The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Warna



"Selain rekan kita Alice, banyak warga Bell yang diculik Jack dan kemungkinan buruknya mereka akan dibunuh, " jelas Pak Alter.


Sial! Meski aku ditunggu, tetap saja Ayah melakukan hal yang menuntutku untuk segera melawannya. Kata Carrie, ia melakukannya untuk meningkatkan emosiku agar saat aku melawannya, aku menggunakan kekuatan paling maksimal. Tapi kalau terus seperti ini, apa Ayah benar-benar sedang memberiku kesempatan?!


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aria.


"Bagaimana kalau kita serahkan jawabannya kepada ketua tim dua?" tanya Pak Alter sambil menoleh kepadaku.


Eh?! Aku?! Kenapa aku?! Tunggu, aku ketua tim mereka?! Tapi, kenapa aku?! Sial! Mereka membuatku deg degan dan karena itulah aku malah tak dapat berpikir!


Tenanglah Couria... kau harus tenang. Kalau tegang begini, aku malah menjadi tak berguna. Semua percaya padaku, aku juga harus percaya dengan kepercayaan mereka.


*****


~Alice


Sialan! Wanita berjubah hitam dan Ayah Couria lagi-lagi kembali dengan banyak anak-anak! Betapa berdosanya aku karena hanya dapat sekedar menontoni tingkah sialan dua orang itu!


"Apa mereka sudah cukup?" tanya wanita berjubah hitam.


"Tentu saja masih belum cukup untuk mengundang mereka!" ucap Ayah Couria dengan percaya diri.


Mereka menculik anak-anak untuk memancing Couria dan rekan-rekannya?! Yang benar saja! Aku harus dapat lepas sendiri dan melepaskan anak-anak itu sebelum Couria berada dalam keadaan paling sehat.


"Dasar orang-orang jahat! Kamu memanfaatkan kami untuk tujuan hinamu?! Lihat saja nanti! Penegak hukum Bell dan para intelijen negara, pasti akan mengalahkan dan menggagalkan tujuan busukmu!!!" protes salah satu anak yang diculik wanita berjubah hitam dan Ayah Couria.


"Memangnya apa yang kau tahu tentang kami?" tanya wanita berjubah hitam dengan nada datar.


"Bunuh saja dia!" pinta Ayah Couria.


Manusia sialan! Mau berapa banyak orang tak bersalah yang akan jadi korban dendam gilanya itu?!


"DASAR MANUSIA HI-"


Tiba-tiba, aku tak dapat bicara. Wanita berjubah hitamlah yang mungkin melakukannya. Apa ia penyihir?! Intinya, mereka tak akan pernah kumaafkan!


"Apa kau yakin akan membunuh anak kecil ini?" tanya wanita berjubah hitam.


"Memangnya apa yang kau ragukan?" tanya Ayah Couria.


Si wanita berjubah hitam itu malah melukiskan senyum licik pada wajahnya. Dasar manusia hina! Apa yang bisa aku lakukan?! Mungkin aku berdosa seperti mereka berdua karena hanya bisa menontoni kegiatan licik mereka.


Bagaimana ini?! Anak itu akan terbunuh! Apa yang harus kulakukan?! Mana mungkin aku hanya menontoni penderitaan orang lain?! Kalau hanya diam begini, aku sama hinanya dengan dua manusia licik itu! Sialan! Apa yang harus kulakukan?!


Di keadaan sibuk berpikir begini, ternyata aku telah melakukan dosa besar. Anak kecil tadi sudah terbunuh.


Wanita berjubah hitam telah membunuhnya dengan mantra sihir yang memunculkan semacam rantai di tubuh anak kecil itu dan ditarik dengan sangat kencang dengan sihirnya hingga tubuh anak kecil itu hancur bagaikan benda yang diperas.


"MANUSIA BIADAB!!!"


*****


~Couria


"Menyelamatkan orang-orang yang diculik dengan segera?" tanya Indhira.


"Tapi, kalau kita ketahuan, sudah jelas semua akan berlanjut dan kau sendiri mau tak mau membunuh Ayahmu segera bukan?" tanya Aria.


Aria tak salah juga. Wajar saja kalau pendapatku ini membuat banyak pertanyaan. Sepertinya, aku memang harus segera pulih. Tapi kalau badanku selemah ini terus, apa yang bisa kulakukan?!


