The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Prolog



Semua hal di dunia ini pasti pernah berbohong. Dan kadang penyebab dari kebohongan itu adalah cinta. Demi cinta, orang bisa melakukan apapun. Bahkan menghancurkan dunia.


*****


Kastil Himala, 28 Februari 1964.


Belakangan ini Ibu sering bertingkah aneh. Ia selalu mengacak-acak rambutnya, dan berjalan kesana kemari. Kelihatannya Ia sedang gelisah. Malam ini, Ia akan menidurkanku seperti biasa, walau usiaku sudah 8 tahun, dan rasa-rasanya tak perlu diperlakukan seperti itu, Ibu tetap melakukannya, itu mungkin bentuk rasa kasih sayangnya sebagai seorang Ibu.


Aku tidur di pangkuan Ibu, Ibu mengelus-elus kepalaku dengan lembut. Benar-benar terasa nyaman. Aku terbesit menanyakan kegelisahannya.


"Kenapa Ibu gelisah" tanyaku sambil menatap wajah Ibu.


"Tak apa-apa kok!" jawabnya. Sebelum menjawab pertanyaanku, Ibu kelihatan kebingungan, memilih kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang padahal sangat sederhana itu.


"Ibu membohongiku?" tanyaku, memasang raut muka sebal, berharap Ibu mau jujur.


"Tidak kok! Tapi hati-hatilah Couria, siapapun dan apapun pasti pernah berbohong!" ucap Ibu menasihatiku. Aku hanya mengangguk pelan.


Setelah mengelus kepalaku beberapa kali, tiba-tiba tangan Ibu berhenti.


"Ibu akan mengambil sesuatu, maukah kau bangun sebentar?" tanya Ibu sambil menoleh ke padaku. Aku mengangguk pelan dan bangun dari pangkuan Ibu. Ibu berdiri dan kelihatan mengambil sesuatu di lemari, dan kembali ke ranjangku.


Ibu mengambil tanganku dan meletakkan sebuah kunci tua di tanganku.


"Apa ini?" tanyaku.


"Kunci menara lonceng di taman. Simpanlah kunci ini dengan baik ya? Suatu saat kau harus membuka pintu menara itu.." jelas Ibu. Aku mengangguk pelan. Aku berdecak kagum. Bagaimana tidak? Benda penting seperti ini dititipkan padaku.


"Dimana aku harus menyimpannya?" tanyaku.


"Untuk saat ini Ibu taruh di lemari lagi ya?" tawar Ibu. Aku mengangguk pelan.


Setelah menaruh kunci itu di lemari, Ibu menoleh ke padaku.


Aku menggangguk. Ibu mendekatiku dan mencium dahiku, lalu keluar dari kamarku.


Aku tak begitu peduli apa yang akan Ibu lakukan malam itu. Dan tak ada yang tahu, kalau itu malam itu adapah malam terakhirku dengan Ibu.


*****


Angin berhembus menyusup dari jendela kamarku. Cahaya dan hangatnya matahari menyusul. Aku terbangun. Ternyata yang membukakan jendela bukan Bibi Addle yang merupakan pelayanku, melainkan Ibu.


"Sebelum Ibu pergi bekerja, Ibu akan ke taman terlebih dahulu. Kalau Ayah menanyakan Ibu bilang Ibu sedang menyiram bunga ya?" tanya Ibu.


Aku yang masih sibuk membersihkan mataku mengangguk. Ibu pergi dari kamarku, disusul Bibi Addle untuk mengurusiku, menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian. Hari ini aku akan bersekolah,di Sekolah Dasar Wellington, Ibu Kota negara Bell.


Saat aku berjalan menuju ruang makan, Ayah menghampiriku.


"Ibu mana?" tanyanya singkat. Sebenarnya hubunganku dengan Ayah tak begitu baik, karena Ia jarang di rumah.


"Ibu berpesan kalau Ia sedang ke taman, menyiram tana-"


"bodoh!!!" bentak Ayah. Ayah langsung berlari ke taman, karena Ayah kelihatan terburu-buru, Aku menyusulnya. Kelihatannya ada sesuatu yang serius. Dari hamparan bunga yang indah dan wangi, aroma amis dan darah merusak pemandangan.


Aku tak bisa berkata-kata. Dadaku sesak. Aku ingin berteriak, aku ingin menangis, tapi tak bisa. Ayah jatuh tersungkur, mengacak-acak rambutnya, berteriak dan meneteskan air mata. Aku merasa benar-benar bodoh. Mana mungkin aku tidak curiga.


Ibuku mengakhiri hidupnya sendiri dengan menjatukhkan diri dari menara lonceng. Tangannya memegang erat kunci yang Ia perlihatkan kemarin malam. Pelan-pelan aku mengambil kunci itu. Para pelayan dan tukang kebun sudah membeku dan memalingkan wajah, tak berani mendekat.


"Tak mungkin!! *******!! Sialan!! Kutukan!!! Mati kau anak kutukan!!!!!!!!" Ayah mengeluarkan pisau dan menusukkannya ke mata kiriku. Aku berteriak kesakitan. Tak hanya sekali, Ayah menusuk mataku berkali-kali sampai hancur. Saat akan mengarahkannya ke dadaku, Paman Arrie memegang tangannya.


"Sudah cukup kakak!!!" teriak Paman Arrie. Entah karena mataku yang ditusuk ini atau karena syok, tak lama kemudian aku jatuh pingsan. Carrie, sepupuku memgangku dari belakang. Aku sedikit menyadarinya saat masih setengah sadar.


Mata kiriku tak dapat diobati. Jadi mata kiriku dipasangkan mata palsu. Tapi semenjak saat itu aku melihat hal yang aneh. Aku tahu berapa lama usia seseorang yang kulihat dan melihat titik kematian dan seperti apa orang mati. Hal itu menyiksaku. Jadi aku memutuskan untuk menutup mataku.


Ayah menjadi tak waras. Jadi semenjak usiaku 11 tahun, aku direkrut sebagai detektif di badan Intelijen Bell, dan bersekolah di akademi Intelijen Bell, yang dipimpin Paman Arrie.