The Garden Of Lies

The Garden Of Lies
Ingatan



~Couria


Sial! Sepertinya Mine dan Viola tak bisa mengatasi Bu Rosalia sendirian! Sedangkan orang-orang di sekolah masih kami evakuasi. Kalau begini terus, keadaannya bisa bertambah kacau.


"Ayo semuanya, kesini!" bujuk kami semua pada warga sekolah yang masih belum keluar.


Saat aku melihat-lihat di lantai dua, ternyata hanya ada Eins disana. Dengan bodohnya, ia malah menonton bangunan sekolah yang runtuh sedikit demi sedikit. Tiba-tiba, reruntuhan tembok tampak akan jatuh ke arah Eins.


"AWAS!!"


Akhirnya, aku berhasil melindungi Eins dengan mendorongnya. Sayangnya, justru aku yang tertimpa reruntuhan tembok itu. Kepalaku terasa sangat sakit.


"Couria! Kepalamu berdarah!" ucap Eins dengan sangat cemas, sambil membantuku bangun.


"Bodoh! Ayo keluar dari sini!" ajakku sambil menarik tangannya dan memaksanya keluar dari area sekolah.


*****


Setelah semua terevakuasi, aku memutuskan untuk segera pergi ke Viola dan Mine untuk membantu mereka. Melawan Bu Rosalia berdua saja memiliki resiko yang tinggi.


Sesampaiku di ruang beribadah yang sudah hancur lebur, aku menemukan Mine yang ditimpa reruntuhan tembok dan Viola yang dalam keadaan sama, tapi masih memaksakan diri untuk menahan makhluk raksasa yang dimiliki Bu Rosalia.


"Hei-hei Couria, apa kabarmu?! Taktikmu dan teman-temanmu tak buruk juga! Tapi, asal kau tahu, secerdas, secerdik, sekuat, dan sehebat apapun orang-orang, tak akan ada satupun yang bisa menandingi Manu Raksasa!" ucap Bu Rosalia dengan sangat percaya diri.


Jadi, makhluk menjijikkan yang dibuat dari tubuh korban pembunuhan yang ia lakukan itu bernama Manu Raksasa? Dari mata kiriku, aku sudah tahu kalau suaminya sudah merencanakan ini matang-matang. Tapi, sedikit agak samar, aku bisa melihat aura kebencian Bu Rosalia pada Paman Arrie. Apa maksudnya ini?!


"Makhluk menjijikkan itu, paling kuat, hebat?! Apa kau bercanda bu?!" ledek Viola.


Bu Rosalia tampak marah dan memberi isyarat pada makhluk aneh ciptaannya, tampak di mata kiriku bahwa si makhluk besar itu diminta untuk menyerang Viola, ini gawat!


Tepat saat Viola akan diserang, tiba-tiba Indhira datang dan memotong tangan si Manu Raksasa, tapi sayang, tangannya tumbuh lagi. Meski begitu, setidaknya Viola terselamatkan.


Setelah Indhira, Carrie, Zein, Aria, dan tiga orang dari tim terbaik nomor dua datang menolongku, Viola, dan Mine.


"Master Couria, kami sampai!" ucap salah satu anggota tim terbaik nomor dua. Kalau tak salah, ia adalah Steven Garlie. Aku masih bisa agak mengingatnya karena dia satu-satunya siswa berkacamata di kelasku.


Lagipula, kenapa aku dijuluki "Master Couria" oleh banyak siswa? Apa yang menyebabkanku dijuluki master? Ah sudahlah, ini bukan waktunya untuk memikirkan hal sepele seperti itu!


"Menjijikkan sekali, jadi itu adalah kumpulan badan mayat yang kau ambil, Rosalia Velvet?!" tanya Aria dengan ekspresi jijik.


"Menjijikkan?! Bisa kau tutup mulut nistamu itu?! Ini adalah keajaiban dari Tuhan Mahakuasa, utusan surga, Manu Raksasa!" ucap Bu Rosalia dengan sangat percaya diri.


