The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Siapa yang bodoh?



"Manusia biadab? Oh, bukannya kaulah penyebab kami melakukan hal ini?!" tanya wanita berjubah hitam yanh muncul tadi itu dengan senyum licik di wajahnya.


Sialan! Apa yang ia dapat dengan membunuh anak-anak?! Kalau dia mengincarku, kenapa tidak sekalian melakukan hal tadi pada diriku saja?! Dasar wanita biadab!


"Manusia hina! Kubunuh kau!" ucapku sambil bersiap menyerangnya dengan mengeluarkan pedangku yang nampak seperti tongkat jalan.


"Tenanglah, Couria!" seru Paman Arrie sambil memegang tanganku.


Cih! Aku sampai gegabah seperti ini! Tapi, aku tak bisa menahan diri setelah melihat banyak nyawa hilang. Apalagi nyawa yang hilang itu adalah nyawa anak-anak yang tidak berdosa.


Mereka pasti masih punya harapan, minpi, cita-cita, dan ribuan keinginan di kehidupan panjangnya nanti. Tapi, mereka justru masuk ke jurang skenario jalan hidup orang lain.


Sedangkan tokoh utama dalam skenario itu adalah aku sendiri, dan wanita berjubah hitam itu yang muncul sebagai antagonis. Entah aku ini tokoh tanbahan atau si protagonis itu sendiri, tentu saja itu membuatku geram dengan si antagonis biadab itu!


"Maaf, Paman Arrie... " ucapku sambil mengembalikan pedangku dan membatalkan niatku untuk menyerang wanita berjubah hitam.


Sial! Tenanglag Couria! Fokus pada satu tujuan yang akan kutuju sekarang.


"Aku, Zein, Indhira, dan Aria akan menyerang wanita ini. Couria, Carrie, dan Alice, kalian carilah Jackstein Himala!" pinta Paman Arrie.


Paman Arrie benar juga. Di saat seperti ini, kami mau tak mau berpencar. Lagipula, saat mengusung rencana tadi, kami sudah bersiap mendapat hal seperti ini.


Ya, termasuk hialngnya nyawa orang-orang tak bersalah seperti saat ini. Seharusnya aku sudah siap.


"Baiklah! Ayo, Alice, Carrie!" ajakku.


Alice dan Carrie menanggapiku dengan menganggukkan kepala. Lalu kami bertiga berlari menjauh dari tempat saat ini.


*****


~Aria


Dasar wanita sialan! Dia pasti sudah kerap meregang nyawa orang tak bersalah selama hidupnya! Meski ia sedang menyiksa orang tak bersalah, dengan mudahnya dia tersenyum seperti itu!


Lihat saja nanti! Aku akan membakarnya sampai jadi abu. Tidak, bahkan harusnya aku dapat membakarnya tanpa bekas sama sekali! Manusia seperti dia harus benar-benar lenyap dari dunia ini!


"Apa ada rencana, Paman?!" tanyaku.


"Lakukan seperti biasanya saja!" seru Paman Arrie.


"Baiklah! Aku yang mulai!" seruku lalu berlari mendekati wanita berjubah hitam.


Saat aku mendekatinya, dia malah perlahan melayang ke langit. Oi, dia manusia atau hantu?! Bisa-bisanya kabur seperti itu! Atau jangan bialng dia juga penyihir sepertiku!


"Aria Fatia. Aria, yang berarti sang singa. Raja hutan yang tidak kenal ampun. Sifat tidak kenal ampun dan tidak suka basa-basi itu membuat ia nampak seperti api yang mengamuk. Nama yang baik! Tapi, orang tuamu sama cerobohnya denganmu saat memberi nama!" seru wanita berjubah hitam sambil memunculkan semacam bola-bola hitam yang dibaluti abu hitam di sekitarnya di langit.


Yang benar saja! Setahuku, penyihir-penyihir umumnya menguasai beberapa elemen. Tapi, dia tidak menguasai elemen apapun! Sihir apa yang digunakannya?! Apa ada semacam sihir gelap yang muncul karena sifat buruk manusia itu sendiri?!


Ah! Tak ada waktu untuk memperdebatkan halk itu! Intinya, aku harus membakarnya jadi abu! Kalau ia akan menjatuhkan bola-bola hitam itu padaku, maka ada baiknya aku menebasnya dengan senjata tiruan dari api.


"Namaku dan kecerobohan Ibu bukanlah urusanmu! Satu-satunya urusanku padamu adalah, aku akan membakarmu sampai hangus!" seruku sambil memunculkan senjata api di sekitarku, untuk dilemparkan ke bola-bola hitam wanita berjubah hitam.


