The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Duka



~Couria


Kami semua menaiki mobil Pak Alter. Pak Alter mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, ia takut Aria mengalami hal yang sama dengan Ayahnya.


Ayah Pak Alter sama cerobohnya dengan Aria. Kalau sudah menyangkut banyak nyawa, tanpa basa-basi dan tanpa perencanaan, Ayah Pak Alter pun segera pergi turun ke lapangan.


"Sebentar lagi kita sampai, bergeraklah sesuai rencana!" perintah Pak Alter.


"Baik!" jawabku, Alice, Paman Arrie, dan Carrie dengan bersamaan.


Saat kami sampai di tempat kami mengusung rencana sebelum masuk ke kota Frankstein, semua terlihat lengang. Tak ada suara bising warga kota, tak ada suara anak-anak yang sedang tertawa ria, dan tak ada para penjaga, semua lengang. Dari kejauhan terlihat beberapa orang yang kemungkinan besar dari aliansi negara baru.


Dan satu hal yang membuatku sangat geram.


Mereka mengikat para warga Frankstein pada salib.


Aku reflek berlari ke para warga yang sedang diikat si salib, tapi Pak Alter menghentikanku dengan memegang pergelangan tangan kiriku sambil menggelengkan kepalanya.


Sial! Untung Pak Alter menghentikanku. Kalau tidak, aku sama cerobohnya dengan Aria.


"Aku dan beberapa anggota intelijen lain yang sedang menyusul kemari akan memancing para anggota aliansi negara baru. Dan saat itulah, Arrie mencari Aria. Dan kalian, Carrie, Couria, Alice, akan mencari bom yang kemungkinan akan diledakkan. Kalian masih ingat kan?" tanya Pak Alter pada kami semua, khusunya aku yang mulai ceroboh.


Aku mengangguk pelan, sambil merenungi kesalahanku tadi. Dan tak lama kemudian, rekan-rekan anggota badan intelijen lainnya datang.


"Baiklah, ayo kita bersiap!" perintah Pak Alter dengan sedikit berbisik supaya tak diketahui oleh para anggita aliansi negara baru.


Semua yang ikut berkumpul menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu kami semua menyiapkan senjata kami masing-masing.


"Kalau begitu kita mulai!" peeintah Pak Alter dengan berbisik lalu berjalan masuk ke kota Frankstein bersama ratusan anggota intelijen.


Aku, dengan Alice dan Carrie berjalan masuk dan mencari jalan kecil atau gang yang sudah diarahkan Pak Alter. Sedangkan Paman Arrie mengambil jalan lain untuk mencari Aria.


*****


~Alter


Aku dan ratusan anghota intelijen berlari ke arah para anggota aliansi negara baru yang sedang menjaga para warga yang sedang di salib.


"Wah-wah mereka sudah datang!" ucap salah seorang dari anggota aliansi negara baru.


Aku dan para anggota intelijen berhenti berlari saat kami sudah sampai tepat di hadapan para anggota aliansi negara baru.


"Kalian lihat ini?! Ya, segera selamatkan mereka, syaratnya kalian injaki dulu mayat kami, itu pun kalau berhasil, iya kan teman teman?!" tanya anggota aliansi negara yang bicara tadi. Dan anggota aliansi negara bari yang lainnya pun tertawa.


Aku menjentikkan jariku sebagai aba-aba penyerangan. Tanpa basa-basi aku dan para anggota intelijen pun menyerang para anggota aliansi negara baru dengan senjata kami masing-masing. Para anggota aliansi negara pun juga menyerang kami. Adu senjata terjadi. Suara "cih!", "sialan!", "mati kau!" dan suara kesakitan juga suara denagn rasa banhga keluar dari mulut mereka yang sedang beradu senjata.


Lambat laun, mulai ada satu dua musuh tumbang, namun, satu dua rekan juga ikut tumbang. Suara senapan dan suara aduan pisau dan pedang memeriahkan perang kecil yang mulai terasa panas ini.