Tanpa basa-basi, Aria langsung menckba membakar Manu Raksasa, tapi sama seperti tadi, pemulihan makhluk itu cepat sekali, sial!


"Cih! Apa makhluk itu tak bisa mati?!" tanya Zein dengan wajah kesal menghadap ke Manu Raksasa.


"Hanya ada satu, dan sangat sulit diraih. " ucapku.


Aku tak bohong. Hanya ada satu cara mengalahkan Manu Raksasa, dari mata kiriku yang merupakan milik Nati. Meski mata Nati ini adalah kutukan tertinggi di dunia, dari kutukannya juga keluar manfaat yang luar biasa untuk dunia. Tanpa mata ini, aku bukan apa-apa.


"Apa itu?" tanya Tom, salah satu anggota tim terbaik nomor dua. Aku juga mudah mengingatnya karena dia berfisik hampir sama dengan Zein dan merupakan salah satu siswa di kelas 9-1.


Dasar orang bodoh, mana mungkin aku mengatakannya langsung di depan musuh?! Baiklah, ada satu cara, yakni komunikasi dengan mata kiriku.


Setelah menyambungkan koneksi kepada semua rekanku, semua pasti akan berjalan dengan baik.


"Ini adalah kemampuan komunikasi milik mata kiriku, aku akan memberitahu rencanaku untuk menghancurkan musuh, ini agak sulit sih... " ucapku.


"Master Couria memang genius!" puji Steven.


"Hmmph! Kalau aku punya mata seperti dia, aku bahkan mungkin lebih genius!" protes Aria.


"Yang benar saja, mata itu membutuhkan pengendalian tinggi yang bahkan orang paling sabar di dunia pun akan kesulitan, apalagi orang ceroboh sepertimu. " sindir Indhira.


Cih! Kenapa mereka malah memanfaatkan mata kiriku untuk memperdebatkan hal yang tidak perlu! Lebih baik aku lanhsung bicara ke intinya!


"Kalau semakin banyak kalian bicara, kekuatan komunikasi ini bisa makin tak bertahan lama! Dengar, aku mulai membicarakan rencanaku sekarang. Kita perlu melakukan "dua cara", bukan pilihan, tapi kedua hal ini harus dilakukan. Pertama, bangunan lantai tiga harus dirobohkan, karena bangunan ini akan menambah energi Manu Raksasa, anggaplah bangunan ini induknya. Lalu, lakukan hal kedua, yakni, bunuh Bu Rosalia. Sayangnya, tak ada cara lain. Tapi, ini adalah hal tersulit, lihatlah, Bu Rosalia selalu berdekatan dengan Manu Raksasa. Sebagai penciptanya, tentu Manu Raksasa memiliki insting untuk melindungi tuannya. " jelasku.


"Aku yakin, kakak hanya melihat titik lemah M**anu Raksasa, sisanya kakak rancang sendiri. Kak Couroa memang genius. " puji Carrie.


Setelah aku merasa cukup, aku menghentikan komunikasi dengan mata kiriku, itu cukup menguras tenaga.


"AYO MULAI!!!" ajakku.


*****


Zein, Aria, Viola, dan Mine kuminta untuk menghancurkan bangunan lantai tiga. Karena Zein memiliki energi tinggi untuk menghancurkan bangunan ini, lalu Aria juga dapat membakar bangunan lantai tiga, Viola sangat ahli dalam mempercepat penuaan pada besi, dan Mine sangat diperlukan untuk memutus mantra yang ada di lantai tiga.


Lalu aku, Steven, Carrie, Tom, Janshon yang merupakan anggota tim dua, dan Indhira yang akan memancing Manu Raksasa dan Bu Rosalia keluar dari area lantai tiga. Karena bila aku dan rekan-rekan lainnya melawan Manu Raksasa dan Bu Rosalia di lantai tiga, kemungkinan korban akan bertambah. Menjebak Manu Raksasa dan Bu Rosalia rasanya juga tak baik, karena, Manu Raksasa dapat melindungi Bu Rosalia dengan sangat baik dengan kekuatannya yang begitu besar.