Wanita berjubah hitam itu lalu melemparkan bola-bola hitamnya. Di saat yang sama, aku menabrakkan senjata apiku pada bola-bola hitam itu, hingga menjadi sebuah ledakan yang cukup menbuat mataku tak dapat melihat apapun.


Ini kesempatan baik, wanita berjubah hitam pasti juga mengalami hal yang sama! Paman Arrie, manfaatkan kesempatan ini!


Dorr!!


Paman Arrie menembakkan beberapa pelurunya ke arah wanita berjubah hitam. Tapi sialnya wanita berjubah hitam itu malah menahan peluru Paman Arrie dengan semacam perisai.


Sepertinya wanita ini akan merepotkan! Semoga saja kami baik-baik aaja saat melawannya.


"Jangan lupakan aku!" seru Indhira sambil melemparkan pisau-pisau kecil ke arah wanita herjubah hitam, tapi malah ditangkis dengan jenis senjata yang sama, hanya saja bedanya ada pada beberapa abu berwarna hitam yang membalut senjata-senjata itu.


Tak sekedar sama, bahkan kalau dilihat dengan baik dan seksama, senjata yang dilempar wanita berjubah hitam sama persis dengan senjata yang Indhira lempar.


"Dia menduplikat senjataku?!" tanya Indhira dengan sangat tidak percaya.


Hoho?! Lihatlah! Katanya ahli senjata! Tapu senjatanya bisa di duplikat sekejap mata seperti itu!


"Itu artinya, teknikmu tadi tidak efisien, wanita lemah!" ejekku.


"Kalian janganlah gegabah! Wanita yang satu ini sepertinya termasuk bahaya!" seru Paman Arrie.


Ya, benar juga. Sepertinya kemampuan wanita yang satu ini sudah bukan main-main. Cih, apa mata wanita lemah itu tak dapat melihat titik lemah musuh.


"Wanita lemah! Kau bisa melihat titik lemahnya tidak?!" tanyaku.


"Diam kau wanita bodoh! Lagipula kau menanyakan hal seperti itu di depan musuh?! Yang benar saja! Sepertinya kau adalah manusia yang benar-benar bodoh!" ejek Indhira.


Cih! Segera saja bilang tidak bisa! Kalau begitu, kami semua harus menyerangnya secara bersamaan di seluruh bagian tubuh wanita berjubah hitam.


Aku langsung membuat bola-bola api di langit dan melemparkannya pada wanita berjubah hitam. Namun lagi-lagi ia menangkisnya dengan bola-bola hitam yang mirip dengan yang sebelumnya.


Ah! Kalau begini terus, semua malah menjadi membosankan.


"Hei, wanita berjubah hitam! Kenapa tidak pakai jurus lain saja hah?! Kau hanya membuat kami bosan!" seruku.


"Oh, kau ingin yang lebih seru?!" tanya wanita berjubah hitam, lalu tiba-tiba menghilang.


Cih! Sialan! Kemana dia?! Jangan-jangan dia punya kemampuan sihir yang mampu menghilangkan wujudnya?! Kalau begitu, ini justru makin menyebalkan, bukannya makin seru!


"Sial! Kemana perginya?!" tanya Paman Arrie sambil melirik kesana kemari.


Aduh!


"Bagaimana?! Trik yang bagus bukan?!" tanya wanita berjubah hitam yang kembali muncul setelah berhasil menggores sedikit leherku.


Sialan! Memang sialan! Ini pertama kalinya aku bertarung dengan manusia menyebalkan seperti dia! Untunglah luka yang aku dapat tidak parah!


Tidak, ini bukan keberuntungan! Wanita itu sepertinya sengaja tidak memberiku luka parah. Dari cara tersenyumnya saja aku sudah tahu. Dia pasti orang yang sangat menikmati pertarungan. Ia akan mengeluarkan jurus terbaiknya hanya apabila musuhnya benar-benar kuat.


Kalau begitu, siapa takut?! Aku akan menyambutnya dengan baik dengan ikut menikmati pertarungan ini! Lihat saja nanti! Sebelum kau benar-benar jadi abu, aku akan membuatmu babak belur!


"Pembukaan yang bagus, wanita penyihir! Kau memberi kesan pertarungan yang sangat baik padaku, tentu aku akan menyambutnya! Tidak hanya itu, aku akan memberi yang lebih baik!" seruku sambil membuat pedang api di tangan kananku.


"Oh?! Apa kau dapat melakukannya?!" tanya wanita berjubah hitam.