"Itu artinya, kita hanya bisa menyelamatkan orang-orang yang diculik setelah Kak Couria sehat... " ucap Carrie.


Ah! Ini sama saja seperti rencana-rencana sebelumnya! Akulah penghambat yang sebenarnya! Adakah cara supaya aku bisa segera pulih?!


"Maafkan aku. Semua ini terhambat karenaku... " ucapku dengan intonasi pelan.


Haruskah aku berpura-pura sudah sehat? Ah, kalau aku melakukannya, nantinya yang ada malah gagal. Saat ini, aku tak boleh berbohong. Sudah banyak akibat dari sebuah kebohongan.


Bahkan, mungkin saja satu kebohongan saja dapat berdampak besar hingga bahkan berdampak di seluruh dunia. Aku sudah tahu betul, seperti apa rasanya ditimpa ribuan kebohongan, dari kata manis maupun tuduhan.


"Kalau kau menganggap dirimu salah terus, kau akan merasa rendah terus dan pada akhirnya semua rencana kita hancur! Couria, jangan terlalu lembek! Selain itu, karena kau kini jadi ketua tim ini, kau harus jadi tegas, bahkan yang paling tegas di antara rekan-rekan di tim ini!" pinta Pak Alter.


Iya juga sih. Pak Alter dna semua rekanku kini percaya padaku, aku tak boleh mengecewakan mereka, aku harus segera pulih apapun yang terjadi. Ini mungkin salahku, tapi tak sepenuhnya salahku. Hanya karena kebohongan dan salah paham, kejadian seperti ini bisa terjadi.


Semoga saja tak ada orang lain yang mengalami penderitaan akibat kebohongan dan salah paham sepertiku. Ini semua sangat pahit, menyesatkan, dan menyakitkan.


Membunuh orang tua sendiri? Aku memang sudah berada di jalan yang sesat. Tapi, tak ada cara lain. Mungkin ini juga karena jalan takdir dan karma yang menimpa tiap-tiap makhluk hidup, aku tak boleh menentangnya.


Ah, sudahlah! Tak ada alasan untuk ragu lagi! Bukan karena aku ingin diakui sebagai orang hebat, lagipula aku tak akan pernah hebat. Aku hanya ingin, tak ada lagi orang tak bersalah yang menjadi korban.


"Maaf, Pak Alter. Aku akan berusaha sembuh sesegera mungkin!" ucapku dengan semangat.


"Nah, itu baru ponakan kecil paman!" seru Paman Arrie lalu tertawa.


Tapi, kalau seluruh Bell bergantung pada kesembuhanku, semua malah makin parah. Mungkin saja akan ada banyak orang tak bersalah yang menjadi korban. Setidaknya, pencegahan harus dilakukan.


"Ayah dan rekan-rekannya tak mungkin diam selama menungguku. Ia akan mengambil banyak korban bila kita hanya diam. Untuk hal itu, apa kita harus berpatroli di daerah sekitar Bell?" tanyaku.


"Ya, kau benar Couria, Jack tak mungkin diam. Untuk saat ini, mungkin lebih baik aku meminta tolong pada para intelijen yang lebih senior dan kepolisian negara, " jelas Pak Alter.


Pak Alter benar juga. Tapi, aku tetap saja tak tahan. Aku ingin sekali bertindak, karena hal ini mungkin disebabkan diriku sendiri. Aku ingin sekali menebus hal itu.


Memang benar, aku bisa menebusnya dengan membunuh Ayah. Tapi, selama persiapan ini, banyak hal yang membuatku mau tak mau bertindak.


"Jadi, untuk yang sekarang, anda tidak mau mempercayakan misi seperti ini pada kami?!" protes Aria.


Mungkin Aria dan rekan-rekanku yang lain sama kesalnya denganku. Mana mungkin kami bisa diam saja di keadaan seperti ini? Ingin sekali rasanya bertindak.


"Untuk saat ini saja. Lagipula, senior-senior juga harus memiliki andil di kasus yang parah seperti ini. Memang benar, di Bell, kasus-kasus seperti ini kerap terjadi. Tapi, yang dilakukan Jack cukup brutal. Kalian hanya perlu bersiap menghadapi Jack secara langsung nanti. Jauh lebih baik begitu kan?" jelas Pak Alter.


"Pak Alter ada benarnya juga kok! Lebih baik, saat ini kita semua mengasah kemampuan masing-masing!" ucap Carrie dengan semangat.