Aku dan Carrie menyerang Manu Raksasa dengan menaiki badannya. Carrie melempar pisau-pisau kecil yang dibawanya, entah sejak kapan ia bisa ahli menyerang seperti ini. Aku juga menyerang Manu Raksasa dengan cara menusuk beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Steven dan Tom menyerang Manu Raksasa dari bawah, dan Indhira menyerang Bu Rosalia.


"Aku tak sebodoh itu, COURIA!!" seru Bu Rosalia.


Ya, Bu Rosalia menyadari salah satu rencanaku, yaitu memancingnya keluar. Bagaimana tidak, rencana itu terlalu pasaran dan merupakan teori yang seluruh intelijen pun tahu.


Yang lain sepertinya sudah siap untuk hal ini, mataku juga harus bertanggung jawab atas kecerobohanku. Dua menit sebelum lantai tiga roboh, aku harus memberikan aba-aba.


Kelihatannya, Zein dan Viola sudah merobohkan sendi dasar bangunan, Aria sudah membakar sambungan listrik, dan Mine sudah hampir selesai memutus mantra di ruangan lantai tiga.


Sedikit lagi, dan....


"SEKARANG, KELUAR!!!" pintaku lalu semua rekan-rekanku keluar dari celah-celah, kecuali Carrie. Ia malah diam saja.


Aku memaksanya keluar dengan melemparkannya dari jendela, dan tepat saat bangunan lantai tiga diledakkan oleh listrik yang di otak-atik Aria, aku terlambat keluar dan terkena ledakan hingga aku terlempar dari jendela karena ledakan itu.


Cih! Karena ledakan itu, aku mengalami banyak luka bakar! Belum lagi aku mendarat di bawah dengan tidak baik, tangan kananku terasa sangat sakit, dan banyak luka gores di tubuhku.


"Couria! Keadaanmu sangat parah!" seru Indhira sambil berlari ke arahku.


Mata kirinya mungkin meresponnya untuk mengkhawatirkanku. Setelah rekan-rekanku mendekatiku dan membantuku bangun, aku melihat Weinhard dan Alice juga sednag berlari mendekatiku.


"COURIA!!" seru Alice lalu memelukku.


"Aku tak apa-apa... " ucapku pelan.


"Akan kuusahakan. " ucapku sambil berusaha berdiri setelah Alice kupinta untuk melepaskan pelukannya drngan dorongan lembut.


Tak lama kemudian, Manu Raksasa dengan Bu Rosalia yang duduk di pundak Manu Raksasa datang tepat di depan kami semua.


"Sudah kuduga!" protes Indhira.


"Jadi, dia penyebab kekacauan ini?" tanya Weinhard.


"Begitulah, lebih baik kau pergi, Weinhard!" pintaku.


"Tidak mau! Kalau kau kenapa-napa lagi, Bibi Addle akan memarahiku!" ucap Weinhard, lalu mengeluarkan pistol di sakunya.


Memangnya sejak kapan ia bisa menembak?! Apa mungkin ia mempelajarinya untuk kebutuhan pekerjaan? Ah sudahlah, intinya, hari ini, kami semua harus bisa mencegah Manu Raksasa dan Bu Rosalia keluar dari lingkungan sekolah. Kemungkinan besar, mereka berdua akan melakukan aksinya di lingkungan kota Bell, itu bisa sangat berbahaya.


Alice pun mengubah boneka kelinci yang dibawanya menjadi sabit besar, dan yang lain termasuk diriku juga mempersiapkan diri untuk menahan dan membunuh Manu Raksasa dan Bu Rosalia.


"Wah-wah, semakin banyak lawan akan semakin seru! Akan kubasmi kalian satu per satu dengan sangat halus!" seru Bu Rosalia dengan sangat bersemangat, lalu Manu Raksasa mulai bergerak.


Tampaknya, Manu Raksasa berniat menyerang Alice terlebih dahulu.


"Alice! Berhati hatilah!" pintaku.