Cih! Dia menyebalkan juga! Aku malah ingin segera membakarnya! Tapi, dengan membuatnya puas, kematiannya bisa membuatnya senang!


"Ya ampun ya ampun! Meski tidak lemah seperti Indhira, kau sama menyebalkannya dengan Indhira ya?! Kalau begitu, aku akan membukakan pertunjukkan api terbaik untukmu! Selamat terbakar!" seruku.


"Tunggu, berani-beraninya wanita bodoh sepertimu menyamakanku dengan kriminal! Aku akan membedah titik lemahmu nanti!" seru Indhira.


Cih! Mulai lagi! Lebih baik aku habisi wanita berjubah hitam daripada berdebat dengan Indhira sialan itu! Setelah ini, aku akan membakar mulut bau wanita bodoh itu!


Tunggu! Jivanta melela?! Entah kenapa, aku pernah menghadapi orang yang menggunakan mantra seperti itu. Sebentar, aku ingat-ingat dulu.


Eh?!


Ternyata benar saja! Mayat anak-anak yang dibunuh wanita berjubah hitam itu tiba-tiba bangkit lagi. Ini adalah mantra yang Ayah gunakan untuk menghidupkan Ibu lagi sebagai mayat hidup.


"Apa-apaan ini?! Anak-anak tadi hidup lagi?!" tanya Indhira dengan sangat tidak percaya.


"Jivanta melela, teknik yang diguanakn Ayahku untuk memanggil kembali mayat Ibuku sendiri. Jadi, orang yang kau maksud tadi adalah aku?!" tanyaku.


"Ya! Kau hebat juga karena mampu melawan mayat Ibumu sendiri dan Ayah kejimu yang ternyata masih hidup saat itu! Tapi, bagaimana ya kalau aku menguji kecerdasan teman-temanmu yang lain? Jadi, siapakah yang bodoh?!" tanya wanita berjubah hitam.


Semua mayat hidup anak-anak berlari ke arah kami bertiga. Cih! Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan teknik paling licik yang pernah kutemui ini!


"Wanita lemah! Untuk saat ini saja, urungkan hati nuranimu itu! Bunuh anak-anak ini tanpa ragu! Mereka sudah bukan anak-anak dengan mimpi dan harapan layaknya dulu! Mereka hanya alat!" ucapku lalu membatalkan pedang apiku dan memukul satu per satu mayat hidup anak-anak yang mendekatiku.


"Indhira! Meski ini menyakitkan, tapi inilah yang harus kita lakukan! Habisi mereka!" pinta Paman Arrie sambil menembakkan peluru kepada mayat anak-anak yang mendekatinya.


Indhira tampak berpikir sebentar, namun akhirnya mau menyerang mayat anak-anak yang mendekatinya dengan pisau saku yang kerap dibawanya.


"Maaf! Maaf! Maaf!" ucap Indhira tiap menebas satu per satu mayat anak-anak yang mendekatinya.


Kami semua terus membunuh mayat anak-anak yang dihidupkan wanita berjubah hitam hingga semuanya meninggal untuk yang kedua kalinya. Setahuku, mantra ini hanya bisa digunakan satu kali pada masing-masing mayat, kecuali kalau si pengguna mantra membawa mayat lain, maka mayat yang lainnya dapat dihidupkan.


"Wah-wah, siapa sangka kalian setegar itu?! Atau mungkin, sejahat itu?!" tanya wanita berjubah hitam dengan senyum liciknya.


"SETELAH MEMBUAT KAMI BERDOSA, KAU SESENANG ITU?!" bentak Indhira sambil meneteskan air mata.


Ya, aku tak dapat menyalahkan wanita bodoh itu. Aku juga sangat marah saat pertama kali bertemu teknik biadab ini. Betapa pedihnya dia saat harus membunuh anak-anak.


Tapi, tak cuma dia yang merasakan penyesalan dan kekesalan. Aku dan Paman Arrie pun juga mengalami hal yang sama. Namun, membiarkan mayat anak-anak itu diperalat malah jauh lebih hina. Karena aku menyadari hal itu, maka mau tak mau aku harus memilih satu-satunya jalan yang ada, yakni membunuh.


"Wah-wah, tentu saja aku senang! Melihat musuh-musuhku tak berdaya, apalagi menangis seperti ini, adalah hiburan terbaik untukku sebelum melenyapkan musuh-musuhku. Tapi, ini masih awal! Aku masih punya hiburab-hiburan lain pada pesta ini!" seru wanita berjubah hitam.


Sialan! Apa lagi teknik-teknik hina yang dipunyai wanita biadab ini! Ingin sekali rasanya menikam wanita itu dengan ribuan belati sebelum membuatnya menjadi debu!


