baju dres polos berwarna cokelat terang.
Lalu wanita itu mendekatiku yang sedang duduk di ranjang. Semua anak lainnya menatapku dengan wajah penasaran, ada juga yang tampak sebal karena belum juga diadopsi.
"Hai nak! Nama Bibi adalah Sellya! Salam kenal ya!" ucap wanita itu yang mengaku bernama Sellya.
Aku hanya bisa membeku. Aku benar-benar heran. Apa benar aku akan diadopsi orang? Apa aku memang sedang bernasib baik?
Wanita itu melempar senyum ramah yang sama persis dengan Ibu. Tanpa sengaja mataku meneteskan satu dua tetes air mata.
Entahlah, mungkin aku terharu atau sedih.
Wanita bernama Sellya itu tampak bingung karena aku menangis.
"Jangan menangis nak! Kau kan wanita yang sangat kuat!" ucap wanita itu sambil berusaha menenangkanku.
Wanita kuat? Wanita itu mungkin benar-benar bisa menjadi sosok Ibu untukku.
Perlahan, tanpa sadar senyum mulai terbit dari wajahku.
"Ya! Namaku Aria! Aku adalah wanita yang sangat kuat!" ucapku sambil mengusap air mata di pipiku.
Kelihatannya wanita itu juga senang melihat senyum yang mulai muncul di wajahku.
"Jadi kau akan ikut dengan bibi?" tanya wanita itu.
"Ya, Ibu!" ucapku dengan sangat semangat lalu memeluk wanita yang sudah kuanggap Ibu itu.
Ibu baruku itu tampak mulai meneteskan sedikit air mata bahagia, lalu wanita itu juga memelukku.
Dari hari yang cerah ini, aku akan memulai kehidupan baru, dimana akan kubuktikan kalau wanita adalah sosok yang kuat dan hebat.
*****
Sejak hari itu, aku tinggal di kediaman keluarga bangsawan Fatia. Baru bangsawan bukan berarti aku bangga. Ibu Sellya memiliki Ayah bernama Elric Fatia. Dan Ibu Sellya dilahirkan seorang Ibu yang merupakan homunculus, Queennela Fatia.
Kakek Elric sering membuat homunculus, Ia memiliki sebuah laboratorium yang penuh dengan homunculus. Jadi nenek Queennela juga merupakan manusia yang Ia buat.
Ibu dari Couria, bibi Haeva juga merupakan ciptaan kakek Elric. Berbeda dengan nenek Queennela dan sebagian besar homunculus lainnya, bibi Haeva adalah homunculus yang memiliki perasaan yang kuat dan punya tekad untuk menjadi sesosok yang sempurna layaknya seorang manusia.
Kendala yang kudapat saat ini sedikit berbeda. Kakek Elric malah membenci Ibu Sellya karena Ia merupakan seorang manusia, yang tidak bisa dan tidak mau membunuh. Hanya atas dasar itu Kakek selalu melukai Ibu Sellya.
Karena sejak dulu, keluarga Fatia bekerjasama dengan badan intelijen dan badan keamanan lainnya, sedang Ibu Sellya tak mampu ikut badan-badan keamanan negara tersebut.
Dan di saat seperti, adalah saat terbaik bagiku untuk menunjukkan bahwa diriku, Ibu Sellya, dan wanita lainnya adalah orang kuat. Meski kami tidak memiliki fisik sekuat pria, tidak dapat menjadi kepala keluarga sebaik pria, tidak teratus seperti homunculus, tapi kami para wanita ciptaan manusia, adalah orang yang kuat!