Alice hanya mengangguk, lalu berusaha menghindari tangan Manu Raksa**sa yang ingin mengambil Alice. Kami semua juga mulai bergerak. Aku dan Carrie kini menyerang dari bawah, Aria membuat lingkaran api seluas sekolah untuk mencegah Manu Raksasa dan Bu Rosalia keluar dari lingkungan sekolah, Zein naik ke tubuh Manu Raksasa untuk mengalihkan pethatian Manu Raksasa, dan Carrie juga ikut naik dengan tujuan menyerang Bu Rosalia secara diam-diam.


Tapi sialnya, Alice berhasil di ambil Manu Raksasa, dan diremasnya. Tanpa basa-basi, aku segera melompat dan memotong tangan Manu Raksasa yang mengepal Alice.


"Terima kasih. " ucap Alice lalu berusaha keluar dari potongan tangan Manu Raksasa.


Sudah kuduga, tangan Manu Raksasa langsung pulih hanya dalam waktu tiga detik. Aku harap Carrie bisa menyerang Bu Rosalia dengan lancar, kami semua hanya bisa mengalihkan perhatian Manu Raksasa. Tapi, Carrie sendiri yang menawarkan diri untuk membunuh Bu Rosalia.


*****


~Carrie


Inilah saatnya untuk membalaskan kematian Ibu. Ibu tak mati karena melahirkanku, dialah pembunuh Ibu, ya, Rosalia Velvet!


Entah karena IQ atau apa, aku memiliki kelebihan dimana aku bisa mengingat hal-hal yang terjadi sebelum aku keluar dari rahim Ibu.


Tepat sebelum aku dilahirkan, Rosalia Velvet yang diminta Ayah untuk menjaga Ibu, justru memulai aksi liciknya.


"Minum ini!" pinta Rosalia Velvet.


Saat Ibu menghirup aroma minumannya, aku bisa tahu betul kalo aroma itu merupakan aroma sianida. Karena Ibu tak tahu kalau minuman yang akan diminumnya beracun, ia langsung saja meminumnya.


Sejak dulu, aku selalu bertanya-tanya, aroma apa yang kuhirup sejak akan lahir itu. Bertahun-tahun, aku merasa kalau akulah penyebab kematian Ibu. Karena itu, aku takut akan hal apapun yang berbau kematian, bahkan hanya sekedar bangkai cicak.


Tapi, semenjak aku menyadari bahwa aroma yang kucium saat akan lahir adalah aroma racun sianida, aku jadi menemukan jati diriku.


Tepat setelah aku mengetahui kebenaran kematian Ibu, seseorang muncul di mimpiku. Ia mengaku bahwa dirinya adalah diriku sendiri. Dan yang kulihat di depan mataku sendiri, adalah orang yang wajahnya sering terpajang di museum-museum sejarah di Bell, yang merupakan orang paling terhormat di marga Himala, Eable Himala.


Aku sendiri tak percaya kalau Eable Himala adalah diriku di kelahiran sebelumnya. Tapi itu bukan kebohongan. Seeing kali tanpa sengaja aku ingin memeluk, dan meminta maaf pada Kak Couria, seolah-olah aku Ayah yang bodoh karena telah membuat anakku menderita.


Dan benar saja, dahulu, Kak Couria adalah Tenbri Himala, yang merupakan anak semata wayang Eable Himala, yang direlakan untuk mengikuti perang menara Bell. Aku selalu merasa menyesal, tapi bangga saat melihat Kak Couria bisa menggunakan mata kiri Nati dengan baik.


Satu hal yang selalu Eable ucapkan dan pinta padaku, "tolong lindungi anakmu dan anakku itu. "


Karenanya, aku harus kuat. Dan jiwa gilaku pun muncul. Tak masalah, aku bisa menahannya. Ah, sungguh indah melihat orang yang membuatku menderita dulu kini kucincang, kubuat sampai jadi onggokan daging.


Karena itu, hari ini, aku tak akan ragu untuk membunuhmu dengan sangat menikmati, Rosalia Velvet!