"Jivanta melela!" seru wanita berjubah hitam.


Dasar wanita biadab! Dia lagi-lagi menggunakan teknik ini?! Apa dia ingin segera jadi abu?!


Tiba-tiba di depanku muncul mayat seorang Ibu panti asuhan, yang sepertinya tak asing lagi. Ya, Amba! Sial! Bahkan ia juga menghidupkan mayat pembunuh lainnya?!


Sedangkan Paman Arrie dipertemukan dengan mayat Ozie. Aku dan Paman Arrie memang dipertemukan oleh orang yang tidak terlalu dekat dengan kehidupan kami. Tapi, Indhira...


"Ayah?!" tanya Indhira sambil menangis.


*****


~Couria


Kami bertiga sudah berlari cukup jauh, bahkan kami sempat berpencar, tapi kami tidak menemukan Ayah. Bahkan aku tak dapat merasakan hawanya sama sekali.


Tidal benar juga, aku bukannya tidak dapat melihat dan merasakan hawa Ayah, tapi hawa Ayah ternyata ada di sekeliling hutan. Entah kemana aku harus mencarinya.


"Kak Couria, apa kita kembali saja ke pemukiman? Siapa tahu Paman ada di luar hutan kan?" ajak Carrie.


Untuk kali ini, aku tidak setuju dengan Carrie. Di pemukiman, aku malah tak dapat merasakan hawa Ayah sama sekali.


Tapi, dia juga ada benarnya kalau ternyata Ayah dapat mengelabuiku dengan menyisakan hawanya di seluruh bagian hutan, tapi hawa di dirinya sendiri malah disembunyikan.


Sial! Apa yang harus kulakukan?!


Di saat aku sedang sibuk berpikir, tiba-tiba beberapa semak-semak di sekitar kami bergerak. Apa itu hewan? Entahlah, hawanya masih kurang terasa, mungkin saat makhluk di belakang semak-semak itu menampakkan diri, aku bisa melihat hawanya.


"Apa itu tadi?" tanya Alice.


"Entahlah, mungkin hewan... " ucap Carrie.


Tiba-tiba seekor kucing berbulu hitam putih keluar dari semak-semak dan mendekati Alice. Meski hawa kucing itu masih belum aku kenali dengan jelas, entah kenapa aku berfirasat buruk.


"Wah, manisnya!" ucap Alice sambil akan mengambil kucing yang datang tadi.


Tunggu! Aku bisa merasakan hawanya!


"ALICE! MENJAUH DARI KUCING ITU!" bentakku.


Tiba-tiba kucing tadi berubah menjadi hewan serupa macan. Bulunya berubah menjadi hitam, dan dikelilingi dengan bayangan hitam.


Setelah kucing itu berubah, hewan serupa ikut muncul, bahkan dalam jumlah yang banyak hingga kami bertiga terkepung.


"Apa-apaan ini?! Hewan apa ini?!" tanya Alice sambil menjauh dari kucing yang berubah tadi.


Sial! Padahal kami harus segera menemukan Ayah! Tapi, malah ada hewan-hewan aneh seperti ini!


Tapi entah kenapa, hewan-hewan ini memiliki hawa yang serupa dengan Ayah. Apa ini salah satu rencananya?! Ah sudahlah! Mau tak mau kami harus membunuh lagi.


"Sudah kupastikan hewan-hewan ini adalah musuh kita, ayo habisi mereka!" ajakku.


*****


~Indhira


Apa-apaan ini, Ayahku berada tepat di depanku?! Sungguhan?!


"Wanita lemah! Jangan terkecoh di saat seperti ini! Entah Ayah, Ibu, atau siapapun yang ada di depanmu, dia adalah musuhmu!" seru Aria.


Cih! Tahu apa dia?! Ayahku ada di depanku! Selama ini beliau diakui meninggal karena kecelakaan mobil semata. Hal itu pasti tidak benar!


Ayahku orang kuat! Ia tak mungkin meninggal hanya karena kecelakaan!


"DIA AYAHKU! WANITA BODOH SEPERTIMU TIDAK USAH IKUT CAMPUR!" bentakku.


Aria malah nampak sangat kesal setelah aku membentaknya. Apa maunya?! Apa ia ingin aku selalu larut dalan kepedihan?! Mana mungkin aku menyerang Ayahku sendiri?!


Ini adalah saat yang baik! Aku harus menyambut Ayah!


"Ayah! Ini aku Indhi-"


Eh? Kenapa Ayah malah mengeluarkan senapan dari sakunya?


"AWAS!!!" teriak Aria.


dorr!!