Aku sudah berhasil menumbangkan beberapa anggota aliansi negara baru dan sesekali juga meneteskan satu dua tetes darah. Aku harap tim penyelamat dan tim mata-mata kini dapat menjalankan tugas mereka denagn baik selagi kami, tim pemancing sedang berjuang denagn merelakan literan keringat dan darah.


*****


~Aria


Tidak mungkin! Kini sosok yang paling kubanggakan dan kusayangi yang seharusnya sedang tidur denhan tenang, kini berdiri di depanku sebagai musuh.


Mana bisa aku melukai jenazah Ibu?! Apa yang Ibu pikirkan di atas sana saat aku melukai Ibu dan membuat Ibu mati untuk yang kedua kalinya?!


Memang sialan Ayah!! Dia lebih licik dari yang kuduga. Kupikir ia hanya pemabuk yang hanya pintar bersenjata tapi tak pernah mempunyai rencana, tapi kini ia malah terlihat seperti antagonis utama dalam sebuah film.


"Kenapa kau diam saja?! Ayo! Bukannya kau ingin membawaku ke alam baka?! Silahkan! Tapi, kau harus melangkahi mayat Ibumu dulu!!" sorak Ayah dengan sangat bangganya.


Apa kini aku harus mengaku kalah?! Apa aku biarkan martabatku dan para wanita lainnya jatuh?! Tentu aku tak akan membiarkannya.


Tapi kini sosok wanita yang paling kusayangi muncul sebagai musuhku. Apa aku harus membunuh orang yang paling kusayangi?! Apa aku harus bertindak bak anak durhaka.


Tidak bisa! Aku tak bisa melakukannya!


Seorang Ibu adalah sosok yang paling utama dalam hidupku. Meski yang muncul di depanku hanya mayat yang dimanfaatkan, aku sama sekali tak bisa menyerang Ibu.


Otakku berputar bak rotasi bumi. Seluruh pertanyaan di otakku bak ucapan manusia di seluruh muka bumi ini, sanagt banyak dan ribut.


"Serang anakmu itu!!" perintah Ayah.


Ibu pun berlari ke arahku sambil mengangkat belatinya dan bersiap menyerangku. Sambil memikirkan ribuan pertanyaan di otakku, aku menahan dan terus menahan saja serangan Ibu tanpa menyerang Ibu sedikit pun.


Wajah Ibu yang ada didepanku kini hampa. Tak ada lagi senyum ikhlas dan tawa manis semanis es krim yang kutahu selama ini. Aku hanya melihat mayat dengan wajah hampa tanpa percaya diri.


Itu dia!


Yang di depanku kini hanya seorang mayat. Biar itu mayat Ibu, kalau nyatanya tujuan Ayah menghidupkan mayat Ibu untuk memperlancar niat jahatnya, kenapa aku diam saja?!


Ibu. Aku sungguh minta maaf. Aku mau tak mau memberi sebuah luka besar sekali lagi padamu. Aku yakin, di atas sana, kau justru menyuruhku untuk menyelesaikan ini semua. Dengan begitu, niat jahat Ayah dapat aku batalkan.


Tak apa bukan kalau aku hanya memberi luka fisik pada tubuhmu, selagi jiwamu tak tersakiti, Ibu?


Justru Ibu akan sangat senang dan bangga saat melihat anaknya sedang berdiri sebagai pemenang di antara mayat musuhnya?


Kalau begitu, dengan segala maaf, aku akan mengakhirinya!


Aku semakin memperkuat pertahananku, lalu mulai menyerang mayat Ibu yang sedang diperalat. Aku sadar kalau Ayah mulai tampak keheranan, tapi aku tak bangga sama sekali. Aku tidak senang sama sekali. Masih ada kata "terpaksa" yang tersimpan dalam otakku. Tapi, apa boleh buat. Inilah takdir, i inilah yang harus kujalani.


Setelah puluhan serangan dengan penuh amarah dan penyesalan yang kuberi pada mayat Ibu, mayat Ibu akhirnya tak tahan dan menjatuhkan belatinya tanpa sengaja. Celah sangat terbuka lebar untuk menusukkan pedang apiku pada perut mayat Ibu.


Dengan penuh duka dan penyesalan, aku menusukkan pedang apiku pada perut mayat Ibu.