Sebelum mencapai sesuatu, banyak hal harus dikorbankan. Ini sudah bukan main-main. Kita semua harus siap sesiap-siapnya, jangan ada satu pun hal yang kurang. Meski nyawa sendiri yang akan dipertaruhkan, kami harus siap tanpa ada hal yang mengganjal, baik di fisik maupun mental.


"Kau memang pintar ya, Carrie! Tak seperti Aria... " ledek Indhira.


Lagi-lagi, Aria dan Indhira pun bertengkar. Padahal ada Pak Alter, tapi mereka tetap saja seperti itu. Mungkin mereka adalah kembaran yang sempat terpisah.


"Berhentilah bertengkar! Kalian itu mirip tahu!" seruku.


"HAAH?! DARI MANA?!" protes Aria dan Indhira secara bersamaan.


Sudahlah, mereka memang mirip.


*****


Selasa, 10 Mei 1970


"Berlatih denganku?" tanya Zein pada telepon.


Aku baru saja memintanya berlatih denganku. Setelah tubuhku membaik, rasanya lebih baik aku langsung mulai melatih fisikku.


"Ya, apa kau punya waktu?" tanyaku.


"Kalau ditanya begitu, tentu saja ada. Aku hampir tak ada kerjaan. Tapi, apa kau sudah benar-benar sembuh?" tanya Zein.


Waduh, padahal jelas-jelas tadi aku bisa ke sekolah dengan keadaan normal, kenapa mereka malah khawatir berlebihan seperti ini?


"Tentu saja aku baik-baik saja! Kau lihat keadaanku di sekolah tadi kan?" tanyaku.


"Iya juga sih... " ucap Zein.


Untunglah lukaku cukup cepat sembuh. Dengan begini, kami semua bisa menyelesaikan misi ini. Misi terberat bagiku tim kami, khususnya bagiku.


Aku juga dituntut untuk bisa memimpin anggota timku yang memiliki sudut pandang, kekuatan, dan cara hidup yang berbeda. Perbedaan inilah yang pasti akan menjadi tantangannya.


"Apa lebih baik kita mengajak semua anggota tim?" tanyaku pada Zein. Aku sangat menginginkan pendapatnya.


"Boleh juga! Supaya semua dapat kau kontrol!" jawab Zein.


Bahkan Zein pun berpikiran sama! Baiklah, lebih baik aku ajak semua anggota tim! Semoga saja mereka semua sempat.


"Kalau begitu, aku akan menelpon mereka. Kalau lokasi, apa kau punya ide?" tanyaku.


"Hmm... dirumahmu saja, " usul Zein.


Rumahku? Memang tak ada salahnya, tapi, dimana kami akan berlatih. Kalau di dalam ruangan, jelas akan mengacaukan. Bisa juga di sekitar taman bunga dekat menara Bell sih.


Aah, menara Bell adalah tempat penuh kenangan. Senang, sedih, pertemuan, perpisahan, banyak hal yang terjadi disana. Jadi nostalgia...


"Baiklah, aku akan menghubungi mereka semua! Sampai jumpa nanti!" ucapku.


"Sampai jumpa... " ucap Zein, lalu aku menutup panggilan.


Aku memutuskan untuk menelpon Carrie dan Indhira dulu, Aria akan kukesampingkan dulu karena aku perlu kesabaran tinggi untuk bicara dengan wanita pemarah seperti dia.


"Halo Carrie, apa kau sedang sibuk?" tanyaku di dalam telepon.


"Tidak juga sih! Memangnya ada apa kak? Ada yang bisa ku bantu?" tanya Carrie.


Syukurlah Carrie sedang tidak sibuk. Semoga saja semuanya sempat, termasuk Aria.


"Begini, bukan bantuan juga sih. Aku mengajakmu berlatih fisik di rumahku, apa kau mau?" tanyaku.


"Oh, tentu saja! Kenapa tidak? Tapi, apa kakak sudah bisa berlatih? Bagimana dengan luka kakak?" tanya Carrie.


Sudah kuduga Carrie akan menyetujuinya. Bahkan aku sudah mengira-ngira kalau ia akan menanyakan kabar lukaku, meski aku akan sebal diberi pertanyaan seperti itu.


Kadang-kadang, hanya beberapa kali aku dapat menebak hal yang akan Carrie lakukan. Bocah itu cukup misterius. Kadang ia tampak sangat penakut, kadang tampak seperti orang polos, kadang sangat bersemangat, kadang seperti orang genius, kadang juga tampak seperti orang yang memiliki mental tak normal.