"LIHATLAH, SUAMIKU! ORANG-ORANG TERKUAT, DAN SEBANYAK APAPUN, TAK AKAN BI-"


AH! BETAPA NIKMATNYA, MENUSUK PEMBUNUH LICIK SEPERTI ROSALIA VELVET DARI BELAKANG! INI SAMA PERSIS DENGAN CARA MEMBUNUHNYA YANG DIAM-DIAM. SANGAT NIKMAT!


Si pendosa itu langsung memuntahkan darah, lalu pelan-pelan menoleh ke arahku, dengan wajah yang menampakkan betapa sakitnya ditusuk belati dari belakang.


"K'kau... "


"Ya! Apa kau tahu?! Beberapa anak di dunia ini bisa mengingat sedikit, bahkan seluruh hal yang terjadi selama ia masih di rahim Ibunya! Kau mengerti bukan?! IYA! TEPAT SEKALI! AKU MENGINGATNYA! BAU RACUN SIANIDA ITU!!" ucapku sambil menusuk badan Rosalia Velvet dengan asal.


Aku tak peduli bagian tubuh apa yang kutusuk, intinya, tiap tusukan itu, rasanya sangat nikmat! Lihatlah! Wanita ini ingin membunuhku dan Ibuku hanya untuk membuat makhluk menjijikkan yang dinamainya Manu Raksasa, tapi suaminya pasti menolak mengambil tubuh Ibu. DASAR WANITA GILA!!! MATI SANA!!!


Eh?


Tiba-tiba, aku tak sengaja menusuk telapak tangan Kak Couria yang tiba-tiba muncul di atas onggokan daging Rosalia Velvet yang sudah tak tampak seperti manusia.


"SUDAH CUKUP CARRIE, APA YANG MEMBUATMU MELAKUKAN INI?!!" bentak Kak Couria.


Tanpa sadar, satu dua tetes air mata menetes dari mataku yang baru saja puas melihat Rosalia Velvet yang sudah tampak seperti bubur.


"Aku tak perlu menjawabnya, kakak sendiri sudah tahu kan? Siapa aku sebenarnya, kenapa aku melakukan ini, kakak sudah tahu. Eable selalu berkata begini padaku, katanya, "tolong lindungi anakku ". Dia terkesan seperti beban kan? Tapi, kau malah menghentikan dendam yang kupendam selama empat belas tahun dengan melukai diri, kenapa?!" protesku.


"Kalau kau gila seperti ini, Ayahku dan Ibumu justru akan membencimu. Sudahi ini semua, lihatlah! Manu Raksasa yang merupakab proyek hina ini sudah berhenti bergerak, ini karenamu. Sekarang, sudahi saja!" pinta Kak Couria sambil memelukku.


Sial, gara-gara dia, aku tak bisa menahan tangis dan mulai menangis dengan sangat keras.


*****


Setelah menenangkan Carrie, aku membawanya turun dari Manu Raksasa. Saat ia mencincang mayat Bu Rosalia sampai seperti bubur, aku bisa melihat betul, kalau ia adalah reinkarnasi Eable Himala, dan aku tahu betul kalau Bu Rosalia membunuh Ibu Carrie dengan racun sianida, tapi ia baru menyadarinya beberapa waktu lalu, yang menyebabkan kepribadian gilanya muncul.


Tapi, setidaknya kasus Rosalia Velvet dan kasus kematian Ibunya Carrie berakhir sampai sini. Jika seandainya tadi aku tak menenangkan Carrie, keadaan mungkin akan semakin buruk.


"Ayo, kita pulang!" ajak Steven.


Kami semua pun mengangguk. Ya, hari mulai malam, makhluk raksasa menjijikkan tadi juga sudah berakhir sampai sini, waktunya kita semua pulang.


"Ayo Alice, kita pul-"


Tiba-tiba, seseorang menembakkan peluru dari belakang, lalu seorang wanita dengan jubah hitam mengambil Alice yang berada di sampingku. Dan saat aku menoleh ke belakang, orang yang menembakku adalah...


Ayah?!