Air mataku kembali menetes. Sudahlah. Aku menundukkan kepalaku karena tak tahan melihat pemandangan diriku yang sedang menusukkan pedang apiku pada Ibuku sendiri.


Maaf. Maaf. Maaf. Berkali-kali kuucapkan maaf dalam batinku. Lega dan penyesalanku bercampur aduk menjadi sebuah perasaan yang tak karuan, yang seharusnya tak kupedulikan sama sekali.


Di tengah penderitaanku, Ayah malah menepuk kedua tangannya.


"APANYA YANG MEMBANGGAKAN?! MATILAH SEKARANG JUGA!!!" bentakku dengan sangat marah dan sedih sambil meneteskan air mata.


Aku melepas bilah pedang apiku yang masih menusuk mayat Ibu, lalu mengangkatnya.


"RAGACA SLESA!!!"


Aku lalu membuat tanah di depanku terbakar bersama dengan Ayah yang ada di depanku.


Di saat terakhir, Ayah mengatakan kata-kata terakhirnya. Ia bilang, "wanita memang hebat. Terima kasih."


Lega, sedih, marah, gembira, heran, semua bercampur aduk menjadikan emosi yang tak karuan. Aku kehabisan manna yang membuat wujud pedang apiku hilang dan menjatuhkan diri ke tanah.


Tawa beecampur tangisan dan teriakan adalah buah dari emosi yang tak karuan itu. Kini aku serasa sangat gila.


Tapi ini bukanlah yang terakhir kalinya, justru ini akhir dari awal. Aku baru bisa lepas dari penderitaanku dulu, belum dengan yang sekarang dan yang akan terjadi.


Sekarang saja aku sudah segila ini. Bagaimana nantinya aku?


*****


~Arrie


Akhirnya aku menemukan Aria pada jalanan kota. Ia tampak sedang duduk di tengah jalan dengan penuh peluh dan beberapa luka.


"Aria! Kau tak apa?" tanyaku sambil berlari mendekati Aria.


Gadis muda itu menoleh ke arahku dengan tatapan kosong.


"Aku tak apa." ucap Aria pelan.


Namun ada yang aneh pada jalanan yang diduduki Aria. Jalanan kota itu tampak seperti terbakar sesuatu, namun pada satu garis, dan garis itu berhenti dengan tulang tulang manusia di ujungnya.


"Apa yang terjadi? Tulang siapa itu?!" tanyaku.


"Itu tulang Ayahku yang dulu. Ia adalah seorang anggota aliansi negara baru." jelas Aria sambil berusaha berdiri.


Semua masih berjalan sesuai rencana. Lebih baik aku langsung saja masuk ke rencana Tuan Alter yang selanjutnya.


"Apa kau melihat bom di beberapa tempat?" tanyaku pada Aria.


"Bom? Tidak ada, aku tidak ada melihat bom. Tapi memang mungkin kalau para aliansi negara baru itu menyimpan bom pada beberapa titik." jelas Aria.


"Kalau begitu bantu aku mencari bom yang sudah diselipkan para anggota aliansi negara baru!" ajakku. Aria pun mengangguk dan kami berjalan mencari bom yang kemungkinan disimpan di beberapa titik.


*****


~Couria


Aku, Alice, dan Carrie sudah mencari kemana-mana, tapi kami tak menemukan satu pun bom.


Sepertinya ini sudah saatnya aku menggunakan mata kiriku untuk mencarinya.


"Aku akan mencari bom-bom yang kemungkinan diselipkan di beberapa tempat oleh para anggota aliansi negara baru dengan mata kiriku. " ucapku pada Ali dan Carrie.


"Baiklah. Itu lebih baik. " ucap Carrie sambil mengelola nafasnya yang tersengal karena berlari.


Aku melepas penutup mata kiriku dan menerawang keberadaan bom yang kemungkinan diselipkan para anggota aliansi negara baru.


Ketemu!