"Tenang saja Carrie, aku sudah sangat bugar!" ucapku dengan semangat.


Setelah ucapanku tadi, pembicaraanku dengan Carrie tiba-tiba saja berhenti. Apa perlu aku menutup panggilannya?


"Kemarin, Kak Couria jatuh pingsan bukan karena luka kakak kan?" tanya Carrie dengan nada serius.


Carrie pun menyadarinya? Apa dia sudah tahu kalau aku bertemu dengan Ibu saat itu? Ah sudahlah! Bocah itu memang sulit ditebak, lebih baik aku menyerah dan mengatakan segala yang ingin diketahuinya.


"Ya, kau benar. Seorang roh mengajakku bicara saat itu, aku tak ingin menolaknya, karena ia ingin mengatakan hal penting, " jelasku.


"Sudah kuduga! Kak Couria sebenarnya sangat kuat! Baiklah, mungkin percakapannya perlu dirahasiakan, aku tak ingin tahu kok! Baiklah, apa ada hal yang ingin kakak ucapkan atau tanyakan lagi?" tanya Carrie.


Huh, untung saja Carrie bukan orang yang suka mencari tahu urusan pribadi seseorang. Membicarakan percakapanku dengan Ibu malah mungkin membuatku tertekan. Mungkin Carrie mengerti kalau ada saja beberapa hal dariku yang harus dirahasiakan.


"Tidak ada kok, kalau pun ada, lebih baik aku bicarakan tatap muka saja nanti, sampai jumpa nanti!" ucapku.


"Sampai jumpa!" ucap Carrie lalu kututup panggilannya.


Setelah memanggil Carrie, aku memutuskan untuk melanjutkannya dengan menelpon Indhira.


"Halo Indhira, maaf mengganggu... " ucapku sebagai salam pembuka.


"Hai, tak apa, aku dalam keadaan santai kok! Ada perlu apa?" tanya Indhira.


"Kalau mau dan kalau bisa, maukah kau berlatih fisik di rumahku bersama seluruh anggota tim dua?" tanyaku.


Dari sifat Indhira yang kukenal selama ini, tidak mungkin ia menolak penawaran seperti ini, mungkin saja ia justru sangat senang.


Kalau Aria, menolak mungkin tidak. Yang ada mungkin basa-basi menyebalkan yang membuat pembicaraanku dengannya panjang. Karena itulah aku memilih menghubunginya terakhir.


"Tentu saja mau! Tapi, apa kau akan mengajak Aria juga?" tanya Indhira. Tepat saat menanyakan Aria, suaranya mengecil.


Ya ampun, aku hampir menduga hal semacam ini sih. Mungkin nanti keadaan akan cukup kacau kalau Aria dna Indhira saling bertemu. Ah sudahlah, di kelompok manapun, pertikaian kecil hingga yang panas pasti akan terjadi, aku harua siap menanganinya.


"Mau bagaimana lagi, aku harus mengajaknya. Dia rekan kita bukan?" bujukku.


"Aduh! Sebagai formalitas, aku mau tak mau harus menerima keberadaannya ya?!" protes Indhira.


Sepertinya bicara dengan Indhira mungkin agak menguras kesabaran juga. Kalau sudah ada hubungannya dengan Aria, maka hal panas pasti akan terjadi. Sama halnya dengan kekuatannya itu.


Sabarlah Couria! Aku tak ingin membuat Indhira berpikiran buruk soalku! Kedepannya, itu malah akan mengacaukan dan memperberat tugasku sebagai ketua tim. Tuh kan? Kenapa harus aku?!


"Mau bagaimana lagi! Untuk saat-saat serius, aku mohon, kesampingkan kesebalanmu dengan Aria... " pintaku dengan nada selembut-lembutnya.


Semoga saja Indhira tidka mengoceh setelah aku memohon seperti ini. Tapi, sepertinya ia akan kesal bila diminta tenang saat berhadapan dengan Aria. Waduh, semoga saja tidak panjang.


"Aku sudah berusaha ketua! Tapi, ORANG ITU MENYEBALKAN, PEMARAH, SOK KUAT, NAIF, SOK PINTAR, GEGABAH, SIAL-"


"Baiklah-baiklah, aku mengerti. Aku akan bicara pada Aria agar tidak membuatmu sebal di saat-saat serius, " selaku.


Bentakan Indhira tadi membuat telingaku terkejut. Tak kusangka kalau Indhira akan mengatakan isi kesebalannya secara langsung seperti tadi.


Bila tak ada Aria, Indhira mungkin adalah orang yang sabar. Namun bila Aria benar-benar tak ada, bisa saja tim kami kurang dalam hal fisik. Dibalik banyak hal yang membuat kami semua kesal dengan wanita bak macan baru bangun karena terbakar itu, ada beberapa hal yang membuat kami kadang bergantung padanya.


"Kelihatannya kau akan gagal. Manusia bak hewan kelaparan itu akan sangat sulit diajak bicara. Kau mungkin hanya bisa mengajaknya bicara dengan bahasa gorila. Semoga berhasil... " ucap Indhira dengan suara yang mulai stabil.


Mau sampai bagaimana mereka akan bertengkar coba? Ah, sudahlah! Kau tak boleh ikut terbakar emosi seperti mereka berdua. Menangani mereka memang sulit, tapi akan jauh lebih sulit kalau mereka tidak dikontrol.


"Baiklah, aku sudah tak ada bahan pembicaraan lagi. Bagaimana denganmu?" tanyaku.


"Minta pada Aria untuk tidak mendekatiku! Orang itu menyebalkan!" ucap Indhira dengan nada yang sedikit tinggi.


"Baiklah, apa itu saja?" tanyaku.


"Ya, terima kasih banyak, Couria! Aku juga minta maaf atas yang tadi. Karena emosi yang meledak-ledak, aku malah mengomelimu... Ini gara-gara Aria sih!" ucap Indhira dengan nada yang sangat mudah berubah.


Setiap bicara denganku tanpa menyebut Aria, nada bicara wanita Bali itu snagat lembut. Tapi kalau sudah tentang Aria, dia bagai orang yang sedang kerasukan.


"Ya ya, tak apa-apa kok! Diutarakan lebih baik daripada dipendam, sampai jumpa... " ucapku.


"Sampai jumpa nanti... " ucap Indhira, lalu aku menutup panggilan.


Baiklah, Aria yang terakhir, aku harus siap bicara pada wanita itu. Baiklah, sedikit mengomel juga tak maslaha bukan? Dia pasti akan membuatku kesal.


"Halo, apa kau sedang sibuk? Apa kau bisa berlatih fisik di rumahku?" tanyaku.


Aku tak suka basa-basi dengan wanita bak macan terbakar itu. Yang ada pembicaraannya malah panjang.


"Dengan siapa? Nona Aria sedang makan... " jawab seseorang.


Dari nada datar yang terdengar, nampaknya seorang homunculus yang emngangkat panggilanku. Ah, untunglah aku tak harus bicara langsung dengan Aria.


"Saya Couria Himala. Tolong sampaikan pesan saya pada Aria. Kalau sempat, tolong ke rumah saya untuk berlatih fisik, sampaikan kalimat itu pada Aria... " pintaku.


"Maaf, mungkin permintaan itu membutuhkan jawaban dan diskusi segera dari Nona Aria. Saya akan memintanya bicara pada anda sekarang... " ucap homunculus itu.


Tidak! Intinya, aku tak ingin bicara padanya! Semoga aku bisa membujuk homunculus ini.


"Kumohon jangan! Ah, anu... a'aku sedang banyak kerjaan! Aku tak punya banyak waktu! Kalau ada hal yang ingin Aria sampaikan padaku, silahkan telepon kembali saya. Lagipula, setahu saya, Aria bukan orang yang suka bertele-tele. Kumohon, sampaikan pesan saya tadi!" pintaku.


Ya Tuhan... semoga aku tak perlu bicara dengan macan terbakar itu...


"Baiklah, maaf sudah menyita waktu anda, terima kasih, pesan anda akan saya sampaikan... " ucap homunculus lalu menutup panggilan.


Huh, syukurlah! Bicara dengan Aria jauh lebih paniang dan menyebalkan dibanding harus bicara dengan manusia buatan. Manusia buatan jarang-jarang memliki emosi yang jelas. Karena itu, bicara pada homunculus mungkin lebih mulus daripada bicara dengan manusia asli.


Aah, beginilah dunia. Manusia tak ada yang sama. Sebuah komunitas, tim, kelompok, atau apapun itu, pasti akan mengalami lika-liku, suka duka, dan sakit senang.


Semua ada warnanya.