Aku menemukan banyak bom atom yang tak mungkin dapat kami matikan karena ukurannya yang kecil. Namun bom bom atom itu tersambung pada bom yang sangat besar di sebuah kuil di bagian kota paling utara. Mungkin bom besar dan bom bom atom itu bersumber pada sebuah remot. Tapi sialnya, ada seseorang yang menjaga bom raksasa tersebut di kuil.


"Bom atom sudah tersebar dimana-mana, tapi ada satu titik yang menentukan ledakan bom bom itu, yakni kuil yang berada di paling utara kota! Tapi ada orang yang menjaganya di dalam sana. Apa yang harus kita lakukan?!" tanya ku sambil memikirkan sebuah solusi.


"Bagaimana ini? Apa kita harus berhadapan dengan orang itu. Dan buruknya Pak Alter tidak membekali kita telepon untuk menanyakan solusi padanya. " ucap Carrie sambil ikut memikirkan solusi.


Akice juga tampak sedikit kebingungan. Kami memutuskan untuk duduk sebentar pada tumpukan kotak kayu di pinggiran gang sambil memikirkan solusi.


"Kenapa kita tidak langsung serang saja?" tanya Alice.


"Alice tak ada takut-takutnya ya?" tanya Carrie dengan nada takut.


"Itu terlalu beresiko. Oh ya! Kita cari saja Paman Arrie dan mengusung rencana dengannya!" usulku saat aku sudah mendapatkan solusi.


Alice dan Carrie mengangguk sambil tersenyum, yang artinya mereka setuju pada usulanku. Kami lalu berjalan mencari Paman Arrie ke jalur-jalur yang diarahkan Pak Alter untuk Paman Arrie saat mengusung rencana tadi.


Kami akhirnya menemukan Paman Arrie yang kebetulan bersama Aria di sebuah gang. Mereka berdua sedang berjalan sambil menengok kesana kemari, sepertinya mereka sedang mencari bom juga.


"Paman! Aria!" panggilku sambil berlari ke arah mereka berduadan melambaikan tangan, dengan Alice dan Carrie yang juga berlari di belakangku.


"Carrie! Couria! Alice! Kebetulan sekali!!" sorak Paman Arrie sambil melambaikan tangannya.


Aku, Alice, dan Carrie pun sampai di depannya. Kaki bertiga berusa mengatur nafas kami yang masih tersengal karena berlari tadi.


"Aku menemukan puluhan bom atom di sekeliling kota ini. Tapi, ada bom yang sangat besar di kuil paling utara kota, mungkin saja remot bom atom dan bom besar ada di kuil itu, dan yang menjadi kendalanya adalah, ada satu orang yang kemungkinan besar adalah anggota aliansi negata baru yang menjaga disitu. " jelasku pada Paman Arrie saat nafasku sudah mulai stabil.


"Apa kau menerawangnya dengan mata kirimu itu?" tanya Paman Arrie. Aku menjawabnya dengan mengangguk.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Carrie dengan sangat cemas.


"Mau bagaimana lagi, karena hanya ada satu orang di dalam sana, aku optimis kita bisa mengalahkannya!" ucap Paman Arrie dengan sangat semangat.


Setelah aku memimikirkan rencana Paman Arrie dengan matang, akhirnya aku mengangguk setuju.Di susul dengan Alice dan Carrie yang sedikit ragu.


"Ayo!" ajak Paman Arrie.


Kami semua pun bergegas pergi ke kuil utara Frankstein. Aku masih menerawang dengan mata kiriku, jaga-jaga kalau seandainya ada yang tiba-tiba berubah.


Akhirnya kami sampai di kuil di ujung utara kota Frankstein. Saat kami masuk ke sana, ada orang yang kulihat saat sedang menerawang tadi di bawah sebuah lonceng.


"Selamat datang! Mari kita bersenang-senang sebelum bom ini akhirnya meledak!" ucap orang itu.


"Siapa kau?!" tanya Paman Arrie.


"Aku?! Kau ingin tahu siapa aku?!" tanya orang itu.


"Aku adalah Ozie, ketua aliansi negara baru, akan kubuat negara Bell yang lebih baik!!" sorak orang itu yang ternyata ketua aliansi negara baru, Ozie, dengan sangat semangat.